
S2 - dimulai.
POV: Author
Sebuah dunia yang menunggu tiap kali terbitnya matahari, terkadang merindukan malam dan bulan yang datang terlambat. Sebuah dunia yang menanggung beban berat, kadang lelah dan ingin melepaskan semuanya.
***
POV: Ares
"Woah! Aku tidak menyangka bahwa kau akan ikut dengan kami!" Vani berbicara dengan semangat saat kita sedang di dalam mobil, bersiap untuk meninggalkan Kota Ansorteri.
"Apa? Aku sudah memberitahu Ares terlebih dulu kok? Apa dia tidak memberitahu kalian?" tanya Safa dengan tatapan mengintimidasi ke arahku. Aku hanya menelan ludah gugup sambil melihat ke cermin depan mobil.
"Aku sudah akan mengatakannya ... tapi waktunya tidak pas, dan karena menundanya aku jadi lupa deh," jawabku asal sambil mengalihkan pandangan. Safa dan Vani hanya menghela nafas bersamaan, lalu mereka mulai mengobrol lagi.
Aku menatap ke arah Ken yang fokus menyetir, sedangkan Riot tidur dengan nyenyak di bangku yang paling belakang. Jadi posisi kami sekarang adalah, Ken berada di depan kanan untuk menyetir, sedangkan aku berada di sampingnya. Safa serta Vani berada di bangku penumpang nomor 2, sedangkan Riot tidur sendirian di bangku penumpang nomor 3.
Sudah cukup lama kamu berada di dalam mobil ini, karena jalan rasa yang sudah rata dengan tanah, jadi cukup sulit untuk mencari jalan ke arah kota yang selanjutnya.
"Ken, kalau kau lelah, bagaimana jika kita cari tempat untuk istirahat dulu?" tanyaku saat melihat Ken yang mulai menguap. Walaupun memang sudah tidak ada aturan rambu lalu lintas, tapi tetap saja menyetir saat mengantuk itu berbahaya. Ken menatapku ganti dengan matanya yang sudah sayu dan sedikit memerah.
Dia mengusap lalu menganggukkan kepalanya.
"Bagaimana kalau tidur di sebelah sana?" tanya Ken saat menatap sebuah pohon besar yang tidak ikut tumbang. Aku mengangguk sebagai tanda setuju, lalu barulah Ken membelokkan setirnya agar kita bisa ke pohon tadi.
Krieeeet!
Brak!
Aku dan Safa turun dari mobil lebih dulu, barulah diikuti oleh yang lainnya.
Whusss.
Sesaat setelah kami turun, angin yang segar berhembus dengan pelan dan lembut. Rasanya seperti ada bulu halus yang membelai kulitku.
"Anginnya sangat sejuk ya? Sudah lama sejak terakhir kali aku merasakan angin sesejuk ini!" Riot berbicara sambil menutup matanya dan membuka kedua tangannya lebar-lebar. Dia menikmati hembusan angin dari bawah pohon tempat kami berteduh ini.
Aku terkekeh pelan lalu kembali menatap langit biru dengan awan yang tipis.
"Kau benar, Bumi yang semakin panas karena adanya pemanasan global, kini mulai memperbaiki dirinya. Rasanya Bumi kita semakin lama jadi semakin membaik!" Safa berbicara dengan tatapan yang tenang. Tapi semua orang malah menatap ke arahnya. Safa yang merasakan tatapan aneh, mulai membalikkan badan dan menatap mereka satu persatu.
"Apa ... aku mengucapkan sesuatu yang salah?" tanya Safa dengan nada yang ragu-ragu. Semua orang terdiam lalu mulai tertawa.
"Hahaha! Tidak tidak! Hanya saja apa yang kau katakan tadi agak aneh, apa gara-gara kau terlalu sering bicara dengan hewan?" tanya Ken sambil menyeka air mata yang turun di pipinya. Safa ikut tertawa kecil lalu kembali menatap langit.
"Mungkin kau benar. Banyak hal yang kubicarakan dengan mereka, dan banyak hal yang mereka ceritakan padaku. Mungkin karena itu, aku jadi merasa bersimpati pada mereka," jelas Safa dengan tatapan sendu. Aku segera berjalan ke arahnya lalu menepuk pundak Safa.
"Nanti jika dunia ini kembali menjadi normal lagi! Ayo kita buat dunia yang lebih baik untuk semuanya! Manusia! Hewan! Ataupun makhluk lainnya!" ucapku sambil menunjuk ke arah awan.
Tidak ada yang berbicara setelahku, kami hanya diam dan menatap langit biru, membayangkan masa depan cerah yang akan kami jemput.
***
"Hei, setelah ini kita kemana?" tanya Riot yang sedang mengulum lolipop di tangannya.
Ya, kami sudah masuk kembali ke dalam mobil dan melanjutkan perjalanan. Riot punya lolipop itu karena dia bilang bahwa dia rindu jajanan di sekolah. Jadi aku buatkan salah satu lolipop yang pernah aku makan.
"Kalau tidak salah, selanjutnya ... APA?! BENAR JUGA! KITA HARUS MELAWATI KOTA 'ITU'?!" Aku sedikit kaget karena baru ingat ada satu kota yang sedang kita tuju dengan arah ini.
"Hah? Kota apa?" tanya Ken yang masih fokus menyetir.
Aku menelan ludahku gugup, dan melirik ke arah Ken. "Apa kau pernah dengar tentang 'Kota Tabu'?".
CKITTT!
BRUK!
"ADUH?! KENAPA KAU BERHENTI MENDADAK?!" teriak Vani karena dia yang sedang asik tidur malah tersungkur ke depan. Sedangkan Safa malah sudah berguling ke kolong kursi. Untung saja Riot tidak tersedak lolipopnya.
"... Kita Tabu? Kita benar-benar ke sana? Apakah tidak ada jalan lain?" tanya Ken dengan tatapan yang gundah. Aku menggelengkan kepalaku, karena jika ingin pergi ke kota yang selanjutnya, mau tidak mau kita harus melewati kota mengerikan itu.
Ya, namanya adalah Kota Tabu, bahkan sebelum kiamat ini dimulai, Kota itu sudah menjadi salah satu kota terburuk di dunia. Tingkat kejahatan yang sangat tinggi, bahkan para penegak hukum sudah pernah menyerah atas kota itu. Hanya satu hal yang berhak berkuasa di atas kota itu, kekuatan dan kekuasaan.
Bagaimana dengan sekarang? Bukankah itu malah akan jadi lebih buruk?!
"Tunggu? Kita akan ke Kota Tabu?" tanya Safa yang baru saja keluar dari kolong kursi. Aku dan Ken bersamaan menoleh ke arah Safa, lalu menganggukkan kepala.
"Hmmm, aku tau tempat itu memang berbahaya, karena ada seekor burung gereja yang pernah bercerita padaku. Tapi ... sepertinya di sana ada sesuatu yang bisa kita gunakan.
Jadi menurutku, lebih baik kita ke sana saja," ucap Safa sambil memberikan jempolnya. Vani dan Ken hanya bisa diam dan melihat kami berbicara. Sudah jelas bahwa mereka tidak tau apa itu Kota Tabu.
NGINGGG!
Sebuah suara aneh tiba-tiba berdengung di kepalaku. Aku dengan cepat menutup kedua telingaku, dan sesekali mengintip keadaan temanku yang lainnya. Mereka juga sama, menutup telinganya dengan ekspresi yang kesakitan.
Suara apa ini?!
[10 detik lagi, virus akan mulai bermutasi. Kita tidak tau apa yang akan terjadi, yang pasti, jagalah jarak yang aman agar menghindari hal yang buruk.]
[9]
Apa?! Bermutasi?! Tiba-tiba?!
[8]
Cklek!
[7]
Dengan cepat aku keluar dari mobil, lalu mulai berlari ke arah sembarangan.
Aku tidak bisa lagi bersama dengan teman-temanku.
[5]
Aku memilih duduk di antara dua buah pohon yang cukup besar, dan menunggu hingga waktu mutasi datang.
[4]
Deg deg.
[3]
Deg.
[2]
Deg.
[1]
DEG.
NYUTT!
"AAAAAAA!" Sebuah rasa sakit mulai menjalar di seluruh kepalaku hingga tangan kananku.
Rasanya sangat sakit!
Kulitku seperti dibakar! Kepalaku seperti ditekan oleh palu!
Aku menutup mataku sambil terus meronta-ronta, menahan rasa sakit yang tak tertahankan. Entah berapa lama rasa sakit ini muncul, yang pasti, aku mulai tak sadarkan diri setelah beberapa menit.
***
Whuss.
Aku membuka mataku, menatap sekeliling untuk sejenak.
Pemandangan yang tidak asing ... ah, ini adalah tempatku bersembunyi tadi.
Aku melihat ke arah tubuhku lebih dulu.
Tanganku masih kecil, kulitnya juga masih seperti dulu. Apanya yang berubah- ... tidak! Chastnya!
CHASTNYA BERTAMBAH BANYAK!
Aku spontan langsung duduk dan melihat jumlah chast di punggung tangan kananku. Chast yang awalnya hanya ada satu hati, kini berjumlah lima hati.
Mungkin ini adalah mutasi yang dimaksud? Karena tubuhku sudah terbiasa dengan virusnya, maka tubuhku bisa menerima chast lebih banyak lagi!
Dan ada tato aneh di pergelangan tangan kananku. Saat kubaca ada tulisan apa di sana ... tulisan itu berbunyi ...
"Little boy of dream world."
Hah? Apa maksudnya? Anak kecil di dunia mimpi? Apa? Apa lagi ini?
"ARESSS! KAU DIMANA?!"
Deg!
Suara Riot yang keras langsung mengagetkanku. Spontan aku langsung berdiri dan melihat ke arah mobil, rupanya yang lainnya sudah berkumpul lebih dulu, dan mereka menungguku.
Aku melupakan tato aneh tadi dan mulai berlari ke arah rekanku.
"Apa yang kau dapat?" tanya Vani tiba-tiba saat aku baru sampai. Aku yang tidak paham apa maksud pertanyaan Vani, hanya bisa menggelengkan kepala dan mengangkat bahu.
"Maksudku, apa tulisan aneh di tatomu itu?" tanya Vani lagi.
"Ohh! Aku tidak paham apa maksudnya, dan aku juga tidak terlalu peduli. Oh iya! Bukankah chast kita semakin banyak?!" tanyaku dengan antusias dan tanpa sadar mengalihkan pembicaraan.
"Benar, kita memiliki 5 chast sekarang," ucap Ken dengan wajah datarnya.
"Yey! Aku bisa berteleportasi lebih banyak!" ucap Riot sangat gembira.
"Um, ini tidak terlalu berpengaruh bagiku sih, karena berbicara dengan hewan hanya membutuhkan sedikit chast saja," tambah Safa dengan wajah yang tenang.
"Haaah, yang lebih penting itu tato kalian! Tato ini menunjukkan kekuatan asli kalian!" Vani muncul lagi dan masih bersikeras tentang tato.
"Oh? Aku dapat sebuah kalimat yang bertuliskan "Lost Timer Prince", walaupun aku sendiri tidak tau artinya," ucap Riot dengan wajah bodohnya.
"Aku dapat "Saint of Life", ya aku yakin ini berhubungan dengan penyembuhan dan kehidupan," ucap Ken sambil menunjukkan tatonya.
"Oh! Aku dapat "Soul Mediator! Apa artinya ya?" Safa juga ikut berbicara dengan wajah bodohnya. Kini semuanya ganti menatap ke arahku.
"Um? Aku ... "Little Boy of Dream World", walaupun aku juga bingung apa artinya," tanbahku dengan ekspresi yang ragu. Vani menganggukkan kepalanya lalu menunjukkan tatonya.
"Aku dapat "Sky Goddes", ya ini artinya jelas sih, jadi aku tidak bingung," ucap Vani dengan nada yang bangga. Aku sekarang yang merasa kesal, sepertinya diantara kami semua, hanya Ken dan Vani saja yang kekuatannya jelas. Baik itu punyaku maupun Safa maupun Riot, semuanya absurd.
Entah bagaimana kami bisa menafsirkan maksud tato ini.
"Sky Goddes? Artinya apa?" tanya Riot penasaran.
"Dewi langit, berarti aku bisa mengendalikan cuaca," jawab Vani dengan nada yang bangga lagi. Riot hanya mengangguk dan berkata oh saja.
Yah, tidak apa-apa, nanti kita juga tau apa maksud kekuatan kita.
TBC.
Jangan lupa likenya ya guys! Mulai S2 nanti aku panjangin tiap epsnya😎✨