
"A-apa? Itu?"
POV: Vani
Aku menatap makhluk di depanku dengan tatapan tidak percaya. Rasanya sangat mengerikan, melihat makhluk seperti itu bebas berkeliaran di tempat seperti ini.
Babi hutan.
Dan yang membuatku lebih ketakutan, adalah ukuran tubuhnya yang sangat besar. Mungkin sebesar sapi dewasa, dan kenapa makhluk itu bisa masuk di dalam rumah sakit?!
Gawat, aku harus kabur!
Aku berjalan dengan sangat pelan ke arah jendela, mataku beberapa kali melirik ke babi hutan itu, memastikan bahwa dia belum tau dimana lokasiku.
Crek!
Sial ... kenapa harus mengeluarkan bunyi?!
Itu adalah suara yang keluar saat aku membuka kunci jendela di depanku.
BRAK! BRAK BRAK!
"APA?! HIIII DIA MAU DOBRAK PINTUNYA!" teriakku panik sambil berusaha membuka jendela.
Trak!
Akhirnya terbuka!
Aku langsung hendak melompat, walaupun ini adalah lantai 3 ... tidak apa-apa. Paling cuma keseleo saja kan nanti? Semoga saja.
"Hup!" Aku melompat bebas sambil menutup mata. Berharap agar tidak sakit saat jatuh nanti.
Pluk.
Eh?
Empuk?
Aku membuka mataku perlahan, dan baru menyadari bahwa di bawah tempatku melompat, sudah disiapkan banyak jerami yang ditumpuk. Karena itu rasanya tidak sakit saat aku terjatuh.
Aku melihat ke atas tempatku jatuh tadi, kamar gelap yang tidak terlihat apa-apa. Tiba-tiba mengeluarkan cahaya terang.
"Api?" gumamku pelan.
DUAR!
Rumah sakit itu langsung meledak hingga menjadi kepingan kecil. Aku berusaha menutup mataku agar tidak ada debu yang masuk.
SRAK! SRAK!
Angin berhembus kencang, menerjang semua yang ada di sekitar rumah sakit itu, aku bahkan ikut terpental beberapa meter menjauh dari rumah sakit. Beberapa menit kemudian, ada banyak anak-anak yang berdatangan ke sini. Mereka menatapku dengan bingung karena aku masih memakai baju rumah sakit.
"Kakak tidak apa-apa?" tanya mereka dengan nada khawatir. Aku mengangguk pelan, walaupun rasanya punggungku masih sedikit nyeri. Perlahan anak-anak itu mulai menggunakan kekuatan mereka untuk memadamkan api, mulai dari mengeluarkan air, mendatangkan kabut, menghembuskan angin atau bahkan menciptakan es.
Ini benar-benar mirip dunia ajaib.
Sret.
Seorang anak perempuan datang kepadaku dan menyelimuti tubuhku dengan kain besar. Matanya menatapku dengan tatapan iba dan penasaran.
"Kakak dari dalam rumah sakit itu?" tanyanya sambil duduk di sampingku. Aku mengangguk dengan bingung, wajahnya langsung berubah menjadi ketakutan.
"Kak! Apa kakak tau kalau rumah sakit itu sudah tidak berfungsi?" Pertanyannya membuat jantungku seolah berhenti berdetak. Berbagai lintasan kejadian berputar kembali di otakku, mengingat berbagai peristiwa yang terjadi di dalam sana.
"Apa? Tapi di dalam sana masih ada pegawainya kok?" ucapku dengan nada yang bingung. Gadis tadi bahkan sampai menutup mulutnya dengan kedua tangan. Matanya melirik ke kiri dan kanan, seolah takut untuk ketauan.
"Kakak, bagaimana kalau kakak ikut ke rumahku dulu?".
***
POV: Ares
Nah masalahnya adalah ... KENAPA DIA TIDAK KUNJUNG KEMBALI KE SINI?! APA DIA DITERKAM OLEH ANJING?!
Serius, bahkan saat aku terbang, aku tidak melihat cahaya senter di daerah manapun! Kenapa dia mematikan senternya sih?! Aku sudah khawatir pada Ken dan Riot, belum lagi Vani kutinggal sendiri.
Malah anak ini tidak kembali-kembali, apa aku cari saja ya? Aku juga tidak punya jam tangan, tapi sepertinya ini sudah sangat malam deh?
Srak srak!
"Siapa?!" Aku berdiri langsung dan bersiap untuk berkelahi. Semak-semak di depanku mulai bergerak, menampak sosok gadis kecil dari balik rimbunnya daun semak itu.
"Maaf, aku tersesat ... apakah kau menunggu terlalu lama?" tanyanya dengan senyuman tanpa dosa. Sungguh ... ingin rasanya kujungkir saja anak itu. Tapi pada akhirnya aku hanya menghela nafas sambil tersenyum lega. Karena dia baik-baik saja.
"Tidak apa-apa, nih ... aku sudah mencarikan buah lainnya untukmu," ucapku sambil menunjuk ke arah buah-buahan yang menimbun di samping kiriku. Gadis itu tampak tertegun sejenak, ekspresi wajahnya membeku untuk beberapa saat.
"Ha ... kau benar-benar anak yang baik. Aku jadi heran kenapa kau bisa terlibat di antara kami," ucapnya sambil menghela nafas. Aku memiringkan kepalaku dan menatapnya dengan bingung. Sungguh, karena ini sudah malam, rasanya aku sangat mengantuk. Tubuh anak usia 12 tahun ini tidak kuat untuk begadang. Padahal saat aku masih bekerja, aku biasa tidur hingga menjelang pagi.
"Lupakan, tidurlah. Terimakasih atas bantuannya hari ini, kita akan bertemu lagi lain hari," ucapnya sambil menaruh telapak tangannya di hidungku. Awalnya aku bingung, tapi ada aroma aneh di tangannya ... yang membuatku mengantuk.
Sial ... masa aku tertidur di tengah hutan? Tidak ada kasur lagi, banyak nyamuknya. Ah sudahlah ...
BRUK!
***
POV: Ken
"Sepertinya ini sudah lewat tengah malam ya?" Aku bergumam sendiri sambil berjalan di tengah kota. Jalanan di sini sangat sepi, tidak ada motor yang beroperasi walaupun lampu lalu lintas masih menyala. Di jam segini, tidak ada anak yang masih beraktivitas ... sepertinya hanya aku yang masih terjaga.
Aku menatap ke arah langit cerah dengan seribu bintang di dalamnya. Tidak ada bulan, sepertinya hari ini adalah bulan mati. Rasa kelopak mataku yang sudah memberat, membuatku jadi tidak fokus untuk berjalan.
DUANG!
"ADUH! SIAPA YANG NARUH TIANG DI SINI?!" ucapku kesal sambil berteriak di depan tiang listrik. Untung saja aku sendirian, kalau tidak ... pasti aku yang malu. Aku lanjut berjalan ke arah taman, karena jika harus kembali ke rumah sakit. Itu butuh waktu yang lama. Lebih baik aku tidur di kursi taman saja.
Beberapa menit aku berjalan, akhirnya aku sudah sampai di taman. Aku langsung melihat ke kiri dan kanan, mencari kursi yang bisa kujadikan tempat tidur.
Akhirnya aku menemukan kursi yang cukup lebar dan panjang, serta lokasinya yang berada di bawah sebuah pohon. Aku segera berjalan ke kursi itu dan tidur di sana.
Srek srek.
...
Srek srek.
...
SREK SREK!
"APA LAGI SIH?!" teriakku kesal sambil melihat ke atas pohon.
DEG.
Aku pasti bermimpi.
Aku melihat Riot yang sedang tersangkut di atas sana, dengan mulut yang tertutup selotip. Dia terlihat memelototiku, bahkan menggoyangkan kakinya di atas kepalaku.
Ahahahaha ... pasti ini mimpi bukan? Karena aku kurang tidur. Jadinya aku mendapat mimpi buruk. Lebih baik aku segera membayangkan mimpi yang indah.
SREK SREK SREK!
"HMPH! BHMMPP!"
"LOH KAU BENERAN RIOT?!"
TBC.
Jangan lupa likenya ya guys!