Ares: Never Grow Up

Ares: Never Grow Up
Kemenangan...?



"Ene ... Eni?"


POV: Ares


Aku terdiam kaku, menatap kedua tubuh gadis kecil yang mulai tumbang di depanku. Ada sebuah perasaan aneh yang datang, sedih? Entahlah, rasanya sangat sesak, berat, rasanya seperti jantungku diremas menjadi serpihan kertas.


"Ares?"


Suara Riot menyadarkan lamunanku.


Dan saat aku telah sadar, aku baru tau ... bahwa aku sedang menangis.


***


POV: Author


Ares masih berdiri dengan tatapan mata yang kaget, air asin itu tak berhenti menetes dari kedua matanya. Mata emasnya mulai menyipit, menjatuhkan bulir air asin lainnya ke tanah yang telah gersang ini.


Perasaan sedih dan sakit itu menyeruak masuk ke relung hati Ares.


Perasaan bersalah.


Perasaan bersalah karena kecerobohan di dalam rencananya.


"... Kalian makhluk yang lemah ya. Hanya kehilangan beberapa orang saja sudah menangis." Suara Boni membuat Ares tertegun. Amarah langsung membuncah naik di dalam diri Ares, perasaannya campur aduk, marah, sedih, kecewa, putus asa.


Dan kini dia sangat ingin membunuh Boni dengan tangannya sendiri.


"Lemah? Siapa? ... Kami? Ha ... HAHAHAHAHAHA!" Suara tawa Safa memecah keheningan di kota yang gundul ini. Matanya sudah memerah karena dari tadi menangis, tangannya masih bergetar seraya memangku kepala Elly di pahanya.


"Aku ... sudah tidak tau apa lagi yang harus kukatakan padamu ... Boni. Begitu banyak hal yang ingin ku-ungkapkan. Ada ratusan pertanyaan yang berputar-putar tanpa arah di otakku.


Dan ada seribu kekecewaan di dalam hatiku. Tapi ... kau tau? Aku mengabaikan semuanya ... AKU MENGABAIKAN SEMUANYA! HANYA KARENA SATU HARAPAN!


SATU HARAPAN BAHWA KAU AKAN MULAI MENGERTI NANTI!


YA! KAMI MEMANG LEMAH! KAMI HANYA MEMILIKI SATU NYAWA DAN DUA TANGAN! KAMI HANYA MEMILIKI SATU OTAK DAN SATU JANTUNG!


TAPI KAMI JUGA PUNYA HATI! SATU HAL YANG TIDAK AKAN PERNAH KAU MILIKI!" Safa berdiri dengan nafas yang tidak teratur, bahunya naik dan turun secara cepat. Boni hanya masih diam, menatap Safa yang menangis bagaikan menonton sebuah drama.


"Hati? Aku tidak butuh itu. Aku kuat walaupun aku sendiri. Bukti? Kalian bahkan tidak bisa mengalahkan walaupun menyerangku secara bersamaan seperti ini." Boni menatap kami semua dengan pandangan meremehkan. Semua orang yang ada di sini tidak ada yang menundukkan kepala, mereka dengan tegas mendongakkan kepala mereka.


"Kami? Kalah? Sepertinya kau belum bercermin." Ken tiba-tiba berbicara dengan tatapan mata yang dingin. Boni menyeringai, dan membalas Ken dengan tatapan yang sama.


"Hah! Kalau aku kalah sekarang, harusnya aku sudah tidak ada di dunia ini! Tapi? Aku masih hidup! Dan aku tidak akan mati sebelum membunuh kalian semua!


SAFI! RATAKAN MEREKA SEMUA!" Boni menunjuk ke arah Ken, perlahan angin mulai berhembus.


Tapi bukan angin kencang yang datang, melainkan angin lembut yang bahkan tidak bisa menggoyangkan batu.


"Kau memang benar, selama ini kami hanya menyerangmu tanpa menyerang bonekamu. Tapi sepertinya kau tidak paham tentang pengalihan isu ya?


Coba lihat bonekamu sekarang." Ken tersenyum licik. Boni yang sadar sekarang langsung menatap boneka elangnya. Ternyata ... boneka miliknya kini telah ditumbuhi tumbuhan merambat yang aneh, tumbuhan itu terus tumbuh hingga sedikit demi sedikit menelan tubuh boneka elangnya.


"Apa?! Tidak mungkin?! Kapan kalian melakukannya? Kenapa?! Padahal kalian bahkan tidak bisa menyentuhku seujung jari pun!" Boni mulai panik, dia segera memegang bonekanya dan berusaha untuk mencabuti Tananam merambat itu. Tapi jangankan tercabut, akar boneka itu justru tumbuh di kulit Boni, bagaikan tumbuhan karnivora yang haus darah.


"Kau benar. Kami tidak bisa menyentuhmu karena boneka itu melindungimu. Tapi ... jika kami menyerangmu sekaligus menyerang bonekanya, maka boneka itu hanya akan fokus untuk melindungimu.


Dan akan melupakan dirinya sendiri.


Kau kalah bukan gara-gara membiarkan kami lolos.


Tapi kau kalah karena membiarkan warga kota berpikir. Sebuah rencana yang ditujukan untuk menghancurkan bonekamu ... dan sebuah rencana yang ditujukan untuk menghancurkan satu-satunya kenanganmu!" Safa berbicara dengan ekspresi sedih. Karena dia tau seberapa berharga boneka itu bagi Boni ...


Karena Safa lah yang memberi boneka elang itu untuknya.


"Sejak awal ... sejak kau melihat dinding tanah. Kau sudah masuk jebakan ... Boni. Tumbuhan besar yang mengikatmu hanyalah sandiwara, tujuan kami yang sebenarnya adalah meletakkan biji di bonekamu.


Lalu granat yang kulemparkan, bukanlah untuk melukaimu, tapi agar membuat bonekamu menyerap lebih banyak debu dan memanaskan udara.


Dan serangan terakhir, laser tadi. Itu kugunakan untuk menguapkan udara dan membuat bonekamu basah. Karena itu bijinya bisa tumbuh.


Kau ... tidak pernah lolos dari perhitunganku. Tapi ... kematian mereka, sama sekali tidak masuk rencanaku," ucap Ares dengan tatapan mata yang sedih. Boni yang mendengar pernyataan Ares sangat terkejut, dia tidak menyangka bahwa Ares dan warga kota merencanakan hal dengan sangat detail seperti ini.


"Benarkah? ... Sepertinya aku yang kalah." Boni menatap Safa dengan mata ungunya yang kian memudar.


Ya, infik ungunya telah mencapai batas.


Boni mengulurkan tangannya pada Safa, sebelum seluruh tanaman merambat itu memakan tubuhnya.


"... Bolehkah ... aku memegang tanganmu satu kali lagi?" tanya Boni dengan suara yang serak.


***


FLASHBACK!


.


.


.


.


.


.


.


.


"Boni! Bukankah kau bilang akan menungguku sebelum pergi sekolah?!" Seorang gadis remaja yang memakai pakaian putih dengan rok pendek berwarna kuning berteriak cukup keras.


"Oh? Kau lama sekali mandinya! Aku pergi duluan deh~," ucap Boni lalu memasukkan permen batang rasa melon ke dalam mulutnya.


"Jangan cemberut dong. Safa tidak cocok jika cemberut," ucap Boni seraya membuka bungkus permen batang lainnya yang rasa nanas. Boni lalu memasukkan permen itu ke dalam mulut Safa dengan tiba-tiba, tapi Safa tidak menolak dan langsung menerimanya.


"Karena permennya enak, jadi kumaafkan kali ini," ucap Safa sambil menatap lurus ke depan. Boni hanya tertawa kecil lalu berjalan lagi di samping Safa.


Mereka saat ini sedang berada di jalanan yang sepi, di Kota Ansorteri.


10 tahun yang lalu.


Saat mereka masih berada di sekolah menengah atas yang sama.


"Safa, nanti bukankah kita ada pelajaran olahraga?" tanya Boni cemas sambil melihat isi tasnya.


"Iya, kenapa?" tanya Safa bingung, Boni masih terus mencari lalu diam untuk beberapa saat.


"Gawat ... sepertinya aku lupa bawa baju olahragaku! Bagaimana ini?!" Boni panik dan mengguncang-guncangkan bahu Safa. Orang yang merasa diguncangkan bahunya jadi ikut panik dan merasa mual.


"T-tunggu! Tenang tenang! Ugh! Huk!" Safa menjauhkan tangan Boni sambil menutup mulutnya.


"Kita bolos saja di UKS."


TBC.


JANGAN LUPA LIKENYA YA GUYS! MUACH!