Ares: Never Grow Up

Ares: Never Grow Up
S2-Kota Tabu!



"Dewi langit, berarti aku bisa mengendalikan cuaca," jawab Vani dengan nada yang bangga lagi. Riot hanya mengangguk dan berkata oh saja.


Yah, tidak apa-apa, nanti kita juga tau apa maksud kekuatan kita.


***


POV: Ares


Setelah mutasi virus yang menyakitkan dan penuh misteri itu, kamu melanjutkan perjalanan ke Kota Tabu. Di sepanjang jalan kami sering berbicara pada satu sama lain, seperti biasanya. Riot yang ramai dengan Vani, dan aku yang hanya tertawa saja seperti Safa, sedangkan Ken? Tukang marah-marah sambil terus menyetir. Entah sudah berapa lama kami berkendara, tapi yang pasti, kami sudah keluar dari Kota Ansorteri. Sekarang pemandangan yang tersisa adalah area sungai yang dipenuhi oleh sampah dan bau menyengat lainnya.


Krittt!


Kami semua berhenti bicara, dan menatap Ken yang menghentikan mobil.


"Ada apa?" tanya Vani bingung.


"Bukankah harusnya Kota Tabu masih cukup jauh?" tanya Safa sambil melihat ke depan. Saat aku ikut melihat ke depan, kini aku paham kenapa Ken menghentikan mobilnya.


Jalan buntu.


Sebenarnya jalannya bukan benar-benar buntu, hanya saja jalanan ini tertimbun oleh ratusan puing-puing gedung yang menggunung. Aku mulai membuka pintu mobil dan turun dari sana. Mataku menatap puing-puing itu dari ujung atas.


"Kalau sebesar ini, diledakkan saja tidak akan bisa. Mau tidak mau kita harus mendaki," ucapku sambil menerawang jauh ke atas. Tak lama kemudian yang lain sudah ikut turun dan menatapku.


"Kenapa harus mendaki? Bukankah aku bisa berteleportasi?" tanya Riot polos. Detik itu aku langsung tersadar, benar juga, Riot bisa teleportasi, dan aku bisa terbang. Kenapa harus mendaki?


"Tapi, bisakah kau lihat berapa ketebalan puing-puing ini? Aku harus menduga berapa meter yang kugunakan untuk teleportasi nanti," ucap Riot padaku. Aku mengangguk dan langsung terbang ke atas.


Whus!


Hmmm, baiklah, ayo kita lihat!


Aku menatap puing-puing itu dengan seksama, hingga akhirnya mataku bisa melihat sebuah jalan raya yang kosong.


Sekitar 400 meter.


Whus!


Aku kembali turun dan langsung memberitahukannya pada Riot. "Puing-puing di sini tebalnya sekitar 400 meter, sepertinya kita akan aman jika berteleportasi 500 meter ke depan," ucapku pada Riot. Anak itu mengangguk lalu mulai menyentuh dinding mobil.


"Hm? Masuklah ke dalam mobil, ini akan lebih mudah nanti," ucap Riot sambil menatap kami dengan bingung. Aku yang baru sadar langsung mengangguk dan mengajak yang lainnya untuk masuk kembali ke dalam mobil.


Brak!


"Nah kami sudah siap!" ucapku semangat. Dari luar Riot menganggukkan kepalanya. Detik selanjutnya, pemandangan yang kulihat tiba-tiba berubah menjadi tidak jelas, bahkan rasanya kepalaku ikut pusing dan aku juga merasa mual.


Be-benar juga ... kalau dipikir-pikir, ini adalah pertama kalinya aku berteleportasi di dalam mobil. Teleportasi normal saja sudah agak mual, sekarang karena di dalam mobil ... rasanya lebih mual lagi!


Bruk!


"Aduh ... tumben mendaratnya tidak lancar?" gumamku saat merasakan bagian bawah tubuhku yang rasanya keseleo. Dari luar Riot terlihat panik dan beberapa kali mengintip dari jendela.


"Hahaha, mungkin karena ini juga pertama kalinya Riot membawa mobil untuk teleportasi, jadi dia belum bisa mendarat dengan baik. Sini kuobati dulu," ucap Ken sambil menyentuh pinggangku.


Blar!


Dia menyalakan api hijaunya dengan skala kecil, dan mulai menyembuhkan rasa sakit di pinggangku tadi. Aku menghela nafas lega setelah akhirnya rasa sakitnya hilang.


"Ahh! Terimakasih Ken! Rasanya sudah lebih baik!" ucapku pada Ken. Dia hanya tersenyum lalu membuka pintu mobil di sampingnya, aku juga segera membuka pintu mobil di sampingku.


DEG!


"UKH! HOEK!" Aku langsung berusaha menutup hidung dan mulut begitu keluar dari mobil. Riot, Vani, serta Safa juga sudah menutup hidung dan mulutnya.


Bau di tempat ini tidak masuk akal.


Bau ... menjijikkan macam apa ini?!


Aku menoleh ke kiri dan kanan, mencari dimana asal bau tidak enak ini.


Deg.


Pandanganku berhenti pada sebuah lubang besar dengan bentuk persegi panjang. Dengan langkah yang ragu-ragu, aku memberanikan diri untuk menengok apa di dalamnya.


Jantung berdetak semakin tidak karuan saat melihat bercak hitam dan beberapa benda aneh lainnya.


Dan benar saja ...


Isi kubangan itu adalah mayat.


Bruk!


Aku langsung jatuh terduduk saat itu juga, lututku langsung lemas tak ada tenaga. Lenganku rasanya gemetar karena shock atas apa yang kulihat.


Aku tau ini adalah kota yang buruk tapi ... bukankah ini sudah terlalu jauh?!


"Ares!" Suara Vani yang kian mendekat menyadarkanku kembali ke kenyataan. Sebuah tangan kecil yang halus mulai menarik tubuhku menjauhi lubang itu. Saat aku menoleh ke belakang, ternyata itu adalah Ken yang menarikku.


Aku mulai menghela nafas lega, mungkin karena sudah lega, jadi rasanya kepalaku sekarang sedikit pusing.


"Apa kau baik-baik saja?" tanya Ken tanpa menoleh ke arahku.


"Woah ... aku tidak menyangka kotanya akan seburuk ini," ucap Safa dengan beberapa lalat yang ada di jarinya.


"Kau ... mengumpulkan informasi?" tanyaku pada Safa. Perempuan itu mengangguk dan kembali bicara pada lalat-lalat di tangannya.


"TUNGGU- jadi maksud kalian Kota Tabu itu seperti ini?! HAH?! KENAPA KITA MALAH KE SINI?!" Vani mulai berteriak panik sambil berpegangan pada tepi mobil. Sedangkan Riot malah diam saja dan terus menutup hidungnya.


"Tidak ada jalan lain kecuali lewat Kota ini, karena itu mau tidak mau ya kita harus lewat sini," ucap Ken menjelaskan. Vani langsung terdiam, dan terlihat memikirkan sesuatu.


"Bukankah Ares bisa membuat perahu untuk menyebrang lewat laut?" tanya Vani. Keheningan seketika melanda tempat itu.


Aku benar-benar tidak kepikiran.


"Oh! Tapi itu juga tidak bisa dilakukan! Di sekitar Kota ini ada dua palung yang cukup dalam, dan menciptakan pusaran air. Jadi kalau mau memakai perahu, mau tidak mau kita harus memutar nanti. Dan akan memakan waktu yang lebih banyak, bahkan sampai 2 Minggu," jelas Safa tiba-tiba. Vani langsung diam dan cemberut, alisnya berkerut dan matanya berkaca-kaca. Yah, aku juga paham situasinya, mana ada orang yang tidak tertekan jika situasi kota seperti sekarang ini.


Mungkin penduduk asli kota ini?


"Baiklah ... sudah tidak ada yang bisa disesalkan lagi sekarang, kita hanya bisa menjalaninya sampai selesai!" Ken menyatukan kedua tangannya dan berbicara cukup keras pada kami. Aku segera berdiri dan mulai membersihkan celanaku yang berdebu.


"Kita tinggalkan mobilnya di sini, kemasi barang-barang yang penting, kita harus pergi ke tempat yang tidak mencolok," ucap Ken sambil mulai mengeluarkan beberapa barang dari mobil dan yang lainnya. Riot dan Safa segera membantu Ken sedangkan aku dan Vani mencari sebuah jalan untuk pergi dari sini.


"Sepertinya kita bisa lewat sini, ayo." Aku menunjuk sebuah gang kecil yang ada di sisi kanan mobil.


Cring!


Aku membuat sebuah granat, setelah Ken dan yang lainnya selesai mengeluarkan barang penting, aku segera membuka segel granatnya dan melemparnya ke arah mobil.


DUAR!


BLARR!


"Ayo!" ajakku pada semuanya. Kami berlima langsung berlari cepat ke arah gang, meninggalkan mobil kami yang terbakar.


***


POV: Author


Mobil yang terbakar tanpa ada orang, dan bekas granat aneh yang entah darimana. Memanggil beberapa anak aneh yang sibuk melihat mobil itu.


"Wah, apakah kita baru saja kedatangan tamu?" tanya seorang anak perempuan dengan rambut kuncir kanan dan kiri, yang berwarna merah muda.


"Sepertinya? Tapi aku baru pertama kali melihat mobil dengan jenis seperti ini. Apakah diantara mereka ada yang punya kemampuan merakit mobil?" tanya seorang anak laki-laki dengan kacamata bundar.


"Mereka anak-anak yang menarik, tapi apa ada alasan mereka datang ke kota ini?" tanya seorang anak laki-laki yang memakai jaket kulit berwarna hijau.


"Entahlah? Tapi mereka bisa masuk ke kota ini, bahkan dengan mobilnya. Apakah mereka punya kemampuan untuk memindahkan barang melalui celah ruang dan waktu? Apa itu namanya ... ah iya! Teleportasi!" ucap seorang anak perempuan dengan tongkat kayu di punggungnya.


"Mungkin mereka adalah anak yang hebat. Yah, biarpun mereka bisa masuk dengan mudah, bukan berarti mereka bisa keluar dengan mudah juga nanti," ucap seorang anak laki-laki lainnya, yang hanya duduk di atas tanah sambil melihat mobil terbakar itu.


***


POV: Ares


"Hah ... hah ... hah, sepertinya sudah cukup jauh?" tanya Vani dengan nafas yang terengah-engah.


"Ya ... sepertinya sudah, kita bisa bernafas dengan tenang sekarang," ucap Safa yang membawa satu tas besar di punggungnya. Safa mulai bersiul pelan, tak lama kemudian ada banyak semut yang datang.


"Bisakah kalian memberitau kami jalan yang aman?" tanya Safa pada semut-semut itu. Aku memalingkan wajah dan kini menatap Riot yang tampak kebingungan.


"Kenapa?" tanyaku pada Riot. Anak dengan rambut biru itu menoleh padaku, matanya terlihat sedikit bingung tapi juga ragu.


"Rasanya, seperti diawasi. Apakah hanya perasaanku saja?" gumam Riot sambil menatapku. Aku langsung merinding begitu mendengar perkataan Riot, untuk beberapa saat aku diam dan mulai mendengarkan sekitarku.


Keadaan yang gelap karena dikelilingi gedung tinggi, bau yang busuk karena tempat yang tidak terawat, hawa lembab yang muncul karena tidak pernah terkena cahaya matahari.


Dan banyak burung gagak yang bertengger di kabel yang sudah tidak berfungsi.


...


Burung gagak? Kenapa ada burung gagak di sini? Bukankah harusnya burung gagak ada di tempat yang penuh mayat tadi? Bukannya di tempat bersih seperti ini?


Kalau begitu ... jangan-jangan ...


CRING!


Aku langsung membuat sebuah ketapel dan mengambil kerikil dari bawah kakiku.


Kreet!


Aku menarik ketapel itu, dan bersiap untuk melontarkan kerikil yang kutaruh di ketapel.


WHUS!


Kalau begitu, harusnya ada orang dengan kemampuan mengendalikan gagak, seperti Safa! Dan aku juga baru sadar, kenapa Safa hanya bisa memanggil semut padahal ada gagak di sini?!


TBC.


Jangan lupa likenya ya guys!