
Aruna kini sudah tampak begitu sibuk untuk mempersiapkan apa saja yang akan ia bawa untuk OSPEK nya kali ini. Alister yang berada di samping nya kini juga membantu Aruna untuk mempersiapkannya. Kaki-laki tersrebut kini tengah membantu Aruna untuk membuat kan papan nama untuk Aruna.
“Kenapa harus tebak-tebakan gini sih? Tinggal bilang bawa apa aja repot,”sungut Aruna sambil menyiapkan barang-barang nya. Sedari info yang dikesampingkan oleh senior nya apa saja yang perlu untuk dibawa. Aruna tak ada hentinya menggerutu, dan semua itu karena senior nya yang memintanya membawa barang dengan clue. Mereka tidak memberitahu apa yang harus dibawa secara gamblang melainkan memberikan clue. Jadi kita harus menebak nya, jika salah tentu saja akan mendapatkan hukuman.
“Udah jangan gerutu mulu, mending kamu cepet siapin apa aja yang diperluin. Lagian udah Kakak kasih jawabannya apa saja yang diperintahkan itu,” ucap Alister sambil menggelengkan kepalanya melihat tunangannya itu.
Memang benar sebenar nya Alister sudah menjawab semua nya mengingat jika ia juga merupakan ketua BEM. Jelas saja ia mengetahui nya, walau mereka berada di fakultas yang berbeda. Namun apa yang Aruna bawa tak jauh berbeda dengan dirinya.
Aruna kini menghela nafas nya kasar dan entah sudah berapa kali Aruna melakukannya. Alister yang mendengar nya bahkan kini hanya bisa untuk menggelengkan kepalanya melihat tunangannya itu.
“Kenapa sih hm? Kakak liat kamu gak semangat banget? Kenapa? Bukannya dulu waktu Kakak yang Ospek, kamu yang paling semangat?” tanya Alister dengan menaikkan sebelah alisnya. Aruna kini menetap kekasih nya itu dengan kening yang berkerut. Mantap nya dengan tatapan penuh tanya dan kekhawatirannya.
“Ada yang kamu khawatirin?” tanya Alister lagi karena merasa ada yang salah dengan tunanganya itu.
Aruna kini menatap Alister dengan tatapan serius nya. Melihat ke arah Alister yang kini mengerutkan kening nya bingung dengan sebelah alisnya yang naik.
“Aku khawatir aja gimana besok. Ini pertama kali nya aku bakalan kuliah. Ini bukan lagi masa putih abu-abu. Lebih banyak rintangannya, aku takut kalau aku bakalan melakukan kesalahan,” jujur Aruna menyampaikan apa yang kini tengah dipikirkannya. Alister yang mendengar ucapan dari kekasih nya tersebut kini tersenyum dengan begitu lembut nya. Dengan begitu lembut kini Alister menangkup wajah Aruna. Menatapnya dengan penuh kelembutan.
“Untuk apa memikirkan sesuatu belum terjadi? Cukup pikirkan yang sudah terjadi sekarang aja. Memikirkan apa yang belum terjadi cuma buang-buang waktu dan menguras tenaga saja. Menambah beban pikiran juga. Gak perlu dipikirin, yang terjadi ya sudah biarkan terjadi,” ucap Alister yang kali ini memperingati tunangannya itu. Memberikannya sedikit nasihat yang kali ini membuat Aruna terdiam mendengar nya.
“Aruna cuma takut melakukan kesalahan,” ucap nya yang kali ini membuat Alister tersenyum dengan menenangkan. Ini pertama kalinya baginay aharus masuk ke lingkungan baru tanpa Alister di sisi nya, jelas saja jika ia merasa takut.
“Memangnya kenapa kalau melakukan kesalahan? Setiap manusia ya pasti gak akan luput dari kesalahan. Sayang, gak ada yang sempurna di dunia ini. Kita sebagai manusia biasa pun pasti memiliki kekurangan,” ucap Alister. Ia mengerti dengan perasan Aruna saat ini, karena ia pun juga pernah mengalaminya. Namun ia tak ingin hanya karena ini Aruna malah akan merasa tertekan. Ini baru awal. Masih banyak yang harus Aruna hadapi kedepannya, Alister tak ingin jika di awal saja Aruna memikirkan banyak hal yang menjadi beban untuk nya, lalu bagaimana kedepannya?
“Dengerin Kakak,” ucap Alister yang kini menatap mata Aruna dengan begitu dalam nya.
“Kamu selalu membanggakan bagi Kakak. Cukup lakukan seperti biasanya. Lakukan seperti apa yang kamu lakukan, Kakak percaya kamu gak akan melakukan kesalahan yang besar,” ucap Alister yang kini tengah berusaha menenangkan Aruna dengan kekhawatirannya. Aruna yang mendengar nya kini terdiam. Namun akhirnya ia menganggukkan kepalanya dan memeluk Alister. Mencari kenyamanan juga ketenangan di sana.
“Sudah. Ayo kita lanjut beres-beres nya. Setelah itu langsung tidur biar gak terlambat,” perintah Alister yang Aruna balas dengan anggukan. Aruna mengurai pelukannya. Dengan lembut kini Alister mengecup puncak kepala Aruna dengan sayang. Setelah nya mereka kembali melanjutkan membereskan barang-barang yang akan Aruna bawa.
***
Seorang laki-laki dengan sebuah jarum dan benang untuk menjahit luka robek pada pasien. Kini berjalan ke arah sebuah gadis yang kini terus saja menangis dengan wajah nya yang sudah dipenuhi dengan luka.
Tak ada rasa iba dalam dirinya saat melihat gadis di depan nya itu. Gadis tersebut terus saja meronta dengan tenaga yang masih ia miliki. Namun hasil nya nihil. Karena yang ada kini hanyalah luka di tangan dan kaki yang ia dapatkan. Sebab laki-laki tersebut mengikat nya menggunakan senar yang begitu tajam.
“Teruslah meronta seperti itu biar gue punya lebih banyak tinta dari darah lah untuk melukis lo nanti,” ucap laki-laki tersebut dengan senyuman evil nya. Tak merasa takut sama sekali melihat wanita tak berdaya di depannya itu.
“Gue udah peringatan sama lo buat gak main-main sama gue, tapi ternyata lo anggap remeh omongan gue,” ucap laki-laki yang kini tampak serius menjahit luka besar yang berada di perut gadis yang kini hanya bisa menangis sambil menjerit. Pasalnya ia di jahit tanpa obat bius. Dan yang membuat luka nya adalah laki-laki yang kini tengah menjahit luka nya itu.
“Lo pikir gue bercanda? Sayang sekali gue gak suka bercanda,” ucap nya lagi masih fokus mengerjakan apa yang kini tengah ia kerjakan.
“Maaf, gue mohon berhenti. Jangan bunuh gue, gue salah. Gue janji gak akan nyakitin Dinar lagi,” mohonnya dengan tangis dan menahan sakit. Namun kini la-laki yang tak lain adalah Nevan tersebut hanya menggelengkan kepalanya.
“Hmm gue gak akan berhenti. Gue harus menambah koleksi mata. Dan gue lihat mata lo cantik,” ucap Nevan dengan smirk nya. Tanpa memperdulikan gadis tersebut yang terus kesakitan, kini Nevan malah beranjak dari tempat nya karena ia sudah selesai menjahit luka yang sudah di buat nya.
Sebuah gergaji mesin kini di nyalakan membuat gadis tersebut semakin histeris. Hingga tanpa diduga, Nevan malah langsung menghunuskan pada leher gadis tersebut. Tidak membuat nya hingga terbelah namun cukup untuk menghilangkan nyawanya.
Suara jeritan yang begi Nevan adalah suara alunan lagu terdengar begitu nyaring. Hingga cairan darah yang biasanya Nevan gunakan untuk tinta kini muncrat hingga mengotori tubuh nya. Senyumannya kini mengembang saat melihat gadis yang kini sudah tak lagi bernyawa.
Kini hanya satu yang perlu ia lakukan. Yaitu mengambil mata gadis tersebut untuk koleksi nya.
Namun baru saja ia selesai dengan kegiatannya dan ingin meletakkan ke lemari khusu milik nya. Kini suara pintu dibuka bersamaan dengan suara pecahan beling membuat Nevan segera menoleh ke arah sumber suara.
Tatapannya kini menajam melihat siapa yang berada di sana. Berdiri dengan tatapan terkejut nya melihat apa yang kini dilihat nya.
***