
“Nanti pulang nya nunggu Kakak aja ya,” pesan Alister, saat kini laki-laki tersebut tengah mengantarkan Aruna ke kelas nya.
“Iya kak,” ucap Aruna dengan senyumannya yang membuat Alister kini mengelus puncak kepala Aruna dengan begitu lembut nya.
“Kakak balik ke kelas dulu ya,” ucap Alister yang Aruna balas dengan anggukan. Setelah nya Alister segera pergi dari kelas Aruna dan menuju ke arah kelas nya sendiri.
Aruna dengan langkah santainya kini berjalan ke arah kelasnya. Gadis tersebut menghembuskan nafas nya kasar. Sepertinya kali ini ia harus memulai nya dari awal dan menemukan teman baru. Karena bisa ia yakini jika Shifa tak lagi mau berteman dengannya setelah apa yang terjadi.
Aruna tak pernah mempermasalahkannya, namun entah bagaimana dengan Shifa.
“Aruna?” pertanyaan di samping nya itu membuat Aruna menoleh dan mendapati seorang gadis yang kini duduk di samping nya. Aruna mengenalinya sebagai Mutia. Yang juga merupakan teman sekelas nya, namun mereka tak terlalu dekat. Bahkan sebelumnya mereka tak pernah berbincang bersama.
“Ya?” tanya Aruna dengan kening nya yang berkerut bingung.
“Kenalin gue Mutia,” ucap nya yang Aruna balas dengan anggukan.
“Iya, kenapa ya?” tanya Aruna dengan begitu lembut nya dan tatapan penuh tanda tanya.
“Gila lo cantik dan lembut banget sih. Gak heran kalo lo bisa ngeluluhin dua kutub AHS,” puji Mutia yang kini dijawab dengan kening yang berkerut oleh Aruna. Karena ia tak mengerti dengan pujian dari gadis di hadapannya tersebut.
“Siapa?” tanya Aruna dengan kening nya yang berkerut bingung. Alister? Ya, laki-laki tersebut memang bukan orang yang banyak bicara selain pada Aruna. Lalu satu lagi siapa?
“Kak Andra. Dia tuh sebelas dua belas gitu sama Kak Alister. Shifa aja bahkan butuh perjuangan sampai hampir satu tahun buat luluhin dia, dan Shifa yang ngejar Kak Andra kalau lo tau,” papar Mutia yang kini berhasil membuat Aruna terdiam memikirkan perubahan Kaivandra.
“Kai? Yang aku tau dia bukan orang seperti itu,” ucap Aruna. Namun kini ia memikirkan kembali semua yang di lihat nya. Dan memang benar, Kaivandra yang ia tahu bukanlah orang yang kasar dan suka membully. Kaivandra adalah orang yang bisa memperlakukan perempuan selayak nya ratu.
“Apa dia berubah karena putus sama lo?” tanya Mutia tiba-tiba yang membuat Aruna kini terdiam sambil menggelengkan kepalanya tak mengetahui apa yang terjadi.
Aruna yang mendengar nya kini hanya terdiam. Namun memikirkan semua kemungkinannya ia menggelengkan kepalanya. Meskipun apapun yang telah dilakukan oleh Kaivandra ia tak ingin untuk menggoyahkan perasaannya sedikit pun. Karena bagaimanapun saat ini ia sudah begitu beruntung memiliki Alister untuknya.
“Gue tuh dulu sahabat nya Shifa, tapi karena sebuah masalah hubungan kita renggang. Jadi gue tau banget gimana perjuangan dia sampai mempermalukan diri sendiri dengan ngejar Kak Andra yang jelas gak suka dia waktu itu,” jelas Mutia. Aruna yang mendengar nya kini mengerti siapa gadis di depannya itu.
“Ah, kamu orang yang mengkhianati Shifa juga dengan suka sama Kai? Kayaknya dengan memilih Shifa emang keputusan terbaik yang Kai ambil. Merendahkan dan mengungkapkan keburukan orang yang dulu menjadi sahabat kamu, bukannya kamu terlalu ikut campur dan terlalu merendahkan?” pertanyaan yang kini begitu menampar tersebut membuat Mutia kini terdiam mendengar nya.
Shifa kini duduk di samping Aruna hanya terdiam.
“Kamu marah karena kejadian di kantin tadi? Maaf ya soal itu, tapi hubungan aku sama Kai udah berakhir dua tahun lalu. Dan sekarang aku sudah punya Kak Alister jadi kamu gak perlu takut aku ngambil Kai,” terang Aruna berusaha untuk menenangkan hati Shifa.
Shifa yang mendengar nya kini justru tersenyum dengan begitu sinisnya.
“Lo mungkin bisa ngomong dengan santai kayak gitu. Lo bisa yakinin diri lo gak bakalan berpaling. Tapi gimana sama Kak Andra? Bahkan dia gak pernah se excited itu ketemu gue. Bahkan saat lo mukul dia, dia sama sekali gak marah sama lo. Coba kalau gue yang ngelakuin itu, bajalan beda cerit,” ucap Shifa dengan senyuman sinisnya.
“Emang gue sih yang salah, udah masuk ke benteng itu tanpa izin, dan sekarang gue gak tau gimana cara keluar nya. Apa gue harus manjatr lagi atau tetap berada di sana dan mencari cara buat meruntuhkan benteng itu. Lo tau, mencintai orang yang belum selesai dengan masa lalu nya itu sulit,” ucap Shifa yang membuat Aruna kini terdiam mendengar ucapan Shifa. Ia jadi merasa begitu bersalah pada Shifa. Namun ia pun juga tak mengetahui jika pada akhirnya akan menjadi seperti ini.
“Sorry,” hanya itu yang dapat Aruna katakan. Hingga tak lama mereka hanya saling terdiam sampai guru yang mengajar di kelas mereka masuk.
***
Alister kini menatap laki-laki di depannya dengan tatapan datar nya. Begitu pun dengan laki-laki tersebut yang juga menatap Alister dengan tatapan tak kalah datar nya.
“Lo udah punya pacar kan? Jadi mending lo jaga pacar lo dari pada lo ngerecokin pacar orang,” ucapan yang begitu tegas kini Alister berikan pada laki-laki yang kini justru terkekeh mendengar ucapan Alister.
“Kalau gue gak mau gimana?” tanya nya dengan tatapan menantang nya. Laki-laki tersebut tak lain adalah Kai. Yang kini berdiri dengan gagah nya di depan Alister.
Tadi setelah mengantar Aruna ke kelas nya. Alister langsung menghampiri Kai dan mengajak laki-laki itu berbicara di rooftop.
“Berarti lo orang yang urat malu nya udah ilang. Lo gak ada rasa bersalah sedikitpun setelah apa yang lo lakuin ke Aruna itu aja udah lebih dari cukup buat lo berhenti deketin pacar gue,” ucap Alister.
“Lo pikir setelah apa yang lo lakuin sama Aruna. Lo masih pantes buat dekstin Aruna? Lo gak tau kan gimana Aruna berjuang buat melanjutkan hidup nya? Lo gak ada di saat Aruna lagi berjuang buat kesembuhannya. Gue yang ada buat dia. Lo orang yang udah buat dia ada di titik itu malah pergi gitu aja tanpa rasa bersalah dan penyesalan,” ucap Alister dengan begitu sinisnya. Tak memberikan kesempatan pada lawan bicara nya untuk membuka suara.
“Gue harap lo bisa sadar diri dan gak deketin pacar gue lagi,” ucap Alister sambil menunduk dan mendorong dada Kai. Setelah nya ia segera pergi dari sana. Meninggalkan Kai yang kini hanya terdiam dengan tatapannya yang begitu lurus menatap Alister merenungi apa yang baru saja di katakan oleh Alister.
Penyesalan itu kini kembali hadir menyapanya. Alister dengan kemarahannya kini segera pergi dan berharap jika Kai tidak lagi hadir di hubungannya juga Aruna.
***