Ares: Never Grow Up

Ares: Never Grow Up
Dua hari terakhir!



POV: Riot


...


Aku tau bahwa ada yang aneh, suasananya terasa canggung akhir-akhir ini. Tapi aku takut jika aku mengungkitnya, maka justru akan membuat tim ini pecah. Karena itu pilihan paling aman yang kulakukan sekarang adalah diam dan menunggu.


Jika keadaannya memburuk, barulah aku akan membuka mulut nanti.


Vani dan Ares yang semenjak tadi menghilang belum kembali, dan Ken yang terlihat termenung sambil menulis hal-hal aneh di atas kertas.


Coba kuintip, apakah dia masih menulis?


Deg!


Aku sadar bahwa Ken sedang melirikku tadi, secara tak sadar aku langsung pura-pura tidak tau dan lanjut bermain menyusun kartu.


Kenapa dia menatapku dengan tatapan menyelidiki begitu?! Apakah aku berbuat salah? Aku hanya menyusun kartu kok?! Aku tidak bermain judi atau semacamnya kan?!


Aku terus berusaha pura-pura tidak sadar, dan barulah Ken mengalihkan pandangannya. Aku baru berani melirik ke arah Ken, dia meletakkan pensil yang dia pegang sambil mengamati gambar yang dia buat dari tadi.


"Riot apa kau punya pemantik api? Atau mungkin korek?"


Deg!


Aku terkejut bukan main saat dia tiba-tiba bertanya padaku. Aku mengelus dadaku sebentar, lalu barulah aku menatap Ken.


"Tidak ada, untuk apa kau mencari pemantik api?" tanyaku pada Ken. Dia tidak menjawab dan hanya tersenyum. Dia kini meremas kertas yang dia pegang dengan penuh semangat.


"Tidak apa-apa, aku hanya ingin membakar kertas ini. Tapi sekarang sudah tidak lagi, aku akan menguburnya di dalam tanah saja," ucap Ken sambil berjalan riang ke arah luar. Aku hanya melongo menatap Ken yang tiba-tiba ceria dan bersemangat.


Otaknya tidak konslet karena depresi bukan? Ini menakutkan.


Karena khawatir dengan Ken, aku merubuhkan susunan kartuku dan berjalan mengendap-endap untuk mengikutinya. Untungnya Ken tidak pergi jauh, di malam yang gelap ini, dia berdiri sekitar 5 meter dari rumah, lalu mulai berjongkok dan menggali tanah.


Apa yang dia lakukan? Kenapa dia mengubur kertas itu?


"Nah! Aku sudah memutuskan, bahwa aku akan menjadi lebih baik lagi kedepannya! Aku tidak ingin menyimpan kertas ini, karena itu ... aku titipkan padamu ya? Tanah pasti bisa menghancurkan kertas ini seiring berjalannya waktu." Ken berbicara sendiri di depan gundukan tanah di depannya. Setelah mengatakan itu, dia berdiri dan mulai berjalan kembali.


Aku langsung panik dan berlari cepat untuk sampai di tempat aku menyusun kartuku tadi. Setelah itu berusaha berakting senatural mungkin di hadapan Ken.


"Oh? Apa kartunya jatuh lagi? Mau kubantu?" Ken kini sudah ada di sampingku, dan menatap susunan kartuku yang sudah rata di atas lantai.


"Ahahahaha! Tidak perlu, aku sudah lelah memainkannya! Sepertinya aku ingin beristirahat saja!" ucapku bohong sambil membereskan kartu yang berserakan di lantai. Ken mengangguk pelan lalu mulai membantuku memunguti kartu tadi.


Syukurlah, kupikir keadaannya tidak akan menjadi lebih parah.


***


POV: Ares


Aku menyesal.


KENAPA DIA MENYURUHKU MEMBAWA BUAH-BUAHAN SEBANYAK INI?! SIALAN INI SANGAT BERAT! ANDAI SAJA AKU TIDAK MEMBUAT GEROBAK PASTI TANGANKU PATAH JIKA DISURUH UNTUK MENGANGKATNYA!


"Untuk apa kau menyuruhku membawa buah sebanyak ini?!" tanyaku emosi padanya. Vani hanya tersenyum sambil menjulurkan lidah, dia lalu berpindah ke samping kiriku dan membantuku untuk mendorong geroboh penuh berisi buah.


"Ehe, aku berniat mengadakan pesta buah, walaupun tidak terlalu meriah, tapi kuharap para warga tidak akan terlalu tegang atas kejadian yang sudah berlalu.


Yah, kita juga tidak punya banyak waktu di sini lebih lama lagi bukan? Karena itu di sisa waktu yang berharga ini, aku ingin memberi mereka pengalaman dan kedamaian jiwa sebanyak yang kubisa," ucap Vani dengan ekspresi tulusnya. Aku menarik nafas panjang lalu menghembuskannya.


Aku tidak berpikir sampai sana, benar juga ... pasti para warga juga mengalami waktu yang berat karena kejadian kali ini.


"Baiklah! Kalau begitu, aku kita buat pesta yang paling menyenangkan!" ucapku antusias. Aku dan Vani lalu tertawa bersama-sama, menuju ke arah rumah kami yang ada di Kota Ansorteri.


***


Esoknya, aku dan Vani diam-diam menyiapkan pesta buah sederhana ini dibantu oleh para hewan serta Safa, yang lokasinya berada di tengah-tengah hutan. Ken dan Riot kusuruh untuk membantu warga tentang konstruksi agar mereka tidak curiga saat aku dan Safa menghilang.


"Ares! Apakah jika digantung seperti ini bagus?!" tanya Safa sambil menunjuk ke arah dua burung yang sedang memegang kertas hitam merah panjang di atas pohon.


"Hmmm, bagus! Kalau begitu ... pencahayaannya kita taruh mana?" tanyaku sambil menatap obor yang baru saja kubuat untuk malam ini.


Srek!


Aku terkejut saat seekor gajah mengambil salah satu obor yang sedang kupegang, dan dia menancapkannya di atas tanah. Begitu juga dengan hewan-hewan yang lain, mulai dari tupai, monyet, hingga beberapa ekor tikus datang dan mengambil obor itu, lalu mulai menancapkannya di beberapa tempat lain.


"Oh ... terimakasih!" ucapku pada Safa yang memberi tanda 'ok' melalui tangannya. Kami lalu lanjut menatap dekorasi di tengah hutan ini, mulai dari menata tempat buah, memberi detail hiasan di beberapa tempat, dan juga bersiap untuk menyalakan obor.


Karena terlalu sibuk, kami bahkan tidak sadar bahwa hari sudah mulai menggelap, aku memberi tanda ke arah Safa bahwa kita harus segera menyelesaikan dekorasinya.


"Sudah selesai sih ... tapi rasanya masih ada yang kurang. Apa ya?" gumam Safa bingung sambil terus melihat sekelilingnya.


"Bagaimana kalau ditambah madu?" tanya Vani sambil menatap kerumunan lebah yang membawa secuil sarang mereka. Aku dan Safa melongo seketika, aku yakin bahwa Safa tidak pernah meminta lebah itu untuk memberi mereka madu. Tapi kelihatannya hewan-hewan itu sendiri yang berinisiatif untuk memberi hadiah pada kita.


Safa langsung mengambil selembar daun pisang yang cukup lebar, dan menerima potong lebah itu dengan senyum yang merekah.


"Terimakasih! Aku tidak tau bahwa kalian akan memberikan ini padaku!" ucap Safa dengan wajah yang bersinar.


Para lebah itu berputar mengelilingi Safa beberapa kali, lalu menghilang di antara rimbunnya dedaunan pohon. Safa kini ganti mulai bersiul, dan datanglah seekor burung merpati putih dengan mata merah.


"Bisa kau sampaikan ke Riot bahwa pestanya sudah siap? Itu akan sangat membantu!" ucap Safa pada merpati itu. Burung itu langsung terbang lagi, menuju ke arah kota. Kini Safa ganti lagi menghadap ke arah barisan pohon di depannya.


"Permisi, bisakah kalian membukakan jalan untuk warga nanti? Agar mereka tidak tersesat saat menuju ke sini!" ucap Safa sambil menyentuh batang pohon di depannya. Ajaibnya, barisan pohon itu mulai sedikit bergerak, mereka memang tidak berpindah tempat, tapi mereka membuka jalan yang cukup lebar yang bisa terlihat sampai kota.


"Nah bagus! Kita siap!"


TBC.


Jangan lupa likenya ya guys!