
Kalau begitu, harusnya ada orang dengan kemampuan mengendalikan gagak, seperti Safa! Dan aku juga baru sadar, kenapa Safa hanya bisa memanggil semut padahal ada gagak di sini?!
POV: Ares
Aku dan Riot saling bertatapan untuk beberapa saat, kami akhirnya memilih untuk diam dan memberitahu yang lainnya dengan bisikan saja.
"Semuanya, mendekatlah kemari," ucap Riot sambil melambaikan tangan. Aku juga ikut mendekat lalu sedikit menundukkan kepala.
Aku harus mencari cara untuk mengusir gagak ini, supaya mereka tidak melihat kemampuan Riot. Tapi bagaimana ya? Kalau aku membuat granat, maka ini akan semakin sulit karena terlalu menarik perhatian.
Kipas raksasa? Oh tunggu, bisakah aku menciptakan hal lain selain benda? Seperti kemampuan untuk terbang saat itu ...
Kalau begitu, tidak ada salahnya mencoba.
Ayo kita buat tornado yang cukup besar.
CRINGG!
WHUSSSSS!!!!
BRAK BRAK BRAKK!
Aku menutup mataku dan mulai memanggil angin untuk berkumpul dan berputar dengan kecepatan tinggi. Angin yang berkumpul makin lama makin banyak dan putaran yang dihasilkan juga semakin kuat.
"HAH?! VANI! KENAPA KAU MEMANGGIL BADAI ANGIN?!" teriak Ken marah karena mereka juga hampir tertarik oleh angin.
"APA?! KAU MENUDUHKU?! BUKAN AKU YANG MELAKUKAN INI!" jawab Vani dengan ekspresi yang marah juga.
"Maaf, tapi aku yang membuatnya," ucapku dengan ekspresi yang tidak berdosa. Ken, Vani, dan Riot langsung melotot tidak percaya. Ken sudah membuka mulutnya dan hendak bertanya macam-macam, tapi Safa dengan sigap membungkam mulut Ken dengan tangannya.
"Sudah, lebih baik kita segera pergi lebih dulu! Ayo Riot!" ucap Safa sambil menatap Riot. Dia segera memegang tangan kami semua dan memastikan semuanya terhubung, setelah itu kami langsung berteleportasi.
Fuut.
Bruk!
Kami terjatuh di atas aspal di dalam gang kecil, aku segera berdiri dan kemudian berlari ke arah jalan besar. Aku melihat tornado yang kuciptakan tadi masih ada, namun jaraknya sangat jauh. Mungkin sekitar 5 kilometer.
"Sepertinya kita berteleportasi cukup jauh kali ini," ucap Ken sambil membersihkan celananya. Riot mengangguk dengan bangga.
"Karena chast kita lebih banyak, jadi aku tidak ragu untuk menggunakan kekuatan teleportasiku," jawabnya sambil menggosok hidung. Vani tertawa pelan melihat tingkah sombong Riot yang imut.
"Tidak boleh begitu dong~ kau tetap harus menggunakan kekuatanmu dengan bijak, kau tidak mau kehabisan chast di saat yang penting bukan?" tanya Vani sambil mencubit lengan kanan Riot dengan pelan. Riot langsung cemberut lalu kemudian tertawa.
"Oh, tadi aku sudah mendapat beberapa informasi dari para semut. Sepertinya kita harus menyusun rencana lebih dulu.
Dan, keadaan kota ini, mungkin lebih gawat dari yang kita kira," ucap Safa tiba-tiba. Aku segera berjalan kembali ke arah rombongan dan mulai duduk di samping Safa. Ken, Vani, dan Riot juga sudah duduk, sial mendengarkan apa yang akan Safa katakan.
"Kota ini ... hanya berisi sekitar 250 orang yang tersisa. 3000 orang lainnya, sudah dibantai."
DEG! DEG!
Lidahku rasanya tercekat tidak bisa terbuka.
"Oh, untung saja masih lumayan banyak." Riot tiba-tiba bersuara.
"Hah? Banyak darimana? Di kotaku saja masih ada sekitar 2000 orang lebih," ucap Safa bingung.
"Di kotaku malah tinggal aku saja," jawab Riot lagi. Safa langsung terdiam seribu bahasa mendengar jawaban Riot. Ya ... tolong sudahi candaan gelap ini.
"Oh ... uh ..." Safa kebingungan untuk menjawab perkataan Riot lagi.
Plak!
Aku menepuk tanganku sekali, dan kini perhatian mereka semua tertuju padaku.
"Oke, kita lanjutkan saja. Gawat bagaimana?" tanyaku pada Safa.
"Oh! Jadi begini, menurut apa yang semut tadi katakan, kota ini dikuasai oleh beberapa orang, salah satunya adalah anak yang mengendalikan gagak tadi. Bisa dibilang bahwa mereka seperti penjahat utama kota ini, mereka juga mempunyai geng lain dan beroperasi layaknya ketua geng," ucap Safa. Aku mengangguk paham sambil menutup mata, setelah mendengar penjelasan Safa tadi, aku bisa menarik sebuah spekulasi.
Mungkin saja telah terjadi perang besar sesaat setelah gas merah itu menyebar dan mulai memberi kekuatan pada orang-orang. Perang besar itu menyebabkan ribuan orang terbunuh, dan membuat yang menanglah yang berhak untuk menduduki posisi penguasa.
Dan setelah perang berdarah yang lama itu, tinggal sekitar 250 orang yang hidup, baik itu dari geng mereka, atau mungkin orang yang menyerah, atau bahkan orang yang belum menyerah dan memilih untuk bersembunyi menunggu kesempatan.
"Ho ... jadi, kita baru saja menyulut masalah dengan orang yang berbahaya?" tanya Ken dengan tatapan mata yang bengong.
Deg.
Lah, iya juga ya. Padahal kami hanya berencana untuk lewat saja, kenapa kami malah terlibat dengan hal yang merepotkan ... lagi?
Trak!
"Siapa?!" Aku menoleh dengan cepat saat mendengar suara kaleng yang dijatuhkan. Mataku menatap ke arah samping gedung dimana kaleng itu menggelinding ke samping.
Riot yang ikut menatap langsung menghilang tiba-tiba.
Fuut.
Tapi 5 detik kemudian dia kembali lagi ke sini.
Fuut.
"Dia cukup cepat, padahal aku sudah menggunakan teleportasi, tapi dia tetap lebih cepat. Yang kulihat hanyalah ... rambut pirang gelombang yang dia miliki, dia adalah anak laki-laki, memakai kaos coklat dan celana hijau pendek yang sudah kotor," ucap Riot tanpa menatapku. Mendengar deskripsi yang diutarakan oleh Riot, aku tidak merasa bahwa anak yang mengawasi kami tadi adalah bagian dari geng yang menguasai kota ini.
Kalau dia bagian dari geng itu, harusnya pakaiannya lebih mencolok, dan daripada kabur setelah ketahuan ... maka akan lebih mudah untuk membuat keributan dan membuat pihak mereka mengetahui kami ada di sini.
"Tidak apa-apa, untuk sekarang ... bukankah lebih baik kita mencari tempat tinggal?" tanya Vani sambil merangkul Safa dari bahunya.
"Hm, sepertinya ada banyak rumah yang kosong di sini, salah satunya ... apartemen yang ada di depan kita. Kenapa kita tidak masuk ke dalam sini saja? Lalu menginap untuk beberapa hari," kata Safa sambil menunjuk apartemen di depan kami. Bagian yang Safa tunjuk adalah pintu belakang apartemen itu, tanpa pikir panjang, kami menyetujui usulan Safa. Karena jika seandainya ketahuan, kita bisa kabur lagi dengan kemampuan Riot.
Kami segera berjalan ke pintu apartemen itu dan mencoba untu membukanya beberapa kali.
Cklek cklek!
Brak brak!
"... Tidak mau terbuka," gumamku sambil melihat tanganku yang memerah.
Ugh, tangan umur 12 tahun ini sangat lemah, masa dibuat menarik pintu saja sudah memerah.
"Minggir." Aku mendengar suara Safa di belakangku, spontan aku segera minggir, memberikan jalan agar Safa bisa lewat. Dia berjalan ke arah pintu sambil melepaskan jepit rambut yang hanya terbuat dari kawat saja, lalu memasukkannya ke dalam lubang kunci di pintu apartemen itu.
Klik klik ... Klik klik.
"Woah ... apa kau bisa membuka pintu hanya dengan jepit rambut?" tanya Riot kagum. Safa masih fokus dengan pintu itu lalu menjawab Riot seadanya.
"Bisa ... karena saat di kota dulu, aku jadi buronan, dan harus tidur di mana saja," ucap Safa masih sambil tetap fokus di pintu. Riot yang sangat antusias masih diam dan mengamati apa yang Safa lakukan dengan cermat.
Klek!
"Ya, sudah." Safa menghembuskan nafas lega, lalu menarik jepit kawat itu dari dalam lubang kunci.
Krieet.
Setelah itu, Safa membuka pintunya dengan pelan hingga mengeluarkan suara berderit. Safa masuk lebih dulu, diikuti oleh aku, Ken, Riot dan baru Vani. Karena Vani adalah yang terakhir, dia yang mengunci pintu dari dalam.
Klek.
"Woah ... sangat ... gelap." Suara Riot terdengar, tapi aku tidak bisa melihat wujudnya. Hal ini wajar karena listrik sudah lama tidak menyala, dan yang diluar juga hanya mengandalkan pencahayaan dari bulan.
Cring!
Trik trik.
Aku membuat sebuah lentera yang menyala cukup terang, aku kini bisa melihat Riot dan Ken yang memandangku dengan tatapan lega. Aku terkekeh melihat mereka berdua yang kelihatannya tidak nyaman dengan kegelapan.
"Apa kalian takut gelap?" tanyaku pada mereka.
"Mana mungkin, hanya saja rasanya aneh kalau gelap," jawab Riot sambil memalingkan muka.
"Baguslah, kalau begitu, Ares di depan." Safa berbicara padaku, sambil mengarahkanku pada sebuah pintu dengan gambar serta tulisan 'tangga darurat/jalur evakuasi'.
Aku yang ganti jalan di depan, lalu segera membuka pintu dengan hati-hati.
Klek.
Begitu tangga terbuka, hal pertama yang kulihat adalah anak tangga yang sangat banyak. Anak tangga itu berputar-putar hingga mencapai bagian atas apartemen ini.
Kalau tidak salah, apartemen ini tadi ada sekitar 25 lantai. Dan melihat ada tangga yang turun ke bawah, berarti juga ada lantai bawah tanah.
"Kita ke lantai paling atas?" tanyaku bingung.
"Hmmm, ke lantai 5 saja dulu, yang penting kita bisa beristirahat," ucap Vani menyahuti. Aku mengangguk dan mulai menaiki tangga.
"Oh iya!" Aku teringat sesuatu.
Cring! Cring!
"Ken! Vani! Tangkap!" Aku membuat dua lentera lagi dan memberikannya pada Ken serta Vani. Karena posisinya adalah Vani berada di tengah kami berlima, dan Ken yang berada di belakang sendiri.
"Nah, untung saja kau membuat lentera lagi," ucap Ken senang. Aku tersenyum sebagai jawaban lalu mulai untuk menaiki tangga lagi. Satu demi satu anak tangga kami jejaki. Mungkin sekitar 5 menit menaiki tangga, kami akhirnya sampai di pintu lantai 5.
Dan lagi-lagi pintunya terkunci. Safa kini yang maju di depan dan mulai membuka kuncinya dengan kemampuannya sebagai mantan buronan kota.
Klek.
Kriett.
Pintu itu terbuka, menampilkan lorong super gelap di dalam sana. Aku menelan ludahku gugup melihat kegelapan yang amat sangat pekat.
"Ares, kau takut?" tanya Riot tiba-tiba sambil menyenggol siku kiriku.
"Hah?! Tidak!" jawabku dengan cepat.
"Ayo masuk dong," ucap Riot lagi dengan seringai di wajahnya. Aku menutup mataku dan menelan ludahku sendiri dengan susah payah.
Kenapa lorongnya sangat gelap sih?!
TBC.
Jangan lupa likenya ya guys!