
Alister dan Kai kini tengah berjalan bersama di koridor fakultas mereka. Mereka baru saja kembali dari kantin untuk mengisi perut mereka.
“Proposal kemarin yang acara anak teknik itu udah lo kasih ke DPM?” tanya Kai saat kini mereka tengah berjalan bersama untuk menuju ke arah kelas mereka. Selama di perjalanan kini banyak yang menatap mereka dengan tatapan kagum nya. Melihat ciptaan tuhan yang nyaris sempurna tersebut kini malah berjalan bersama.
Siapa yang akan akan mengalihkan perhatian mereka dari laki-laki seperti mereka? Jika dua laki-laki tampak kini malah bersama.
“Udah gue kasih, masih dievaluasi,” jelas Alister yang membuat Kai kini menganggukkan kepalanya mendengar penjelasan Alister. Dua laki-laki tersebut memang terlihat begitu keren saat berjalan bersama seperti ini. Bahkan saat kini mereka berjalan bersama di koridor, banyak yang kini menatap mereka dengan tatapan kagum nya.
“Emang boleh ada orang seganteng itu?”
“Mereka terlalu ganteng ih, gak boleh sih ini mereka jalan bareng gitu, gak baik nih buat gue.”
“Tutor memiliki mereka ada gak sih?”
Banyak sekali kini pembicaraan yang terus memuji mereka. Namun kedua laki-laki tersebut sama sekali tidak peduli dengan ucapan tersebut. Mereka terlalu sibuk berbincang saat ini.
Dan lagi bagi mereka, pujian mereka bukanlah apa-apa untuk mereka. Kecuali yang memuji mereka adalah gadis mereka baru lah mereka akan peduli dan akan begitu senang karena nya. Jika hanya pujian dari gadis lain mereka memilih untuk tidak mempedulikannya.
“Nanti jadi rapat kelar kelas?” tanya Kai pada Alister yang kini menganggukkan kepalanya.
“Jeda dulu tapi. Gue harus nganter Aruna pulang dulu, takut lama gue rapat nya,” ucap Alister pada Kai.
“Suruh bareng sama Shifa aja sih, Shifa bawa mobil dia. Biar gak usah jeda dan kita bisa cepet pulang,” saran Kai. Sebenarnya malam ini ia memiliki janji untuk menghadiri acara geng motor nya yang tengah melakukan pemilihan ketua baru.
Kevler sudah memutuskan untuk keluar dari club motor nya itu namun suntuk menjaga hubungan baik dengan temannya dan menghargai temannya yang mengundang nya akhirnya Kevler menyetujui nya.
“Gue nanti gak bisa pulang terlalu sore apalagi sampe malem. Gue ada urusan penting,” jelas Kai pada Alister yang kini tampak berpikir sebentar sebelum akhirnya ia menjawabnya dengan anggukan. Selama ini Kai sudah mau untuk selalu menurutinya agar mereka ada jeda untuk rapat organisasi. Jadi tak ada salah nya jika kali ini ia lah yang menuruti permintaan laki-laki tersebut.
“Ok deh, nanti gue bilang Aruna,” ucap Alistr yang kini Kai balas dengan acungan jempolnya.
Saat mereka kini tengah berjalan menuju kelas mereka tiba-tiba saja seorang gadis yang tidak mereka kenal kini berdiri di depan mereka dengan senyuman malu nya. Melihat hal tersebut kini kedua laki-laki tersebut menaikkan sebelah alisnya bingung melihat gadis tersebut.
“Hm sorry Al, Kai. Gue Runia, anak prodi ekonomi pembangunan. Gue cuma mau ngundang lo ke acara ulang tahun gue,” ucap nya sambil memberikan undangan ulang tahun pada Kai dan Alister.
Kedua laki-laki tersebut menaikkan sebelah alisnya namun tetap saja akhirnya ia mengambil undangan tersebut dan melihat nya dengan kening yang berkerut karena ia tak mengenal gadis di depannya itu.
“Gue harap kalian dateng ya, gue tunggu kedatangannya,” ucap gadis bernama Runia itu lalu setelah nya ia segera pergi dari sana. Kai dan Alister ki i menaikkan sebelah alisnya, tanpa dikomando kini mereka menganggukkan kepalanya dengan kompak.
“Lo dateng?” tanya Kai saat kipni mereka sudah berjalan kembali.
“Liat ntar aja lah,” ucap Alister dengan acuh. Pasal nya ia pun juga tak mengenal siapa gadis tersebut, jadi menurut nya datang tak datang pun bukan masalah untuk nya.
“Gue ngikut Aruna aja deh,” ucap Kai yang kini sontak membuat Alister menaikkan sebelah alisnya dengan wajah datar nya mendengar ucapan Kai.
“Kenapa Aruna? Yang diundang tuh gue bukannya Aruna,” kesal Alister pada Kai yang kini hanya mengedikkan bahunya mendengar ucapan Kai.
“Terserah gue lah. Lagian kalau lo ikut Aruna pasti ikut kan,” sinis Kai yang membuat Alister kini berdecak mendengar nya.
“Terserah lo,” kesal Alister lalu setelah nya ia berjalan lebih dulu meninggalkan Kai yang hanya berdecak melihat tingkah Alister.
***
Aruna dan Adina kini tengah berada di kantin untuk makan siang mereka. Adina kita tampak begitu sibuk dengan ponselnya yang membuat Aruna penasaran apa yang dilakukan oleh Adina. Karena sedari tadi ia hanya fokus dengan ponsel nya itu.
Hingga tak lama Adina kini malah membelalakkan matanya yang membuat Aruna ,mengerutkan keningnya.
“Kenapa?” tanya Aruna dengan tatapan bingung juga penasarannya pada Adian.
“Bukan apa-apa, ini gue liat idol gue akhirnya debut tau,” ucap Adina dengan begitu heboh nya yang membuat Aruna kini di buat menganga mendengar nya. Ia pikir apa yang Adina lakukan sedari tadi, ternyata gadis tersebut sedang melihat idolanya yang tengah di kabar kan debut.
“Siapa sih?” tanya Aruna dengan penasarannya.
“Levi, dia orang China tapi debut di Korea,” jelas Adina yang kini membuat Aruna ikut membelalakkan matanya.
“Levi, anak nya Lay exo bukan?” tanya Aruna yang membuat Adina kini menganggukkan kepalanya dengan semangat.
“Lo tau?” tanya Adina yang kini membuat Aruna menganggukkan kepalanya dengan begitu semangat nya.
“Tau lah, kan gue exol,” banga Aruna. Adina sontak kini memekik karena ia mendapatkan teman baru yang satu fandom dengan nya. Selama mereka berteman mereka memang jarang membicarakan tentang kpop. Dan kini akhirnya mereka tahu jika mereka satu fandom.
“Lo only atau mulfan?” tanya Adina.Kini mereka malah begitu semangat membicarakan tentang Korea begitu lah kpopers, jika sudah bertemu yang satu rumpun pasti akan begitu heboh.
“Gue Only exol. Kalau lo?” tanya Aruna balik pada Adina.
“Gue mulfan enhyphen,” jelas Adina yang membuat Aruna kini menganggukkan kepalanya. Setelah nya kini mereka melanjutkan pembicaraan mereka tentang hobi mereka yang sama.
Setelah lama mereka berbincang kini telepon Aruna berbunyi dan ternyata itu adalah dari Alister yang menghubunginya. Melihat nama kekasih nya, dengan segera kini Aruna menjawab nya.
“Halo, kenapa Yang?” tanya Aruna dengan begitu lembut nya pada Alister.
“Nanti kamu pulang sama Shifa dulu gak papa? Ada nanti ada rapat yang gak bisa di jeda dulu,” ucap Alister dengan rasa bersalah nya pada Aruna karena tak bisa mengantar gadisnya itu untuk pulang. Aruna yang mendengar nya kini menganggukkan kepalanya/
“Ok kak, nanti biar aku pulang sama Shifa. Kakak nanti pulang nya hati-hati,” ucap Aruna memperingati Alister yang kini tersenyum sambil menganggukkan kepalanya.
“Nanti kalau ada apa….” belum sempat Alister melanjutkan ucapannya kini Aruna sudah lebih menyela ucapan Alister.
“Langsung hubungin Kakak. Aku tahu Kak,” ucap Aruna sambil memutar bola matanya malas karena sudah begitu hafal dengan ucapan selanjutnya yang akan dikatakan oleh Alister. Terdengar helaan nafas di seberang sana dari Alister.
“Ya udah kamu hati-hati, nanti kalau pulang hubungi Kakak dulu,” perintah Alister pada Aruna yang kini menjawab nya gumaman.
Tak lama panggilan tersebut akhirnya dimatikan oleh Alister.
“Masuk kelas yuk,” ajak Aruna setelah nya pada Adina yang kini menjawab nya dengan anggukan.
Setelah nya mereka langsung pergi dari kantin dan menuju ke arah kelas mereka saat ini.
***