
"INI SIAPA SIH?! APA KU BLOCK SAJA?!"
POV: Author
Dengan kesal, Boni segera mengeluarkan ponselnya lalu melihat pesan spam yang terus berdering tadi. Ketika Boni melihat isi pesannya, Boni langsung terdiam, tidak berekspresi dan tidak mau berpindah tempat. Bahkan orang-orang yang melewatinya merasa tidak nyaman dengan aura Boni sekarang.
Setelah beberapa menit menatap ponselnya tanpa suara, Boni kembali sadar dan memasukkan ponselnya ke dalam saku di rok pendeknya. Dia mulai berjalan lagi, bersamaan dengan kerumunan yang menuju ke arah kelasnya.
Tidak ada jalan mundur lagi ya? Aku harus memulainya hari ini,-batin Boni.
***
Istirahat pertama.
"Boni!" Safa berseru senang saat melihat sahabatnya benar-benar menjemputnya ke kelas. Dia dengan buru-buru membereskan buku-bukunya, lalu memasukkannya secara paksa ke dalam tas.
"Tunggu 1 menit!" ucap Safa sambil merapikan mejanya secepat kilat. Boni hanya tersenyum kecil melihat tingkah sahabatnya.
"Nah, sudah?" tanya Boni saat melihat Safa yang kini bersiap untuk berjalan ke arahnya. Safa tersenyum puas sambil menganggukkan kepalanya.
"Ayo ke kantin!"
***
Di kantin.
Kantin hari ini terasa lebih ramai dari biasanya, entah apa yang sedang terjadi, tapi kantin terasa sangat panas dan penuh saat ini. Boni dan Safa bahkan sampai harus berdesakan untuk memesan bakso dari salah satu warung di kantin sekolah mereka.
Setelah perjuangan yang keras, akhirnya Boni dan Safa berhasil mendapatkan dua mangkuk penuh yang berisi bakso, serta dua gelas jus jeruk dengan es. Beruntungnya mereka karena masih mendapat tempat duduk yang cukup bagus, dan posisinya juga sangat nyaman.
Mereka duduk di tempat itu, lalu mulai memakan bakso.
Boni menatap kuah bakso Safa yang terlihat merah mengerikan, sedangkan punya Boni masih terlihat bersih tanpa ada tambahan bumbu apapun.
"Jangan terlalu sering makan saus, itu tidak baik untuk pencernaan," ucap Boni dengan nada yang khawatir tapi dibuat seperti candaan. Safa yang sedang asik menyeruput mie di dalam kuah baksonya, langsung menatap Boni.
"Apwa bwenal?" tanya Safa dengan mulut yang masih terisi mie. Boni hanya diam sambil menghela nafas, menatap sahabatnya yang melakukannya sangat absurd ini.
"Kalau makan habiskan dulu, dan juga ... ada sesuatu yang ingin aku sampaikan ..." Di akhir kalimatnya, Boni terlihat sedikit ragu. Safa masih memandang Boni sambil menguyah bakso yang besar sekarang.
"Baiklah! Aku akan menghabiskannya dulu!" Safa langsung mengangkat mangkuk baksonya, dan mulai memakannya bagaikan menuangkan makanan langsung ke lambungnya.
Brak!
"Nah! Sudah habis! Jadi apa yang mau kau katakan?" Safa menaruh mangkuk kosong yang sangat bersih di depannya.
Ya, mangkuk itu adalah mangkuk bakso milik Safa tadi.
Gila ... tidak sampai semenit loh? Itu ususnya sehat?,-batin Boni.
Boni langsung tertawa sejenak, sambil menatap baksonya yang masih penuh.
"Sepertinya ... aku harus pindah sekolah Saf." Boni berkata dengan ekspresi yang tenang, walaupun sudah jelas suaranya seperti menahan tangis. Detik itu juga, Safa langsung shock, dia membiarkan mulutnya terbuka dengan tatapan mata yang penuh kebingungan.
"A-apa?! Ke-kenapa?! Apakah karena salahku kemarin?! Kenapa kau harus sampai pindah sekolah?!" Safa langsung berdiri dari duduknya berlari untuk memeluk Boni dari samping. Dia begitu tidak menyangka bahwa sahabatnya akan segera pindah sekolah hanya karena masalah kemarin.
"Bukan ... bukan karena masalah kemarin. Tapi ... ada hal yang hanya bisa kulakukan jika aku keluar negeri. Dan untuk mewujudkan tujuan itu ... aku harus ... pindah sekolah bukan?" Boni berusaha menahan air matanya agar tidak jatuh. Mendengar penuturan dari Boni, sahabatnya. Safa memeluk Boni dengan makin erat. Dia mengusap belakang kepala Boni dengan sangat lembut.
"Baiklah ... aku akan selalu mendukungmu. Jangan lupakan aku ya? Berjanjilah untuk selalu berkabar denganku, aku ... pasti akan sangat merindukanmu di sini," ucap Safa dengan nada yang lembut, yang membuat pertahanan Boni akhirnya goyah. Mereka kemudian saling berpelukan di kantin, tidak peduli dengan banyaknya mata yang melihat.
"Aku ... sangat ... berterimakasih atas segalanya. Karena kau ... aku bisa merasakan kebahagiaan. Selamat tinggal, Safa."
***
Boni yang sudah siap dengan segala koper serta barang-barangnya, dia akan meninggalkan negara tempat dia dilahirkan ini, demi sebuah tujuan penting untuk hidupnya di masa depan nanti.
"Nona ... mobilnya sudah siap untuk pergi ke bandara." Seorang pria dengan pakaian pelayan datang di hadapan Boni.
"Baiklah ... ayo." Boni melenggang pergi, lalu segera masuk ke dalam mobil. Tapi di dalam mobil ... dia menemukan sebuah buku besar yang entah milik siapa.
Boni mengambil buku itu, dan matanya tak sengaja membaca judul bukunya.
"Diary, Me and ... Boni?"
Boni langsung paham ... bahwa itu adalah diary milik Safa.
Dengan hati-hati, Boni membuka lembar dengan lembar yang ada di buku itu.
Day ga tau capek udah lupa yang ke berapa.
Hari ini aku bertemu dengan anak yang menyenangkan? Haha! Walaupun auranya aneh, tapi aku yakin dia anak yang baik! Baiklah! Misi kali ini adalah membuatnya menjadi temanku!
---
To my previous diary! Akhirnya aku bisa jabat tangan sama Boni?! AAAAAA! First move to make a lot of friends! Tapi aku yakin akan membuat Boni sebagai satu-satunya sahabatku!
Boni tersenyum kecil membaca diary Saga tentang pertama kali dia bertemu Boni. Ungkapan kekanakan yang membuat hati ikut geli saat membacanya.
Day 369
Hai? Ga kerasa udah satu tahun yah aku nulis di sini? Buku ini juga sudah mau habis. Tapi aku harap ... kisah kita tidak akan habis seperti buku ini bukan?
---
Day 383
Haha ... baru saja aku berharap bahwa persahabatan kita akan awet selamanya. Kenapa kau harus pindah sekolah? Walaupun kau sudah mengatakan bahwa ini bukan salahku, tapi ... aku tetap saja merasa bersalah.
Maafkan aku, tolong kembali ya? Aku benar-benar munafik, padahal aku bilang akan mendukungmu, malah aku yang egois untuk memintamu kembali.
Diary, kenapa kau tidak bisa mengabulkan keinginanku? Aku ingin terus bersama Boni, sahabatku.
Jika aku tidak bisa bersamanya, kenapa aku harus mengisi hampir seluruh buku ini tentan kisahnya? Aku tidak mau menyimpan ini lagi.
---
Day 390
Boni? Aku harap kau yang membaca pesan ini. Buku ini sekarang milikmu, jangan khawatir, walaupun buku ini tidak bersamaku, aku tidak akan melupakanmu.
Jangan lupakan aku ya? Ah sial ... tintanya jadi basah karena air mata, harusnya ini menjadi pesan yang bagus. Aku malah mengacaukannya lagi. Aku memang selalu mengacau ... bukan?
Maafkan aku yang berbicara melantur. Aku harap kau bisa menggapai mimpimu setinggi langit ... setinggi elang yang sudah kukirimkan padamu.
PS: itu hanya boneka sih ... semoga kau suka!
Tes tes ... tes
"HUAAAA! SAFA!" Boni menangis keras sambil memeluk boneka elang serta diary milik Safa.
TBC.
Jangan lupa likenya ya guys!