
POV: Riot
Aku menatap anak itu dengan tatapan malas. Dia datang ke rumah kami dengan pakaian serba putih seperti dokter, cara bicaranya yang menjijikkan seperti menjilat kotoran. Semuanya.
Aku benci semua tentang dirinya.
"Seperti yang saya bilang sebelumnya, jika anda mau bekerja sama dengan penelitian saya, dijamin! Anda akan menjadi manusia normal seperti semula!" ucapnya dengan nada meyakinkan. Kedua orangtuaku sepertinya termakan omongannya.
"Ayah! Ibu! Jangan mau!" ucapku sambil menarik lengan baju ibuku. Beliau menatapku dengan senyuman lembut, tangannya yang halus kembali menyentuh ujung jariku.
"Riot, jika ini berhasil. Bukankah kita akan hidup normal lagi, sayang? Hm?" tanyanya dengan nada yang halus. Aku mengernyitkan keningku, memikirkan bagaimana cara untuk meyakinkan kedua orangtuaku.
Ibu, tidak ada yang namanya kehidupan normal di dunia yang seperti sekarang. Bagaimana caranya agar membuatmu paham?
Aku menggelengkan kepalaku dengan cepat, sebagai isyarat aku tidak mau menyetujui tawaran anak itu. Tapi tampaknya ayah dan ibuku tidak menghiraukanku.
"Kita bahkan tidak mengenalnya! Kenapa kita harus percaya padanya?!" ucapku tak terima. Anak itu menatapku dengan senyuman itu lagi. Senyuman paling menjijikkan yang pernah kulihat.
"Tadi anda bilang umur aslinya 16 tahun?" tanyanya sambil menatap ayahku.
"Ah, benar! Mohon maafkan sikapnya yang egois ini, saya akan bicara dengannya nanti, profesor!" sahut ayahku dengan tersenyum canggung. Aku mengepalkan tanganku dengan erat.
Meskipun aku baru berumur 16 tahun, tapi aku juga tahu.
Mana senyuman tulus dan senyuman munafik di depanku!
"Aku tidak akan pernah menyetujui tawaranmu! Tidak akan pernah!" tegasku. Ayahku terlihat marah karena perkataanku, sedangkan ibuku terlihat panik setelah aku melontarkan kalimat itu.
"Riot Valvera! Beginikah caramu bersikap pada orang asing dan orangtuamu sendiri?!" bentaknya padaku. Aku terdiam, menatap mata ayahku dengan nyalang. Begitu juga dengan profesor sialan itu. Aku benci dirinya.
"Tidak peduli apapun tawarannya, tidak peduli apapun yang Ayah katakan, aku tidak akan pernah menyetujuinya!" Aku menunjuk ke arah profesor itu, mataku masih menatap tajam tepat ke mata ayahku.
Deg.
Dari perasaan yang kurasakan ini, aku tau. Ayahku sedang bersiap memukulku. Aku segera memejamkan mataku, memikirkan sebuah tempat di salah satu bagian kota ini.
Fuut!
"Huah! Dengan kekuatan Ayah, kalau dia memukulku tadi pasti aku langsung gegar otak," ucapku sambil duduk di rerumputan. Aku sekarang berada di pinggir sungai, menatap air yang mengalir.
"Airnya jadi semakin jernih ya, apa karena banyak pabrik dan perusahaan yang sudah tidak beroperasi?" tanyaku pada diri sendiri. Aku duduk sambil memeluk lututku, menyembunyikan wajahku ke dalamnya.
Kalau dipikir-pikir, sepertinya aku juga sudah keterlalu tadi. Tidak seharusnya aku membenci seseorang hanya karena pendapat pribadiku.
Mungkin memang benar bahwa profesor Ron adalah orang yang baik.
Baiklah! Ayo kita kembali!
Aku segera berdiri, sinar matahari dengan cepat menerjang ke arah mataku. Ternyata sekarang sudah sore, sinar jingganya begitu indah serta menyilaukan.
Tapi entah kenapa, sinar ini membuat hatiku tidak nyaman.
Aku segera menutup mataku, membayangkan kamar di rumahku.
Fuut!
"Ayah Ibu!" Aku dengan cepat keluar dari kamar.
...
Tapi rumah ini sangat sepi, dan basah. Banyak air yang tergenang di sini.
Apakah ada banjir? Tapi hari ini bahkan tidak hujan.
Aku berjalan ke arah sofa. Seluruh rumah ini berantakan. Seperti telah diobrak-abrik oleh seseorang. Aku menelan ludahku dengan gugup, perlahan-lahan berjalan ke arah kamar milik ayah dan ibuku.
Cklik. Kriieet.
"Ayah? Ibu? Kalian di dalam?" tanyaku sambil mengintip dari celah pintu yang terbuka. Tapi tidak ada seorangpun. Aku segera berlari keluar, memeriksa keadaan di sekitar rumah.
Tapi juga tidak ada siapapun.
Kemana mereka?
Aku memejamkan mataku, memikirkan tempat yang mungkin didatangi oleh ayah dan ibuku.
Fuut!
Kantor ayahku. Tidak ada siapapun.
Fuut!
Di tempat supermarket juga sangat sepi!
Fuut!
Di taman kota juga sepi.
Kemana perginya semua orang?!
Harusnya masih ada cukup banyak anak-anak di sini sejak kemarin. Apalagi supermarket, karena masih banyak bahan yang bisa dimakan.
Aku menutup mataku lagi, memikirkan tempat yang selalu kudatangi.
Fuut.
Sekolah. Mataku menatap lahan kosong dengan bangkai besi di tengahnya. Bongkahan tembok yang sudah menyatu dengan tanah, serta roket besi yang sudah mulai berkarat.
"Kenapa banyak burung gagak di sini?" gumamku sambil menyusuri area sekolah yang sudah rata. Hingga mataku menemukan sebuah celah kecil di samping badan roket.
Celah itu seperti mengarah ke bawah tanah. Aku duduk dan mencoba masuk secara perlahan. Untung saja celah ini cukup besar jadi badanku tidak terjepit.
"Ack! Aaaa!"
BRUAK!
"Aduh ... aku tidak tau tanahnya bisa licin ...," gumamku setelah jatuh dari atas.
Deg.
A-apa ini?
Deg.
Deg.
Tu-tunggu ... ini ... penduduk kota?
Deg.
Mereka semua di sini?!
Deg.
Aku berjalan menyusuri ruangan itu, tanganku menyentuh salah satu tabung dengan anak laki-laki di dalamnya. Dia terlihat tertidur lelap dalam air warna hijau ini.
Deg.
"A-ayah?"
Deg.
"Ib ... bu?"
Deg.
Aku berjalan ke arah mereka dengan kaki gemetaran. Tanganku menyentuh kedua tabung mereka. Mataku menatap mereka secara bergantian, matanya tertutup seolah tertidur pulas.
Bak! Bak! Bak!
"IBU! BANGUN BU! BU!" Aku memukul-mukul kaca yang mengurung ibuku. Terus memukulnya hingga tanganku berwarna merah keungungan.
Rasanya sangat sakit hingga air mataku menetes tiap kali memukulnya.
Bak! Bak!
"Bu ... ayo bangun ... tanganku sakit ...," ucapku sambil menangis. Meskipun begitu aku tidak menyerah, aku masih terus memukul kacanya. Hingga bercak merah menempel di kaca yang jernih itu.
Plap plap plap!
Aku mendengar suara tepukan tangan seseorang. Kegiatanku memukul kaca itu terhenti, sekarang perhatianku sepenuhnya beralih ke sumber suara itu.
"Tidak kusangka, malah kau sendiri yang ke sini.".
Sudah kuduga, itu Ron.
Dia berdiri di depanku dengan seragam putih alah dokter miliknya itu. Matanya menatapku dengan tajam seolah aku adalah mangsanya.
"Apa kau suka dengan yang kau lihat?" tanyanya dengan senyuman menjijikkan. Aku mengepalkan tanganku.
"Andai kau tidak kabur, kau juga bisa menjadi salah satu dari mereka~," uca Ron sambil menunjuk tabung-tabung kaca di sampingku.
Jadi ini benar-benar ulahnya?!
Aku menggertakkan gigiku dengan kuat. Tanganku mengepal bersama dengan derasnya darah yang keluar.
"MATI KAU SIALAN!" Aku berlari tanpa pikir panjang. Di kepalaku sekarang hanya dipenuhi kemarahan.
Ron masih berdiri tegap, tatapannya seolah meremehkan eksistensiku yang bersiap menyerangnya. Dia mengarahkan tangannya ke arahku, dalam hitungan detik, sebuah ledakan air dari tangannya menguar.
DUAR!
Fuut!
Aku berada di sampingnya sekarang, tidak peduli secepat apapun serangannya. Teleportasi milikku adalah yang tercepat.
"Kau memang cepat, tapi kau bodoh."
Deg.
Mataku melihat ke mana arah serangan Ron. Jantungku berpacu dengan cepat saat air yang sangat besar itu mengarah ke tabung ibu dan ayahku.
PRANG!
"TIDAKK!" Aku segera berlari ke arah ayah dan ibuku. Tak terpikirkan lagi olehku bahwa aku bisa berteleportasi, sekarang hanya ingin segera menyelamatkan mereka.
"AYAH! IBU! BANGUNLAH!" teriakku sambil memegang kedua pipi ayahku. Wajahnya sangat pucat, darah terus keluar.
Tangan kanannya sudah tidak ada. Begitu juga dengan kaki kanannya. Aku mencoba menekan lukanya dengan baju yang kupakai, tapi tidak berhasil.
"Ayah! Ayah! Bangunlah! Dia orang jahat! Ayo bangun dan hajar dia Ayah!" Aku terus berbicara sambil menahan darah yang keluar.
"Ri ... ot."
Deg.
Aku menolehkan kepalaku dengan kaku. Sembari menutup mataku, aku meredakan ketakutan yang akan kulihat setelah ini.
Deg.
Perlahan-lahan kubuka mataku.
Deg.
Di depanku, terpapar ibuku yang badannya sudah terputus. Dia masih berbicara dengan mulut yang dipenuhi oleh darah.
"La ... ri ... lah," ucapnya.
Setelah itu dia tak bergerak lagi. Begitu juga dengan ayahku yang entah sejak kapan jadi kaku. Aku masih diam, mataku terbuka lebar sambil menatap orangtuaku.
"Drama keluarga yang sangat mengesankan!" Ron menyadarkanku dari rasa sedih.
Dengan sigap aku mengumpul semua bagian tubuh orangtuaku, aku menutup mataku untuk keluar dari tempat ini.
"Ron. Ingat ini baik-baik, aku tidak akan melepaskanmu. Akan ada waktu di saat kau harus membayar semua perbuatanmu!" kecamku pada Ron.
Dia hanya tersenyum meremehkanku.
Fuut!
TBC.
Chapter kepingan Riot (selesai).
Jangan lupa likenya ya guys!