Aruna Story

Aruna Story
Calon Dokter



Aruna kini menatap laptop nya dengan tatapan penuh harap nya. Tangannya kini menengadah, berdoa untuk hasil yang tengah ia tunggu. Waktu memang begitu cepat berlalu, hingga tanpa sadar kini sudah akan pengumuman SNMPTN. Ya, itu lah yang kini tengah Aruna tunggu. Menunggu hasil dari SNMPTN nya.


Di samping nya kini Alister juga ikut menunggu bersama dengan Aruna, sambil mengelus kucing yang berada di pangkuannya.


“Aku deg degan banget Kak. Takut gak lolos,” ucap Aruna dengan tatapan cemas nya.


Alister jelas mengerti perasaan tunangannya itu karena ia juga pernah ada di posisi seperti ini. Menunggu hasil yang begitu ia harapkan. Alister mengelus puncak kepala Aruna sayang.


“Berdoa yang terbaik aja. Kalau emang gak lolos, masih ada SBMPTN, Mandiri, atau swasta,” jelas Alister. Aruna kini tampak cemberut mendengar nya.


“Aku pengen satu kampus sama Kakak,” ucap Aruna tak menyetujui jika ia harus masuk kampus swasta.


Kalau gitu kamu harus giat belajar nya buat SBMPTN kalau emang gak lulus SNMPTN nya,” papar Alister yang kini akhirnya anya membuat Aruna hana menganggukkan kepalanya.


Kini ia kembali melihat ke arah laptop nya tersebut, detak jantung nya bahkan kini sudah berdetak dengan begitu cepat nya.


Hingga tak lama saat sudah jam nya, Aruna dengan segera masuk ke akun LTMPT nya. Aruna kini masih memejamkan matanya.


“Liatin ya Kak. Kalau hasil nya bagus suruh aku buta mata. Kalau jelek langsung keluarin aja dari akunnya,” perintah Aruna pada Alister yang kini hanya terkekeh mendengar ucapan tunangannya itu.


“Udah aku keluarin tuh,” ucap Alister dengan begitu santainya. Mendengar hal tersebut kini sontak Aruna membuka matanya dan menatap Alister dengan tatapan membelalaknya. Tak percaya jika Alister akan mengatakannya semudah itu.


Namun tak lama tatapan tersebut langsung berubah sendu, dengan air matanya yang sudah siap untuk turun.


Alister yang melihat nya kini justru meledakkan tawanya.


“Kakak kok jahat sama Aruna? Kakak udah gak sayang sama Aruna?” tanya Aruna dengan tiba-tiba dengan tangis nya yang kini sudah pecah. Alister yang mendengar nya kini mengerutkan kening nya.


“Kenapa ngomong gitu?” tanya Alister dengan tatapan lembut nya sambil menangkup wajah kekasih nya itu yang kini sudah berderai air mata.


“Buktinya Kakak ketawa liat Aruna yang gak lolos SNMPTN,” ucap Aruna dengan sisa tangisnya. Alister kini justru tersenyum ke arah Aruna, lalu membuat kepala Aruna menoleh ke arah layar laptop yang kini sudah menampilkan hasil dari SNMPTN nya.


“Aruna lolos?” tanya Aruna dengan tatapan tak percaya nya pada Alister yang kini tersenyum sambil menganggukkan kepalanya. Sedari tadi ia hanya mengerjai kekasih nya tersebut. Aruna kini sontak memeluk Alister karena begitu bahagia.


Setelah nya ia segera melepaskan pelukannya dari Alister. Dengan langkah terburu-buru nya dan sedikit berlari kini Aruna keluar dari kamar nya untuk mencari keberadaan Casia.


“Bunda,” teriak Aruna saat kini gadis tersebut sudah berada di lantai bawah, mencari keberadaan Casia.


“Bi, Bunda mana?” tanya Aruna dengan begitu bersemangat nya mencari keberadaan Casia. Hingga bertanya pada salah satu pelayan yang di lihat nya.


“Nyonya lagi di taman belakang Non, lagi….” Belum sempat pelayan tersebut melanjutkan ucapannya kini Aruna sudah pergi begitu saja untuk mencari Casia. Pelayannya yang melihat hal tersebut hanya menggelengkan kepalanya melihat bagaimana nona rumah nya itu yang tampak begitu antusias.


Aruna dengan sedikit berlari kini menuju ke arah taman belakang di mana Casia berada. Saat melihat keberadaan Casia yang tengah memberikan makan ikannya kini Aruna dengan segera berlari ke arah nya.


“Bunda,” teriak Aruna dengan begitu antusias nya.


Casia yang mendengar namanya dipanggil kini sontak menoleh dan mengerutkan kening nya bingung melihat Aruna yang kini berlari ke arah nya dan langsung memeluk nya.


“Aruna keterima SNMPTN Bun.” Aruna kini mengatakannya dengan begitu antusias saat kini ia sudah melepaskan pelukannya dari Casia. Casia yang mendengar nya kini membelalakkan matanya.


“Serius?” tanya Casia yang Aruna balas dengan anggukan semangat nya.


“Selamat sayang,” ucap Casia yang Aruna balas dengan anggukan.


Casia kini menggenggam tangan Aruna dan membawa nya untuk masuk ke dalam rumah mereka.


“Gimana buat merayakannya. Kamu ajak temen-temen kamu buat dateng kesini dan makan bersama. Biar nanti Bunda masak banyak makanan buat kalain,” saran Casia saat mereka kini berjalan bersama. Aruna yang mendengar nya kini menganggukkan kepalanya dengan semangat. Menyetujui ucapan Casia.


“Kapan Bun?” tanya Aruna pada Casia yang kini tampak berpikir sejenak.


“Gimana kalau besok? Kita makan malam bersama,” saran Casia yang Aruna balas dengan anggukan.


“Kalau gitu Aruna ke atas dulu, ngasih tau Kak Al sama yang lainnya,” dengan begitu semangat nya kini Aruna berjalan menuju ke arah lift untuk naik ke atas lantai kamar nya berada.


Senyuman gadis tersebut kini tak pernah luntur dari wajah nya.


Aruna membuka pintu kamar nya, namun ternyata tak ada Alister di sana. Sepertinya laki-laki tersebut sudah keluar dari kamar Aruna. Hingga Aruna memutuskan untuk menuju ke arah kamar Alister mengertuk nya dengan pelan.


“Kak, calon dokter dateng nih,” panggil Aruna sambil mengetuk pintu kamar Alister.


Di dalam sana, Alister yang tengah mengerjakan tugas kuliah nya tersenyum mendengar ucapan Aruna yang sudah menyebutnya calon dokter. Padahal kuliah saja belum. Ya, Aruna memang memutuskan untuk mengambil jurusan kedokteran untuk kuliah nya.


Tak ada yang spesial sebenarnya, ia hanya ingin membantu lebih banyak orang. Berada di rumah sakit dalam waktu yang begitu lama sepertinya membuat Aruna menganggap rumah sakit adalah rumah nya.


Apalagi keluarga nya juga memiliki sebuah rumah sakit, jadi ia berencana untuk melanjutkannya. Dan perusahaannya yang lain biarkan saja Alister yang mengurus nya. Ia hanya akan fokus sebagai dokter nantinya.


“Silahkan masuk, calon dokter,” ucap Alister berlagak seperti seorang penjaga pintu. Aruna yang mendengar nya kini hanya terkekeh.


“Makasih kak,” ucap Aruna yang membuat Alister tertawa.


“Ada apa?” tanya Alister dengan menaikkan sebelah alisnya.


Aruna kini masuk ke kamar Alister lalu segera duduk di salah satu sofa yang berada di sana.


“Bunda mau ngajak temen-temen kita buat makan malam bersama besok. Buat merayakan Aruna yang diterima SNMPTN nya,” jelas Aruna. Alister kini menganggukkan kepalanya mengerti.


“Nanti Kakak kasih tau yang lain,” ucap Alister yang Aruna balas dengan menggunakan semangatnya.


Setelah na Aruna masih berada di sana dan menemani Alister mengerjakan tugas nya.


***