Ares: Never Grow Up

Ares: Never Grow Up
Hunt dan City



..."Tidak apa-apa. Sepertinya kita punya kemiripan dalam berbagai hal, ayo kita mulai pestanya?"...


POV: Riot


Aku memasang posisi siap untuk bertahan. Meskipun aku bilang 'mulai pestanya', tapi aku sendiri juga tidak yakin apakah bisa menang atau tidak dari Hunt. Dan meskipun aku tau kekuatannya adalah jadi tidak terlihat, aku tidak bisa melakukan apapun pada hal itu.


"Kau benar, ayo kita mulai pesta yang sesungguhnya! HAHAHAHAHA!" ucap Hunt diiringi tawa yang menggelegar. Perlahan-lahan tubuhnya menghilang. Hingga akhirnya menyisakan udara kosong di depanku. Aku diam di tempat, tidak bersuara ataupun bergerak. Mencoba berkonsentrasi pada pendengaranku.


WUSH!


JREB!


"ARGHH!" Aku terjatuh dengan lutut kiriku sebagai penumpu, bisa kurasakan pundak kiriku yang terasa nyeri. Sepertinya panahnya menancap di sana.


Bagaimana bisa dia tidak bersuara selama melangkah? Padahal aku yakin di sini ada cukup banyak debu dan pasir. Jangankan suara, jejaknya saja tidak ada!


"Haaah! Lumayan! Kali ini tidak akan sama lag-," ucapku terpotong.


JREB!


"AKH!" Aku terjatuh lagi, sekarang dia menargetkan paha kananku. Panah ini datang dari depan. Lalu bagaimana caranya berpindah tanpa menghasilkan suara?


Tunggu ...


Atau jangan-jangan, dia ada lebih dari satu?


Kalau dia lebih dari satu, maka semua pertanyaan ini akan terjawab, jadi dia tidak perlu berpindah tempat untuk membidik.


Baiklah, aku coba saja!


Fuut.


Aku langsung berpindah ke tempat asal Hunt berdiri tadi, dengan cepat aku memukul tempat itu. Tapi yang kupukul ternyata hanya udara kosong.


WUSH!


Kali ini aku mendengarnya! Dari arah Utara ya?


Fuut.


Bersamaan dengan panah yang hampir mengenaiku, aku berteleportasi ke asal panah itu. Aku langsung meninju lagi tempat itu, tapi tetap saja itu udara kosong.


Tidak apa-apa, Riot. Tenanglah, biasakan indramu, kau akan mendapatkannya kali ini!


WUSH!


Aku bisa mendengarnya lagi, sekarang di Barat?


Fuut.


"Apa kau di sini?" ucapku saat sampai di tempat yang kuanggap asalnya. Aku langsung melayangkan tinju lagi, dan kali ini tidak sia-sia.


Aku bisa merasakan ujung kulitku yang menyentuh sebuah kain. Tapi tak lama kemudian kain itu menghilang lagi.


WUSH!


Di sana?


Fuut.


Aku berteleportasi lagi ke asal suara itu. Tanpa basa-basi, aku langsung menendang ke sana, dan tepat saat tendanganku melayang.


Hunt menunjukkan wajahnya.


"Kau punya insting yang kuat, tapi kau terlalu bodoh," ucap Hunt sambil mengarahkan panah tepat di depan dahiku. Waktu seperti berjalan sangat lambat, rasa takut akan kematian menjalar ke seluruh tubuhku.


"Game over, babe~"


JREB!


***


POV: Ares


"Hah?" Aku berhenti di tengah jalan. Tiba-tiba perasaanku menjadi tidak enak.


"Vani? Riot?" gumamku dengan perasaan yang tercampur aduk. Ingin rasanya aku segera terbang dan pergi pada mereka, tapi aku bahkan tidak tau mereka dimana. Aku tidak bisa menyia-nyiakan chastku untuk mencari tau dimana mereka.


...


"Tunggulah aku, Vani! Riot! Ken!" Aku mulai terbang ke atas dengan cepat. Tapi tiba-tiba ada sebuah gedung yang jatuh dari atas. Dan sialnya, gedung itu tepat berada di atasku.


BUAGH!


"SIAL! KENAPA ADA GEDUNG YANG JATUH DARI ATAS?!" umpatku sambil berusaha lepas dari kondisi terjepit gedung dan tekanan udara. Meskipun aku masih berada di atas permukaan tanah, tapi ini sangat menyiksa. Aku harus segera lepas dari situasi ini!


Aku mulai mendorong gedung itu dengan seluruh tenagaku. Tentu saja gedung itu tidak akan terangkat, tapi dengan mendorong gedung itu, aku bisa membuat ledakan energi agar aku lebih cepat turun ke bawah!


WUSH!


Aku melesat terbang ke bawah dengan sangat cepat, bisa kudengar degup jantungku yang berdetak kuat. Ada perasaan takut bahwa aku tidak berhasil berbelok, malah kepalaku akan menghantam aspal dengan lurus. Karena sekarang aku terbang secara ke bawah secara vertikal.


Kumohon! Jangan sampai menghantam aspal!


Aku mulai mengubah arah terbangku ke arah depan, lalu menyesuaikan dengan jalanan lurus agar aku tidak menabrak bangunan.


Srak!


Aku bisa merasakan kulit tanganku yang bergesakan dengan aspal. Ada rasa panas dan perih, sepertinya kulitku terluka. Sekarang aku terbang dengan ketinggian hanya 10 cm di atas permukaan tanah. Beruntung aku bisa berbelok jadi tidak perlu menghantam aspal.


BAMM! GUSRAK!


Gedung itu jatuh lalu hancur berantakan. Pecahannya menghasilkan batuan tajam dan debu yang sangat merepotkan untuk mata.


"Haaah, chastku ... Sial! Karena aku terlalu banyak menggunakan tenaga, sekarang sudah terisi setengah!" ucapku kesal karena chastku sudah terisi setengah. Padahal biasanya ini hanya akan terisi sangat sedikit jika hanya digunakan untuk terbang.


Aku menghela nafasku lagi, lalu mulai terbang ke atas kembali. Belum juga selesai mengeluh, aku kembali dikejutkan oleh sesuatu yang diluar dugaan.


"Sekarang aku paham, kenapa kota ini bisa berubah bentuk," ucapku sambil menatap sebuah raksasa yang berdiri di tengah kota. Kaki raksasa itu menyatu dengan tanah kota ini, sepertinya dia mengendalikan kota ini sepenuhnya.


"Kalau begitu, gedung yang jatuh tadi ... itu juga ulahnya?!" Aku menggertakkan gigiku karena kesal, tanganku mengepal kuat menahan kemarahan. Aku langsung melesat dengan kecepatan penuh ke arah raksasa itu. Sambil menatap tubuh besarnya, aku membayangkan sebuah granat yang berukuran sebesar mobil.


Cring!


Saat aku tepat berada di atasnya, aku langsung menurunkan granat itu tepat ke arah bawah.


Jika granat kecil yang hanya berukuran 10 centi saja mampu mengeluarkan ledakan yang mencakup area 2 meter. Bagaimana dengan granat yang berukuran 4 meter? Ini akan menjadi ledakan dengan jarak kurang lebih 8 kilometer.


DUAR!


Aku menatap dari ketinggian, kota yang mulai terbakar dan berubah menjadi puing-puing. Asap yang mulai mengepul, membawa uap panas yang menyapu seluruh kota.


"He ... he ... he ... tidak ... buruk ... kok."


Aku mendengar suara yang kaku seperti robot. Tidak, ini lebih mirip seperti suara mesin yang rusak. Mataku menatap intens ke arah tebalnya asal di bawahku. Karena terlalu fokus, aku tidak sempat bereaksi pada serangan yang dilancarkan makhluk itu padaku.


WUSH!


BUAGH!


Aku terpelanting di atas kota, mataku bisa melihat bahwa ternyata dia bisa mengubah kota menjadi bagian dari tubuhnya! Tangannya membesar dan memanjang, dan ternyata itu adalah tanah dan puing-puing bangunan yang sudah hancur.


"Aku harus mendarat!" ucapku sambil berusaha mempertahan kesadaran. Aku membayangkan bantal besar yang empuk, agar aku tidak kesakitan saat menghantam bangunan nanti.


Cring!


Bum!


Untungnya perkiraaaanku tepat. Tapi bantal ini sudah tidak bisa dipakai lagi. Karena gesekan dengan aspal, bantal ini sobek dan kehilangan isinya.


Sial, rasanya kepalaku masih pusing. Dia menghantam kepalaku dengan tangan bengunan itu? Kecepatan gerakannya tidak wajar untuk ukuran sebesar dirinya!


..."Aku adalah The City, objek penelitian Profesor Ron."...


TBC.


Jangan lupa likenya ya guys!


Anw, aku mau kasih tau ya! Nanti sekitar akhir Juni atau awal Juli, aku bakal ngadain crazy up! Tapi karena level karyaku belum memenuhi syarat buat daftar, jadi kita crazy upnya diem-diem aja ya!


Sampai jumpa di eps selanjutnya!