
"ADUH?!"
POV: Ares
Aku berjongkok sambil memegang kepalaku yang kejatuhan sesuatu. Saat aku menoleh ke arah samping, ternyata yang mengenai kepalaku tadi adalah buah persik. Spontan aku langsung menatap ke atas, melihat banyak buah persik yang matang bergelantungan.
"Lah? Ini ada banyak buah persiknya!" ucapku senang sambil menepuk lengan Riot pelan. Tapi Riot malah hanya diam termenung, menatap pohon di depannya dengan tatapan ketakutan.
"... Kau kenapa?" tanyaku bingung.
"Ta-tadi ... pohon ini tidak berbuah!" ucap Riot sambil menarik lengan bajuku. Aku langsung menatapnya dengan bingung, aku tadi memang tidak sempat melihat ke atas pohon, tapi bukankah tidak mungkin ada pohon yang langsung berbuah dalam 10 menit?
"Mungkin kau salah lihat, sudahlah! Ayo kita ambil buahnya!" ucapku menganggap enteng hal ini. Setelah itu aku segera terbang dan memetik buah yang ada di atas, sedangkan Riot memungut buah yang terjatuh di tanah.
"Nah, kita sudah mengumpul cukup banyak buah!" ucapku puas saat melihat satu kantung besar yang penuh berisi buah-buahan saja. Aku kemudian melihat ke arah Riot, sepertinya dia langsung paham dengan apa yang aku maksud.
"Ke rumah itu?" tanya Riot.
"Ya, ke rumah itu," jawabku cepat. Riot kemudian memegang tanganku dan tangannya memegang kantung buah yang satunya.
Fuut.
Kami berteleportasi ke salah satu rumah kosong di bagian kota Ansorteri. Karena sebelumnya kami sudah pernah lewat sini, jadi Riot bisa berteleportasi secara langsung.
"Aku akan membuka pintunya dulu," ucapku sambil melepaskan genggaman tangan Riot, aku langsung berjalan ke arah pintu yang terbuat dari besi itu.
Klang! Klang!
"Yah ... tidak bisa dibuka." Beberapa kali aku memutar kenop pintunya dan mendorongnya, tapi tidak bisa terbuka. Saat aku mencoba untuk menariknya, juga sama saja. Sepertinya pintu ini terkunci dari dalam.
Kalau begitu, aku tidak punya pilihan lain.
"Awas, Riot." Aku menyuruh Riot untuk mundur beberapa meter ke belakang.
Cring!
Wush!
Aku membuat sebuah granat kecil dan melemparkannya ke pintu itu, semoga itu bisa membukanya.
DUAR!
KLANG!
Pintu itu langsung terpelanting dan hancur jadi beberapa bagian. Yah, walaupun sekarang rumahnya tidak punya pintu, tapi itu lebih baik daripada tidak punya rumah.
"Nah, ayo masuk!" ucapku dengan senyum sumringah, sementara Riot hanya berdiri sambil menatapku aneh.
"Ini bukan perampokan rumah, kan?" gumam Riot pelan.
***
POV: Vani
"Ugh ... aku sangat lelah," ucapku dengan langkah kaki yang loyo saat berjalan di aspal. Aku tidak tau bahwa ada begitu banyak hal yang harus dilakukan saat pergi ke pertanian. Mulai dari pengairan, pemberian pupuk, dan ada begitu banyak macamnya.
Aku sangat kagum pada Elly karena dia bisa melakukan semua hal sendirian, dan saat aku tanya apa alasannya ...
"Karena aku sudah terbiasa." Begitu katanya jawabnya.
Sekarang aku masih berjalan dengan Elly untuk pulang, rupanya chast milik Elly terisi lebih cepat daripada Ares. Padahal jika yang terbang adalah Ares, pasti dia masih sanggup memutari kota ini beberapa kali. Tapi Elly ... hanya untuk berangkat saja sudah hampir penuh.
Bukannya aku mengejek, tapi memang ini sangat melelahkan!
DUANG!
"Apa?!"
"Apa itu?!"
Aku dan Elly kaget secara bersamaan. Saat kami menoleh, ternyata ada seekor kucing yang hendak mencari makan di tong sampah. Dan entah apa penyebabnya, sepertinya dia tergelincir akhirnya jatuh masuk ke dalam.
"Hanya kucing, kukira ada apa," gumamku pelan. Saat aku berbalik, aku langsung kaget saat melihat Elly yang mematung. Matanya menatap lurus ke arah tembok di depan tong sampah tadi.
Apa? Aku baru tau di sana ada tulisan.
I0 HRI.
Tulisan itu digambar dengan piloks berwarna merah matang. Aku tidak tau siapa yang menulisnya, tapi sekarang ... Elly sedang gemetar ketakutan.
"Ada apa El?" tanyaku bingung sambil memegang lengannya perlahan.
"Ti-tidak apa-apa, ayo kita harus segera pulang!" Elly menggenggam pergelangan tanganku lalu segera menarikku pergi dari tempat itu. Sebelum kami semakin jauh, aku menoleh sekali lagi ke tong sampah.
DEG!
Di sana, berdiri seorang gadis kecil berambut pirang. Dia menggendong kucing tadi di pelukannya. Sambil tersenyum, dia menatapku tajam. Dia membuka mulutnya, mengucapkan sesuatu tanpa bersuara.
"Sam ... pai ... jum ... pa!"
Deg!
"Apa?" Sampai jumpa, itulah kata yang aku pahami dari maksud mulutnya. Aku langsung menoleh ke arah depan lagi, berusaha menghindari pandangan mata gadis pirang itu.
Sebenarnya apa yang terjadi di sini?!
BUAGH!
"ADUH!"
"AAK!"
BRUK!
Aku melongo saat melihat Elly yang tersungkur di tanah. Detik selanjutnya aku segera sadar dan menolongnya untuk segera bangun.
"Kau tidak apa-apa Vi?"
Deg.
Suara ini ... Ken?
Aku mendongak menatap ke arahnya.
Dan benar saja, itu adalah Ken. Tapi ... kenapa dia tidak bersama Ares dan Riot? Malah bersama gadis yang bahkan tidak aku kenali ini? Dan ... dia juga ... tidak sadar bahwa ini adalah aku?
"Ken." Aku memanggilnya dengan suara dingin. Dia tampak tersentak saat mendengar suaraku, Elly juga jadi bingung dengan atmosfer di sini.
"Va-Vani? Ap-apa yang kau lakukan di sini?" tanyanya gelagapan, tanpa melepaskan pegangan tangannya dengan gadis di sampingnya.
"Harusnya aku yang bertanya begitu. Dimana Ares?" tanyaku langsung ke intinya. Ken menggaruk tengkuknya dan menatapku dengan malas.
"Aku tidak tau, tidakkah kau lihat aku sedang sibuk?" tanya Ken dengan nada yang malas. Aku merasakan sudut hatiku yang perih dan nyeri, apakah karena ini pertama kalinya Ken bersikap seperti ini padaku?
"Sibuk? Apa yang kau sibukkan?" tanyaku mencoba tenang, tapi Ken malah enggan menatapku dan segera menggandeng tangan gadis kecil di sampingnya.
"Kau tidak perlu tau, bukankah kau yang harusnya sudah bertemu Ares lebih dulu. Mereka panik karena kau tidak ada di rumah sakit," ucap Ken sambil berlalu melewatiku. Aku mencekal pergelangan tangannya kuat tanpa menatap wajahnya.
"Kenapa sih?!" teriak Ken kesal sambil berusaha melepaskan tanganku.
"Aku tidak mengenalmu. Siapa kau?" tanyaku dengan nada dingin. Ken terlihat kesal, dia bahkan terlihat ingin mencekal ganti tanganku.
Tapi gadis kecil di sampingnya lebih dulu memegang tanganku, dan menatapku dengan tajam.
"Maaf, bisakah kau melepaskan ini?" tanyanya dengan nada sopan yang mengintimidasi. Aku menghela nafas dengan kasar sambil tersenyum miring, mataku menatap ke arah mata coklat milik gadis itu.
"Maaf, sepertinya tanganku akan iritasi jika kau sentuh," balasku dengan senyum meremehkan.
BUAGH!
Aku terkejut bukan main. Ini pertama kali ... pertama kalinya aku lihat Ken main tangan padaku.
Tapi bukan aku yang kena pukul.
Melainkan Elly.
"KEN! KAU BAJ*NGAN!"
TBC.
Jangan lupa likenya ya guys!