Ares: Never Grow Up

Ares: Never Grow Up
S2 - Keputusan Ares!



Kami semua terdiam lagi, tidak ada satupun yang berbicara karena semuanya bingung siapa yang harus jadi mata-mata.


"Um ... sebenernya ... aku punya rencana untuk ini ..."


***


POV: Ares


Aku menatap ke arah Safa yang baru saja berbicara. Safa mulai berjalan maju dan berkata sesuatu pada Rafleo, "Apakah yang menjadi mata-mata harus manusia?". Pertanyaan Safa langsung membuatku sadar sesuatu. Kekuatan Safa sangat cocok untuk mata-mata!


Rafleo memiringkan kepala karena tidak paham dengan maksud pertanyaan Safa. "Apakah harus manusia? Bukankah memang harus manusia? Bagaimana caranya kita memperoleh informasi kalau mata-matanya bukan manusia?" tanya Rafleo kebingungan. Safa terkekeh mendengar pertanyaan Rafleo lalu dia segera berjalan ke arah jendela.


Brak!


Dia membuka jendela di lantai atas ini dan mulai meniup udara kosong. Tak lama kemudian ada banyak hewan yang datang, mulai dari cicak, nyamuk, burung gereja, dan ngengat. Mereka semua masuk ruangan ini dan terbang memenuhi ruangan.


"AAAAAAA SAFA PELIHARAANMU KENAPA ADA KECOANYA?!" Vani histeris sambil menutup matanya. Ken masih tetap santai sambil menutup telinga, sedangkan Riot sudah berteleportasi entah kemana. Endo yang shock juga langsung menghilang, sedangkan Rafleo masih membeku sambil berdiri.


Aku?


Aku membuat sebuah jubah super besar yang menutupi seluruh tubuhku kecuali mata.


Aku bukan takut, hanya sedikit jijik.


"Nah, kita bisa menggunakan hewan-hewan ini sebagai mata-mata!" Safa berbalik dengan senyuman dan segerombol ngengat di telapak tangannya.


"... Loh? Kenapa semuanya pada takut?" Safa membeku di tempat saat melihat keadaan yang agak kacau, yang pasti ini adalah ulah Vani yang histeris sambil berlari ke kiri dan kanan, mengacaukan ruangan lalu akhirnya pergi lewat pintu.


Aku menatap Safa dan mulai berbicara. "Bisakah kau membuat mereka duduk tenang saja di kursi sana? Supaya mereka tidak terbang kemana-mana!" ucapku dengan suara yang tertahan oleh jubah super besar yang kubuat tadi. Safa menghela nafas samb tersenguk meremehkan, dia kemudian mulai berbisik pelan, dan para serangga itu terbang berkumpul di atas kursi yang kosong.


"Nah, sudah! Bagaimana menurut kalian? Mereka adalah mata-mata yang paling pas!" Safa berbicara dengan nada yang menggebu-gebu. Rafleo segera sadar dan mulai berdehem, matanya kemudian melirik ke arah Safa, lalu ganti ke arah para serangga.


"Kemampuanmu itu mengontrol serangga?" tanya Rafleo. Safa menjawa dengan gelengan kepala. "Bukan, kemampuanku adalah berbicara dengan hewan. Semua hewan." Safa berbicara dengan nada yang bangga. Rafleo menatap Safa dengan kagum lalu kembali menatap ke arah serangga tadi.


"Memang benar mereka adalah mata-mata yang paling pas ..." Rafleo bergumam sambil menatap Safa ragu. Tangan kanannya memegang dagunya sendiri sambil menunduk ke bawah, mengingat-ingat sesuatu.


"Tapi seingatku ... diantara para petinggi di kelompok mereka, ada yang bisa mengendalikan gagak. Bukankah akan berbahaya jika mengirim serangga atau bahkan hewan kecil ke sana?" ucapku sambil mulai mengeluarkan kepalaku dari gumpalan jubah tebal yang kukenakan. Safa tampak sedikit kaget dengan apa yang kukatan, tapi dia segera kembali tenang.


"Hm ... kalau begitu ... ini cukup sulit ...," gumam Safa sambil menutup matanya.


BRAK!


"APAAA?!" Aku kaget karena tiba-tiba Ken berdiri sambil menggebrak meja. Aku tidak bisa melihat ekspresinya dengan jelas karena dia menundukkan kepala.


"Lupakan soal mata-mata. Kita langsung saja serbu."


JENG JENG!


Seluruh ruangan kini hening. Yang paling shock adalah aku.


Tunggu Ken?! Bukankah kau orang yang paling rasional diantara kita?! La-lali kenapa? Kenapa- AAAAAA?!


BLAR!


"Api ini biasanya kugunakan untuk mengobati, dan juga memberikan rasa sakit. Tapi tentu saja aku harus menyentuh tubuh target, dan harus menunggu waktu beberapa detik baru bereaksi." Ken menjelaskan pada kami dengan api hijau yang masih membara di tangannya. Tapi tiba-tiba api itu lenyap, dan Ken kembali bicara.


"Tapi aku sudah menemukan sebuah gaya bertarung yang baru. Coba kalian lihat."


BLARRR!


Sebuah api lain muncul dari tangan Ken, ini bukanlah api hijau ... melainkan api ungu.


"Api ini ... menyerap kehidupan."


DEG!


MENYERAP KEHIDUPAN?!


"Siapapun yang kusentuh dengan api ini, maka dia akan langsung berubah menjadi serpihan debu. Tapi api ini juga mengonsumsi chast lebih banyak dari pada api hijau normal ... tapi dengan jumlah chast kita yang sekarang, ini tidak masalah. Kita hanya perlu pandai dalam mengatur chast saja." Ken menggenggam tangannya, dan api itu seketika lenyap. Aku dan Safa terkejut, kami baru tau bahwa kemampuan Ken telah berevolusi juga.


Tunggu, apakah artinya ... semuanya juga ikut berevolusi? Sepertinya hal ini memang benar ... biasanya aku hanya fokus dalam menciptakan sebuah benda, dan waktu itu ... aku bisa menciptakan hal lain selain benda, itu adalah tornado.


"Nah, apakah sekarang kalian paham? Dengan kemampuan kita saat ini, kita sudah punya kemampuan yang cukup untuk mengacaukan seisi kota dengan kelompok kecil kita!" Ken bersuara sambil menunjuk ke arah luar bangunan.


"... Yang Ken katakan benar. Kita sudah bisa memulai perang dengan kemampuan kita yang sekarang." Safa ikut menambahkan sambil menatapku. Aku menghela nafas sejenak lalu menatap ke arah Ken.


"Kau memang benar Ken. Kita bisa mengacaukan seluruh kota dengan kekuatan kita sekarang ... itu jika para penduduk tidak ikut berevolusi. Tapi sayangnya, semua orang ikut berevolusi juga seperti tubuh kita.


Bisakah kau bayangkan ada lebih dari 1000 orang yang punya kekuatan super besar? Apakah kau akan nekat untuk memulai perang dengan perbandingan skala 10:1000?


Kita tetap memerlukan rencana Ken, salah sedikit saja, bukan kita yang akan mati, tapi setengah dunia ini akan hancur." Aku berbicara sambil menatap ke arah gedung pencakar langit. Suasana yang mulai menjadi terang, menandakan bahwa pagi telah datang.


"Tapi aku juga tidak sepenuhnya menolak idemu. Kita akan langsung memulai perang, dengan rencana yang kita selipkan di dalamnya. Kita akan memulainya 2 hari lagi," ucapku sambil tersenyum ke arah Ken. Safa dan Ken mengangguk dengan semangat, sedangkan saat aku menoleh ke arah Rafleo, dia malah masih bengong dan membeku.


"2 hari lagi? Bukankah ini terlalu cepat?" tanya Rafleo dengan mata yang berputar-putar. Aku menggelengkan kepala sambil membuat sebuah roket suar kecil di tanganku.


CRING!


"Tidak, 2 hari adalah waktu yang pas. Kita bisa memulai perang sekaligus mendapatkan informasi. Kita tidak tau kekuatan musuh, tapi musuh juga tidak tau kekuatan kita. "


Fuut!


Fuut!


Cklek.


Secara bersamaan, Vani, Riot, dan Endo datang kembali ke ruangan ini. Aku tersenyum ke arah mereka lalu berkata, "Bersiaplah, ayo kita sadarkan para manusia itu dengan tamparan penuh cinta!"


TBC.


Jangan lupa likenya ya guys!