
Alister kini menatap Aruna yang tengah di bantu oleh dokter juga perawat untuk terapi kini dengan tatapan tajam nya. Alister kini berjalan mendekat ke arah Aruna yang kini tengah melakukan terapi dengan berjalan di tangga kecil khusus untuk melakukan terapi.
Aruna kini berjalan dengan berpegangan pada sisi tangga kecil tersebut. Alister mendekat dan memperhatikan gadis tersebut.
“Aruna udah lebih baik tau kak,” ucap Aruna dengan senyumannya yang membuat Alister kini tersenyum mendengar nya. Alister tentu saja merasa senang mendengar nya.
“Hm kamu memang harus terus membaik,” ucap Alister yang di jawab dengan anggukan oleh Aruna.
Selama Aruna menjalani terapi, Alister benar-benar menjaga nya dengan begitu baik. Laki-laki tersebut menemani nya dan selal menanyakannya keadananya. Bahkan rasanya Alister lebih bawel dari dokter yang kini menangani nya.
Setelah terapi kini mereka tengah menemui Dokter yang menangani dan menemani terapi Aruna.
“Terapi Aruna berjalan dengan baik, Aruna juga begitu semangat untuk sembuh. Bahkan Aruna menjalani terapi dengan teratur. Kita akan memantau sampai minggu depan. Jika perkembangannya terus membaik, Aruna bisa beralih menggunakan tongkat,” ucap Dokter wanita tersebut yang membuat Aruna kini tersenyum senang mendengar nya. Aruna menggenggam tangan Alister yang kini juga menggenggam tangannya dengan begitu erat nya. Tak hanya Aruna, Alister kini bahkan juga begitu senang mendengar nya.
“Terima kasih Dokter,” ucap Alister yang dijawab dengan anggukan dan senyuman oleh wanita cantik di depannya itu.
“Kapan jadwal kontrol Aruna?” tanya Dokter tersebut sambil menulis perkembangan Aruna di sebuah buku.
“Besok, Besok juga jadwal terapi berbicara Aruna.Sekarang frekuensi nya sudah dikurangi,” jelas Alister yang kini menjawab pertanyaan Dokter tersebut yang menjawab nya dengan senyuman dan anggukan.
“Itu kabar yang bagus. Semoga keadaan Aruna terus membaik. Rajin-rajin untuk melakukan terapi mandiri juga di rumah, lebih banyak berbicara ya Aruna agar kamu bisa mengucapkannya dengan baik,” perintah sang Dokter yang membuat Aruna kini menjawab dengan anggukan.
Setelah nya mereka berpamitan untuk pergi. Alister kini mendorong kursi roda Aruna membawa nya menuju ke arah mobil mereka berada.
“Malam ini mau ikut kakak?” tawar Alister yang membuat Aruna kini menaikkan sebelah alisnya menatap Alister dengan tatapan bingung nya.
“Main futsal sama teman-teman kakak,” ucap Alister seolah mengetahui kebingungan Aruna. Alister tampak berpikir sejenak sebelum akhirnya menganggukkan kepalanya dengan bersemangat.
Namun setelahnya ia terdiam sejenak sebelum akhirnya ia menatap Alister dengan tatapan tanya.
“Emang gak papa aku ikut kak?” tanya Aruna yang membuat Alister terkekeh mendengar nya sebelum akhirnya ia terkekeh dan menjawab nya dengan anggukan.
“Kenapa gak boleh?” tanya Alister. Aruna hanya menggelengkan kepalanya sambil tersenyum ke arah Alister.
“Nanti setelah magrib kita pergi hm?” tanya Alister yang Aruna balas dengan anggukan.
Aruna jelas begitu senang karena ia bisa untuk ikut dengan Alister. Bermain di luar rumah kembali setelah sekian lama Alister dan kedua orang tuanya mengurung nya di rumah untuk di jadikan ratu di rumah mereka.
“Kamu suka kakak ajak main?” tanya Alister yang Aruna balas dengan anggukan. Tentu saja ia merasa senang karena ia bisa bermain di luar rumah.
“Kalau gitu mulai sekarang kakak akan ajak kamu kemanapun kakak pergi,” ucap Alister yang kini justru membuat Aruna terkekeh mendengar nya.
Alister kini membantu Aruna untuk masuk ke dalam mobil dengan menggendongnya lalu setelah merasa aman ia segera mengitari mobil nya untuk menuju ke arah kemudi. Setelah dirasa aman Alister mulai melajukan mobil nya meninggalkan rumah sakit tersebut.
“Gak perlu selalu mengajak Aruna kak. Cukup sering-sering aja,” ucap Aruna yang membuat Alister terkekeh sambil menganggukkan kepalanya mendengar ucapan Aruna.
“Ok kakak akan sering mengajak kamu,” ucap Alister.
Aruna yang mendengar nya tersenyum. Rasanya kini ia begitu bahagia bisa bersama dan dikelilingi oleh orang-orang baik. Dulu baginya Tuhan terkesan jahat dengan mengambil orang-orang yang dicintainya dan disayanginya. Namun ternyata kini Tuhan menggantinya dengan yang tak kalah baik nya.
Memang benar perkataan jika tuhan lebih tahu apa yang terbaik untuk umat nya dan kini Aruna dalam merasakannya. Dan perkataan people come and people go juga sebuah hal yang nyata adanya. Maka jangan bergantung pada orang lain, itu yang orang katakan. Namun Aruna kini malah begitu tergantung pada Alister.
Aruna kini terdiam memperhatikan Alister yang tengah sibuk menyetir mobilnya. Merasa diperhatikan kini Alister menoleh sejenak ke arah Aruna dengan senyumannya dan menaikkan sebelah alisnya.
“Kenapa hem?” tanya Alister yang membuat Aruna kini terkekeh sambil menggelengkan kepalanya.
“Kenapa? Aku cuma pengen liat kakak bawa mobil aja. Aku juga pengen deh kak,” ucap Aruna namun kini Alister malah menggelengkan kepalanya.
“Kamu gak perlu bisa nyetir karena ada kakak yang akan selalu ada buat kamu dan jadi sopir buat kamu. Kalau gak ada kakak di rumah juga udah ada sopir jadi gak perlu belajar nyetir ya,” ucap Alister sambil mengelus puncak kepala Aruna dengan sayang. Aruna yang mendengar nya kini hanya bisa menghembuskan nafasnya kasar. Terpaksa ia harus menyetujui ucapan Alister.
“Aku cuma pengen aja sebenar nya, biar gak ngerepotin kakak terus,” jelas Aruna. Alister yang mendengar ucapan Aruna kini menghembuskan nafas nya lalu ia memegang tangan Aruna yang kini saling bertaut.
“Kakak sama sekali gak pernah merasa direpotkan. Kakak justru seneng karena kakak bisa untuk selalu ada buat kamu. Kakak seneng saat kamu meminta bantuan ke kakak. Kakak seneng kalau kamu bergantung sama kakak, jadi jangan pernah berpikir kakak merasa direpotkan,” tegas Alister yang membuat Aruna kini menoleh ke arah Alister dengan tatapan dalam nya yang penuh akan haru. Ia benar-benar merasa senang sekaligus bimbang. Takut jika saat ia sudah bergantung pada Alister. Alister malah meninggalkannya sama seperti orang yang dulu ia bergantung hidup nya.
“Jangan terlalu banyak berpikir. Kakak gak suka sama isi pikiran kamu yang aneh-aneh,” sungut Alister yang membuat Aruna kini cemberut mendengar nya.
“Kakak kayak tau aja pikiran aku,” rutuk Aruna yang membuat Alister terkekeh mendengar nya.
“Kepala kamu kan transparan,” ucap Alister dengan tawanya yang membuat Aruna mengerucutkan bibirnya kesal mendengar ucapan dari Alister.
Sedangkan Alister kini hanya tertawa karena nya. Selama di perjalanan kini mereka habiskan dengan banyak berbincang. Seolah tak kehabisan topik untuk berbicara. Banyak hal yang mereka perbincangkan. saling tertawa dan berbagi cerita.
***