Aruna Story

Aruna Story
Kai



Aruna bukanlah orang yang kenal takut. Bahkan setelah memberikan pukulan yang begitu keras pada laki-laki yang membully dua orang tadi ia masih berdiri dengan begitu gagah nya di depan laki-laki yang kini masih menunduk karena pukulan yang diberikan oleh Aruna. Tawa evil nya kini terdengar.


“Abis tuh orang. Cari masalah kok sama Andra.”


“Dia bukannya pacar Alister?”


Banyak yang kini membicarakannya dan mengatakan jika ia berada dalam bahaya. Namun ia sama sekali tak peduli. Karena ia yakin jika laki-laki di depannya itu berani melakukannya. Maka Alister tak akan diam saja.


“Berani banget lo? Siapa lo….” ucapan tersebut terpotong saat kini akhirnya laki-laki tersebut bisa melihat dengan jelas siapa yang kini berada di depannya. Tak hanya laki-laki tersebut. Kini bahkan Aruna juga terkejut melihat laki-laki yang berada di depannya itu.


“Aruna.”


“Kai.”


Ucapan yang begitu kompak. Kini mereka masih saling membeku. Berusaha mencerna apa yang kini terjadi di depannya. Berusaha untuk meyakinkan diri mereka jika yang kini mereka lihat bukanlah sebuah khayalan. Ya, kini yang berdiri di depan Aruna adalah Kaivandra. Mantan kekasih nya yang meninggalkannya begitu saja saat ia sedang tidak baik-baik saja.


Siswa siswi yang berada di sana, yang kini melihat hal tersebut terus memperhatikan dengan kening nya yang berkerut. Apa lagi melihat Kaivandra yang kini hanya diam saja.


Hingga tanpa mereka duga. Bukannya sebuah pukulan yang Kaivandra berikan pada gadis di depannya itu. Melainkan sebuah pelukan. Shifa yang melihat nya kini dibuat menganga. Menatap tak percaya pada Kaivandra yang kini bisa memeluk gadis lain di depan matanya.


“Kaivandra,” bentak Shifa sambil menarik Kaivandra dari pelukan Aruna. Aruna yang kini masih membeku karena terlalu terkejut kini hanya terdiam.


Kaivandra menatap Shifa dengan tajam nya memperingati gadis tersebut untuk tidak mengganggunya.


“Aruna, kamu baik-baik aja?” tanya Kaivandra sambil melihat keadaan Aruna. Namun Aruna kini segera melepaskan tangan Kaivandra yang berada di kedua sisi nya.


Kaivandra yang melihat hal tersebut kini terdiam. Tatapannya kini begitu sendu melihat ke arah Aruna yang hanya terdiam.


“Aruna, apa ini?” tanya Shifa yang kini kembali bersuara dan bertanya pada sahabat baru nya itu.


Kini mereka sudah mencari pusat perhatian. Berita menyebar dengan begitu cepat, hingga kini yang melihat mereka bertambah banyak. Aruna memejamkan matanya sambil menipiskan bibirnya.


“Aku gak pernah berharap ketemu lagi sama kamu Kai. Gak nyangka ternyata kita akhirnya ketemu lagi. Apa dunia sesempit ini?” tanya Aruna dengan begitu sinisnya yang membuat Kaivandra terkejut mendengar ucapan Aruna. Shifa dan sahabat Kaivandra yang tak mengerti apapun, kini hanya memperhatikan.


“Kita bicara di tempat lain ya,” pinta Kaivandra dengan begitu lembut nya pada Aruna.


“Kita sudah selesai. Gak ada yang perlu dibicarakan lagi,” tegas Aruna dan sudah akan pergi dari sana. Namun Kaivandra segera menahannya.


“Apa lagi Kai?” tanya Aruna dengan helaan nafas kasar nya.


“Please,” ucap Kaivandra dengan tatapan memohonnya pada Aruna.


“Kita udah selesai. Please, lepasin aku,” tegas Aruna namun Kaivandra tetap saja menahan Aruna. Hingga kini sebuah tangan menghempaskan tangan Kaivandra dan melepaskan tangan Kaivandra yang memegang tangan Aruna.


“Dia sekarang pacar gue, jadi jangan ganggu dia,” tegas orang yang melepaskan cekalan Kaivandra pada Aruna.


Aruna melihat ke arah samping nya, hingga kini terlihat Alister dengan wajah tegas nya menatap Kaivandra begitu tajam.


“Lo gak pantes buat dia, setelah apa yang lo lakuin sama Aruna. Kenapa sekarang lo harus mohon-mohon. Sedangkan saat Aruna ada di titik dia butuh dukungan lo malah kabur? Pengecut kayak lo gak pantes buat dapetin Aruna,” tegas Alister pada Kaivandra yang kini terdiam mendengar nya.


Orang yang melihat nya kini hanya terdiam sambil menebak-nebak apa yang sebenarnya terjadi antara Aruna dan Kaivandra.


Alister kini memilih untuk segera menarik Aruna pergi dari sana. Membelah kerumunan yang kini terus saja memperhatikan mereka. Namun baru saja ia sampai di depan pintu. Kini ia kembali lagi dan memberikan satu bogeman mentah untuk Kaivandra yang membuat semua orang terkejut melihat nya.


“Udah dari dulu gue pengen ngasih ini ke lo. Tapi lo duluan kabur.” Aruna yang melihat hal tersebut tampak begitu terkejut langsung menarik Alister untuk segera pergi dari sana. Membelah kerumunan yang kini begitu sesak.


Aruna menghembuskan nafas nya lega karena kini ia bisa terbebas dari kerumunan tersebut. Senyumannya kini mengembang dan hal tersebut tak terlepas dari perhatian Alister yang membuat Alister kini mengerutkan kening nya bingung.


“Kenapa senyum-senyum? Bahagia ketemu mantan?” tanya Alister dengan begitu sinisnya yang membuat Aruna kini terkekeh sambil menganggukan kepalanya. Hal tersebut membuat Alister kini membelalakkan matanya.


“Kamu bahagia ketemu lagi sama dia?” tanya Alister yang kini sudah menghentikan langkahnya dan menatap Aruna dengan tatapan tak percaya nya.


“Aku bahagia ketemu sama Kai. Karena dari sana aku tahu dan makin yakin sama perasaan aku. Kalau aku sudah gak punya perasaan apapun sama Kai, dan sekarang cinta aku bener-bener hanya untuk Kak Al,” ucap Aruna dengan senyumannya yang kini berhasil membuat Alister terdiam mendengar ucapan Aruna.


“Bisa ya kamu,” ucap Alister sambil mengacak rambut Aruna dengan begitu gemas nya yang membuat Aruna kini tertawa kecil.


“Kalau kakak tau dari awal. Laki-laki pengecut itu Kaivandra, sudah dari dulu kakak kasih dia pelajaran,” kesal Alister. Aruna yang mendengar nya kini mengelus tangan Alister dengan begitu lembut.


“Aruna gak suka apa-apa diselesaikan dengan tenaga. Sudah lah Kak. Aruna gak pengen lagi kita terlibat sama dia. Yang lalu biarlah menjadi yang dulu, sekarang kini cuma perlu fokus sama kehidupan kita yang sekarang ini,” pesan Aruna pada Alister.


Alister menghembuskan nafas nya. Ia begitu sulit menahan emosinya. Apalagi saat mengetahui jika laki-laki yang menghancurkan hidup Aruna selama beberapa tahun belakangan ini ternyata berada begitu dekat dengannya dan akhirnya ia bisa melihat nya dengan begitu jelas saat ini.


Menurut Alister, hanya satu pukulan saja tidak seberapa dibandingkan dengan apa yang dirasakan oleh Aruna selama ini.


Saat sampai di lift, di dalam sudah ada sahabat Alister yang kini datang dengan wajah khawatirnya.


“Aruna gak papa?” tanya Ivan bertanya lebih dulu. Mewakili sahabat nya yang lain.


“Aruna gak papa kok kak. Udah lah, kita balik ke tempat kita aja yuk,” ajak Aruna yang kni segera masuk ke dalam lift mengajak ke tempat laki-laki tersebut untuk pergi sebelum mereka membuat keributan di sana.


***