
"LOH KAU BENERAN RIOT?!"
POV: Riot
Akhirnya aku bebas! Aku tidak tau bagaimana caranya, untung saja Ken datang dan duduk di bangku bawah pohon tempatku tersangkut.
Sekarang kami sedang berbaring di atas sebuah bangku taman yang kosong, ya ... aku baru tau bahwa aku ada di taman. Padahal kupikir tadi aku ada di tengah hutan atau di tempat rimbun lainnya.
"Kenapa kau bisa tersangkut di sana?" tanya Ken sambil tetap berbaring. Aku ikut berbaring di samping Ken, tapi dengan posisi yang berlawanan.
"Kau tidak akan percaya, barusan aku diculik oleh anak yang aneh," jelasku sambil menutup mata.
"Apa? Diculik? Bagaimana bisa?" tanya Ken kaget sambil menatap ke arahku. Aku hanya mengendikkan bahu lalu menatap ke arah daun-daun pepohonan.
Rasanya sangat mengantuk. Sepertinya ... aku akan tertidur.
***
POV: Ares
Ciap ... ciap ... ciap.
"Hmm, aduh ... kepalaku." Aku terbangun dengan kepala yang sangat sakit. Dan juga dengan tanah yang menempel di sekujur tubuhku.
Tunggu, kemarin aku ngapain ya? Kayaknya aku melakukan sesuatu deh kemarin. Siapa ya? Pirang ... oh! Benar! Aku mengantar anak berambut pirang untuk mencari buah!
Tapi sekarang dia dimana? Aku tidak melihat batang hidungnya semenjak bangun. Ah sudahlah, lagipula dia pasti bisa bertahan hidup sendiri. Ugh ...
...
"OIYA, KEN DAN RIOT! ASTAGA AKU MALAH KETIDURAN!" Aku langsung bangun dengan spontan dan melesat terbang. Udara sejuk di pagi hari yang mengenai kulitku, memberi kesan dingin dan segar yang aneh. Aku terus terbang ke sana dan ke sini, mencari ke segala arah tanpa petunjuk.
"Ares!"
Hah? Suara Ken?
Aku berhenti di udara sejenak lalu melihat ke arah bawah. Mataku mencari dimana asal suara Ken tadi, hingga akhirnya aku bisa melihat ada dua orang anak yang melambaikan tangannya ke arahku.
Itu pasti Ken dan Riot. Syukurlah mereka baik-baik saja.
Aku segera turun ke arah mereka lalu memeluk Ken dengan erat.
"Kau habis dari mana saja bodoh?" tanyaku dengan nada kesal, tapi masih tetap memeluk Ken. Dia membalas pelukanku sambil menepuk-nepuk punggungku.
"Ceritanya panjang, dan aku juga tidak sengaja bertemu Riot," jawab Ken sambil tetap memelukku. Setelah itu tiba-tiba Riot memisahkan pelukan kami berdua. Raut wajahnya terlihat kesal.
"Kalian berpelukan tapi tidak mengajakku, ini sangat tidak adil!" Dia berbicara dengan nada kesal, bahkan sampai menghentak-hentakkan kakinya. Akhirnya aku dan Ken tertawa kecil lalu memeluk Riot juga.
"Ngomong-ngomong, apa kau tau dimana Vani? Ares?" tanya Riot tiba-tiba. Tentu saja aku langsung kaget, setahuku ... sebelum aku meninggalkan Vani, dia masih ada di rumah sakit.
"Bukannya ... dia ada di rumah sakit?" tanyaku sambil menatap Riot dengan heran. Riot dan Ken saling bertatapan, mata mereka menyelipkan sorot mata yang ragu.
"Rumah sakitnya benar-benar hilang, kata penduduk yang tinggal di sekitar sana, rumah sakit itu meledak. Dan ada satu orang yang berhasil selamat dari insiden itu," tambah Riot sambil menunjukkan beberapa lembar foto tentang kejadian semalam. Rupanya masih ada media cetak yang beroperasi di kota ini, tapi hanya satu orang yang selamat?
"Dan ... mungkin ini akan sedikit mengejutkanmu ... rumah sakit yang kita tempati, itu sudah tidak berfungsi sejak ada kabut merah." Pernyataan Riot langsung membawa firasat buruk di hatiku.
"Lalu, kemana Vani?!" tanyaku bingung dan panik. Aku mencengkram lengan Ken dan Riot, tapi mereka juga menggelengkan kepala, sebagai jawaban tidak tahu atas pertanyaanku.
"Sial ... kalian sudah ketemu, malah Vani yang hilang!" umpatku kesal karena masalah mulai muncul bergantian. Dan di tengah ketegangan atmosfer ini, ada seorang gadis kecil yang tidak asing lagi bagi kami. Dia datang dengan jas hitam mungilnya serta beberapa lebar dokumen di tangan kanannya.
Dia adalah Civilian.
"Ada apa?" tanyaku dengan dingin. Tapi Ken langsung membungkam mulutku dan menatapku tajam, tentu saja aku langsung bingung dengan reaksi anak ini, bahkan Riot sampai hanya bisa terdiam melihat perilaku Ken yang aneh.
"Aku datang untuk mencari Ken, apakah kalian masih ada urusan?" tanyanya dengan nada datar. Ken langsung melepaskan tangannya dari mulutku dan berjalan cepat untuk menghampiri Civilian.
"Tidak ada apa-apa kok, ngomong-ngomong, kenapa kamu mencariku?" tanya Ken dengan nada yang ramah dan hangat. Begitu Ken berbicara pada Civilian, aku langsung paham akan satu hal. Sepertinya dia sudah dimabuk cinta.
Sebenarnya aku juga tidak terlalu mempermasalahkan hal ini, tapi situasi sekarang masih gawat. Anggota kita belum lengkap sejak kemarin, kalau Ken sampai menghilang lagi, maka ini akan semakin sulit. Belum lagi ada begitu banyak kejadian buruk yang datang secara beruntun tanpa henti.
"Ares, aku akan pergi dulu dengan Civilian," pamit Ken dengan senyuman yang cerah. Tentu saja aku langsung marah setelah mendengar perkataannya.
"Ken! Vani belum ketemu! Kemana kau pergi?!" bentakku padanya. Tapi Ken hanya diam dan pergi sambil melambaikan tangan. Aku sangat kesal sampai rasanya ingin kutonjok wajah Ken. Tapi Riot langsung menahan tanganku sambil menggelengkan kepalanya.
"Tenanglah, tidak apa-apa. Ayo kita cari Vani berdua, setidaknya ... kita tahu bahwa Ken pergi dengan siapa," ucap Riot berusaha menenangkanku. Aku sungguh tidak masalah jika masalahnya memang hanya untuk dia pergi kencan atau apalah itu, tapi ini tentang Vani ... bukankah harusnya Vani adalah orang yang berharga untuk Ken? Aku sungguh tidak paham kenapa dia bisa sebodoh ini.
"Kau benar, lupakan anak itu. Ayo kita cari Vani," ucapku sambil berjalan ke arah uang berlawanan dengan Ken. Riot langsung mengikutiku dari belakang, dia berjalan menyesuaikan langkah kakiku.
"Ngomong-ngomong Ares, kemarin ... aku baru saja diculik oleh anak laki-laki yang aneh." Riot mulai bercerita apa yang telah dia alami, aku langsung berhenti berjalan dan menatapnya dengan terkejut.
"Apa?! Lalu bagaimana kondisimu sekarang?!" teriakku panik.
"Ini tidak apa-apa, apa kau lupa aku bisa berteleportasi?" tanya Riot dengan datar. Aku langsung menghembuskan nafas lega.
"Tapi ini bukan inti ceritanya, penculik itu ... kemarin dia menceritakan kisah yang aneh," ucap Riot sambil melirik ke kiri dan kanan. Aku mulai memperhatikan apa yang akan Riot katakan.
"Ini tentang Boni dan Safa," jelas Riot sambil berbisik.
"Ya, aku juga sudah tau," ucapku dengan suara pelan.
"Mereka adalah musuh, kan?"
"Dulunya mereka teman, kan?"
Aku dan Riot langsung terdiam. Dan hal ini membuatku sadar, bahwa mungkin saja ... versi yang Riot dengar itu berbeda dengan versi yang kudengar.
TBC.
Jangan lupa likenya ya guys!