
Tatapan Aruna yang begitu sendu kini menjelajah. Mencari keberadaan orang suruhan Kakeknya yang akan menjemput nya. Karena orang suruhan Kakeknya sebelumnya hanya mengantar Aruna sampai ke bandara saja. Kini saat sampai di bandara Melbourne Aruna kembali sendiri dan harus mencari orang suruhan kakek nya.
“Ms. Aruna?” tanya seorang wanita paruh baya dengan pakaian jas formal nya. Aruna yang mendengar nya kini menganggukkan kepalanya.
“Perkenalkan saya Darla, orang yang diperintahkan Mr. Alex untuk menjemput Anda,” ucap wanita tersebut sambil memberikan kartu namanya pada Aruna. Aruna mengecek nya sebentar, setelah memastikan jika wanita tersebut memang orang yang diperintahkan oleh Kakek nya ia menganggukkan kepalanya.
Darla mengambil koper Aruna dan membawa Aruna menuju ke arah mobil yang sudah menjemput nya. Selama di perjalanan menuju ke arah kediamannya, Aruna hanya diam saja dengan tatapan sendu nya yang kini menatap ke luar jendela.
Sudah lama sekali rasanya ia tak mengunjungi rumah kakek dan nenek nya. Terakhir ia datang adalah saat ia masih bersama dengan kedua orang tuanya. Dan kini ia kembali lagi, namun hanya dengan luka yang dibawanya.
“Nona, apa Anda ingin mengunjungi tempat lain dulu?” tanya Darla yang kini duduk di depan bersama dengan seorang sopir.
“Tidak perlu, aku lelah,” tegas Aruna yang dijawab dengan anggukan oleh Darla.
Mobil tersebut melaju dengan kecepatan sedangnya. Hingga tak lama mereka akhirnya kini sampai di sebuah rumah yang begitu mewah yang tak lain adalah rumah kediaman Alexander.
Saat Aruna datang sudah ada Kakek dan Neneknya serta pelayan yang kini menunggu nya. Seorang pengawal membukakan Aruna pintu.
Aruna segera keluar dan memeluk Kakek dan Nenek nya. Air matanya seketika tumpah yang membuat pelayan yang awal nya melihat Aruna kini menundukkan kepalanya.
“Apa yang terjadi sayang?” tanya Nenek Aruna dengan begitu lembut nya pada cucu nya itu.
“Kita bicara di dalam,” ucap Kakek Aruna dengan begitu tegas nya yang membuat kedua perempuan tersebut berjalan lebih dulu ke dalam rumah mereka. Menuju ke arah kamar Aruna yang sudah disiapkan.
“Apa yang terjadi?” tanya Kakek Aruna dengan begitu tegas nya pada Aruna saat kini mereka sudah berada di kamar Aruna.
“Aruna ingin tinggal di sini. Dan Aruna ingin membatalkan pertunangan dengan Kak Alister,” ucap Aruna yang kini membuat kedua orang tua di depannya itu terkejut mendengar ucapan Aruna.
Karena mereka begitu mengetahui bagaimana Aruna yang lebih memilih bertahan di Indonesia. Dan bagaimana Aruna yang begitu mencintai Alister. Mereka tentu terkejut mendengar semua ini.
“Apa yang terjadi hm?” tanya Nenek Aruna dengan tatapan begitu lembut nya pada cucu nya tersebut dengan begitu lembut nya. Ia tahu pasti ada hal besar yang terjadi hingga membuat cucu nya kini memilih untuk melarikan diri.
Namun bukannya menjawab pertanyaan dari kakek nya itu Aruna kini malah terus saja menangis yang membuat Kakek nya yang menghela nafasnya kasar melihat hal tersebut.
“Kita bicara lagi nanti. Kamu tenangkan dirimu dulu. Istirahat lah. Oma, ayo kita keluar,” ucap Alex pada istri dan cucu nya itu. Nenek Aruna hanya bisa untuk menghela nafas nya kasar namun akhirnya ia menganggukkan kepalanya lalu setelah nya ia segera keluar dan membiarkan Aruna kini menenangkan dirinya terlebih dahulu.
Yang menenangkan di awal. Akan begitu menyakitkan saat sudah membuat luka.
***
Disisi lain kini Alister hanya terdiam di bandara melihat Aruna yang sudah pergi. Casia yang ikut mengejar Aruna kini mengusap wajah nya kasar.
“Kita pulang sekarang,” tegas Casia pada anaknya itu. Tak ada lagi kelembutan pada ucapannya seperti sebelum nya. Kini rasanya ia begitu marah pada anaknya itu atas apa yang sudah terjadi. Ia juga merasa begitu kecewa pada Alister.
Selama di perjalanan mereka hanya saling terdiam. Dan saat sampai di rumah besar nya mereka datang bersamaan dengan mobil ayah nya yang kini juga memasuki pekarangan rumah nya.
“Apa yang terjadi?” tanya Bagas saat baru saja turun dari mobilnya dan kini sudah berlari ke arah Casia dan Alister yang baru saja keluar dari mobil nya.
“Tanya sama anak kamu tuh,” ucap Casia dengan kekesalannya dan begitu lelah nya.
“Apa yang terjadi Al? Om Alex nelpon Papa bilang Aruna minta dijemput. Sekarang Aruna dimana?” tanya Bagas saat tak melihat keberadaan Aruna. Alister yang mendengar nya kini menghembuskan nafasnya kasar.
“Al cari tahu tentang masalah Jacob dan Aruna. Tentang apa yang Jacob lakukan sama Aruna, dan Aruna tau itu saat Al lagi bicara sama orang suruhan Al,” ucap Alister menjelaskan pada ayah nya pada yang terjadi. Bagas yang mendengar itu kini hanya bisa memejamkan matanya.
Sebenarnya ia juga tak bisa menyalahkan anaknya. Karena semua pilihan ada di tangan anaknya. Hanya saja harus nya anaknya tidak menyelidiki nya sendiri.
“Harusnya kamu gak menyelidiki ini sendiri Al. Kalau kamu memang ragu dan kamu ingin memastikan, kamu bisa kasih tau Papa. Biar Papa yang urus, semua memang ada di tangan untuk menerima Aruna atau tidak setelah kebenarannya tidak sesuai keingin kamu, tapi cara kamu salah Al. Dengan seperti ini kamu malah menjatuhkan Aruna,” ucap Bagas yang kali ini membuat Casia membelalakkan matanya mendengar ucapan suami nya itu.
“Maksud Papa apa? Papa setuju dengan apa yang Alister lakuin?” tanya Casia dengan tatapan tak percaya nya pada suaminya itu. Bagas yang mendengar amarah dalam ucapan istrinya itu kini sontak menoleh ke arah istrinya.
“Semua hak Alister Bun. Kalau Alister memang tidak mau menerima bekas, kita bisa apa?” tanya Bagas yang menaikkan sebelah alisnya. Satu pukulan berhasil mendekat ke wajah Bagas. Yang membuat Bagas kini membelalakkan matanya saat melihat anaknya yang kini malah memukulnya. Casia yang awalnya sudah akan menampar suaminya itu pun kini dibuat menganga karena nya.
“Al nyeledihin ini bukan buat hal seperti itu. Tapi karena Al gak mau Aruna selalu merasa kotor dan gak pantes buat Alister. Jaga ucapan Papa, Aruna bukan bekas. Gak ada yang nama nya bekas, Alister bakalan nerima Aruna apapun keadaannya,” tegas Alister lalu setelahnya ia segera pergi dari sana.
“Kamu obati lukamu sendiri,” tegas Casia dengan tegas dan marah nya lalu segera pergi dari sana. Meninggalkan suaminya yang kini hanya memejamkan matanya.
Harusnya ia tak berbicara seperti itu. Apalagi bagi keluarga nya Aruna adalah orang yang begitu mereka cintai.