
Senandung yang begitu indah dari Aruna kini terdengar menyapa telinga saat gadis tersebut kini tengah berjalan di koridor kampus nya. Kini gadis tersebut sedang berjalan seorang diri untuk menuju ke arah fakultas kekasih nya. Karena tadi Alister memintanya untuk datang ke fakultas Alister untuk menontonnya bermain basket.
Adina kini tak bisa ikut dengan nya karena ia harus segera pulang. Aruna jelas saja tak bisa melarang nya. Jadilah kini Aruna memilih untuk datang seorang diri. Lagi pula bisa ia tebak jika nantinya di sana juga akan ada Shifa yang tengah menemani Kai juga.
Kai dan Alister itu sebelas dua belas, seperti orang yang tidak bisa lepas dari kekasih nya jadi tak perlu heran jika Aruna atau pun Shifa selalu ada di mana kekasih nya berada karena semua itu adalah permintaan kedua laki-laki tersebut.
Yang membedakannya adalah, Kai bukan laki-laki yang posesif seperti Alister. Jika Alister bisa di lihat laki-laki tersebut begitu posesif dan selalu melarang Aruna melakukan hal yang menurut nya berbahaya.
Seperti hal nya kali ini, karena laki-laki tersebut tak bisa pulang mengantar Aruna untuk bermain basket bersama dengan teman nya untuk melawan mahasiswa dari prodi lain, ia akhirnya meminta Aruna untuk menunggu nya saja.
“Wah rame banget ya,” gumam Aruna saat kini gadis tersebut sudah berada di fakultas Alister dan melihat keadaan lapangan yang begitu ramai. Sepertinya pertandingan ini memang begitu dinantikan.
Memang siapa yang akan melewatkan pertandingan basket dari laki-laki tampak tersebut? Alister dan Kai saja sudah begitu populer, dan Aruna yakin yang menjadi bintang kali ini bukan hanya kedua laki-laki tersebut.
Saat Aruna kini sudah sampai di lapangan mata nya kini menjelajah mencari keberadaan tunangannya itu. Hingga ia melambaikan tangannya sudah melihat Alister yang kini tersenyum ke arah nya. Lalu menghampiri Aruna.
“Shifa gak kesini?” tanya Aruna saat kini Alister sudah berada di samping nya.
“Shifa udah dateng dari tadi, ayo aku anter,” ajak Alister sambil mengulurkan tangannya untuk menggandeng tangan Aruna. Aruna tersenyum ke arah laki-laki yang kini tengah berjalan di samping nya itu, merasa senang karena Alister menggandeng tangannya di depan banyak nya perempuan yang menyukai kekasih nya itu.
Tatapan para perempuan tersebut tentu saja langsung tertuju pada Aruna dan Alister. Apa lagi saat melihat Aruna yang kini sudah digandeng oleh Alister. Banyak memekik karena hal tersebut, merasa iri pada Aruna.
Tak jauh dari sana, kini Aruna dapat melihat Shifa yang duduk di bagian depan seorang diri. Sepertinya Kai sedang berkumpul bersama dengan temannya yang lain.
“Uda tadi?” tanya Aruna saat kini ia sudah berada di depan Shifa. Shifa menganggukkan kepalanya lalu menepuk tempat di sebelah nya. Aruna dengan segera duduk di sana.
“Kakak ke sana dulu,” ucap Alister sambil mengusap puncak kepala Aruna sayang. Aruna yang mendengar nya kini menganggukkan kepalanya. Lalu setelah nya ia memilih untuk berbincang dengan Shifa saja.
Saat kini Aruna tengah melihat ke sekeliling tatapannya kini tak sengaja bersitatap dengan gadis yang sempat datar ke rumahnya kemarin. Senyuman Aruna kinimengamnvbang melihat gadis tersebut seolah kini tengah menyapa nya.
“Halo Kak Nina,” sapa Aruna dengan senyumannya pada Nina. Shifa yang tak mengenal nya kini menaikkan sebelah alisnya apalagi saat melihat gadis tersebut kini malah menatap Aruna dengan tatapan datar nya. Sama sekali tidak bersahabat.
“Ayo pergi,” ajak Nina pada sahabat nya saat melihat keberadaan Aruna. Aruna yg melihat nya kini hanya terkekeh geli.
“Yah kok pergi sih Kak?” kelakar Aruna dengan begitu sinisnya. Shifa kini semakin di buat penasaran dengan apa yang sedang terjadi.
“Siapa sih?” tanya Shifa yang kini sudah tak bisa lagi menahan rasa penasarannya.
“Bisa ya lo sekarang,” ucap Shifa dengan tawanya yang kini hanya membuat Aruna ikut tertawa mendengar nya.
Bukan tanpa alasan, menurut nya Aruna dulu begitu polos. Bagaimana bisa ia sekarang memiliki otak licik seperti ini. Jelas saja hal tersebut menjadi tanda tanya untuk nya.
“Sesekali,” ucap Aruna dengan senyuman bangga nya. Shifa kini menganggukkan kepalanya sambil mengacungkan jempol nya pada Aruna.
“Emang harus begitu lo tuh, jangan diem aja. Murid gue,” ucap Shifa sabil menepuk puncak kepala Aruna yang membuat Aruna kini malah berdecih mendengarnya.
Suara peluit dari wasit kini mengalihkan atensi kedua gadis tersebut ke arah lapangan. Karena kini pertandingan tersebut akhirnya dimulai. Suara tepuk tangan yang begitu heboh nya kpin terdengar. Saling menyoraki pemain andalan mereka.
“Itu ganteng gak sih Run?” tanya Shifa sambil menunjuk ke arah salah satu teman bermain Alister saat ini.
“Eh iya woy, kok aku gak pernah liat dia?” tanya Aruna sambil melihat ke arah laki-laki yang ditunjuk oleh Shifa.
“Kayak nya pacar gue sama tunangan lo sengaja gak pernah ngajak dia main kalau pas lagi sama kita, takut tersaingi,” ucap Shifa dengan caadannya. Aruna sontak saja tertawa sambil menganggukkan kepalanya menyetujui ucapan sahabat nya itu.
“Kayaknya sih gitu ya,” ucap Aruna masih dengan tawanya.
Kini bukannya melihat pertandingan basket tersebut. Kedua gadis itu kini malah sibuk dengan membicarakan cowok ganteng yang berada di sana.
“Tumben banget ya lo mau diajak ngomongin cogan, biasanya juga bilang. Gantengan Kak Al tuh,” ucap Shifa yang menirukan ucapan Aruna di akhir kalimat nya. Aruna yang mendengar nya kini sontak tertawa. Karena apa yang dikatakan oleh Shifa memang ada benarnya juga.
“Sesekali lah. Lagian seumur hidup ngeliat Kak Al tuh lama banget. Cuci mata sesekali, meskipun tetep saja mereka ganteng tapi gak lebih ganteng dari Kak Al,” ucap Aruna yang pada akhirnya tetap saja memuji kekasih nya itu.
Shifa yang mendengar nya kini hanya memutar bola matanya malas. Sambil berdecak karena nya.
“Ini sayang banget ya Mutia gak ada,” ucap Shifa. Mutia kali ini memang tak ikut bersama dengan mereka. Karena ia harus menemani sahabat laki-laki nya itu untuk membeli kado untuk kekasih nya.
“Mutia keren ya, dia bisa gitu gak suka sama sahabat nya itu. Kalau aku jadi dia pasti aku udah suka sama tuh cowok,” ucap Aruna. Shifa kini menganggukkan kepalanya menyetujui ucapan Aruna.
“Setuju, gue tuh juga mikir gitu. Soal nya gue tuh orang yang percaya kalau gak ada persahabatan yang murni antara cewek sama cowok. Pasti salah satunya ada yang suka, tapi Mutia keren, dia bisa jadi salah satu contoh dari persahabatan cewek cowok tuh bisa murni,” papar Shifa.
Tak salah bukan ucapan Shifa. Banyak orang yang tak percaya persahabatan antara cewek dan cowok bisa murni persahabatan. Bahkan sebenarnya orang yang bisa melakukan hubungan tersebut dengan baik pun, jika di hadapat kan dengan kekasih nya yang memiliki sahabat perempuan. Dia bisa berpikir buruk tentang hubungan tersebut. Gak bisa seratus persen percaya namun bisa melakukan. Mungkin tu lah yang terjadi.
***