
“Kamu cuma mau diem aja di sini?” pertanyaan itu membuat Alister yang kini tengah duduk di belakang rumah nya sontak menoleh ke arah sumber suara yang tak lain adalah Ayah nya. Bagas kini berjalan mendekat ke arah anaknya tersebut dan duduk di samping Alister.
“Apa yang bisa Alister lakukan? Alister sekarang cuma bisa ngasih Aruna waktu untuk menenangkan diri,” ucap Alister pada ayah nya yang kini menipiskan bibirnya mendengar ucapan anaknya tersebut.
“Sampai kapan? Dengan kamu yang masih berada di sini, sama aja kamu sedan merelakan hubungan kamu.” Bagas kini berujar dengan begitu serius nya pada anaknya tersebut yang kini sontak membuat Alster menoleh ke arah nay dengan tatapan terkejut nya.
“Maksud Papa apa?” tanya Alister dengan tatapan bingung nya. Entah mengapa setelah ini ia yakin ada berita buruk yang akan disampaikan oleh ayah nya tersebut.
“Om Alex baru aja nelpon Papa. Dan bilang kalau Aruna mau membatal kan pertunangan kalian,” jelas Bagas menyampaikan info nya. Alister yang mendengar nya kini sontak berdiri dari duduk nya dan menatap ayah nya itu dengan tatapan tak percaya nya.
“Papa bercanda?” tanya Alister dengan tatapan tak percaya pada Ayah nya yang kali ini menghembuskan nafas nya kasar sambil menipiskan bibirnya.
“Papa juga berharap ini candaan. Tapi nyatanya memang seperti itu,” ucap Bagas dengan tatapan lelah nya pada anaknya tersebut yang kini hanya bisa untuk memejamkan matanya mendengar ucapan ayah nya.
“Al pergi,” ucap Alister. Namun baru saja ia akan pergi. Ayah nya itu langsung menahannya.
“Kita pergi bersama,” ucap Bagas yang membuat Alister kini menganggukkan kepalanya. Bagaimanapun ia tak mungkin bisa untuk mengatasi nya sendiri. Orang tuanya pun memiliki kewajiban untuk datang langsung ke rumah Kakek dan Nenek Aruna.
***
Aruna kini tengah makan bersama dengan Kakek dan Nenek nya. Namun kini gadis tersebut malah hanya mengaduk-aduk makanannya yang membuat sepasang paruh baya tersebut kini hanya menggelengkan kepalanya melihat hal tersebut.
“Makan makananmu dengan benar nak. Setelah ini kita bicara,” ucap Alex memperingati cucu nya tersebut yang kali ini menghembuskan nafasnya kasar dan menganggukkan kepalanya. Aruna dengan segera memakan makananya.
Sesuai dengan ucapan kakek nya. Setelah selesai dengan makanannya kini mereka berkumpul di ruang keluarga untuk membicarakan masalah Aruna. Karena semenjak Aruna datang siang tadi, mereka belum sempat berbicara.
“Opa hanya ingin bertanya, apa kamu sudah pasti dengan keputusan kamu untuk mengakhiri hubungan Alister?” tanya Alex pada cucu nya tersebut yang kali ini terdiam mendengar ucapan kakek nya itu.
Amarah nya selalu mendorongnya untuk mengakhiri hubungan mereka. Namun hati dan diri nya menolak semua itu. Ia ingin mempertahankan hubungan mereka. Mengingat bagaimana Alister yang dulu selalu menjaga nya dengan begitu baik.
“Kamu pikirkan dulu dengan baik. Jangan mengambil keputusan saat marah. Opa pun marah dengan tindakan Alister, tapi ada baik nya kini mendengarkan penjelasannya lebih dulu,” ucap Alex memperingati cucu nya tersebut yang membuat Aruna kini menundukkan kepalanya mendengar ucapan Alex.
“Setelah mendengar penjelasan dari Alister. Semua keputusan ada di tangan kamu, karena kamu yang menjalankan. Opa harap kamu gak melupakan bagaimana Alister yang dulu selalu menjaga kamu dan bagaimana kedua orang tua Alister merawat kamu,” ucap Alex pada Aruna. Aruna kini semakin terdiam mendengar ucapan Alex yang memang ada benarnya.
“Oma juga menyetujui ucapan Opa kamu. Bukannya kami tidak marah. Kita marah, hanya saja kita gak mau kamu menyesal setelah nya,” timpal Nenek Aruna yang sedari tadi hanya diam saja mendengarkan pembicaraan antara cucu dan suaminya itu.
Mereka semua mengetahui bagaimana Aruna yang sedari dulu sudah begitu bergantung pada Alister. Mereka hanya takut Aruna akan sulit bertahan. Dan menyesali keputusannya.
“Opa ke ruang kerja dulu. Setelah ini kamu juga masuk saja ke kamar kamu, istirahat yang banyak,” ucap Alex sambil menepuk pundak cucu nya itu. Aruna menghembuskan nafas nya sambil menganggukkan kepalanya.
Setelah nya Alex segera pergi meninggalkan Aruna yang kini hanya menatap kepergian kakek bnya itu.
“Aruna masuk dulu Oma,” pamit Aruna pada Nenek nya yang kini menjawab nya dengan anggukan.
Aruna segera masuk ke dalam kamar nya. Gadis tersebut berjalan ke arah nakas dan mengambil ponsel nya namun saat ia melihat ponselnya tak ada satupun pesan masuk dari Alister dan yang ada hanya lah pesan masuk dari sahabat-sahabat nya dan sahabat Alister yang juga bertanya pada Aruna. Mungkin mereka tadi melihat Aruna yang pergi dengan menangis.
Helaan nafas kasar terdengar dari Aruna saat tak mendapati pesan dari Alister. Ibu Alister, sudah menghubungi saat Aruna baru saja tiba. Mereka sempat berbincang sebentar sebelum akhirnya Aruna menutup panggilannya.
Aruna kini memilih untuk menuju ke arah balkon kamar nya untuk menikmati malam nya di sana. Aruna membuka ponselnya dengan tak berminat kini ia membuka sosmed nya. Sebenarnya ia begitu berharap jika Alister menghubungi nya. Namun laki-laki tersebut tak juga menghubunginya.
Hingga tatapan Aruna kini terpaku saat melihat sebuah postingan di sosmed yang kini memperlihatkan dirinya.
Alister_Bhupendra
Disukai oleh tivyniybitey dan 4.151 lainnya
Alister_Bhupendra Bagaimanapun kamu, aku akan selalu ada untuk mu.
Hanya sebuah ucapan singkat memang namun kini berhasil membuat Aruna merasa terharu dengan apa yang ditulis oleh Alister dalam postingan tersebut. Hingga tanpa terasa kini air matanya mulai mengalir membasahi pipi putih nya.
Kenangannya kini kembali pada saat di mana foto tersebut diambil. Saat itu mereka akan menghadiri acara keluarga. Alister dengan sembunyi-sembunyi memotret Aruna. Mengingat kenangannya kembali dengan Alister.
Kenangannya bersama Alister nyatanya memang begitu banyak. Ia terlalu lama bergantung pada Alister hingga kini ia begitu bimbang dengan dirinya sendiri.
“Berhenti buat mikirin ini Aruna. Mending sekarang kamu tidur, besok kita harus mengeksplor tempat ini,” ucap Aruna pada dirinya sendiri.
Aruna dengan segera menuju ke arah kamar mandi untuk membersihkan dirinya terlebih dahulu sebelum akhirnya ia mengistirahatkan tubuh nya yang sudah lelah. Tak hanya fisiknya namun batinnya juga begitu lelah.
“Hari esok harus lebih baik dari hari ini. Berhenti menangis dan segera tidur,” ucap Aruna pada dirinya sendiri lalu setelah nya ia dengan segera memejamkan mata nya. Tak membutuhkan waktu lama bagi Aruna sebelum akhirnya ia segera masuk ke dalam alam mimpi nya. Dan melupakan sejenak masalah yang tengah dihadapi nya.
***