
Tinggal 4 cabang lagi!
POV: Ares
"Ugh ... aku sangat lelah ... dan juga mengantuk," ucapku sambil berjalan menempel pada Ken. Sekarang kami sedang dalam perjalanan ke rumah Riot, pertarungan satu hari penuh ini membuat semua chast kami terisi, kecuali chast milik Ken.
"Aku juga ... mengantuk, hoaam!" Riot berjalan sambil menutup sebelah matanya. Sepertinya dia juga sangat kelelahan, badan kami yang basah karena membuat hawa menjadi dingin. Dan itu membuat kami jadi lebih mengantuk lagi.
"Ayolah ... kurang sedikit lagi 'kan? Riot?" tanya Ken. Riot mengangguk dengan lemas, rahangnya bahkan terlihat lemas. Dia berjalan sambil membiarkan mulutnya menganga.
"Matahari sudah akan terbenam, mendung yang kuciptakan juga mulai menghilang. Hari ini ... kita sudah berusaha dengan keras," ucap Vani sambil menatap ke arah langit. Aku membuka mataku yang terasa berat, memandang ke arah langit yang sedang dilihat oleh Vani.
"Kau benar, kita sudah berusaha dengan keras." Aku tersenyum kecil, mengingat bagaimana perjuangan yang kita lakukan sejak tadi pagi.
"Tapi berbicara soal perjuangan, kenapa Ron tidak muncul sama sekali?" tanya Ken memecah suasana. Aku memang sudah memikirkannya beberapa kali. Kita membuat keributan sebesar ini, kenapa Ron bahkan tidak muncul?
Apakah dia tidak sayang salah satu cabang laboratoriumnya dihancurkan? Atau ... dia sedang mengerjakan sesuatu yang lebih penting?
Ctak!
"Aduh!" Aku mengaduh kesakitan saat Riot menyentil dahiku.
"Jangan terlalu memikirkannya, jika dia membuat sesuatu lagi. Bukankah kita tinggal menyingkirkannya lagi?" tanya Riot dengan senyuman penuh keyakinan. Aku menghela nafas lega lalu tersenyum simpul.
Dasar, tapi aku suka sisi positifnya ini.
"Oh? Apakah benar itu rumahmu?" tanya Ken di sampingku. Aku mendongak menatap rumah sederhana dengan warna biru di temboknya. Rumah ini tidak cukup besar tapi juga tidak kecil.
Tapi ... kenapa terlihat berantakan?
"Benar, ini rumahku! Selamat datang!" Riot berlari mendahului kami, dia berhenti tepat di depan Ken sembari merentangkan tangannya dengan senyum di wajahnya.
"Oh, maaf soal beberapa hal yang berantakan ini ... aku tidak pernah membereskannya selama ini," ucap Riot sambil menggaruk pelipisnya. Vani tertawa kecil lalu berjalan ke arah Riot. Saat sudah sampai di depan Riot, Vani menepuk pundak Riot dengan pelan.
"Tidak masalah! Ayo kita bereskan bersama!" ucap Vani lalu menggulung lengan bajunya. Aku mengangguk dengan cepat lalu segera menyusul Vani. Meninggalkan Ken dan Riot yang masih berdiam diri di belakang.
"Seperti biasa, mereka sangat energik. Hahahaha!" tawa Ken.
"Kau benar! Ayo kita segera ke sana juga!" ucap Riot lalu menarik pergelangan tangan Ken.
Aku tersenyum kecil saat mendengar percakapan mereka. Benar, aku ingin menjaga suasana ini. Aku benar-benar berharap, bahwa kita bisa terus bersama meskipun dunia sudah jadi normal lagi.
"Ares! Apa yang kau lamunkan?" Pertanyaan Vani membuyarkan lamunanku. Aku hanya tersenyum kikuk lalu menatap Vani.
"Tidak apa-apa. Sudahlah! Kita harus menaruh kursi ini di sebelah mana?!" teriakku sambil melirik ke arah Riot. Kulihat Riot sedang mendorong mobil bekas bersama dengan Ken, meskipun mobil itu tidak maju sedikitpun.
"Oh? Ares?! Kau ... taruh saja kursinya di depan teras!" ucap Riot tanpa menoleh ke arahku. Aku mengangguk dengan cepat lalu mengangkat kursi itu bersama dengan Vani.
"Yak! Taruh sini saja!" ucap Vani. Aku segera berhenti dan menaruh kursinya dengan perlahan-lahan. Vani menunjuk ke arah kursi lain yang berserakan di depan rumah Riot.
"Apakah diantara itu masih ada yang bisa dipakai?" tanyaku sambil melihat kursinya satu-persatu. Karena rata-rata kursi yang berserakan ini sudah hancur dan lapuk. Mungkin karena terpaan hujan dan panas tanpa henti, membuat kayunya rapuh dan dimakan oleh cuaca.
Aku masih terus mencari, hingga mataku berhenti dan menatap sebuah kursi yang cukup bagus. Kursi itu berada di pinggir jalan raya.
"Hei Van! Van!" ucapku sambil menepuk pundak Vani tanpa menoleh ke arahnya.
"Hm? Ada apa?" tanya Vani.
"Bukankah kursi itu lumayan?" tanyaku sambil menunjuk kursi yang ada di pinggir jalan. Vani menatap ke arah kursi yang aku tunjuk, matanya langsung berbinar dan berbalik menatapku.
Setelah itu, kami masih lanjut merapikan rumah Riot hingga bulan terbit.
***
"Aku lapar ...," ucap Vani yang terbaring di sofa. Wajahnya terlihat kosong dan ekspresi lelah itu terukir jelas di matanya.
"Aku tidak bisa merasakan kakiku," ucap Ken yang tengkurap di atas meja makan. Sepertinya Ken kelelahan karena harus mendorong mobil bekas sampai ke tepi jalan.
"Hangughaisahalan," ucap Riot. Mungkin otot rahangnya terlalu lemas hingga tidak bisa berbicara dengan benar.
"Apa kau baru saja berkata 'Aku tidak bisa jalan' dengan bahasa planet lain?" tanyaku sambil tertawa kecil. Aku juga lelah, hanya saja aku masih bisa menjaga sikapku.
Sekarang kita semua berada di dalam rumah Riot, beristirahat sambil menunggu pagi tiba. Meskipun beberapa kali aku mendengar suara perut yang mengaung kelaparan.
"Aku tidak bisa tidur kalau lapar," ucap Ken yang akhirnya bangun. Aku yang sedang bersandar di dinding sambil memperhatikan bulan purnama, jadi terfokus pada Ken.
"Wah, Ares ...," ucap Ken dengan mulut terngaga. Aku menaikkan sebelah alisku sambil berekspresi bingung.
"Ada apa?" tanyaku.
"Tidak, hanya saja aku baru sadar. Mata emasmu sangat indah, itu memancarkan cahaya yang sama dengan bulan purnama!" puji Ken sambil tersenyum lebar, mendengar pujiannya, aku jadi merasa sedikit geli di hatiku. Tapi ini menyenangkan.
"Benarkan! Sudah kubilang matamu itu sangat indah!" Vani tiba-tiba membuka suara, membuatku dan Ken tersentak beberapa detik.
"Hey! Jangan berisik! Riot sudah tidur!" ucap Ken sambil melotot ke arah Vani. Dengan cepat Vani segera menatap ke arah Riot, dia sudah tertidur pulas.
"Ehe! Aku minta maaf! Apa yang sedang kalian lakukan?" Vani berbicara dengan nada pelan. Dia segera berdiri lalu bergabung dengan kami. Menatap bulan purnama pertama di dunia yang hancur.
"Bulan itu hebat ya? Dia tidak secerah matahari, tapi dia berhasil membuat orang kagum padanya," ucap Ken. Aku langsung menatap Ken dengan ngeri, sedangkan Vani menahan tawa sambil menutup mulutnya.
"Ngapain kau pfft- tiba-tiba jadi puitis?-pfft!" tanya Vani masih sambil menahan tawa, badannya sampai bergetar hanya.
"Kau! Padahal aku baru saja menikmati momen!" geram Ken dan dia langsung merangkul leher Vani. Mereka bersenda gurau di dalam rumah Riot. Terkadang aku juga ikut tertawa melihat tingkah mereka.
"Apakah ... kita bisa tetap seperti ini saat dunia sudah normal ya?" tanyaku tiba-tiba. Ken dan Vani langsung terdiam, mereka saling bertatapan.
Dalam hitungan detik mereka langsung memelukku bersamaan.
"Kenapa kau? Lagi galau?" tanya Ken sambil mengacak-acak rambutku.
"Apa sih?! Memang aku sedang galau!" kesalku.
"Ares ... kita akan selalu bersama. Dan kita juga tetap bisa seperti ini, bahkan saat dunia sudah normal lagi nanti," jelas Vani. Aku terdiam, sambil menutup mata, aku membayangkan kehidupan normal bersama mereka bertiga.
"Janji?" tanyaku tanpa membuka mata.
"Janji!" ucap Vani dengan cepat. Dia mengaitkan jari kelingkingnya dengan punyaku.
"Aku juga berjanji," ucap Ken lalu ikut menautkan jari kelingkingnya.
Di bawah sinar rembulan, kami bertiga mengikrarkan janji bahwa selamanya akan menjadi keluarga.
"Kuharap, ini benar-benar bisa terwujud!" ucapku dengan senyuman.
TBC.
Jangan lupa likenya ya guys!