Ares: Never Grow Up

Ares: Never Grow Up
Siapa gadis itu?



"Riot, apa maksudmu ... gadis itu?" tanyaku sambil menunjuk ke arah gadis yang berlumuran darah.


POV: Ken


Aku menelan ludahku dengan susah, meragukan apa yang kulihat dengan mataku. Semua yang kulihat benar-benar sesuai dengan deskripsi yang diberikan oleh Riot. Tapi kenapa ... YANG KULIHAT MALAH MENYERAMKAN?!


"Jangan-jangan ... dia adalah h-h-hantu?!" ucapku dengan tubuh yang bergetar. Aku langsung berdiri lalu berlari ke arah Riot. Dengan cepat langsung kusambar tangannya dan bersembunyi di balik punggungnya.


"A-a-apakah ga-ga-ga-gadis itu maksudmu?!" tanyaku dengan nada ketakutan. Riot langsung melihat ke arah yang aku tunjuk, matanya langsung melebar saat melihatnya.


"Hah? Tidak ada siapa-siapa tuh?" ucap Riot dengan nada meremehkan. Mendengar perkataan Riot, tentu saja aku jadi semakin kaget. Aku langsung melihat ke arah tadi, dan benar saja. Gadis itu sudah menghilang.


...["Hahaha, ternyata kau penakut, ya?"]...


Deg!


Aku langsung mencengkram tangan Riot dengan kuat.


"Apa kau dengar suara itu?!" tanyaku sambil berusaha bersembunyi di balik punggung Riot. Tapi lagi-lagi Riot memberi jawaban bahwa dia tidak mendengarnya.


Berarti hanya aku yang bisa melihat dan mendengar ini?! Sejak kapan aku jadi bisa melihat hantu?! Aku tidak pernah mau kemampuan ini! Tidakk!


" ... Kurasa sebaiknya kita pulang," ucap Riot dengan tatapan kasihan. Dia langsung memelukku lalu menutup matanya.


Fuut!


Ternyata dia berteleportasi. Setelah kubuka mataku, sekarang kami sudah ada di rumah. Aku baru bisa bernafas dengan lega setelah sampai di rumah ini.


"Sini!" Riot menuntunku agar duduk di sofa. Dia tidak mengatakan apapun, hanya diam dan memperhatikanku. Kadang-kadang dia juga menepuk punggungku beberapa kali agar membantuku tenang.


"Kami pulang!" Vani datang sambil berteriak saat memasuki rumah. Matanya langsung menatapku dengan tatapan terkejut.


***


POV: Ares


Dasar Vani, dia terlalu energik! Aku lelah harus berlari mengikutinya! Sudahlah, aku jalan kaki saja.


Tap tap tap


Begitu aku memasuki rumah, aku disambut dengan atmosfer yang aneh di sini. Rasanya sangat aneh dan berbeda, aku belum pernah merasakan hal seperti ini sebelumnya.


"Ada apa?" tanyaku saat melihat Vani yang sibuk menenangkan Ken.


"Ken, dia melihat hantu," jelas Riot yang datang sambil membawa teh dingin. Aku mengernyitkan keningku, apakah Ken takut pada hantu?


Dan tunggu dulu, ada hantu di sini? Bagaimana wujudnya? Apakah dia juga bocah atau masih orang dewasa ya? Tapi bagaimana jika dia memamg masih bocah? Aish sudahlah! Kenapa aku malah sibuk memikirkan ini?


"Kau takut hantu, Ken?" tanyaku lalu duduk di depan Ken. Begitu aku menyebut kata hantu, Ken langsung terperanjat dan membenamkan kepalanya pada Vani. Entah kenapa aku kesal melihatnya.


"Yak, sepertinya ini sudah menjelaskan semuanya," ucapku dengan helaan nafas di akhir kalimat. Akhirnya kami sibuk menemani Ken hingga dia tenang semalaman. Kupikir ini hanya kejadian biasa yang disebabkan rasa stress akan keadaan dunia ini. Karena itu aku berpikir bahwa Ken akan pulih dalam satu hari saja.


Tapi kenapa ... dia malah jadi tambah parah?


"Dia terus berkata melihat 'gadis' itu. Haaah, kalau tau begini ... harusnya aku tidak perlu mengajaknya," ucap Riot menyesal sambil menutup mata dengan tangannya. Aku mematung saat mendengar ada yang ganjil dari perkataan Riot, gadis? Siapa?


"Gadis apa maksudmu?" tanyaku lagi. Riot menatapku dengan datar lalu akhirnya menjelaskan semuanya padaku. Bahkan termasuk hari pertama saat Ken bersikap aneh.


"Jadi kau yang pergi dengan Ken itu ... untuk mencari gadis yang malah menghantui Ken?" tanyaku tidak percaya. Riot mengangguk dengan wajah pasrah.


Bagaimana ini? Aku tidak terlalu percaya adanya hantu, tapi jika Ken menunjukkan reaksi seperti itu ... apakah artinya dia asli? Tapi kenapa hanya Ken yang melihatnya? Kalau tiba-tiba Ken bisa melihat hal seperti itu, harusnya sejak awal kami bertemu dia sudah bisa melihatnya. Ini tidak masuk akal.


Atau ... ada musuh yang punya teknik ilusi? Tapi ini terlalu kebetulan jika dia hanya menyerang Ken. Dia tidak mungkin tau bahwa Ken takut hantu, kan? Aku saja yang selalu bersamanya tidak tau.


Tapi jika ini benar serangan musuh. Maka dia sudah mendaratkan serangan fatal pada kami. Ken bukan hanya seorang healer di tim kami, tapi dia juga sosok 'otak' di tim kami. Tidak, lebih dari otak ... dia seperti ibu yang menyokong emosional seluruh anggota tim. Turunnya sosok ibu di sini sudah sangat berpengaruh, mulai dari Vani yang jarang bertingkah konyol, dan Riot yang jarang berbicara.


TAPI AKU JUGA TIDAK TAU BAGAIMANA MENYELESAIKANNYA! BAGAIMANA BISA AKU MENYELESAIKAN SESUATU YANG HANYA BISA KEN LIHAT?!


DRKKK!


"APA?! GEMPA LAGI?!" teriakku sambil berusaha kembali ke rumah Riot. Tapi ini sudah terlambat, tiba-tiba seluruh kota ini berguncang dan mulai terpecah belah. Aku bisa melihat bahwa rumah Riot yang harusnya hanya berada 30 meter di depanku, malah terpecah dan menjauh berkilo-kilo meter jauhnya.


Ini seperti, seluruh kota dikendalikan! Dia merubah peta kota ini dengan cara merombak semuanya! Sial! Bukan hanya berhasil menurunkan mental kondisi tim, dia juga berhasil memutus komunikasi kami semua.


"Dan kalau seperti ini, Riot tidak bisa menggunakan kemampuannya! Dia sudah menguasai medan dan informasi baru di seluruh kota ini!" geramku sambil berpegangan pada aspal yang retak. Gempa ini semakin lama semakin mereda.


Drk.


"Apakah sudah berhenti?" tanyaku sambil melihat daerah sekitar.


Ini jadi benar-benar asing. Tempat yang harusnya kudatangi tadi adalah taman dengan danau yang cukup indah. Sekarang ini sudah berubah menjadi gedung-gedung tinggi yang sudah setengah hancur.


"Dia memutar seluruh kota, menjadikannya daerah baru yang hanya dia kuasai," ucapku sambil berjalan pergi.


Kuharap, mereka semua baik-baik saja!


***


POV: Vani


"A-apa?" Aku terduduk lemas saat tau ini bukan daerah yang aku kenal lagi. Harusnya rumah Riot berada di tepi sungai dengan jalan raya di depannya. Tapi sekarang, rumah ini berada di atas gedung tinggi dengan berbagai reruntuhan di sekitarnya.


Aku mulai melihat ke arah lain, karena aku berada di atas gedung, jadi pandanganku bisa lebih leluasa. Tapi hasilnya benar-benae diluar dugaan. Semuanya asing, jalanan, struktur kota, letak bangunan. Tidak ada yang aku tau di sini.


"Vani? Bagaimana kita turun dari sini?"


Aku menoleh saat mendengar suara Ken. Dia keluar dari rumah dengan selimut yang menutupi tubuhnya, ada lingkatan hitam di sekitar matanya, tentu saja karena dia tidak tidur nyenyak hampir sekitar 1 minggu. Dia bahkan menjadi lebih kurus karena makan sangat sedikit.


"Kita harus tenang dulu, aku yakin kita bisa menemukan Ar-" ucapku terpotong karena Ken yang tiba-tiba berteriak.


..."AAAA! VANI! DIA KEMBALI LAGI!"...


TBC.


Jangan lupa likenya ya guys!