Aruna Story

Aruna Story
Pengganggu Datang



Sore ini Aruna tengah begitu bosan. Kini tak ada yang bisa lakukan karena Alister masih berada di kampus. Dan Casia juga Bagas masih ada di kantor membuat Aruna kini tak memiliki teman.


Shifa pun tadi langsung pulang karena ia harus mengantar kucing ke dokter. Kucing Shifa sakit jadi lah ia langsung pergi dan tidak bisa menemani Aruna.


“Bosen banget please,” ucap Aruna dengan helaan nafas nya. Dengan langkah lemasnya kini Aruna keluar dari kamar nya. Tak tahu apa yang harus dilakukannya kini Aruna memilih untuk menuju ke arah kamar Alister.


Ia iki begitu bosan dan tak tahu apa yang harus dilakukan hingga ia memilih untuk ke kamar Alister. Saat masuk ke kamar Alister kini wangi Alister yang begitu maskulin langsung masuk ke indra penciumannya.


Tatapannya kini menjelajah ke arah kamar tersebut. Sebuah kamar yang didominasi warna hitam juga abu-abu dan putih. Laki-laki itu sendiri yang mendesain kamar nya. Bahkan kamar Aruna pun ia yang mendesainnya.


Sebuah sofa dan televisi di bagian pinggir ruangan dekat dengan balkon kini terlihat begitu pas berada di sana. Aruna pun segera menuju ke arah sofa tersebut, melihat buku yang berada di meja. Tak ada yang istimewa, hanya buku milik Alister juga beberapa novel milik Aruna yang juga berada di sana.


Aruna pun memutuskan untuk menuju ke arah balkon kamar Alister. Namun saat ia melihat ke arah bawah kini Aruna mengerutkan kening nya bingung melihat keberadaan seorang gadis yang kini tengah berada di pos satpam dan tengah berbincang di sana. Sepertinya meminta izin untuk masuk.


“Siapa tuh?” tanya Aruna pada dirinya sendiri.


Merasa penasaran, kini ia dengan segera keluar dari kamar tersebut dan menuju ke arah ke arah pos satpam. Ia sudah begitu bosan saat ini jadi ia ingin mencari kesenangannya.


Dengan langkah cepat nya kini Aruna menuju ke arah lift. Hingga saat Aruna baru saja keluar dari lift kini seorang pelayan menghampiri nya yang membuat Aruna kini mengerutkan kening nya bingung.


“Non di depan ada temennya aden, kata nya mau bawain buku gitu,” jelas sang asisten rumah tangga tersebut. Aruna yang mendengar nya kini menaikkan sebelah alisnya. Ia tak pernah tahu jika Alister memiliki teman perempuan selain teman nya.


“Terus, bukunya mana Bi?” tanya Aruna sambil menengadahkan tangannya pada asisten rumah tangga nya itu.


“Hm itu non, kata nya kalau bukan di terima sama aden gak mau di kasih. Bibi udah bilang aden gak ada kata nya mau nunggu non,” ucap wanita paruh baya di depan Aruna tersebut. Aruna yang mendengar nay kini menganggukkan kepalanya.


Lalu setelah nya kini ia berjalan untuk menuju ke arah pos satpam untuk menemui gadis tersebut. Terlihat kini gadis tersebut masih saja berada di pos satpam dan duduk di salah satu kuri yang berada di sana.


“Siapa ya?” tanya Aruna saat kini ia sudah menghampiri gadis tersebut yang kini sudah menoleh ke arah Aruna dengan kening nya yang berkerut. Namun tak lama senyumannya mengemang.


“Kenalin gue Nina, temen satu prodi nya Alister. Lo adik nya Alister kan?” tanya gadis tersebut yang membuat Aruna kini ingin tertawa mendengar nya. Ide jahil nya kini tercipta di kepala cantik Aruna.


“Aku istri nya Alister, Kakak ada perlu apa cari suami aku?” tanya Aruna dengan wajah polos nya yang membuat gadis di depan Aruna itu membelalakkan mata nya terkejut mendengar apa yang baru saja dikatakan oleh Aruna.


“Lo bercanda ya?” tanya gadis tersebut yang kini masih menampakkan senyumnya yang kini terlihat di paksakan.


“Apa aku kelihatan bercanda Bi?” tanya Aruna sambil menunjuk cincin yang kini melingkar di jari manis nya, wanita yang di panggil Bibi tersebut kini menggelengkan kepalanya sambil tersenyum menjawab pertanyaan Aruna, sedangkan Nina kini dibuat terkejut dengan apa yang kini di lihat nya.


Ia yang memang selalu memperhatikan Alister jelas saja tahu jika di jari manis laki-laki tersebut juga ada cincin yang melingkar. Awalnya ia mengira itu hanya lah sebuah perhiasan biasa. Namun siapa yang menyangka jika ternyata laki-laki yang sebenar nya begitu ia sukai itu ternyata sudah memiliki pendamping.


“Sorry gue gak tau. Gue cuma mau ngasih ini, ini punya Alister,” ucapnya sambil memberikan buku Aruna. Aruna dengan segera mengambilnya.


“Makasih ya Kak. Mau masuk dulu gak Kak? Nunggu Al? Dia masih rapat BEM soalnya,” tawar Aruna namun dengan segera gadis yang tadi begitu bersikeras untuk menunggu Alister tersebut menggelengkan kepalanya menolak tawaran Aruna.


“Gak usah gue buru-buru. Gue pamit,” ucap Nina dan setelah nya langsung pergi dari sana. Aruna yang melihat nya kini sontak menampilkan senyuman lebar nya merasa puas karena kini ada yang menjadi hiburan untuk nya. Dan ada yang bisa untuk membuat nya tertawa.


“Ketahuan banet kalau mau deketin Kak Al, rasain aja tuh,” kesal Aruna lalu setelahnya ia mengibaskan rambut nya dan segera pergi dari sana dengan senyuman bangga nya.


Asisten rumah tangga nya juga penjaga di sana hanya tersenyum melihat nya sambil menggelengkan kepalanya. Mereka yang sudah lama bekerja disana jelas saja sudah begitu mengetahui bagaimana Aruna.


Aruna kini kembali mereka bingung harus melakukan apa akhirnya ia memilih untuk menuju ke arah kamar Alister kembali dan mengistirahatkan tubuh nya di sana agar saat Alister datang ia bisa langsung melihat Alister.


“Sekali nonton tv aja kali ya,” ucap Aruna yang setelah nya langsung menyalakan televisi tersebut. Hingga kii layar nya sudah menampilkan berbagai aplikasi untuk menonton, setelah memilih beberapa saat akhirnya ia memilih untuk menonton drama china.


Tatapan gadis tersebut kini begitu fokus menatap layar di depannya. Hingga tak lama bukannya Aruna yang menonton televisi nya. Malah televisi nya yang melihat Aruna yang kini malah sudah tertidur.


Padahal ia baru saja tertidur beberapa saat yang lalu, meskipun sebentar. Namun kini ia malah sudah kembali tertidur dengan begitu pulasnya.


Tak lama Alister yang baru saja datang dibuat terkejut dengan keberadaan gadisnya itu yang berada di sana.


“Ngapain malah tidur di sini sih sayang,” keluh Alister melihat Aruna yang tertidur dengan posisi kaki yang kini malah menggantung.


Tak ingin membuat Aruna sakit akhirnya Alister membantu Aruna untuk membenarkan posisi tidur nya. Memiliki laki-laki seperti Alister sepertinya memang hanya Aruna yang bisa.


***