Aruna Story

Aruna Story
OSPEK



Waktu begitu tak terasa berjalan dengan cepat. Bahkan kini tanpa Aruna duga jika hari ini adalah hari terakhir ia menjalani OSPEK. Di hari terakhir OSPEK kini mereka benar-benar melepaskan penat mereka.


Apa lagi malam nanti adalah malam keakraban. Sedangkan pagi ini mereka hanya melakukan pengenalan lingkungan sekolah. Dan juga akan ada bakti sosial di daerah dekat kampus mereka.


Aruna kini tengah beristirahat sambil memakan bekal yang dibawanya. Bersama dengan Adina di samping nya kini gadis tersebut berbincang. Meskipun sudah kenal dengan para Maba yang lain namun mereka masih terlalu nyaman hanya berdua saja.


"Besok aku sama temen aku yang lain mau main sepulang sekolah, kamu mau ikut? Biar sekalian aku kenalin sama Kak Al sama Kai. Temen mereka banyak yang ganteng kok," ajak Aruna sekaligus menggoda teman nya itu yang selalu menjadi pengamat cowok ganteng di fakultas mereka.


"Mau Kak Alister atau Kak Kaivandra aja boleh gak sih," tanya Adina dengan wajah memelas nya yang kini dibalas dengan tatapan datar nya oleh Aruna.


"Jangan ngelunjak nya. Kai udah punya pacar dan Alister udah punya aku," tegas Aruna yang kini sontak membuat Adina tertawa mendengar ucapan yang begitu tegas itu.


"Bercanda aja elah," ucap Adian sambil merangkul pundak Aruna yang kali ini memicingkan matanya dan menganggukkan kepalanya.


"Udah keliatan sih," ucap Aruna yang setelah nya langsung membuat kedua gadis tersebut tertawa bersama.


Kini mereka sudah tak ada lagi banyak peraturan yang dijalani untuk OSPEK kali ini karena ini pun sudah hari terakhir mereka melakukan OSPEk. Jadi kini mereka bisa lebih santai.


"Lo sama pacar Kak Kaivandra itu deket? Bisa gitu?" Tanya Adina dengan penasarannya. Karena ia merasa pasti sulit untuk berada di lingkungan yang sama dengan masa lalu. Aruna yang mendengar nya kini menganggukkan kepalanya.


"Kita deket, bahkan kita sahabatan. Gak ada tengkar dan sebagainya. Walau aku tau kalau Shifa kadang cemburu atau kesel sama aku," ucap Aruna dengan senyumannya yang membuat Adina kini tampak kebingungan. Ia ingin mengetahui lebih banyak lagi. Namun ia juga tahu jika ada privasi yang coba Aruna pasang jadi ia tak akan melewatinya.


"Yang sering tengkar tuh malah Kak Al sama Kai. Pusing aku liat nya, tapi hubungan kita tetap baik kok," jelas Aruna yang kini dijawab dengan anggukan oleh Adina.


Tak lama kini suara para senior mulai memanggil mereka. Aruna da  Adina dengan segera berlari untuk berkumpul di lapangan kembali.


Kini para senior menyampaikan untuk acara bakti sosial mereka.


"Baik, saya akan bagi sesuai jurusan kalian untuk acara kali ini," ucap senior di depan mereka.


Acara pembagian kelompok per jurusan untuk acara bakti sosial kini mulai terlaksana. Beruntung kini Aruna dan Adina berada di kelompok yang sama.


"Wah kita satu kelompok sama gubma dong," ucap Adina dengan begitu heboh nya yang membuat Aruna kini hanya menggelengkan kepalanya mendengar ucapan sahabat nya itu.


"Lebay," sungut Aruna dengan kekehannya yang hanya membuat Adina kini menyengir sama sekali tidak membawa perasaan atas ucapan Aruna tadi.


Kini mereka mulai berjalan  bersama menuju ke arah tempat dilaksanakannya bakti sosial. Adina dan Aruna tentu saja tidak akan terpisahkan.


"Run lo bawa baju ganti buat ntar malem?" Tanya Adina saat kini mereka berada dalam perjalanan dengan menggunakan mini bus.


"Nanti Kak Al yang bawain," ucap Aruna dengan cengiran nya yang membuat Adina kini menganggukkan kepalanya.


"Punya tunangan Presma mah beda ya," ucap ucap Adina yang membuat Aruna kini tertawa kecil mendengar nya. Ucapan Adina tersebut kini sontak membuat tatapan dari mahasiswi lain tertuju pada mereka dengan tatapan penasarannya.


"Eh siapa yang tunangan Presma? Presma kampus kita?" Pertanyaan tersebut sontak kini membuat Aruna gelagapan mendengar nya. Begitupun dengan Adina yang kini ketakutan mendengar nya.


Tak lama kini akhirnya mereka sampai di tempat bakti sosial. Dengan panduan dari ketua bem fakultas juga beberapa dosen yang ikut kini mereka memulai kegiatan. Mulai dari pemeriksaan kesehatan yang dilakukan oleh senior mereka dibantu maba, juga penyaluran sembako pada warga sekitar.


"Capek banget," ucap Aruna yang kali ini duduk di salah satu kursi yang berada di sana seorang diri. Adina kini tengah membantu menyalurkan bantuan pada warna.


"Ambil makan nanti sebelah sana ya," ucap suara yang begitu lembut kini menyapa indra pendengaran Aruna. Aruna kini sontak mendongak hingga ia mendapati ketua bem dari fakultas nya kini berada di depannya. Wajah tersebut begitu tak asing bagi Aruna, begitupun dengan laki-laki tersebut yang kini tampak berpikir.


"Aruna?" Tanya laki-laki di depannya itu membuat Aruna kini terus berpikir keras.


"Gue Nevan, kita sempet ketemu pas gue nemuin kucing lo,” ucap Nevan yang kali ini membantu Aruna untuk mengingat tentang nya. Aruna berpikir sejenak sebelum akhirnya ia membelalakkan mata nya saat sudah menganut tentang laki-laki di depannya itu.


“Ah Kak Nevan,” ucap Aruna sambil menepuk kening nya. Akhirnya kini ia mengingat tentang laki-laki di depannya itu.


“Wah sedih gue dilupain gitu aja,” ucap Nevan yang kini membuat Aruna tertawa kecil mendengar nya.


“Gak ada maksud Kak, cuma ingatan aku memang minim. Ngerasa gak asing aku emang sama Kakak, tapi aku lupa kita kenal di mana,” jelas Aruna pada Nevan yang kali ini tertawa mendengar nya sambil menganggukkan kepalanya.


“Lo udah makan?” tanya Nevan yang Aruna balas dengan gelengan. Setelah nya Nevan langsung pergi begitu saja yang membuat Aruna kini menaikkan sebelah alisnya melihat hal tersebut.


Namun tak lama Nevan kini sudah datang dengan membawa dua kotak nasi untuk Aruna juga untuk dirinya. Nevan memberikan satu kotak untuk Aruna yang segera Aruna ambil dengan senyumannya.


“Makasih Kak,” ucap Aruna yang Nevan balas dengan anggukan. Nevan kini dengan segera duduk di kursi yang berhadapan dengan Aruna.


“Setelah OSPEK beberapa hari ini, gue baru tau kalau lo ada di fakultas yang sama kayak gue,” ucap Nevan yang membuat Aruna yang tengah membuka kotak nasinya kini tersenyum mendengar nya.


“Kakak sih gak mau menyelidiki,” ucap Aruna dengan candaannya yang di jawab dengan anggukan oleh Nevan.


“Lo jurusan apa?” tanya Nevan dengan tatapan penasarannya.


“Spesialis bedah,” jawab Aruna sambil menyuapkan nasi ke mulut nya.


“Wah kita sama tuh,” ucp Nevan yang kini tampak membuat Aruna terkejut mendengar nya.


“Iya? Wah nanti kita bisa saling sharing dong Kak,” ucap Aruna yang dibalas dengan anggukan oleh Nevan.


“Kapan pun kalau lo mau,” ucap Nevan yang Aruna balas dengan anggukan.


Mereka kini terus melanjutkan perbincangan mereka. Banyak yang kini menatap mereka dengan berbagai tatapan, tak hanya para senior namun para maba pun kini merasa iri dengan Aruna yang terlihat begitu dekat dengan Nevan. Meskipun Nevan bukan lah orang yang terkenal dingin namun Nevan termasuk orang yang susah untuk mereka dekati. Karisma dari laki-laki tersebut begitu kuat hingga membuat mereka sungkan pada Nevan. Namun kini Aruna bahkan Nevan yang mendekatinya lebih dulu, melihat bagaimana Nevan dan Aruna yang terlihat begitu dekat jelas membuat mereka iri.


Namun Aruna dan Nevan jelas tak peduli, mereka malah terlihat semakin asyik dengan pembicaraan mereka.


***