Aruna Story

Aruna Story
Kembali Sekolah



 Sudah sejak kemarin Aruna pulang dari rumah sakit, namun sampai saat ini Aruna masih belum berani untuk bersekolah. Ia lebih memilih untuk berada di rumah nya. Alister pun kini akhirnya harus pindah ke rumah nya kembali karena ia tak bisa membiarkan Aruna hanya dengan kedua orang tuanya. Karena Alister lah yang paling dibutuhkan oleh Aruna saat ini.


Seperti saat ini. Aruna kini tengah berada di taman belakang bersama dengan Alister. Alister kini membawa gitar miliknya. Senyuman Aruna selalu saja terbit setiap kali ia selalu bersama dengan Alister.


“Mau Kakak nyanyiin lagu apa lagi?” tanya ALister dengan menaikkan sebelah alisnya pada Aruna. Aruna kini tampak berpikir sambil menggelengkan kepalanya. Karena ia pun juga tak tahu banyak tentang lagu indonesia. Jika lagu Korea maka tanyakan saja padanya.


“Aruna tau nya lagu Korea,” ucap Aruna dengan cengirannya yang membuat Alister kini tertawa mendengar nya.


“Hm lagu apa ya?” tanya Alister sambil berpikir sejenak sebelum akhirnya laki-laki tersebut kini mulai memetik gitar nya. Suara alunan merdu dari gitar dan suara Alister kini menyapa telinga Aruna.


“Dari kejauhan, tergambar cerita tentang kita. Terpisah jarak dan waktu. Ingin ku ungkapkan rindu lewat kata indah. Tak cukup untuk dirimu,” senyuman Alister kini mengembang dengan begitu sempurna nya. Aruna yang mendengar nya kini ikut tersenyum juga tersipu mendengar lagu yang kini dinyanyikan oleh Alister.


Lagu tersebut terus mengalun. Hingga akhirnya Alister menyelesaikan bait terakhirnya. Aruna bertepuk tangan dengan begitu heboh nya.


“Bagus banget, keren,” ucap Aruna dengan begitu heboh nya yang membuat Alister kini tertawa dengan kecil karena nya.


“Ok karena sekarang udah malem, mending kita tidur hm,” pinta Alister yang Aruna balas dengan anggukan. Aruna merentangkan tangannya meminta Alister untuk menggendong nya. Alister yang melihat nya kini tersenyum lalu memeluk Aruna dan mulai menggendong nya memasuki kamar gadis tersebut.


***


Hari ini akhirnya Aruna kembali sekolah kembali. Namun kali ini Alister begitu posesif dan begitu menjaga Aruna. Laki-laki tersebut bahkan memerintahkan dua pengawal di rumah nya untuk menjaga Aruna dari jauh. Ia hanya takut kejadian seperti beberapa waktu lalu akan terjadi kembali.


“Kalau ada apa-apa ;langsung hubungi Kakak,” pesan Alister degan begitu etgas nya pada Aruna. Saat kini mereka tengah berada di dalam mobil yang berhenti tepat di depan gerbang sekolah Aruna.


“Iya kak,” ucap Aruna dengan senyumannya. Alister menghembuskan nafas nya kasar. Sebenarnya ia begitu takut membiarkan Aruna ini sendiri, namun ia juga tak bisa untuk berada bersama dengan Aruna karena ia harus kuliah.


“Aruna pergi dulu,” pamit Aruna yang Alister balas dengan anggukan. Alister mengelus puncak kepala Aruna. Setelah nya Aruna segera keluar dari mobil. Dan berjalan memasuki sekolah nya. Alister masih berada di sana, hingga memastikan jika Aruna masuk dengan aman baru lah ua segera pergi dari sana.


Aruna dengan langkah ringannya kini mulai memasuki sekolah nya. Di koridor banyak yang menyapa nya. Aruna hanya menjawabnya dengan senyuman sambil sesekali menyapa mereka kembali.


Aruna memang terkenal gadis yang baik dan ramah. Jadi tak heran jika banyak yang menyukai nya. Karena kebaikan gadis tersebut.


“Hey, udah masuk. Gimana keadaan lo sekarang?” tanya Mutia sambil merangkul Aruna saat ia melihat gadis tersebut yang kini berada di koridor. Aruna kini tersenyum dengan begitu lembut nya ke arah Mutia.


“Seperti yang kamu lihat. Jaun lebih baik,” ucap Aruna dengan senyuman nya pada Mutia yang kini menjawabnya dengan anggukan.


“Ada tugas atau catatan gak selama aku gak masuk?” tanya Aruna sambil melihat Mutia dengan tatapan penuh tanya nya. Sebenarnya ia berharap jika Mutia akan menjawab tidak.


“Ada, lo tau sendiri gimana Mrs. Laila. Gak ada hari tanpa pr,” ucap Mutia yang membuat Aruna kini menghembuskan nafas nya kasar mengingat tentang gurunya yang satu itu. Guru killer yang selalu membuat muridnya merasa tak nyaman dengan guru tersebut.


“Emang resiko punya guru killer,” ucap Aruna dengan helaan nafas nya yang membuat Mutia kini menghembuskan nafas nya kasar sambil menganggukkan kepalanya.


“Sabar,” ucap Mutia dengan kekehannya yang membuat Aruna kini juga ikut tertawa mendengar nya.


“Gak ke kampus Kai?” tanya Aruna dengan kerutan di kening nya menyapa Kai yang kini duduk di tempat nya. Namun melihat keberadaan Aruna, Kai segera berdiri dan berpindah tempat duduk.


“Mau ke kampus bentar lagi,” ucap Kai dengan cengiran nya yang membuat Aruna kini hanya menggelengkan kepala nya mendengar ucapan Kai.


“Buat kamu,” ucap Kai sambil memberikan tote bag untuk Aruna. Aruna mengerutkan kening nya namun akhirnya tetap saja ia mengambilnya dan melihat isi dari totebag tersebut yang tak lain adalah tas berwarna biru.


“Dari Mama,” ucap Kai yang akhirnya Aruna balas dengan anggukan.


“Makasih ya,” ucap Aruna dengan senyumannya.


“Keadaan kamu udah membaik kan?” tanya Kai pada Aruna yang Aruna balas dengan anggukan.


“Udah. Udah sana pergi, nanti telat lagi. Alister juga baru berangkat tuh,” ucap Aruna pada Kai yang kini menganggukkan kepalanya.


“Ya udah aku pergi dulu,” ucap Kai, lalu dengan begitu lembut nya kini laki-laki tersebut malah mencium kening Aruna dan Shifa bergantian membuat ketiga gadis yang berada di sana kini menganga mendengar nya.


“Wah parah,” ucap Mutia sambil menggelengkan kepalanya. Sedangkan sang pelaku kini sudah pergi dengan tertawa merasa puas dengan apa yang ia lakukan.


“Agak lain emang pacar lo,” ucap Aruna pada Shifa sambil menggelengkan kepalanya. Shifa yang mendengar nya hanya tersenyum. Namun tanpa siapa yang tahu sebenar nya senyuman itu menyimpan luka yang ia sembunyikan. Memang nya gadis mana yang tak terluka melihat kekasihnya mencium gadis lain. Apa lagi gadis tersebut adalah mantan kekasih yang belum ia lupakan. Namun Shifa selalu berusaha untuk menahan diri nya sendiri, dengan setiap apa yang Kai lakukan. Meskipun ia selalu terluka karena Kai yang terkadang lebih mementingkan Aruna, dibandingkan dirinya.


“Eh btw pulang nanti mau main gak?” tawar Mutia pada kedua sahabat nya itu yang kali ini di jawab dengan anggukan semangat oleh Shifa, namun Aruna kini menggelengkan kepalanya dengan wajah sendu nya.


“Gue gak boleh kemana-mana sama Kak Al. Di suruh langsung pulang, makin posesif dia sekarang,” ucap Aruna dengan helaan nafas kasar nya.


“Sabar ya Run, semua juga demi kebaikan lo,” ucap Shifa yang dibalas dengan anggukan oleh Aruna.


“Tapi, boleh gak kalau gue minta bantuan kalian?” tanya Aruna yang kini tiba-tiba memikirkan satu rencana.


“Perasaan gue jadi gak enak,” ucap Mutia yang di jawab dengan anggukan oleh Shifa.


“Kali ini gue gak ikut dulu bisa gak sih? Tiba-tiba ada firasat buruk gue nih,” ucap Shifa yang membuat Aruna kini mengerucutkan bibirnya sambil menatap sahabat nya dengan tatapan memohonnya.


“Please,” pinda Aruna yang membuat Mutia dan Shifa kini hanya bisa menghembuskan nafas nya. Karena tak tega melihat tatapan Aruna.


“Mau apa emang?” tanya Shifa yang kini akhirnya menimpali.


Aruna berbisik pada sahabat nya itu yang kini sontak membuat mata kedua sahabat nya membelalak mendengar ucapan Aruna.


***