Aruna Story

Aruna Story
Cemburu?



“Kemarin gue lagi di rumah Kai. Kaget banget gue liat di sana ada tunangan lo Run,” ucap Shifa pada Aruna saat kini mereka tengah berada di kantin. Menikmati makanan mereka.


“Mereka kan emang sekelas. Aku aja pas pertama kali tau juga kaget,” ucap Aruna sambil menikmati makananya. Mutia yang tak mengetahui apapun kini tampak terkejut mendengar jika Kai dan Alister berada di kampus bahkan di kelas yang sama.


“Lah serius mereka sekelas?” tanya Mutia yang Aruna balas dengan anggukan.


“Lo kok gak bilang? Gue kemarin pas liat malah takut Kai godain lo lagi mangkanya di sana ada Kak Alister,” ucap Shifa yang membuat Aruna kini terkekeh mendengar nya.


“Udah kamu tenang aja kalau soal itu mah sudah aman sekarang. Aku tuh pertama kali tau bulan lalu pas Kak Alister ngajak aku nemenin dia buat main futsal,” jelas Aruna yang membuat kedua sahabat nya kini menganggukkan kepalanya.


“Kak Alister kalau kemana-mana lo di bawa mulu ya Run,” ucap Mutia yang kadang merasa heran dengan Alister. Biasanya cowok sangat tidak suka jika gadisnya posesif dan selalu ikut kemanapun ia pergi. Namun berbeda dengan Alister. Malah laki-laki tersebut lah yang selalu membawa gadisnya kemanapun Alister pergi.


“Dia dari dulu udah begitu. Pas aku lumpuh malah tuh bisa dihitung pake jari selama satu tahun dia main keluar rumah tuh berapa kali. Sampai akhirnya dia milih buat ngajak aku aja tiap dia main,” ucap Aruna dengan senyuman nya. Membanggakan tunangannya itu yang memang begitu baik.


Mutia dan Shifa yang mendengar hal tersebut kini bertepuk tangan karena terlalu kagum dengan Alister yang begitu menjaga dan mencintai Aruna.


“Ijo se ijo ijo nya cowok kayaknya cuma tunangan lo doang dah,” ucap Mutia yang membuat Aruna kini tertawa mendengar nya.


“Dia tuh susah bersosialisasi jadi wajah aja sih. Apa lagi kita juga udah kenal dari kecil,” ucap Aruna yang dijawab dengan anggukan oleh sahabat nya yang lain.


“Kalau Kaivandra dulu gimana?” tanya Shifa yang kini membuat Aruna terdiam mendengar nya. Ia merasa takut untuk menjawab nya. Takut jika malah ucapannya, membuat Shifa merasa berbeda dan Kai lebih mencintai jika perlakuan Kai ke Aruna lebih baik.


“Gak papa ceritain aja. Kalian ketemu nya gimana terus putus gimana. Gue udah tau sih, denger dari Andra kenapa kalian bisa putus, tapi gue mau denger dari sisi lo,” pinta Shifa.


“Kamu yakin?” tanya Aruna dengan tatapan penuh tanya dan tatapan khawatir nya pada Shifa yang kini tersenyum mendengar ucapan Aruna yang terlihat ketakutan.


“Iya, udah santai aja. Lo ceritain aja,” ucap Shifa dengan senyuman menenangkannya. Aruna yang mendengar nya kini menarik nafas dalam sebelum akhirnya ia membuka suara nya.


“Aku kenal Kai itu pas kelas satu, dia duluan yang DM aku di sosmed. Terus akhirnya kita jadi lebih sering ketemu karena satu ekskul mading. Dari sana deh akhirnya gak lama kita pacaran. Kita pacaran sekitar satu tahunan lebih lah sampai akhirnya kita pas itu lagi mau jalan dan malah kecelakaan,” jelas Aruna sambil menipiskan bibirnya untuk memulai cerita nya. Gadis tersebut menghela nafas nya mengingat kembali tentang kejadian yang ia alami bersama dengan Kai. Masih terasa begitu menakutkan untuk Aruna.


“Kai pergi gitu aja?” tanya Mutia yang Aruna balas dengan anggukan.


“Yap dia pergi gitu aja. Tapi syukurnya aku punya Alister yang bantu aku buat move on dan lagi waktu itu aku sibuk sama proses penyembuhan aku, jadi aku cepet move on,” ucap Aruna dengan senyuman lebar nya.


“Selama lo pacaran sama dia. Menurut lo, dia orang nya gimana?” tanya Shifa lagi. Aruna yang mendengar nya kini menaikkan sebelah alisnya.


“Buat apa sih dibahas lagi? Udah mending sekarang kita gak perlu bahas ini lagi,” tegas Aruna dengan senyumannya. Ia hanya tak ingin jika salah berbicara jadi Aruna memilih untuk mengakhiri pembicaraan tersebut.


“Tau nih. Lagian tuh ya, lo gak perlu liat gimana Kak Andra memperlakukan Aruna dulu. Cukup liat gaimana dia memperlakukan lo sekarang aja,” pesan Mutia paa Shifa yang kini hanya menghembuskan nafasnya. Sebenarnya ia hanya penasaran, apa Kai memperlakukan Aruna lebih baik dari nya? Memang mencari penyakit, namun mau bagaimana lagi?


***


Sore ini Aruna rasanya begitu bosan. Ia baru saja selesai membersihkan tubuh nya. Dan kini hanya tengah menonton televisi di kamar nya seorang diri. Tadi setelah mengantar kan Aruna pulang, Alister kembali ke kampus nya. Laki-laki tersebut mengatakan jika ia kini tengah mempersiapkan diri untuk mendaftar BEM.


Hari kini semakin sore namun Alister juga belum pulang.


“Kemana sih Kak Al?” gerutu Aruna dengan tak tenang.


Hingga tak lama suara mobil yang memasuki area rumah nya membuat Arumna segera menuju ke arah balkonnya. Hingga dapat di lihat nya kini Alister yang datang dengan buket bunga yang dibawanya.


“Kak Alister,” teriak Aruna dengan begitu bersemangat nya. Saat kini ia baru saja keluar dari Lift. Alister yang melihat antusias nya Aruna kini hanya tersenyum sambil menggelengkan kepalanya.


“Buat gadis cantik Kakak,” ucap Alister sambil menyerahkan bunga yang dibawanya. Aruna yang melihat hal tersebut kini tersenyum dengan begitu lebar nya.


“Makasih Kak,” ucap Aruna sambil memeluk Alister dengan erat. Alister yang melihat nya kini hanya terkekeh.


“Kakak juga punya satu hadiah lagi buat Aruna,” ucap Alister yang membuat Aruna kini menaikkan sebelah Alister bingung sekaligus penasaran dengan apa yang akan diberikan oleh Alister kepadanya.


“Apa?” tanya Aruna dengan tatapan bingung nya.


“Ayo ikut Kakak,” ajak ALister sambil menggenggam tangan Aruna dan mengajak nya keluar.


“Bunda, Alister sama Aruna pergi dulu ya,” pamit Alister pada Ibu nya yang kini tengah menyiram tanamannya di taman depan.


“Pulang nya jangan terlalu malem,” teriak Casia yang dijawab dengan anggukan dan acungan jempol oleh Alister.


Aruna yang kini tengah berada di dalam mobil kini masih kebingungan. Kemana Alister akan mengajak nya.


“Kita mau kemana sih kak?” tanya Aruna saat Alister kini sudah melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.


“Nanti juga kamu tau,” ucap Alister dengan senyumannya yang membuat Aruna kini semakin penasaran.


Hingga tak lama mereka sampai di sebuah taman yang di depannya ada tempat bermain skateboard. Aruna yang melihat itu membelalakkan matanya. Hingga Alister membantunya untuk turun bahkan Aruna masih tampak terkejut juga bingung.


Alister menuju ke arah bagasi mobilnya dan mengambil dua skateboard di sana. Aruna kini tersenyum sambil menganga melihat semua itu. Apa ini pertanda jika Alister sudah mengizinkannya untuk menggunakan skateboard?


“Aku boleh main Kak?” tanya Aruna yang dijawab dengan senyuman oleh Alister.


“Makasih Kak. Kakak memang yang terbaik,” ucap Aruna sambil memeluk Alister dengan begitu erat nya. Alister yang melihat nya hanya terkekeh sambil mengelus punggung Aruna.


Tak lama gadis tersebut segera melepaskan pelukannya dan membawa skateboard miliknya untuk menuju ke arah tempat nya akan bermain. Dengan begitu santainya kini ia mulai menggunakannya. Alister pun memilih untuk segera menyusul Aruna.


Mereka kini bermain bersama. Bahkan saling berpegangan tangan. Tawa dari Aruna dan Alister kini menjadi teman dari tempat tersebut. Saat Aruna bermain sendiri, Alister hanya memperhatikannya. Banyak yang kini yang tengah melihat mereka.


“Gantian Kakak sana,” ucap Aruan menantang Alister. Alister menganggukkan kepalanya lalu mulai menggunakan skateboard nya. Hingga saat Aruna tengah asik melihat Alister bermain, tatapannya tak sengaja bertemu dengan laki-laki yang menatapnya dengan tatapan tajam nya.


Melihat hal tersebut Aruna segera menggunakan Skateboard nya dan merentangkan tangannya pada Alister agar Alister menggenggamnya. Alister yang melihat itu hanya tersenyum dan menggapainya walau ia bingung dengan apa yang terjadi.


Aruna kali ini jelas tak akan diam saja. Akan Aruna buat laki-laki itu sadar jika Alister tak akan bisa ia miliki. Alister terlalu normal untuk laki-laki tersebut yang memiliki kelainan. Laki-laki yang tak lain adalah Jacob tersebut kini mengepalkan tangannya.


Merasa terlalu marah melihat kemesraan tersebut ia segera pergi dari sana membuat senyum kemenangan Aruna kini mengambang dengan begitu sempurna.


“Sadar diri sih minimal,” batin Aruna dengan senyuman sinisnya.


***