
Alistar kini menatap Aruna dengan tatapan datar nya. Memperlihat kan ponsel Aruna yang kini menampilkan foto yang diposting oleh Aruna di media sosial nya. Aruna yang menjadi tersangka kini malah hanya menyengir memperlihatkan deretan gigi putih nya.
“Kamu tau apa yang kamu posting itu bisa buat Kakak harus pindah ke apartemen? Kakak gak masalah kalau emang harus pindah, tapi kalau Kakak pindah siapa yang bakalan jagain kamu?” pertanyaan Alister tersebut kini membuat senyuman Aruna memudar. Gadis tersebut kini menatap Alister dengan tatapan serius nya.
“Maaf,” ucap Aruna sambil menundukkan kepalanya. Alister yang melihat hal tersebut kini memejamkan matanya sambil menghembuskan nafas nya kasar, berusaha untuk amarah nya. Dengan begitu lembut nya kini Alister menarik Aruna ke dalam pelukannya.
“Sebelum bertindak itu harus dipikirkan dulu kedepannya bakalan gimana. Jangan asal melakukan sesuatu,” peringat Alister yang kini tengah memperingati Aruna yang masih saja terdiam. Alister kini mengelus puncak kepala Aruna sayang.
“Nanti kalau Kakak di suruh pindah ke Apartemen beneran gimana? Padahal niat Aruna cuma pengen negasin ke Kai, kalau Aruna udah punya Kakak. Aruna gak tau kalau bakalan kayak gini,” ucap Aruna dengan begitu sendu nya. Alister yang mendengar nya kini melepaskan pelukannya dan menangkup pipi Aruna dengan begitu lembut nya.
“Kakak ngerti kamu gak mau bikin orang lain salah paham sama kamu dan Kai. Dan pengen cepet-cepet buat nyelesain semua ini, tapi kita juga harus memikirkan efek yang kita dapat dari apa yang kita lakuin,” jelas Alister dengan begitu lembut nya. Aruna yang mendengar nya kini hanya menganggukkan kepalanya.
“Maaf Kak,” ucap Aruna lagi. Alister menganggukkan kepalanya sambil mengelus puncak kepala Aruna sayang.
“Jangan di ulangi lagi ya,” ucap Alister memperingati Aruna yang dibalas dengan anggukan oleh Aruna.
“Mau sampai kapan lo begini Aruna? Apa yang lo posting sama sekali gak ngaruh,” ucapan tersebut sontak saja membuat Aruna dan Alister menoleh ke arah sumber suara. Dan kini mereka dapat melihat Shifa yang berada di belakang mereka.
Melihat hal tersebut, Alister dan Aruna segera bamngun dari duduk nya. Karena kini mereka tengah berada di taman AHS dan duduk di salah satu kursi yang berada di sana. Tiba-tiba saja, Shifa menghampiri mereka dan mengatakan hal tersebut.
“Maksud kamu apa? Postingan aku? Aku ngelakuin itu juga buat nyelesain ini Shif,” papar Aruna pada Shifa yang kini malah tersenyum dengan begitu sinisnya pada Aruna.
“Lo liat itu ngaruh? Engga, yang ada orang makin tau kalau Kak Kaivandra ngejar lo. Hubungan gue sama Kak Andra makin gak jelas dan semua itu karena lo,” tunjuk Shifa pada Aruna yang kini terdiam mendengar nya.
“Yang begitu itu elo. Hubungan lo makin gak jelas malah nyalahin Aruna. Udah tau tingkah pacar lo kayak gimana dan hubungan lo kayak gimana, harusnya lo putusin dia. Bukannya makin nyalahin Aruna. Otak itu juga kudu waras nenangin hati lo yang bucin itu,” sarkas Alister membalas ucapan Shifa yang kali ini sontak membuat Shifa terdiam mendengar ucapan Alister. Karena apa yang Alister katakan ada benarnya.
Di saat tahu semua kekacauan ini ia malah masih saja bertahan.
“Kak,” tegur Aruna pada Alister. Menatap Alister sambil menggelengkan kepalanya.
“Mau kamu, aku gimana Shif? Aku juga berusaha buat mengakhiri ini. Aku berusaha buat nyelesain semua ini kok sama Kai. Tapi Kai sama sekali gak mau buat berhenti, terus aku harus gimana Shif?” tanya Aruna dengan tatapan lelah nya pada Shifa.
“Kalau gue minta lo buat keluar dari sekolah ini?” tanya Shifa dengan begitu sinisnya yang membuat Aruna kini terdiam mendengar nya. Sedangkan Alister yang mendengar nya kini justru tertawa dengan begitu hambar nya.
Shifa yang mendengar ucapan Alister tentu saja terkejut saat mengetahui jika Aruna adalah pemiulik sekolah nya saat ini. Dan ia malah dengan berani meminta gadis tersebut untuk keluar dari sekolah nya sendiri.
“Kalau keluar dari sekolah ini, sorry gue gak bisa,” ucap Aruna dengan rasa bersalahnya. Tak ingin berada di sana lebih lama lagi, Alister segera menarik Aruna untuk pergi dari tempat tersebut.
“Kakak, harus nya gak melakukan itu sama Shifa,” peringat Aruna pada Alister saat mereka sudah berada jauh dari Shifa.
“Biarin aja, dia harus di sadarin dulu biar gak nyalahin kamu terus,” tegas Alister yang membuat Aruna kini menghembuskan nafas nya sambil menggelengkan kepalanya ,mendengar ucapan Alister.
Begitulah Alister, emosi nya tak bisa dikendalikan jika hal tersebut menyangkut Aruna. Ia terlalu menyukai dan mencintai Aruna. Hingga tak pernah menyukai orang yang berani menyakiti Aruna.
“Shifa cuma lagi emosi kak. Kalau Aruna ada di posisi Shifa, mungkin Aruna juga bakalan ngelakuin hal yang sama,” ucap Aruna berusaha menenangkan Alister yang kini hanya memutar bola matanya sambil berdecih.
“Kamu yakin? Kakak gak yakin kamu bisa ngelakuin itu. Dan satu lagi, Kakak juga gak akan melakukan hal bodoh seperti yang Kai lakukan,” tegas Alister yang Aruna balkas dengan anggukan. Ia begitu yakin Alister tak akan menyakitinya.
“Udah ya Kak. Gak perlu dipikirin lagi, Aruna gak papa kok,” ucap Aruna menenangkan Alister. Alister menghembuskan nafas nya sambil menganggukkan kepalanya.
“Balik ke kelas aja, bentar lagi udah mau masuk,” ucap Alister sambil menggenggam tangan Aruna mengajak Aruna menuju ke arah kelas gadis tersebut.
“Aruna, Kakak bawain ini buat kamu,” suara teriakan tersebut menyambut Aruna dan Alister, saat mereka baru saja sampai di depan kelas Aruna. Dan bersamaan dengan sahabat Alister yang baru saja datang sambil menunjukkan makanan yang mereka beli di kantin.
“Wah makasih ya Kak,” ucap Aruna pada Ivan yang membawakan makanan untuk nya.
“Kalian ngapain dah ke sini?” tanya Alister menatap sahabatnya dengan tatapan penuh tanya nya.
“Mau nyamperin Aruna lah. Emang lo aja yang mau ketemu Aruna,” sungut Dery yang membuat Alister kini hanya memutar bola matanya malas mendengar ucapan Dery.
“Iye in, udah ayo balik bentar lagi masuk. Aruna, Kakak balik dulu. Kalau ada apa-apa langsung bilang,” pesan Alister yang dijawab dengan anggukan dan senyuman oleh Aruna. Setelah nya Alister segera menggiring sahabat nya untuk segera pergi dari sana.
***