Aruna Story

Aruna Story
Cogan



Keadaan lapangan futsal indoor kini begitu ramai hanya dengan teman-teman Alister juga teman-teman Kai yang kini berada di sana. Tak hanya sahabat mereka. Namun juga ada teman Alister dari jurusan yang sama dengannya yang kini juga ikut bersama dengan mereka.


Sesuai dengan yang Aruna perkirakan jika perempuan yang datang hanya lah iya dan ketiga temannya. Aruna merasa senang karena kini Adina sudah tak merasa canggung lagi. Sahabatnya pun bisa menerima Adina dengan biak.


Pembicaraan mereka kini tak lepas cowok ganteng yang ada di fakultas atau jurusan mereka. Kata mereka ini adalah ajang pamer atau ajang saling merekomendasikan. Mumpung tak ada kekasih mereka di sana.


“Kalau di fakultas kita yang paling terkenal sih ya Kak Nevan, dan kalian tau. Aruna deket sama dia,” ucap Adina dengan begitu bersemangat nya yang kini tentu saja membuat kedua sahabat Aruna yang lainnya membelalakkan mata nya mendengar hal tersebut. Sedangkan Aruna kini hanya memutar bola matanya malas mendengar ucapan Adina.


“Serius lo deket sama Nevan Run? Wah di fakultas gue dia juga terkenal tuh,” ucap Mutia dengan tatapan serius nya pada Aruna.


“Gak deket, sekedar kenal aja sih. Dia sempet bantu gue nemuin Leon,” jelas Aruna yang kini malah membuat sahabat nya itu menatap Aruna dengan tatapan curiga nya, Aruna yang melihat nya kini hanya memutar bola matanya malas.


“Gak usah aneh-aneh ya kalian,” kesal Aruna yang membuat sahabat nya itu kini tertawa mendengar Aruna yang sudah akan merajuk.


“Gue mah setia ya sama Kak Alister,” sungut Aruna dengan kekesalannya apalagi saat melihat sahabat nya itu yang kini malah menertawakannya.


“Iya deh yang paling setia,” goda Shifa sambil mencolek dagu Aruna yang kini sukses membuat Aruna berdecih karena nya.


Menggoda Aruna kini seolah menjadi agenda untuk mereka.


“Udah jangan di godain lagi, pawang nya serem,” ucap Mutia untuk menghentikan sahabat nya itu yang kini justru tertawa dan menganggukkan kepalanya.


“Tapi serius deh Run, terus cerita lo bisa deket lagi sama dia gimana sih? Kan kata lo dia Cuma bantuin Leon. Dan itu kejadian kapan sih?” tanya Mutia dengan wajah serius dan penasarannya pada Aruna yang kini tampak menghela nafas nya sebelum akhirnya ia memulai cerita nya.


“Itu kejadian udah lama, pas kita masih kelas dua belas. Terus kemarin pas baksos kita gak sengaja saling tatap muka lagi dan tau nya dia masih inget sama gue. Gue aja padahal udah lupa sama dia,” ucap Aruna yang membuat sahabat nya kini menganggukkan kepalanya mendengar penjelasan Aruna.


“Frist love kali dia sama lo,” ucap Shifa menggoda Aruna yang kini hanya berdecak sambil menggelengkan kepalanya.


“Ingatannya kuat kayak nya,” kelakar Aruna yang membuat sahabat nya yang lain kini tertawa mendengar nya.


“Kata gue sih dia suka sama lo Run, dia juga sampe minta kontak lo kan?” tanya Adina yang kini tentu saja membuat sahabat nya yang lain terkejut mendengar nya.


“Serius? Terus lo kasih?” tanya Shifa dengan tatapan terkejut nya. Mendengar Aruna yang memberikan kontak nya pada laki-laki lain kini justru membuat dirinya lah yang terkejut.


“Mau gue tolak juga gak enak, ya udah gue kasih,” ucap Aruna . Kedua sahabat nya yang sudah mengetahui bagaimana Alister kini menggelengkan kepalanya mendengar ucapan Aruna.


“Cari masalah aja lo,” ucap Mutia sambil menggelengkan kepalanya. Aruna yang mendengar nya kini hanya menghela nafas nya kasar.


“Nanti deh gue bilang ke Kak Alister. Lagian gue juga gak save kok nomor nya,” papar Aruna.


Adina yang tak mengerti dengan apa yang terjadi kini mengerutkan kening nya bingung. Menatap ke arah Aruna dengan tatapan penasaran dan penuh tanya nya.


“Emang kenapa?” tanya Adina dengan penawarannya.


“Lo tau isi kontak Aruna itu bisa dihitung pake jari. Selain Alister, Kai, kakek nya, sama bokap nya Alister gak ada kontak cowok lain di kontak nya.,” jelas Shifa yang kini membuat Adina menganga mendengar nya masih tak percaya dengan apa yang baru saja di dengar nya.


“Kontak mereka gak ada?” tanya Adina sambil menunjuk ke arah sahabat Alister juga sahabat Kai. Aruna yang mendengar nya kini menggelengkan kepalanya.


“Udah pecah jari belum sih?” tanya Mutia yang kini Aruna balas dengan gelengan.


“Kurang satu lagi jadi sepuluh,” ucap Aruna dengan cemngirannya. Adina yang baru mengetahui hal tersebut tentu saja terkejut sedangkan kedua sahabat nya yang sudah mengetahui bagaimana Alister kini hanya menggelengkan kepalanya.


“Gak ada lawan,” ucap Shifa sambil bertepuk tangan dan menatap Aruna dengan tatapan kagumnya. Aruna yang melihat hal tersebut kini hanya menggelengkan kepalanya.


“Berlebihan.,” sungut Aruna dengan kekesalannya yang membuat sahabat nya kini hanya menggelengkan kepalanya mendengar hal tersebut.


“Cowok nya posesif dan cewek nya penurut,” ucap Shifa yang dibalas dengan anggukan oleh temannya yang lain.


“Kalian bicarain apa sih?” tanya Alister yang kini tiba-tina muncul bersama dengan sahabat nya yang lain.


“Bukan apa-apa, kamu sudah selesai?” tanya Aruna pada Alister yang kini menganggukkan kepalanya mendengar ucapan Aruna.


Tak hanya Alister kini teman mereka yang lain juga ikut mendekat ke arah mereka dengan keringat yang kini sudah membanjiri wajah mereka. Aruna kini segera bangun dan mengelap wajah Alister lalu memberikannya minum.


“Mau makan bareng dulu gak sih abis ini?” tanya Danu menyarankan.


“Gak usah aneh-aneh, nyium bau keringat lo yang ada pembeli lainnya pada masuk rumah sakit,” sarkas Irgi pada temannya yang itu yang kini membelalakkan mata nya mendengar ucapan Danu.


“Songong banget, keringat lo tuh yang bau,” sungut Danu dengan kekesalannya. Temannya yang lain yang mendengar nya kini hanya menggelengkan kepalanya.


“Langsung balik aja,” ucap Alister menyarankan yang akhirnya dijawab dengan anggukan kompak oleh temennya yang lain.


Kini hari sudah semakin sore, mereka pun sudah berada disana selama dua jam.


“Run, gue balik sendiri aja. Nanti pakek taxi,” ucap Adina pada Aruna karena tak ingin merepotkan Aruna. Aruna yang mendengarnya kini menaikkan sebelah alisnya.


“Ih jangan, ini udah sore takut nya malah langkah angkutan umum nya. Gak papa kita anter aja,” ucap Aruna. Namun Adina kini menggelengkan kepalanya.


“Gak papa kok udah tenang aja,” ucap Adina dengan senyumannya.


“Biar gue yang anter,” ucap Danu tiba-tiba yang sontak saja hal tersebut membuat sahabat nya kini menatap Danu dengan tatapan menyelidik nya.


“Eh gak usah kak,” tolak Adina lagi karena tak enak untuk merepotkan Danu.


“Udah gak usah nolak mulu. Gak pulang-pulang nih. Ayo buruan,” ajak Danu lalu menarik tangan Adina. Sahabat nya yang melihat itu menaikkan sebelah alisnya.


“Mencurigakan,” ucap Shifa yang di jawab dengan anggukan oleh sahabat nya yang lain.


“Ayo balik,” ajak Alister pada Aruna yang kini menjawab nya dengan anggukan.


Setelah nya kini mereka segera pergi dari sana menuju ke arah mobil mereka masing-masing.


***