Aruna Story

Aruna Story
Gadis Ajaib



Jam  istirahat di kelas Aruna kini di berikan dua puluh menit lebih dulu karena guru yang mengajar di kelas nya ada urusan mendadak. Tentu saja hal tersebut menjadi kesenangan tersendiri bagi murid di kelas Aruna.


“Aruna, lo mau nunggu Alister atau kantin bareng gue?” tanya Shifa pada Aruna yang kini tengah membereskan alat tulisnya. Aruna tampak berpikir sejenak sebelum akhirnya menjawab Shifa.


“Ikut kamu aja deh,” jawab Aruna yang dijawab dengan acungan jempol oleh Shifa.


“Tapi gue di kantin IPS gak papa?” tanya Shifa lagi.


“Sekalian nyamperin pacar gue,” lanjut Shifa dengan cengirannya yang membuat Aruna kini memutar bola matanya mendengar ucapan Shifa.


“Sesekali temenin aku ke kantin IPA dulu lah,” pinta Aruna dengan tatapan memohonnya. Shifa Yang melihat itu tertawa kecil sambil menganggukkan kepalanya.


“Ok karena lo murid baru jadi kali ini gue temenin lo ke kantin IPA,” ucap Shifa lalu merangkul pundak Aruna. Mengajak Aruna untuk pergi dari sana menuju ke arah kantin IPA.


Saat mereka keluar kelas, Aruna melihat lapangan samping lingkungan IPA begitu ramai. Dari atas sana Aruna melihat ke arah bawah di lihat nya kini orang yang tengah bermain skeat broad di sana.


“Wah ada yang main skateboard. Ke sana yuk Shifa. Masih dua puluh menit kan istirahat nya? Nanti kamu ke kantin IPS aja gak papa, aku sama Kak Al, tapi sekerang temenin aku lihat itu dulu,” pinta Aruna dengan tatapan memohonnya pada Shifa. Shifa yang mendengar nya kini hanya berdecak sambil tersenyum.


“Yuk lah, kebetulan gue ada temen juga di kelas Bahasa,” ucap Shifa. Karena tempat yang bermain skateboard tersebut berada di depan kelas Bahasa.


“Kayak nya temen kamu di mana-mana ya,” ucap Aruna dengan senyumannya.


“Jelas dong. Gue kan gampang berinteraksi, dan lagi gue juga OSIS,” jelas Shifa yang membuat Aruna kini menganggukkan kepalanya mendengar ucapan Shifa.


“Oh iya, lo setelah ini mau ekskul apa?” tanya Shifa saat mereka kini tengah berjalan ke arah lift.


“Kayaknya gak ikut apa-apa deh. Gak mungkin di boleh sama Kak Al.” Aruna kini menipiskan bibirnya. Shifa yang mendengar nya kini hanya mengelus punggung Aruna.


“Udah gak usah sedih, Kak Alister pasti khawatir sama lo, lagian lo juga baru sembuh,” ucap Shifa yang Aruna balas dengan anggukan.


Tak lama mereka pun akhirnya keluar dari lift. Kini tujuan mereka adalah tempat bermain skateboard. Tatapannya kini berbinar melihat apa yang disukainya itu kini berada di depannya.


“Boleh pinjem gak sih?” tanya Aruna dengan tatapan berbinar nya melihat Skateboard tersebut.


“Emang lo bisa?” tanya Shifa memicingkan sebelah matanya.


“Ck jangan ngeremehin aku dong,” ucap Aruna. Lalu setelah nya Aruna menuju ke arah laki-laki yang tengah bermain skateboard tersebut.


Kini sudah banyak yang menatap ke arah dua gadis cantik tersebut dengan tatapan berbinar nya. Salah satu laki-laki yang bermain skateboard tersebut berjalan mendekat ke arah kedua gadis tersebut.


“Tumben lo ke sini? Btw siapa nih Fa?” tanya laki-laki manis dengan lesung pipi di kedua pipi nya itu pada Shifa.


“Jangan diganggu. Dia pacarnya Kak Alister,” peringat Shifa yang langsung membuat laki-laki tersebut terdiam.


“Ini temen gue Ar, lo mau pinjem kan? Pake punya dia aja,” ucap Shifa memperkenalkan laki-laki di depannya itu sebagai temannya. Aruna tersenyum sambil menganggukkan kepalanya yang juga dibalas dengan senyuman oleh laki-laki di depannya.


“Lo mau pinjem? Nih pake aja,” ucap nya memberikan skateboard yang di bawahnya pada Aruna yang segera menerima nya dengan senyuman lebar nya.


***


“Lo tau Aruna kalau udah punya temen tuh aktif banget. Kalau tuh cewek ngilang gimana?” ketus Alister.


Sahabat nya yang tak mengetahui hal tersebut hanya meringis. Hingga saat mereka sampai di kelas Aruna benar saja. Kini gadis tersebut sudah tak berada di sana. Ketiga sahabat Alister yang tak tahu jika Aruna seberani itu dan begitu mudah akrab kini dibuat melongo. Sedangkan Alister kini sudah memejamkan matanya.


Alister segera keluar dari kelas Aruna dan memilih untuk menghubunginya. Namun baru saja Alister mencari nama gadisnya itu. Irgi kini menepuk pundaknya membuat Alister mengerutkan kening nya.


“Noh pacar lo di kelas Bahasa, jauh banget main nya,” ucap Irgi sambil menggelengkan kepalanya melihat Aruna yang kini sudah berada di kelas Bahasa.


Alister yang melihat nya kini sudah menganga. Melihat Aruna yang tengah bermain skateboard.


“Jago juga dia mainnya,” ucap Ivan sambil memperhatikan Aruna.


“Temennya dia mana Shifa lagi, cocok dah tuh berdua,” ucap Dery dengan tawa kecil nya.


Alister menggelengkan kepalanya lalu segera menuju ke arah Aruna untuk menjemput gadisnya tersebut. Dan mengajaknya ke kantin bersama.


“Ajaib juga cewek lo,” ucap Irgi dengan tawanya yang membuat temannya yang lain juga tertawa kecil mendengar nya.


Dengan terburu-buru kini Alister menuju ke arah Aruna. Saat Alister memasuki lingkungan kelas Bahasa, banyak yang memperhatikannya dengan tatapan bertanya. Karena tak bisanya Alister akan datang ke kelas Bahasa. Karena sebelumnya Alister pun tak pernah melakukan sidak, ia hanya melakukan penertiban.


Kedatangan Alister membuat banyak orang yang tak mengetahui keberadaan Aruna di kelas Bahasa bertanya-tanya.


“Sudah puas main nya Aruna?” pertanyaan Alister tersebut sontak membuat Aruna yang kini tengah bermain skateboard berhenti dan melihat ke arah Alister dengan cengirannya.


Aruna mengambil Skateboard nya lalu memberikannya pada teman Shifa.


“Makasih ya. Shifa ayo balik,” ajak Aruna dan langsung menarik tangan Shifa.


“Eh lo aja Ar. Gue mau ke IPS,” ucap Shifa dengan senyumannya lalu melepaskan tangan Aruna.


Shifa menunduk ke arah Alister lalu segera pergi dari sana. Aruna yang melihat Alister kini hanya menatap nya dengan datar. Langsung menuju ke arah Alister dan memeluk lengan kekasihnya itu.


“Maaf ya. Tadi tuh gak tahan banget pengen nyobain,” jelas Aruna dengan tatapan bersalah nya pada Alister. Melihat tatapan tersebut Alister menjadi tak tega untuk marah padanya lebih lama.


“Jangan diulangi. Inget buat selalu izin mau ngapain dan mau kemana aja,” tegas Alister sambil mengelus puncak kepala Aruna yang membuat Aruna kini menganggukkan kepalanya mendengar ucapan Alister.


Semua interaksi Aruna dan Alister tersebut tak lepas dari pandangan banyak siswa dan siswi. Tatapan kagum, iri, dan juga tak suka melihat Aruna yang kini begitu dekat dengan Alister.


Alister dan Aruna kini berjalan bersama menuju ke arah kantin juga bersama dengan sahabat Alister yang mengikuti di belakang nya.


***