
Aruna kini tampak cantik dengan seragam sekolah nya, make up tipis yang kini membalut indah wajah nya semakin membuat gadis tersebut terlihat begitu cantik. Hari ini ia bersama dengan sahabat nya. Juga bersama dengan Kevler dan sahabat nya yang lain berencana untuk melakukan photo studio. Sekedar mengenang masa-sama SMA mereka dulu.
“Udah cantik belum?” tanya Aruna pada Alister dengan senyuman lebar nya pada Alister yang kini membenar kan sedikit rambut Aruna lalu setelah nya ia dengan segera menangkup pipi Aruna.
“Udah cantik pake banget,” ucap Alister yang kini membuat Aruna tertawa kecil mendengar nya.
“Makasih Kak,” ucap Aruna yang di jawab dengan anggukan oleh Alister. Setelah nya ia segera merangkul tunangannya itu menuju ke arah tempat mereka akan berfoto karena kini mereka tengah berada di ruang make up.
Teman-teman mereka yang lain kini sudah tampak bersiap di sana. Senyuman Aruna mengembang melihat bagaimana antusias nya sahabat mereka. Bahkan Vian yang baru sampai beberapa jam lalu langsung bergegas untuk ikut berfoto. Tentu ia tak akan melewatkannya.
“Udah siap semua?” tanya sang photographer yang kini sudah bersiap di posisi nya bersama dengan tim nya yang lain.
“Tuh Kak bentar. Pengantin baru emang rada lama, di maklumi Kak,” ucap Mutia sambil menunjuk ke arah Aruna dan Alister yang kini hanya memutar bola matanya malas mendengar ucapan sahabat Aruna itu.
“Calon,” koreksi Alister yang kini berhasil membuat wajah Aruna bersemu karena terlalu malu mendengar ucapan Alister.
“Ngobrol mulu, sini deh cepetan jangan ngobrol mulu,” ucap Kai yang kini sudah bersungut kesal.
“Susah kalau orang hatinya udah menghitam karena iri dengki mah,” ucap Alister menyindir Kai yang kini membelalakkan matanya mendengar ucapan Alister.
“Mereka berdua bisa di cut off aja gak sih? Capek banget gue denger berantem mulu dari tadi,” ucap Vian. Ia sudah begitu lelah dan kini malah mendengar pertengkaran kekasih dan mantan kekasih Aruna yang tak ada habisnya.
“Lo baru denger mulai beberapa jam lalu aja capek, apalagi gue,” ucap Irgi sambil menghembuskan nafas nya kasar.
“Paling parah mah Aku Kak,” kali ini Aruna yang menimpali. Kedua laki-laki tersebut sontak terdiam. Sahabat mereka yang lain kini hanya menggelengkan kepalanya mendengar hal tersebut. Sedangkan sang photographer dan tim nya hanya terkekeh mendengar nya.
“Tolong dimaklumi ya Kak. Kerjaan mereka emang berantem aja, yang satu nya mantan dia satu nya tunangan dia. Tapi dipersatukan sebagai rekan ketua dan wakil BEM juga sekarang berteman,” jelas Shifa dengan senyuman lebar nya sambil menunjuk antara Kai, Alister, juga Aruna. Ia selama ini hanya diam mendengar dan melihat pertengkaran tersebut. Namun tidak untuk kali ini, ia benar-benar sudah lelah mendengar nya.
“Ngapain sih lo capek-capek jelasin ke mereka?” tanya Mutia pada Shifa yang kini menatap sahabat nya itu dengan datar.
“Biar pada tau, gue capek banget liat tingkah mereka. Apa lagi lo,” kesal Shifa sambil menunjuk ke arah Kai yang kini akhirnya terdiam mendengar nya.
“Udah bisa dimulai?” tanya Dery yang kali ini memecah pertengkaran tersebut untuk mengalihkan pembicaraan. Karena ia rasa jika di lanjut kan maka akan ada pertengkaran yang lebih menggemparkan setelah ini.
Setelah nya mereka juga berfoto bersama dengan sahabat mereka masing-masing. Aruna juga ikut berfoto bersama dengan sahabat Kai setelah Kai dan sahabat nya berfoto bersama. Lalu tak ketinggalan saat Aruna dan Alister yang berfoto bersama Kai malah ikut. Mereka tak hanya berfoto dengan seragam SMA mereka namun juga menggunakan gaun dan jas formal. Kali ini mereka begitu nait melakukannya.
Banyak pose dan foto yang mereka lakukan dengan diiringi oleh candaan dan tawa yang meramaikan. Mereka bahkan juga membuat video di balik layar untuk mengenang nya suatu saat nanti.
***
Hari pengumuman kelulusan kini akhirnya tiba. Semua murid sudah diminta untuk berkumpul di aula untuk memberikan surat kelulusan. Aruna bersama sahabat nya kini saling menggenggam dengan begitu erat. Dengan doa yang kali ini mereka panjat kan.
“Gue setelah ini masih harus berjuang buat SBMPTN, kalian doain gue ya,” ucap Mutia yang kali ini menoleh ke arah Mutia dengan senyumannya.
“Bukan hanya bakalan doain lo, tapi kita bakalan nemenin lo dan bantuin lo,” tegas Shifa yang di jawab dengan anggukan setuju oleh Aruna.
“Udah kamu tenang aja, kita bakalan bantuin dan dukung kamu. Kita bakalan nemenin kamu di setiap tes nya ,” ucap Aruna dengan senyuman nya pada Mutia yang membuat Mutia kini ikut tersenyum mendengar nya. Ia merasa begitu senang juga beruntung karena memiliki sahabat seperti sahabat-sahabat nya saat ini.
Mereka selalu saja baik pada Aruna. Apa lagi Shifa, bahkan setelah apa yang Mutia lakukan padanya, Shifa masih saja mau menerima nya.
“Thanks ya,” ucap Mutia yang kini Aruna dan Shifa balas dengan anggukan dan senyumannya.
Tak lama kini akhirnya waktu yang di tunggu-tunggu tiba. Mereka mulai dibagikan surat sesuai dengan kelas mereka. Aruna dan kedua sahabat nya kini sudah menerimanya.
“Kok aku deg degan ya,” ucap Aruna yang di balas dengan anggukan setuju oleh sahabat nya yang lain karna mereka pun kini merasakannya.
“Bismillah,” ucap Shifa.
Setelah nya mereka kini mulai membuka surat mereka dan seruan senang kini mulai terdengar dari aula tersebut saat melihat isi dari surat yang kini menyatakan jika mereka lulus. Aruna dan kedua sahabat nya kini saling berpelukan. Antara senang karena kini akhirnya mereka bisa bernafas lega setelah dinyatakan lulus. Namun juga merasa sedih karena karena waktu mereka untuk bermain dan bersantai telah usai. Waktu masa putih Abu mereka kini sudah berakhir. Kini sudah waktunya bagi mereka untuk menghadapi kenyataan di depan mereka. Kehidupan nyata mereka kini sudah terpampang di depan mereka.
“Setelah ini kita pasti sudah susah buat ketemu. Tapi gue harap kita bisa untuk tetep ngeluangin waktu meskipun seminggu sekali buat ketemu sebentar,” pinta Shifa yang dijawab dengan senyuman dan anggukan setuju oleh sahabat nya yang lain.
“Bener, jangan sampai hubungan ini putus begitu saja. Setelah lama aku gak punya temen dan lingkupiku Cuma Kak Alister akhirnya aku punya kalian sebagai sahabat yang sekarang sudah aku anggap sebagai saudara ku. Jadi aku harap persahabatan kita tidak putus begitu saja dan semakin erat kedepan,” pinta Aruna pada sahabat nya yang kini mengangguk setuju. Persahabatan dan pertanyaan yang selama ini mereka jalani bersama sudah begitu erat hingga sulit membuat mereka untuk melepaskan. Itu memang yang terbaik dalam sebuah persahabatan.
***