
Seorang laki-laki kini terlihat dengan duduk di salah satu kursi yang berada di taman depan rumahnya tidak ada yang laki-laki itu lakukan hanya menatap hamparan bintang yang kini menghiasi langit dengan begitu indahnya
Laki-laki tersebut kini malah memikirkan sebuah pembicaraan yang tak sengaja di dengar nya dari dua orang gadis di dalam kamar nya. Dan perbincangan dari mereka kini malah seolah memukul laki-laki tersebut dengan begitu telak nya.
Sebuah fakta yang bahkan ia sendiri tak pernah menyadari nya. Namun setelah mendengar semua itu saat ini. Ia malah terus saja memikirkannya, dan seolah tengah mempertimbangkan suatu keputusan untuk nya kedepannya.
Laki-laki tersebut tak lain adalah Nevan. Laki-laki yang kini tengah duduk di kursi taman di depan rumah nya. Tadi saat ia datang untuk menemui Aruna, ia malah tak sengaja mendengar pembicaraan antara Aruna dan Dinara yang malah membuat nya jadi memikirkan tentang pembicaraan kedua gadis tersebut.
“Kamu di sini? Gak dingin?” tanya Dinara yang kini menghampiri Nevan yang saat ini tengah duduk seorang diri. Nevan yang mendengar suara Dinara kini menatap gadis tersebut yang kini sudah duduk di samping nya.
“Ngapain ikut ke sini?” tanya Nevan dengan menaikkan sebelah alisnya. Hari ini Nevan sengaja meminta Dinara untuk datang agar ia bisa menemani Aruna dan menghibur gadis tersebut. Awal nya Dinara merasa kesal dengan permintaan Nevan, namun karena ia tidak bisa untuk menolak permintaan Nevan akhirnya Dinara tetap pergi menghampiri Aruna dan mengajak gadis tersebut mengobrol.
Namun kini saat berbicara dengan Aruna ia malah dikejutkan dengan pemikiran Aruna. Nevan yang melihat Dinara yang kini malah terdiam dan menatapnya dengan tatapan kosong nya. Nevan yang melihat itu melambaikan tangannya di depan Dinara.
“Kenapa?” tanya Nevan setelah Dinara kini kembali pada kesadarannya. Dinara yang mendengar pertanyaan dari Nevan kini menggelengkan kepalanya sambil tersenyum dengan begitu lembut nya.
“Gak papa,” ucap Dinara yang membuat Nevan kini menganggukkan kepalanya.
“Disini dingin, masuk sana,” perintah Nevan pada Dinara.
“Aku gak boleh nemenin kamu?” tanya Dinara dengan tatapan penuh harap nya agar Nevan mau agar ia menemani laki-laki tersebut saat ini di sana. Tak mendapati jawaban apapun dari Nevan akhirnya membuat Dinara merasa jika itu adalah lampu hijau yang mengatakan jika Dinara boleh untuk tetap di sana dan menemaninya.
“Langit nya malam ini cantik banget. Apa di antara bintang-bintang itu ada Mama aku?” tanya Dinara sambil tersenyum dan melihat kearah hamparan bintang yang kini terlihat begitu indah itu. Nevan yang mendengar pertanyaan Dinara kini sontak melihat ke arah Dinara dengan begitu lembut nya.
“Lo kangen Mama lo?” tanya Nevan yang kini langsung Dinara balas dengan anggukan. Dinara begitu merindukan Ibu nya itu. Ia begitu merindukan keluarga nya yang dulu. Keluarga nya yang masih utuh. Kini ia meman masih memiliki Ayah, namun semenjak Ibunya meninggal ia kehilangan figur sosok ayah karena Ayah nya yang selalu sibuk dengan pekerjaan dan ditambah ayah nya yang kini suka bermain wanita.
Ini lah yang akhirnya menjadi alasan Dinara lebih memilih untuk tinggal di apartemen daripada satu rumah dengan Ayah nya yang selalu membawa perempuan masuk ke rumah mereka. Pertengkaran sering terjadi di antara mereka. Namun Nevan ada untuk melindunginya dari ayah gadis tersebut. Bahkan jika Ayah Dinara sudah membuat Dinara menangis, Nevan tak segan mengancam akan membunuh laki-laki paruh baya tersebut.
“Hm aku kangen Mama,” ucap Dinara dengan senyumannya sendu nya. Nevan yang melihat hal tersebut kini membawa Dinara ke dalam pelukannya seolah tengah menenangkan gadis tersebut.
“Nanti kalau libur kita pergi ke sana,” ucap Nevan yang membuat Dinara tersenyum sambil menganggukkan kepalanya. Melihat sikap Nevan yang begitu lembut begini membuat Dinara merasa ucapan Aruna tentang Nevan yang menyukai nya memang benar adanya.
“Makasih ya Kak, makasih karena sudah selalu ada untuk Dinara dan melindungi Dinara,” ucap Dinara dengan senyuman tulus nya sambil menatap Nevan yang kini tersenyum dengan begitu sinis mendengar ucapan Nevan.
“Gue emang berhasil jagain lo dari orang lain, tapi gue gagal jagain lo dari diri gue sendiri,” ucap Nevan dengan begitu sendu nya pada Dinara yang kini l;langsung mendongak dan menatap Nevan dengan tatapan penuh tanya nya karena tak biasanya laki-laki tersebut mengatakan hal seperti ini.
“Kamu ngomong apa?” tanya Dinara dengan tataan sedih nya pada Nevan. Namun Nevan kini menggelengkan kepalanya mendengar pertanyaan dari Dinara.
“Kamu pernah suka sama cowok?” tanya Nevan yang tiba-tiba saja mempertanyakan hal tersebut yang kini membuat Dinara dibuat kebingungan dengan pertanyaan Nevan yang sedari tadi begitu aneh.
“Kenapa? Lagian gimana aku bisa suka sama cowok kalau lagi liar cowok aja kamu akan marah,” ucap Dinara dengan sedikit tawa dalam ucapan tersebut.
“Gimana sama aku?” tanya Nevan yang kini berhasil membuat Dinara terkejut dengan pertanyaan Nevan. Ia jadi berpikir apa sebenar nya Nevan mendengar pembicaraannya dengan Aruna?
Dinara yang mendengar nya kini hanya diam karena bingung harus menjawab apa. Ia takut jika ia malah bicara. Namun tak lama Nevan yang melihat Dinara hanya terdiam kini malah terkekeh.
“Masuk sana, udah malem. Mending kamu tidur,” perintah Nevan yang akhirnya kini membuat Dinara menggelengkan kepalanya.
“Aku mau balik ke apart aja,” ucap Dinara. Nevan yang mendengar nya kini langsung menggelengkan kepalanya.
“Udah malem, nginep di sini aja. Tidur aja di kamar aku sama Aruna. Biar aku tidur dikamar kamu,” perintah Nevan, tak ingin menolak akhir nya Dinara menganggukkan kepalanya. Sebenar nya kini Dinara ingin bertanya kapan Nevan akan melepaskan Aruna. Karena tak mungkin Aruna terus berada di sana. Aruna memiliki keluarga dan juga memiliki tunangan yang pasti tengah mencari nya. Namun nyalinya terlalu kecil untuk menanyakan hal tersebut yang akhirnya membuat Dinara tak menanyakannya dan memilih untuk pergi dari sini menuju ke arah kamar Nevan.
Tanpa mereka sadari sebenarnya sedari tadi ada gadis yang terus melihat mereka dengan senyumannya. Orang tersebut tak lain adalah Aruna yang kini terus melihat ke arah Nevan juga Dinara dari atas balkon kamar.
***
“Gimana sama gps hp nya?” tanya Alister pada Kai yang sedari tadi sebagai pembaca gps. Kai kini menggelengkan kepalanya. Saat melihat jika ponsel Aruna pun juga mati.
“Kayaknya dia beneran udah nggak suka sama lo deh,” ucap Kai pada Alister yang membuat Alister kini membelalakkan mata nya mendengar ucapan Kai.
“Lo kalau ngomong yang bener ya, gue turunin di sini juga lo,” kesal Alister pada laki-laki yang kini duduk di sampingnya itu Kaisa dari tadi tidak ada habisnya mengatakan jika Aruna sudah tidak lagi mencintainya karena GPS yang biasanya berada di jam tangan Aruna tidak akan mati kecuali dimatikan oleh gadis tersebut.
“Ya buktinya ini dia malah ngematiin GPS yang ada di jam tangan itu,” ucapkan dengan kata salahnya pada Alister. Mereka kini sudah sama-sama lelah mencari Aruna sedari tadi namun sampai saat ini mereka belum juga mendapatkan kabar tentang keadaan Aruna.
“Gue malah lebih khawatir kalau Nevan ternyata tahu tentang GPS tersebut makanya dia minta Aruna buat matiin GPS itu. Gue takut banget karena kenapa-kenapa kamu,” ungkap Alister dengan helaan nafas lelah nya.
Kini jam sudah menunjukkan pukul 20.47 namun mereka belum juga menemukan keberadaan Aruna. Kini Alister pulang sekarang, bisa dipastikan jika Ibu nya akan langsung mengusirnya dan tidak memperbolehkan Alister untuk pulang sebelum Aruna ketemu.
“Percaya deh, dia gak akan berani nyakitin Aruna. Kalau ucapan lo bener si Nevan suka sama Aruna, dia gak akan nyakitin Aruna,” ucap Kai berusaha menenangkan Alister walau sebenarnya ia pun kini sudah begitu takut terjadi sesuatu yang buruk pada Aruna.
“Dia psikopat kalau lo lupa,” peringat Alister mengingatkan Kai. Kai yang mendengar nya kini sontak terdiam karena ucapan Alister kini malah membuat nya juga merasa takut.
“Kalau gitu sekarang kita cuman bisa berdoa semoga harinya baik-baik aja,” ungkap Kai. Meskipun ia berkata demikian namun sebenarnya ia juga mengkhawatirkan Aruna.
“Ini kita mau lanjut nyari Aruna atau tunggu besok aja? Kita cari dia di kampus. Kalau gak dapet, kita cari tahu dari temen nya di mana rumah Nevan,” saran Kai karena kini pun mereka sudah tak tahu di mana keberadaan Aruna saat ini. Karena Aruna saat diculik, jadi ia pasti berada di suatu tempat.
“Lo pikir ada penculik nyembunyiin korban di rumah nya?” tanya Alister merutuki kebodohan Kai.
“Kalau dia suka sama Aruna dia gak mungkin nempatin Aruna di tempat jelek. Udah lah kita tunggu besok aja, walaupun gak di rumah nya. Kita bisa cari jejak dari rumah nya dengan meminta kontak Nevan dan menyelidiki dia,” jelas Kai. Alister yang mendengar nya kini akhirnya hanya bisa untuk menghembuskan nafas nya kasar. Dan mengikuti saran dari Kai.
“Gue numpang di rumah lo ya. Bunda gue pasti gak bakal ngebolehin gue pulang kalau anak kesayangannya itu gak pulang,” ucap Alister dengan tatapan memohonnya pada Kai yang kini memutar bola mata nya sambil berdecak mendengar permintaan Alister.
“Ya udah lah, kasian gue sama lo,” ucap Kai yang akhirnya menyetujui. Setelah nya mereka kini memutuskan untuk pulang lebih dulu dan beristirahat.
Besok baru lah mereka akan mencari Aruna kembali. Tak membutuhkan waktu lama akhirnya kini mereka sampai di sebuah rumah besar yang tak lain adalah milik Kai.
Dengan segera kini mereka masuk ke rumah tersebut. Hingga kini terlihat lah Ibu Kai yang menghampiri mereka dengan begitu ramah nya.
“Wah ada nak Alister, tumben banget nak malem-malem gini ke rumah Kai?” tanya wanita paruh baya yang masih terlihat cantik tersebut pada Alister. Ibu Kai memang sudah mengenal Alister karena semenjak mereka dekat Alister sering bermain ke rumah Kai bersama dengan Aruna, tak heran jika akhirnya mereka begitu dekat.
“Kasian dia mah gak punya rumah, Aruna hilang dan dia gak boleh pulang sebelum Aruna ketemu,” jelas Kai pada Ibu nya yang kini tampak terkejut mendengar ucapan dari anaknya itu.
“Aruna di hilang?” tanya Ibu Kai yang kini dibalas dengan anggukan oleh Kai dan Alister dengan kompak nya.
“Terus kalian kenapa pulang? Mama juga gak mau nerima kalian sebelum Aruna ketemu, sekarang kalian balik cari Aruna sampai ketemu,” ucap wanita paruh baya tersebut dengan begitu tegas nya. Kedua laki-laki tersebut yang mendengar itu kini membelalakkan mata nya.
“Tapi Ma….” belum sempat Kai melamjitkan ucapannya. Ibu Kai kini sudah menunjuk ke arah pintu keluar. Yang membuat mereka dengan berat hati kini segera keluar dari rumah Kai.
“Lupa gue emak gue juga sayang banget sama Adisti,” ucap Kai dengan helaan nafas nya. Alister tak mengatakan apapun dan kini ia langsung masuk ke dalam mobil nya. Kai yang melihat itu hanya mengikuti dan masuk ke dalam mobil Alister juga.
“Terus sekarang kita harus kemana?” tanya Kai dengan helaan nafas kasar nya.
“Gue lupa kalo gue punya apartemen,” ucap Alister dengan begitu santai nya. Kai yang mendengar nya kini sudah di buat menganga mendengar nya. Ingin sekali rasanya kini Kai menjambak dan memukul Alister karena terlalu kesal dengan laki-laki tersebut.
***