Aruna Story

Aruna Story
Aku Cemburu



“Gimana seru?” tanya Alister pada gadis di samping nya yang kini menganggukkan kepalanya sambil tersenyum dengan begitu cerah nya pada Alister.


Alister mengacak rambut Aruna sayang. Ia jelas merasa senang jika gadis tersebut merasa senang.


“A…aruna senang banget b…bisa main lagi dan p…punya temen lagi. T…temen kakak itu baik-baik banget, Aruna jadi suka,” ucap Aruna dengan begitu bersemangat nya. Hingga ucapannya terlalu banyak yang tergagap. Alister yang mendengar nya kini hanya terkekeh sambil mengelus puncak kepala Aruna dengan gemas.


“Hm mereka memang orang yang baik dan seru,” ucap Alister dengan senyumannya.


“Tapi tuh Kak Vian u…udah semangat mau minta nomor aku. Jadi aku kasih nomo k…kakak, dia nya tau,” tawa Aruna yang membuat Alister kini juga ikut tertawa mendengar nya karena sebelumnya ia pun tak mengetahui tentang hal ini.


“Terus gimana?” tanya Alister lagi yang merespon cerita Aruna tak kalah bersemangat nya.


“A…aku bilang aja kalau Aruna gak punya ponsel,” ucap Aruna dengan cengirannya. Alister sambil mengacak rambut Aruna merasa gemas dengan kekasih nya yang satu itu.


“Biar tuh rasain dia, rese banget mau gangguin kamu,” kesal Alister yang membuat Aruna kini sontak menoleh ke arah Alister dengan senyuman menyelidik nya.


“Kakak cemburu?” tanya Aruna dengan senyuman mengejek nya.


Alister yang mendengar nya kini menganggukkan kepalanya.


“Pengennya gak cemburu tapi ternyata cemburu, maaf ya,” ucap Alister yang kini berhasil membuat Aruna terdiam mendengar nya.


Niat awal nya ia ingin mengerjai laki-laki tersebut namun kini malah ia yang menjadi salah tingkah dengan pertanyaannya sendiri. Detak jantung nya pun kini sudah berpacu dengan tidak menentu.


Aruna menoleh ke arah lain tak lagi menatap Alister. Alister jelas bisa melihat nya dari ekor mata nya. Tangan Alister terulur sambil mengelus tangan Aruna yang kini saling bertaut.


“Jangan di pegang erat gitu, tangan kamu belum pulih dengan baik,” ucap Alister memperingati Aruna yang kini semakin salah tingkah. Ia bahkan kini menoleh ke arah jendela mobil nya melihat pemandangan dari luar sana.


Genggaman tangan Alister yang begitu lembut dan nyaman kini perlahan membuat nya kembali rileks. Tangannya yang sedari tadi bertaut pun kini perlahan terlepas.


“Oh iya, kamu mau mulai pegang ponsel?” tanya Alister pada Aruna yang kini sontak menoleh ke arah Alister dengan menggelengkan kepalanya.


“Aruna belum  pengen kak. Seperti yang kakak bilang. Tangan Aruna belum pulih dengan baik,” ucap Aruna menolak tawaran Alister. Alister yang mendengar nya tentu saja merasa senang karena ia tak perlu repot untuk overthink memikirkan apa yang Aruna lakukan dengan ponselnya.


“Lagian siapa yang mua Aruna hubungi? Kalau Aruna mau hubungan kakak, ada ponsel nya Bunda. Kalau Aruna mau hubungin Bunda ada ponsel nya kakak. Dan kalau Aruna mau hubungan Opa dan Oma ada ponsel Mama ataupun kakak,” jelas Aruna yang membuat ALister kini menganggukkan kepalanya.


“Hm memang lebih bagus begitu,” ucap Alister dengan senyumannya yang kini juga dibalas dengan senyuman oleh Aruna.


“Rame juga ya kak malem-malem gini,” ucap Aruna saat ia melihat keluar jendela ternyata banyak yang tengah berkumpul bersama dengan teman-temannya.


“Ini gak terlalu rame. Malam minggu lebih rame, nanti kakak ajak jalan malam minggu mau?” tawar Alister yang tentu saja dijawab dengan anggukan semangat oleh Aruna.


“Ok nanti kita pergi ya,” ucap Alister yang Aruna balas dengan anggukan.


“Kamu mau beli sesuatu?” tanya Alister menawarkan pada Aruna. Aruna melihat ke arah penjual di sepanjang jalan yang mereka lalui. Hingga tatapannya kini terarah pada pedagang yang begitu ramai.


“Aku pengen itu kak. Sate lontong sama martabak juga,” ucap Aruna dengan senyumannya.


“Mau makan di sini?” tawar Alister. Aruna tampak menggigit bibirnya sambil memperhatikan kaki nya. Ia ingin untuk makan di sana. Namun melihat kini iab harus menggunakan kursi roda, Aruna takut akan merepotkan. Alister yang melihat hal tersebut dengan segera keluar dari mobilnya lalu menuju ke arah pintu mobil Aruna dan membukakan pintu untuk Aruna.


“Kak, Aruna jalan aja deh, sekalian buat latihan,” ucap Aruna namun Alister malah mengabaikannya dan kini membawanya menuju ke arah tempat penjual sate lontong yang tampak begitu ramai.


Melihat Alister yang menggendong Aruna seorang bapak-bapak kini langsung bangun dari duduk nya seolah mengerti jika Aruna tidak bisa berjalan.


“Makasih pak,” ucap Alister pada bapak-bapak tersebut yang kini tersenyum sambil menganggukkan kepalanya menjawab ucapan Alister. Aruna hanya menganggukkan kepalanya sambil tersenyum ke arah bapak-bapak tersebut.


“Kamu tunggu sini dulu. Biar kakak pesen ya,” perintah Alister yang membuat Aruna menjawab dengan anggukan.


“Itu kakak nya mbak?” tanya seorang Ibu-Ibu pada Aruna yang Aruna balas dengan senyuman dan anggukan.


“Saya kita pacar nya,” ucap Ibu-Ibu tadi yang membuat Aruna terkekeh mendengar nya.


Tak lama setelah memesan sate lontong nya kini Alister kembali ke arah Aruna.


“Mungkin agak lama. Lagi rame,” ucap Alister.


“Ng…ngak papa kak,” ucap Aruna menenangkan.


“Pak tadi makanannya sudah saya bayarin. Makasih ya Pak kursi nya,” ucap Alister yang tampak membuat Bapak-Bapak yang memberikan kursi nya pada Aruna tersebut kini tampak terkejut.


“Aduh Mas gak perlu di bayarin, lagian kursi ini juga yang punya penjual nya,” ucap Bapak tersebut yang membuat Alister tersenyum.


“Udah pak gak papa, udah saya bayar kok,” ucap Alister dengan begitu ramah nya.


“Makasih ya Mas,” ucap nya yang Alister balas dengan senyuman dan anggukan.


“Kakak pesen martabak nya dulu ya, di samping. Biar nanti sekalian pulang,” pamita Alister.


Setelah kepergian Alister kini Aruna hanya melihat ke arah penjual sate tersebut yang tampak begitu sibuk melayani pembeli nya.


“Mbak nya mengalami kecelakaan ya?” tanya Ibu-Ibu di depan Aruna. Aruna yang mendengar nya menganggukkan kepalanya.


“Yang semangat ya Mbak. Dulu anak saya juga begitu Mbak, alhamdulillah sekarang sudah sembuh. Mbak juga pasti sembuh kok,” ucap nya memberikan semangat pada Aruna.


“Makasih Bu,” balas Aruna. Aruna merasa senang karena orang baik masih banyak yang ia temui.


Tak lama bersamaan dengan pesanannya yang datang, Alister kini juga datang membawa dua kotak martabak manis dan martabak telur kesukaan Aruna. Biasanya jika Alister keluar malam laki-laki tersebut selalu membelikannya untuk Aruna.


“Rame juga di samping,’ ucap Alister dengan sengusannya dan kini duduk di depan Aruna. Karena Ibu-Ibu tadi sudah pergi.


“Makasih kak,” ucap Aruna yang Alister balas dengan anggukan sambil mengelus puncak kepala Aruna.


Aruna merasa begitu senang malam ini, karena banyak orang baik yang ia temui malam ini.


***