
"Tunggu ... sejak kapan ... SEJAK KAPAN CIVILIAN ADA DI SANA?!"
POV: Author
"APA?! APA YANG DIA LAKUKAN?!" Ken berteriak panik melihat Civilian yang hendak menargetkan Boni. Rasa panik dan cemas kini melanda hati Ken, jantungnya ikut berdetak tidak karuan karena khawatir.
Civilian sendiri juga tau, tindakannya ini termasuk nekat. Hanya bermodalkan panah serta busur tornado, dia berani menantang Boni yang menggunakan infik ungu.
Tidak boleh meleset. Kesempatanku hanya ada satu kali,-batin Civilian.
Whussssss.
Civilian menutup mata kanannya, dia membiarkan mata kirinya terbuka agar bisa membidik dengan lebih baik.
Saat Civilian hendak melepaskan anak panahnya. Civilian menyadari sesuatu.
Boni sudah melirik ke arah Civilian, disertai dengan senyuman misterius.
Detik itu juga, firasat Ken langsung menjadi buruk.
"Ti-tidak! CIVILIAN! LARILAH DARI SANA!" Ken berteriak hingga dia berniat keluar dari brangkas, Ares dan Riot segera menahan Ken agar dia tidak keluar dari sana.
BZZTTT!
Jangan-jangan ... halilintar?,-batin Ares.
Civilian yang sadar tentang rencana Boni, langsung menambah kekuatan di busur tornadonya.
"Kalau pada akhirnya aku juga akan mati. Kenapa aku harus menghemat kekuatanku?".
WHUSSSS!!!
CRINGGG!
Dua infik ungu bersinar terang, di daratan dan di langit. Infuk ungu di daratan adalah milik Boni ... sedangkan infik ungu di udara adalah milik Civilian.
WHUSSSS!
Karena Civilian telah mencapai infik ungu, Civilian sekarang bisa membuat sepuluh panah raksasa yang terbuat dari tornado. Boni yang menyadari bahwa Civilian telah mengaktifkan infik ungu, dia juga segera mengeluarkan senjatanya.
Hujan halilintar.
"Civilian ..." Ken berucap sendu tanpa mengalihkan pandangannya dari pertarungan yang mempertaruhkan nyawa itu.
WHUSS!
JDAAARRRR!
Bersamaan dengan lepasnya kesepuluh anak panah tadi, sekitar empat halilintar yang besar menyambar tubuh Civilian yang sedang berada di udara.
"TIDAK! CIVILIANNNN!" Ken berteriak sangat keras.
DUARRR!
Anak panah Civilian kini berhasil mengenai Boni. Ledakan antara angin Civilian serta angin dari boneka Boni membuat seisi kota terpelanting. Bahkan brangkas tempat Ares bersembunyi ikut terbang ke udara. Di dalam brangkas itu, Ares menutup pintu brangkas dengan tubuhnya, sedangkan Riot masih memeluk Ken agar tidak keluar dari brangkas.
Ken masih menangis, menyaksikan tubuh Civilian yang menjadi abu ... ikut terurai bersama angin kencang.
Ares dan Riot hanya bisa diam dan menutup mata, mendengarkan rintihan tangisan Ken yang sangat memilukan. Tangisan pelan tanpa suara, tangisan pelan yang seolah kehabisan udara.
WHUSS!
Angin yang keras ini perlahan berhenti, brangkas yang Ares tempati kini mendarat di sebuah lapangan kosong, cukup jauh dari lokasi pertempuran. Saat mereka melihat ke depan, saat itu mereka sadar.
Bahwa Boni tidak bisa dikalahkan semudah itu.
Boni masih berdiri tegap, dengan boneka elang yang berada di atas kepalanya. Ares dan Riot hanya bisa ternganga tidak percaya, padahal Civilian juga sudah mengerahkan infik ungu. Tapi Boni bahkan tidak terluka sedikit pun.
"Ugh ..."
Suara ini ... Safa?,-batin Ares.
Ares langsung menengok ke samping kirinya, Safa ternyata ikut terpental dari ledakan tadi. Dan bahkan ... spirit tanah yang dia panggil juga sudah menghilang. Ares mulai merangkak keluar dari brangkas yang dia gunakan sebagai tempat sembunyi, matanya menatap sekeliling, melihat kota yang tersisa ... hanyalah sebidang lapangan yang luas tanpa rumput ataupun bangunan.
"Ini ... jadi mirip lapangan yang super luas. Tanpa tumbuhan apapun ... tanpa bangunan apapun." Riot berkata dengan tatapan sendu.
DUAR!
Baru saja Ares hendak menengok ke depan, sebuah ledakan angin muncul di depan Ares.
WHUSS!
Ares terlempar ke atas, menjauhi Riot serta Safa yang tidak sempat bereaksi karena kaget.
Sial!,-batin Ares.
"Selanjutnya adalah kalian. Kali ini aku tidak akan meleset." Boni terbang ke arah kami dengan kecepatan tinggi, Safa segera berdiri, begitu juga Riot yang sudah bersiaga untuk melindungi Ken.
Kalau aku menggunakan teleportasi lagi, maka aku akan terkena infik. Tapi infik yang kudapat pasti infik putih! Itu tidak terlalu parah bukan? Apa aku harus menggunakannya?,-batin Riot.
"SEKARANG! UWOOOOOOOO!"
DUARRR!
Riot membelalakkan matanya kaget. Di depannya, tiba-tiba muncul dinding dari tanah yang sangat besar dan tinggi. Dinding itu juga melindungi Safa.
"Siapa?" Riot menoleh ke belakang. Matanya berkaca-kaca, saat tau bahwa yang menolong mereka adalah para warga kota.
"Jangan khawatir. Chast kami masih banyak! Kami yang akan bertarung sekarang! Kota ini adalah milik kami! Kami juga yang akan mempertahankannya!
Terimakasih sudah berjuang selama ini, nak Safa!" ucap seorang gadis kecil dengan kuncit rambut kuning di kepalanya. Safa melihat gadis itu dengan seksama, dia mulai meneteskan air mata ... saat tahu bahwa siapa gadis di depannya itu.
"Kau ... bibi Aster?" tanya Safa dengan tangisan yang tertahan. Gadis kecil di depannya itu hanya tersenyum simpul, lalu mengecup dahi Safa.
"Pergilah, serahkan yang di sini pada kami. Oh ... dan tolong temanmu yang masih melayang di atas sana." Bibi Aster menunjuk ke atas Ares yang masih melayang di udara. Karena kekuatan angin yang sangat besar, tubuh mungil Ares tidak mampu menyaingi tekanan angin yang dia terima, dan dia malah ikut terbang bersama dengan tekanan angin tadi.
"Ah ... tapi chast saya sudah habis," ucap Safa sambil menatap chast di tangan kanannya.
"Tidak apa-apa, warga kota ini sangat banyak. Masih ada sekitar 4000 warga yang masih bertahan hidup berkat kalian semua." Bibi Aster menatap Ares yang kini diselamatkan oleh anak laki-laki bersayap putih. Anak laki-laki bersayap itu, membawa Ares menjauh ke tempat yang aman.
"Kalian juga ikutilah mereka." Bibi Aster meniup Safa pelan. Dan tiba-tiba Safa merasa sangat mengantuk.
"Bi ... bi?"
Bruk.
Sruk!
Setelah itu, tiba-tiba muncul lubang di samping tubuh Safa, ternyata ada seorang warga kota yang punya keahlian menggali tanah. Safa langsung diseret masuk oleh orang itu, begitu juga dengan Riot serta brangkas yang berisi Ken.
"WOAH?! TUNGGU-"
PLUNG.
Belum selesai Riot kaget, dia langsung masuk ke dalam lubang.
"Nah ... sekarang tinggal kita berdua, Boni. Sepertinya kau sehat-sehat saja," ucap Bibi Aster dengan tatapan wajah yang lembut. Boni hanya diam, menatap gadis kecil di depannya dengan tatapan yang kosong.
"Hah ... padahal kupikir kau sudah mati di kandang Thea. Ternyata kau masih hidup ya ... orang tua merepotkan." Boni menunjuk ke arah Bibi Aster, detik itu, sebuah kilat langsung menyambar ke arah Bibi Aster.
CRINGG!
SRAKKK!
Sebuah batang pohon raksasa tumbuh melingkar di sekitar Bibi Aster, melindungi tubuh gadis itu tanpa cacat sedikitpun.
"... Kelihatannya kalian sudah memutuskan untuk tidak diam saja?" tanya Boni dengan tatapan mata yang meremehkan.
"Ada 4000 warga kota. Dan sekitar 2000 warga yang punya kemampuan bertarung. Aku tau kau sudah kehilangan seluruh bonekamu. Apa kau pikir para warga akan membiarkanmu bertindak sesuai yang kau mau?" Bibi Aster mendadak berubah menjadi dingin. Dia menatap Boni dengan tatapan yang kejam.
"HAHAHAHAHAHHA! AYO! TUNJUKKAN PADAKU! RASA PERCAYA DIRI YANG MEMUAKKAN MILIK KALIAN ITU!"
TBC.
Jangan lupa likenya ya guys!