Aruna Story

Aruna Story
Libur



Mentari kini sudah bersinar dengan begitu cerah nya, bahkan kicauan burung kini terdengar dengan begitu merdu nya saat ini, namun gadis cantik yang berada di ranjang queen size berwarna pink tersebut masih setia memejamkan mata nya. Begitu nyaman dengan apa yang kini tengah ia lakukan. Rasanya ia juga sudah begitu lelah hingga kini ia masih nyaman dengan ranjangnya itu.


“Aruna, bangun sayang,” teriak suara di luar sana sambil mengetuk pintu kamar Aruna. Namun bukannya bangun, Aruna kini malah semakin menenggelamkan dirinya di dalam selimut. Merasa enggan untuk bangun dari kenyamanan itu.


“Aruna, makan dulu sayang ini udah siang,” teriak suara di balik pintu lagi. Namun Aruna kini malah hanya menggeliat dalam tidur nya. Membuat Frida yang kini membangunkan Aruna menggelengkan kepalanya melihat tingkah anak angkat nya itu.


“Bunda, Aruna masih ngantuk. Bunda duluan aja,” ucap Aruna dengan gumannya. Casia pun kini akhirnya memilih untuk mengalah dan membiarkan Aruna untuk tidur beberapa saat lagi. Casia pun memutuskan untuk segera turun dan menuju ke arah ruang makan untuk makan siang nya mengingat kini sudah waktunya makan siang.


Bahkan Aruna melewatkan sarapan. Namun Casia hanya berpikir jika Aruna tengah kelelahan karena baru selesai melaksanakan OSPEK nya. Bahkan setelah OSPEK kampus ia masih harus melakukan OSPEK jurusan jadi tak heran jika kini Aruna kelelahan.


“Aruna mana Bun?” tanya Bagas saat tak melihat Aruna yang kini ikut turun bersama dengan istrinya itu.


“Masih tidur Pa, kayaknya kecapean deh,” jelas Casia yang kini Bagas balas dengan menggunakannya.


“Emang cuma Alister yang bisa ngendaliin,” ucap Bagas dengan tawa ya yang membuat Casia kini ikut tertawa mendengar ucapan suaminya itu. Namun nyatanya memang seperti itu. Hanya Alister lah yang bisa untuk mengendalikan Aruna. Entah dalam hal apapun, Aruna begitu menurut saya yang berbicara adalah Alister.


“Alister nya sekarang sibuk mulu,” ucap Casia sambil menggelengkan kepalanya melihat anaknya yang kini selalu saja sibuk dengan organisasi nya.


“Biarin aja dia melakukan apa yang sekarang dia mau dulu. Semester depan juga udah gak ikut organisasi lagi. Jadi Papa bisa minta dia buat lebih fokus sama perusahaan,” ucap Bagas yang kini mulai berpikir untuk masa depan anaknya itu.


“Jangan terlalu memaksa kalau dia gak mau Pa, jangan terlalu membebani Alister Pa. Biarin aja dulu Alister melakukan apa yang dia mau,” peringa Casia pada suaminya itu. Hanya tak ingin jika anaknya merasa kurang dengan masa  muda nya, dan malah menjadi beban untuk Alister yang akhirnya membuat nya merasa tidak nyaman.


“Papa tau Bun tapi ini juga udah waktu nya buat Alister belajar mengelola perusahaan. Yang akan ia pegang bukan hanya perusahaan kita tapi juga milik Aruna. Alister gak sendiri Bun, tapi ada Papa yang bakalan bantu,” terang Bagas yang kali ini membuat Casia menghembuskan nafas nya mendengar ucapan suaminya itu.


“Terserah Papa tapi jangan terlalu menekan Alister, biarkan dia melakukan sesuai keinginan dan kemampuannya,” tegas Casia yang membuat Bagas kini tersenyum sambil menganggukkan kepalanya mendengar ucapan istrinya tersebut.


“Iya Bunda,” ucap Bagas dengan senyumannya pada istrinya tersebut.


“Papa mau main golf sama temen Papa, Bunda mau ikut?” tawar Bagas pada istrinya yang kini menjawab nya dengan gelangan.


“Gak usah Pa, Aruna sendirian di rumah. Alister juga paling dateng sore,” tolak Casia.


Meskipun kini adalah hari libur namun Alister malah memiliki hal yang harus ia urus di kampus nya. Laki-;laki tersebut memang begitu sibuk saat ini  membuat Alister bahkan jarang bertemu dengan Aruna. Aruna pun kini juga sibuk dengan OSPEK nya.


“Ya udah Papa pergi dulu,” ucap Bagas berpamitan pada istrinya itu yang kini menganggukkan kepalanya. Bagas mengecup kening Casia sebentar sebelum akhirnya ia pergi dari ruang makan.


Disisi lain kini Aruna menggeliat dalam tidur nya saat mendengar suara dering teleponnya. Dengan malas kini Aruna menjawab panggilan tersebut yang ternyata dari Alister. Sebuah panggilan video dari Alister.


“Kamu belum bangun?” pertanyaan tersebut lah yang kini menyapa indra pendengaran Aruna saat panggilan tersebut sudah terjawab.


“Aku masih ngantuk banget,” keluh Aruna yang membuat Alister kini menggelengkan kepalanya mendengar jawaban Aruna.


“Ini udah siang Aruna. Bangun sekarang, kamu pasti belum makan,” tebak Alister yang tepat sasaran karena sedari pagi ia memang belum makan dan hanya menghabiskan waktunya di atas kasur saja.


“Tapi masih ngantuk,” keluh Aruna lagi, entah mengapa kini bahkan mata nya begitu sulit untuk terbuka. Alister yang melihat nya kini hanya menggelengkan kepalanya melihat hal tersebut.


“Mandi dulu terus makan nanti pasti gak ngantuk lagi. Kalau emang masih ngantuk nanti tidur lagi,” perintah Alister. Aruna kini hanya menghembuskan nafas nya kasar dan memilih untuk mengalah.


“Kakak lagi dimana?” tanya Aruna yang perlahan kini membuka mata nya walau begitu sulit. Wajah bantal nya kini terlihat begitu jelas yang membuat Alister tersenyum mendengar nya. Sepertinya sedari tadi Aruna masih belum pada kesadarannya hingga kini gadis tersebut malah menanyakan hal tersebut. Biasanya saat Alister tak ada, hal pertama yang akan Aruna tanyakan adalah keberadaan Alister.


“Kakak lagi di kampus, nanti sore Kakak baru pulang,” ucap Alister menjelaskan. Aruna kini malah kembali memejamkan mata nya. Ngantuk gadis tersebut seperti sudah tidak tertolong lagi.


“Kakak hati-hati,” ucap Aruna yang Alister balas dengan anggukan.


“Kamu bersih-bersih terus makan,” peringat Alister. Aruna kini menganggukkan kepalanya. Dengan matanya yang masih terpejam kini gadis tersebut turun dari ranjang nya dan menuju ke arah kamar mandi.


“Udah ya, Aruna mau mandi dulu,” ucap Aruna. Alister menganggukkan kepalanya. Setelah mengatakan kalimat perpisahannya kini Alister segera menutup teleponnya.


Aruna pun kini memilih untuk membersihkan tubuh nya saat melihat jam yang kini sudah menunjukkan pukul 11.34. Ia sudah tertidur begitu lama namun rasa kantuk nya tak juga hilang. Akhirnya kini Aruna memilih berendam sejenak sekedar menyegarkan tubuh nya.


Setelah selesai ia memilih untuk mencari keberadaan Casia. Tepat saat ia baru keluar dari lift  kini terlihat Casia yang baru datang dari depan.


“Mau makan?” tawar Casia saat melihat Aruna yang sudah bangun. Dengan begitu manja nya kni Aruna berjalan ke arah Casia lalu setelahnya ia segera memeluk Casia dan merangkulnya dari samping yang membuat Casia kini tersenyum melihat nya.


Aruna memang begitu manja jika sudah bersama dengan Casia. Namun di balik sikap nya yang manja sebenarnya ia adalah gadis yang kuat dan dewasa.


Casia kini dengan segera mengajak Aruna menuju ke arah ruang makan untuk makan siang nya.


***