Ares: Never Grow Up

Ares: Never Grow Up
Sebuah cerita!



POV: Ares


Aku duduk dengan tenang, melihatnya menarik nafas dalam, bersiap untuk bercerita.


"Jadi begini ...


Saat dunia ini mulai dipenuhi oleh kabut merah pembawa petaka, seluruh umat manusia telah dibersihkan. Hanya yang terpilih saja yang bisa bertahan hidup dalam mutasi gen ini. Dan semua orang terpilih, pasti mendapat sebuah kekuatan dari kebangkitan keduanya.


Kekacauan dimulai, hal ini pertama kali dipicu oleh seorang anak perempuan yang bernama ... Safa Arno. Dia adalah orang yang menyulut api kekacauan, dengan kekuatannya yang besar, dia membuat seluruh kota ini diterjang oleh ketakutan.


Seluruh penduduk berteriak ketakutan dan meminta pertolongan, lalu datanglah Boni dan rekan-rekannya. Mereka berempat bertarung melawan Safa selama 7 hari tanpa lelah. Pertarungan sengit itu memberi kerusakan yang sangat besar di kota ini.


Beruntung, Safa sudah kehabisan tenaga, dan akhirnya dia terpaksa mundur. Itulah awal dari perang sengit yang dahulu terjadi, tapi sekarang perang itu masih tetap berlanjut. Bukan Safa sebagai bos terakhirnya, tapi Boni adalah orang terkuat sekarang.


Ditambah, setelah Boni dan rekannya mendapat tittle ... kekuatan mereka jadi semakin besar. Tentu saja hal ini membuat Safa jadi tidak berani menyerang secara sembarangan.


Begitulah ... awal mula dari perang yang terus berlanjut di bawah bayangan ini," jelas anak itu dengan ekspresi serius. Aku mengangguk pelan, dan mulai berpikir. Dari cerita yang anak ini katakan, berarti Safa belum dilumpuhkan, dia hanya mundur untuk persiapan menyerang selanjutnya. Tapi dengan kondisi Boni yang sudah mendapat tittle beserta teman-temannya, Boni jadi lebih tidak terkalahkan.


Srak!


Kain hitam ini dibuka, udara malam yang sejuk langsung mengenai wajahku. Anak-anak tadi juga langsung bergegas pergi, tanpa mengucapkan apapun kepadaku.


"Apa? Hei! Kalian mau kemana?!" teriakku saat anak-anak itu mulai menghilang di dalam kegelapan.


"Ceritanya sampai di sini saja, karena ini adalah hal yang dilarang untuk diceritakan!" teriak anak lain yang ikut menghilang setelahnya.


Tidak masalah, aku harus lanjut mencari Riot dan Ken. Sebelum semakin malam, ini akan jadi semakin buruk nantinya.


Wush!


Aku melesat terbang dan mulai menyusuri kota sekali lagi. Mataku tak lelah melihat setiap sudut kota ini, mengamati setiap ada anak kecil yang berada di bawah bangunan atau bahkan gedung tinggi.


"DASAR KAU! ANAK KURANG AJAR! PERGI!"


PRANG!


Aku mengerem mendadak di udara saat mendengar keributan yang berasal dari bawah tempatku terbang. Mataku melihat ke sana, ternyata ada seorang anak perempuan berambut pirang yang sedang diusir oleh beberapa anak lainnya.


Aku segera turun dan bersembunyi di balik dinding sebuah rumah. Anak berambut pirang itu jatuh terduduk dengan piring kosong di depan wajahnya.


Apa dia kelaparan? Tega sekali anak yang tadi mengusirnya.


Akhirnya aku memutuskan untuk berdiri lalu berjalan ke arahnya, gadis berambut pirang itu langsung sadar tentang keberadaanku dan bersikap waspada.


"Jangan takut, apa kau lapar?" tanyaku dari jarak yang agak jauh. Karena aku merasa jika aku terus mendekat ke arahnya, dia akan bersikap semakin waspada.


"Memangnya apa urusannya denganmu?" tanyanya dengan nada yang ketus. Aku masih menatap anak itu dengan tatapan datar, dan berusaha untuk membujuknya.


"Kalau kau lapar, apa kau mau makan buah? Aku juga tidak punya nasi ataupun roti, tapi jika buah ... kupikir kita masih bisa mencarinya," ucapku sambil mendekat ke arahnya perlahan. Dia terlihat sedang berdiri sambil membersihkan pakainnya yang terkena tanah.


"Baiklah! Ayo kita cari buah!" ucapnya dengan senyuman yang lebar. Untuk sesaat aku terpaku oleh wajah berserinya, entah kenapa ... rasanya aku tidak asing dengan senyumnya itu.


"Ayo! Sekarang, pegang tanganku!" ucapku sambil mengulurkan tangan, anak perempuan itu menatapku dengan bingung.


"Untuk apa?" tanyanya.


"Kalau jalan kaki itu akan lama, lebih baik kita terbang," jawabku dengan cepat. Perempuan itu hanya mengangguk lalu segera menggenggam tanganku.


"HEI! PELAN-PELAN!" teriaknya panik saat kita sudah berada di ketinggian. Aku masih bisa merasakan tangannya dingin dan sedikit gemetaran, tapi tampaknya dia mulai terbiasa dengan perasaan terbang ini.


"Kita akan kemana?" tanya gadis kecil itu sambil menatap rumah-rumah di bawah.


"Ke hutan pinggir kota!" jawabku dengan cepat.


WUSH!


Kami segera mendarat saat sudah sampai di pinggir hutan, sambil turun dengan perlahan, mataku melihat ke sekeliling. Berharap bahwa tidak ada anjing ganas yang menyerang seperti waktu terakhir kali kami ke sini.


"Di sini sangat gelap, tidak kelihatan apapun," gumam gadis itu sambil menatap ke arah pohon rimbun.


Aku mengangguk kecil lalu segera membayangkan sebuah senter.


CRING!


"Nah, ini senter." Aku memberikan senter itu padanya dan duduk bersandar di sebuah pohon.


"Kau cari saja buahnya ke arah sana, aku akan duduk di sini," ucapku lelah. Gadis itu mengangguk kecil lalu berjalan masuk ke dalam hutan. Saat gadis itu sudah menghilang sepenuhnya, barulah aku berdiri dan berjalan ke arah yang berlawanan.


"Seingatku di sekitar sini ada pohon jambu," gumamku pelan sambil menatap ke atas ranting pohon.


Loh ... sebentar. Bukannya aku tadi mau mencari Ken dan Riot? Kenapa aku malah mau memberi makan gadis ini?


Ah sudahlah!


***


POV: Riot


"Hmp! Hmp!"


Sial! Aku tidak menyangka bisa diculik seperti ini! Dan lagi, ini dimana?! Astaga, aku bahkan tidak bisa memberitahu Ken atau bahkan Ares!


Bagaimana ini?


"Apa kau sudah sadar?" Sebuah suara terdengar di telingaku. Saking gelapnya ruangan ini, aku jadi tidak tau dimana asal suaranya.


Clik!


"Ngh!" Lampu tiba-tiba dinyalakan, membuat mataku sedikit shock saat menerima cahaya. Tak lama kemudian, akhirnya aku bisa melihat dengan jelas. Ini ... sebenarnya cukup mewah kok? Ini tidak seperti gudang yang biasanya digunakan untuk tempat menculik. Malah ini sangat terawat dan bersih.


"Oh, maaf. Aku lupa membuka selotip di mulutmu. Eh ... tapi apa aku boleh membukanya ya? Gausah deh, aku takut dimarahi oleh bos." Aku menoleh ke sampingku, di sana ... ada seorang anak laki-laki yang berjongkok sambil berpikir keras. Warna rambut navy begitu juga dengan bola matanya. Dan dia juga memakai baju dokter yang kepanjangan hingga terseret di lantai. Dia juga memakai kacamata bulat yang besar.


"Emm, baiklah ... begini saja. Aku Elvon, salah satu bawahan Boni. Sebenarnya aku tidak diberi perintah untuk menculikmu ... tapi aku sedang bosan, makanya aku menculikmu." Elvon berbicara padaku sambil memainkan rambut biru milikku.


Dia gila.


..."Oh iya, karena kau pendatang baru, kau pasti belum tau tentang kisah Bos Boni dan Safa kan? Apa kau mau dengar cerita dari versi yang kutau?" ...


TBC.


Jangan lupa like dan komennya ya guys!