
POV: Ares
"Hah ... MAYAT?!" Tanpa sadar aku berteriak saat mendengar perkataan Ken. Riot yang awalnya sedang asik melihat mobil tempur jadi ikut kaget, kini dia jadi memperhatikan apa baru saja aku katakan tadi.
"Mayat?! Dimana?! Siapa?! Perempuan atau laki-laki?!" Riot langsung bertanya dengan menggebu-gebu. Aku masih diam dan menatap Ken dengan canggung, sementara Ken menatapku dengan tatapan kecewa.
Tatapannya seolah mengatakan 'padahal sudah kukasih tau pelan-pelan, malah teriak'.
Ya maaf, kan aku kaget.
***
"Jadi ... ini maksudmu?" Aku berhenti di depan sebuah mayat yang sudah lumayan busuk. Bahkan baunya juga sudah mulai menyengat. Tapi yang membuatku sedikit kaget adalah ...
Karena mayat ini adalah mayat pria dewasa.
Ya! Pria dewasa!
Kenapa dia masih bisa mempertahankan wujudnya?! Bukankah harusnya semua sudah me jadi anak kecil?
Tapi ... kalau mengingat fakta bahwa gas merah itu tidak bisa sampai di lorong bawah tanah ini ... maka semuanya jadi masuk akal.
"Gas merah itu tidak bisa sampai ke sini, dan mungkin pria ini terlalu takut untuk pergi keluar saat melihat berita bahwa banyak orang yang mati. Dia ... memilih untuk menunggu di sini seorang diri," ucapku sambil menghela nafas panjang.
Srak.
"Apa itu?" Aku menatap ke arah Riot yang entah darimana ... dia membawa sebuah kain besar berwarna hijau tua.
SRAKK!
Riot mulai melemparkan kain itu hingga menutupi tubuh mayat pria tadi dengan sempurna. Riot mulai merapikan bagian samping kain tadi, dan membuatnya terlihat seperti kepompong.
"Bukankah ... sudah seharusnya kita memberi penghormatan yang layak kepada mereka yang telah tiada? Aku masih merasa bersalah karena tidak bisa mengubur jasad warga di kotaku dengan benar.
Jadi kalo ini ... aku ingin mengubur jasad ini selayaknya," jawab Riot dengan senyuman sendunya. Mendengar jawaban dari Riot, aku merasa hatiku sedikit perih. Riot baru berumur 17 tahun saat dia mengalami hal ini.
Kehilangan orang tua dan teman, kehilangan masa mudanya yang tidak bisa didapatkan kembali.
"Dasar ... aku juga tahu. Kita akan menguburkannya dengan layak saat kita sampai di atas. Tapi pertama-tama ... kita harus menemukan jalan keluarnya dulu." Aku mendongak untuk menatap kaca kecil yang berada di langit-langit. Kalau aku masih bisa terbang, aku yakin ini akan mudah untuk keluar dari sini.
Tapi masalahnya chastku sudah habis, dan tidak ada cara untuk memindahkan mobil tempur dan tank ini.
"Um ... Ares, sepertinya aku menemukan jalan keluarnya." Ken berbicara padaku sambil menunjuk ke arah sebuah dinding.
Hah? Itu!
***
POV: Author
"GRAHHH!"
CRASHH!
BUAGHH!
SRATTT!
BRUK!
"LEONA!" Safa berteriak saat melihat singa betina kesayangannya dibanting oleh boneka raksasa milik Boni.
"Kau! Kurang ajar! Maju!"
Ctik!
Safa menjentikkan jarinya, dalam hitungan detik. Ratusan burung merpati serta gagak terbang di atas mereka.
Hujan granat telah tiba.
"Naif."
WHUS.
DUAR DUAR DUAR DUAR DUAR!
Sebuah boneka dengan tinggi 700 meter lebih, membungkukkan badannya untuk melindungi Boni dari serangan ratusan granat yang turun. Suara ledakan yang terdengar di atas sama sekali tidak memberi efek bagi Boni yang dilindungi boneka raksasanya.
Nyatanya ... kau hanya bermulut besar saja." Boni tersenyum kecewa ke arah Safa. Melihat gadis dengan mata ungu yang tersenyum itu, membuat Safa teringat sebuah kilas balik di pikirannya.
"Apakah kita benar-benar tidak bisa kembali? Aku hanya ingin kita bersama-sama seperti dulu." Safa berucap dengan nada yang sedih sambil menutup matanya. Bibirnya bergetar pelan, tangannya mengepal kuat di celana pendeknya.
"Heh ... kembali? Sejak awal tempatku itu di sini. Kaulah yang memaksaku untuk tinggal di sisimu," ucap Boni dengan ekspresi yang menyeramkan. Safa menelan ludahnya gugup, lalu mengusap air mata yang hendak menetes dengan punggung tangannya yang mungil.
"Baiklah ... jika itu keputusanmu ... maka aku akan-."
DUARR!
WHUSSSSS!
Belum selesai Safa berbicara, sebuah rudal meluncur dengan sangat cepat menghantam titik tengah di antara Safa dan Boni. Ledakan super keras itu membuat tanah berguncang, angin bertiup kencang menerbangkan segala debu dan asap.
"SIAPA?!" Boni menoleh dengan marah ke sumber rudal.
DRRRK!
Dari kejauhan, terlihat sebuah tank yang membidik tepat ke arah boneka raksasa Boni.
DOR!
WHUNGGG!
DUARRRR!!
Lagi dan lagi, boneka Boni mulai terbakar hingga tidak bisa berdiri. Boni yang mulai panik, berniat menjentikkan jarinya untuk memanggil boneka kecil yang tersebar di penjuru kota ini.
CTIK!
DUAR DUAR DUAR!
Tapi tank itu tidak memberi Boni ampun, dia terus menerbangkan rudal ke arah Boni.
"Kenapa ... kenapa tidak ada boneka yang ke sini?!" Boni berteriak kesal karena tidak ada boneka yang datang menolongnya. Padahal dia sudah menjentikkan jari, dan dia yakin sudah menyebar lebih dari 3000 boneka di seluruh penjuru kota.
"Lebih dari 1000 bonekamu sudah aku habisi." Safa berbicara dari kejauhan sambil meremas baju bawahnya.
"Dan 1000 lagi sudah dihabisi oleh penduduk kota yang selamat." Tambah Safa lagi.
"Dan 1000 sisanya sudah kami bakar."
Kini Ken yang berbicara, Ken keluar dari tank itu dengan tatapan mata yang serius. Kini di dalam pikirannya hanya ada bayangan Elly yang kehilangan kaki kirinya.
"Ha ... haha? Kalian bakar? JANGAN BERCANDA! BAGAIMANA MUNGKIN DALAM WAKTU SESINGKAT INI! KALIAN BISA MENGALAHKAN SEMUA BONEKAKU?!" Boni sudah lepas kendali, dia berteriak keras pada Ken. Sementara Ken hanya tersenyum simpul lalu mengepalkan tangannya.
"Kenapa? Karena kami kuat! Karena kami punya tekad! Kami tidak akan dikendalikan lagi olehmu!
Oh? Dan kau bingung kenapa kami bisa membakar dengan cepat? Tanyakan saja pada sekretarismu~," ucap Ken sambil menunjuk ke arah atas. Boni mengikuti ke arah tangan Ken menunjuk, dan dia langsung terdiam melihat Civilian yang mengendalikan angin serta api.
"Kau ... mengkhianatiku?" tanya Boni dengan suara yang bergetar.
"Tidak. Aku hanya mengikuti prinsipku. Aku bekerja padamu karena kau adalah orang yang jujur dan baik, tapi ... lihat dirimu sekarang. Kau bahkan sama menyedihkannya dengan tikus selokan." Civilian berkata dengan nada yang dingin.
Tak lama kemudian, Ares serta Riot datang sambil membawa alat penyembur api. Ares mulai membakar boneka raksasa itu dimulai dari tangan kanannya, sedangkan Riot memulai dari tangan kiri boneka itu.
Saat api sudah tersulut, selanjutnya adalah bagian Civilian yang membuat api mengganas.
BLARR!
WHUSSSS!
BLARRRRRR!
Boneka yang awalnya hanya terbakar di tangan saja, kini sudah terbakar seutuhnya, hanya tinggal waktu hingga boneka itu menjadi abu.
"Ares? Kalian datang?" Safa terlihat terkejut karena kehadiran Ares dan rekan-rekannya. Ares tersenyum lebar sambil mengacungkan ibu jarinya.
"Untung saja Ken menemukan tombol tangga rahasia! Akhirmya kami bisa membawa tank dan senjata ini keluar dari gudang tadi!" ucap Riot dengan senjata penyembur api di tangannya.
"... Ini ... belum berakhir!"
TBC.
Jangan lupa likenya ya guys!