
“Kalian lagi bahas apa sih serius banget?” tanya suara yang tiba-tiba saja muncul. Kai kini muncul dengan tiba-tiba di samping Shifa sambil mengulurkan dua botol minuman untuk kedua gadis tersebut.
“Kepo banget sih,” ucap Shifa pada kekasih nya itu yang kini hanya berdecih mendengar jawaban gadis nya.
“Gak kepo juga sih, cuma pengen tau aja. Aku perhatiin dari tadi tuh kalian cuma fokus sama pembicaraan kalian sendiri. Kalian malah gak nonton kita,” ucap Kai pada kedua gadis tersebut yang kini gelagapan mendengar ucapan Kai yang memang benar adanya.
“Kita nonton kok,” ucap Shifa dengan begitu sinisnya. Kai yang mendengar nya kini malah menaikkan sebelah alis nya menatap tak percaya pada kedua gadis di depannya itu.
“Gak percaya. Aku dari tadi perhatiin kalian ya. Mana segala menunjuk ke arah Marshel lagi,” ucap Kai. Mendengar Kai menyebutkan nama laki-laki tersebut kini dengan sontak membuat kedua gadis tersebut saling bertatapan sambil menganggukkan kepalanya seolah mengatakan.
“Oh namanya Marshel,” itu lah yang saling mereka katakan dengan sebuah kalimat isyarat.
“Wah jangan bilang kalian jelalatan? Parah nih, awas ya Run aku bilang ke Alister nanti,” ucap Kai mengancam Aruna. Aruna yang mendengar nya kini membelalakkan matanya sambil memukul Kai dengan kesal nya.
“Gak usah ngeselin ya Kai. Lagian mulai kapan kamu malah ada di pihak Kak Al?” tanya Aruna dengan kesal nya. Biasanya juga mereka selalu saja bertengkar namun tiba-tiba saja kini Kai malah membela Alister.
“Sejak tadi,” canda Kai yang membuat Aruna kii berdecih mendengar nya.
“Gak usah ngeselin. Balik sana, ngerecokin aja,” kesal Aruna pada Kai yang kini memicingkan matanya menatap Aruna dengan tatapan menyelidik nya.
“Awas ya kamu jelalatan lagi,” peringan Kai pada Shiaf yang kini hanya memutar bola matanya malas sambil menganggukkan kepalanya mendengar ucapan Kai.
Namun jelas saja mereka tak akan menurutinya begitu saja. Setelah kepergian Kai kini mereka mengepalkan tangannya dengan kompak dan seperti akan memukul Kai.
“Ngeselin banget,” kesal Aruna yang membuat Shifa kini menganggukkan kepalanya setuju mendengar ucapan Aruna.
“Sorry, boleh nanya gak?" Tanya seorang gadis yang berada di samping Aruna tiba-tiba sambil menepuk pundak Aruna. Aruna yang mendengar nya kini menaikkan sebelah alisnya lalu menganggukkan kepalanya.
"Mau nanya apa ya Kak?" Tanya Aruna dengan tatapan bingung nya.
"Kalian ada hubungan apa ya sama Kaivandra sama Alister? Sorry nih tadi gue gak sengaja dengar pembicaraan kalian," ucap gadis tersebut dengan begitu berhati-hati. Takut jika ia salah berbicara. Mengingat mereka pun sebelumnya tak saling mengenal.
"Aku tunangannya Alister Kak. Dan ini pacar nya Kai," jawab Aruna dengan senyumannya. Gadis tersebut tampak terkejut namun setelahnya ia berhasil mengontrol keterkejutannya dan menganggukkan kepalanya.
"Oh gitu ya. Makasih ya udah jawab, sorry kalau lancang," ucap nya dengan begitu sopan. Aruna yang mendengar nya kini sontak melambaikan tangannya ke arah gadis tersebut.
"Eh gak papa kok kak, sans aja," ucap Aruna dengan senyumannya.
Walau di media sosial Alister sudah banyak foto mereka namun tetap saja banyak yang tak percaya jika Alister sudah memiliki tunangan. Apa lagi melihat foto Aruna yang sering berada di rumah bersama dengan Alister. Banyak yang berpikir jika Aruna adalah adik Alister.
Setelah nya kini Aruna memilih untuk fokus pada pertandingan di depannya karena tak ingin jika Kai melihat nya tak melihat pertandingan tersebut dan malah fokus mengobrol maka laki-laki tersebut benar-benar mengadukannya pada Alister.
Tak ingin mengambil resiko akhirnya kini kedua gadis tersebut memfokuskan perhatiannya pada pertandingan tersebut. Dengan sesekali bersorak untuk mereka.
Hingga tak lama akhirnya pertandingan tersebut selesai juga. Alister dan Kai dengan segera mengambil handuk dan minuman mereka. Setelah selesai baru lah kini kedua laki-laki tersebut menghampiri gadis mereka yang sudah menunggu.
“Weh siapa nih?” tanya laki-laki yang baru mereka ketahui bernama Marshel.
“Ini tunangan gue, Aruna,” ucap Alister memperkenalkan Aruna. Hal tersebut membuat temannya yang tak mengetahui tentang Aruna kini membelalakkan mata nya karena terlalu terkejut mendengar nya.
Marshel yang sudah tersadar dari keterkejutannya kini sontak mengulurkan tangannya untuk berkenalan. Namun bukannya Aruna yang menjawab uluran tangan tersebut malah Alister yang melakukannya.
Temannya yang lain yang sudah mengetahui hal tersebut hanya menahan senyum nya berbeda dengan Marshel yang kini dibuat menganga karena nya.
“Ini Marshel sayang,” ucap Alister memperkenalkan pada Aruna yang kini hanya tersenyum sambil menganggukkan kepalanya.
Setelah nya Aruna mulai berkenalan pada teman Alister yang lainnya. Dengan Alister yang memperkenalkan mereka. Aruna jelas tak bisa untuk membalas uluran tangan tersebut karena mereka tak lagi mengulurkan tangannya saat tahu Alister yang menjabat nya. Jadi mereka hanya menyebutkan nama mereka.
“Ini cewek gue Shifa,” jelas Kai yang kini juga memperkenalkan Shifa. Mereka kini hanya tersenyum sambil menganggukkan kepalanya.
“Sorry nih Shif, bukannya gak mau jabat tangan. Tapi trauma gue, malah dia yang jawab,” ucap Marshel sambil menunjuk ke arah Kai yang membuat Shifa tertawa kecil karena nya. Sedangkan Kai kini hanya berdecih mendengar nya.
“Udah paling bener lo emang gak usah jabat tangan dia,” kesal Kai pada temannya itu yang kini hanya membuat temannya yang lain tertawa mendengar nya.
“Tuh kan sama aja,” ucap Marshel.
“Kamu gak usah senyum-senyum gitu,” tegur Kai pada Shifa saat melihat Shifa yang kini terus saja memamerkan senyum nya.
“Suka-suka aku lah, ribet banget,” kesal Shifa yang yang membuat Kai kini membelalakkan mata nya mendengar ucapan tersebut.
“Balik lah balik. Ngeri gue ada prahara rumah tangga,” ucap teman mereka dengan tubuh gempal nya. Sontak saja hal tersebut mendapatkan persetujuan dari temannya yang lain yang kini langsung pergi dari sana. Begitupun Alister yang kini sudah pergi bersama dengan Aruna. Menghindari pertengkaran Kai dan Shifa.
“Kak ini apa?” tanya Aruna dengan kening nya yang berkerut melihat undangan di bagian tas samping mobil Alister.
“Undangan ulang tahun dari anak prodi lain,” jelas Alister sambil melihat sekilas ke arah undangan yang kini sudah dipegang oleh Aruna. Aruna kini mengerutkan kening nya dan mulai membaca nya.
“Loh hari ini? Kakak gak ada beli kado tuh,” ucap Aruna pada Alister.
“Kakak gak mau pergi,” jelas Alister. Aruna yang mendengar nya kini membelalakkan matanya.
“Ih gak gak boleh gitu Kak. Kakak harus dateng buat memenuhi undangan. Ini tuh namanya menghargai,” ucap Aruna menegur Alister. Alister yang mendengar nya kini menghembuskan nafas nya kasar.
Harusnya ia membuat undangan tersebut agar tidak dilihat oleh Aruna. Karena ia memang begitu malas untuk datang.
“Ok fine, kita pergi. Temenin Kakak beli kado nya. Kamu yang pilih, Kakak gak tau soal nya,” ucap Alister yang kini akhirnya mengalah. Aruna yang mendengar nya tersenyum senang sambil mengacungkan jempolnya pada Alister.
Alister yang awal nya tak ingin pergi, kini terpaksa harus pergi atas permintaan dari tunangannya itu.
***