Aruna Story

Aruna Story
Jet Lag



Arun kini memeluk Kakek dan Nenek nya bergantian untuk berpamitan pada sepasang suami istri yang sudah berusia lanjut tersebut. Kini mereka sudah berada di bandara untuk mengantar Aruna dan Alister serta keluarga nya untuk kembali ke Indonesia.


“Aruna pasti akan merindukan kalian,” ucap Aruna dengan tatapan sedih nya pada Nenek nya setelah ia melepaskan pelukannya dari Nenek nya yang kini tersenyum sambil mengelus puncak kepala Aruna sayang.


“Oma dan Opa juga akan merindukan kalian. Lebih sering lah berlibur ke sini hm,” pinta Rindia pada Cucu nya itu yang kini menjawab nya dengan anggukan. Tatapan sendu nya kini terlihat dengan begitu jelas nya.


“Sudah, pergi lah. Jangan membuat keluargamu menunggu,” ucap Alex memerintahkan cucu nya itu yang kini menjawab nya dengan anggukan.


“Kalian hati-hati. Om titip Aruna,” ucap Alex berpesan pada Casia dan Bagas yang kini tersenyum sambil menganggukkan kepalanya. Mereka setelah nya segera berpamitan, bergantian untuk bersalaman pada Alex juga Rindia.


Setelah selesai mereka segera berjalan menjauh dan menuju ke arah tempat pengecekan tiket. Alister kini membantu Aruna untuk membawa koper nya. Aruna sesekali masih menoleh ke arah Kakek dan Nenek nya dengan tatapan sendu nya yang membuat Kakek dan Neneknya hanya tersenyum sambil melambaikan tangannya.


Saat berada di pesawat kini Aruna duduk bersama dengan Alister. Tatapan Aruna kini tertuju pada landasan di samping nya karena jendela yang tak ditutup.


Alister kini menggenggam tangan Aruna dengan begitu lembut nya dan menatap Aruna dengan tatapan yang begitu menenangkan.


“Jangan lupa jika setelah ini kamu udah harus sekolah lagi,” ucap Alister yang membuat Aruna kini menghembuskan nafasnya dengan kasar jika mengingat semua itu.


Terbiasa berlibur dan tidak sekolah membuat nya merasa malas untuk kembali bersekolah. Namun bagaimanapun ia harus melakukannya mengingat sebentar lagi ia sudah akan lulus. Banyak yang harus ia persiapkan untuk kedepannya jadi ia tak bisa untuk terus bermalas-malasan dan berlibur seperti saat ini.


“Kenapa hm?” tanya Alister yang melihat wajah Aruna yang sudah berubah menjadi cemberut. Bahkan gadis tersebut menghela nafas nya.


“Males mau sekolah,” jawab Aruna dengan begitu jujur nya yang membuat Alister kini tertawa mendengar ucapan yang penuh dengan kejujuran tersebut.


“Sebentar lagi. Setelah lulus kalau kamu gak mau kuliah dan mau nikah juga ayo,” ucap Alister menggoda Aruna yang kini sontak membelalakkan matanya mendengar ucapan tunangannya tersebut. Sedangkan Alister yang kini melihat reaksi Aruna kini sontak tertawa.


“Bercanda sayang, tapi kalau mau serius juga gak papa sih,” ucap Alister yang kini membuat Aruna begitu kesal mendengar ucapan Alister.


“Gak usah ngeselin ya kak,” kesal Aruna dengan wajah nya yang kini sudah cemberut. Alister yang melihatnya hanya tersenyum sambil mengelus puncak kepala Aruna dengan gemas.


“Bercanda sayang,” ucap Alister dengan senyumannya lalu membawa Aruna dalam pelukannya. Aruna hanya diam saja menikmati pelukan tersebut.


Pesawat mereka kini sudah lepas landas hingga Aruna kini dapat melihat awan yang biasanya selalu ia lihat dari bawah.


“Hm nyaman,” ucap Aruna yang membuat Alister kini tersenyum mendengar nya sambil mengelus puncak kepala Aruna dengan begitu lembut nya.


Terlalu merasa nyaman dan mengantuk membuat Aruna kini tertidur. Alister menyelimuti gadisnya itu dengan selimut yang diberikan oleh pramugari.


Merasa ikut mengantuk akhirnya Alister juga ikut tertidur dengan posisi saling berpelukan dengan Aruna.


***


Saat mereka keluar dari bandara kini sudah ada sopir yang menunggu mereka. Sopir tersebut segera membantu untuk membawakan koper milik mereka dan meletakkannya di bagasi mobil.


Setelah selesai Aruna dan Alister segera masuk mereka duduk di bagian belakang penumpang sedangkan di bagian tengah kini ada Casia dan Bagas.


“Capek banget,” keluh Aruna yang membuat Alister kini tersenyum mendengar nya lalu meletakkan kepala Aruna pada paha nya.


“Tidur aja, nanti kalau sudah di rumah aku bangunin,” ucap Alister yang membuat Aruna kini menganggukkan kepalanya lalu setelah nya ia segera memejamkan matanya dan tak membutuhkan waktu lama gadis tersebut sudah tertidur.


“Kayak nya jet lag,” ucap Casia yang Alister balas dengan anggukan. Mengingat Aruna memang sudah tak pernah menaiki pesawat dalam waktu yang begitu lama.


Di perjalanan tak ada yang memulai pembicaraan. Mungkin karena sudah begitu lelah akhirnya mereka memilih untuk diam beristirahat di dalam mobil.


***


Mentari pagi kini masuk ke celah kamar Aruna mengganggu tidur gadis cantik tersebut. Namun bukannya bangun dari tempat tidur nya kini Aruna malah menutup wajah nya dengan selimut nya.


Alister membuka pintu kamar Aruna dengan pelan hingga senyumannya mengembamg melihat kekasih nya yang masih tertidur tersebut.


“Sayang bangun,”ucap Alister sambil menarik selimut yang menutupi wajah Aruna. Aruna menggeliat dalam tidurnya karena merasa terganggu dengan apa yang dilakukan oleh Alister.


“Aku masih ngantuk. Biarin aku tidur,” gumam Aruna yang membuat Alister kini menggelengkan kepalanya mendengar ucapan Aruna.


“Kamu harus bangun dan sarapan. Ini sudah siang. Aku bawain roti panggang ke sukaan mu dengan selai coklat juga teh hangat,” ucap Alister sambil meletakkan makanan yang dibawanya lalu setelahnya ia segera membuka jendela kamar Aruna membuat Aruna langsung memejamkan matanya dengan erat.


“Aku padahal masih ngantuk,” gumam Aruna yang kini langsung bangun. Diam sejenak sebelum akhirnya ia menuju ke arah kamar mandi untuk membersihkan tubuh nya.


Tak butuh waktu lama Aruna kini sudah siap dengan pakaian santai nya. Ia masih belum masuk sekolah dan baru akan masuk sekolah besok. Dengan langkah ringannya kini gadis tersebut menuju ke arah sofa yang berada di kamar nya lalu duduk di sana bersama dengan Alister.


“Kakak gak kuliah?” tanya Aruna dengan tatapan penuh tanya nya pada Alister.


“Kuliah siang,” jawab Alister yang dibalas dengan anggukan oleh Aruna.


“Oh iya oleh-oleh buat yang lain ada di Kakak?” tanya Aruna yang Alister balas dengan anggukan. Mereka sebelumnya memang menyempatkan untuk membeli oleh-oleh terlebih dulu untuk sahabat-sahabat mereka.


“Iya,” ucap Alister yang membuat Aruna kini menganggukkan kepalanya mendengar ucapan Alister.


Setelah nya mereka memilih untuk membicarakan tentang sekolah Aruna dan jurusan ujian akhir yang akan Aruna ambil. Aruna yang awalnya masih bingung akhirnya mengambil keputusan akan mengambil mata pelajaran fisika, setelah ia berbicara dengan Alister yang memang selalu bisa untuk menenangkan pikirannya.


***