
"Aku ... ingin meminta bantuan kalian. Tolong bantu aku!"
POV: Ares
Aku terdiam sambil menatap jijik ke arah Elvon, bagaimana bisa dia semudah itu melupakan perbuatan yang dia lakukan? Memang aku bukan orang yang pendendam, tapi ini masalah yang berbeda jika dia menyakiti rekanku.
"Ditolak." Vani langsung menarik baju belakangku agar segera pergi dari hadapan Elvon. Sedangkan Elvon tampak panik saat kami sudah berjalan menjauh darinya.
"Tu-tunggu! Aku mohon de-dengarkan aku dulu!" teriaknya dari kejauhan. Vani dan Riot tidak menggubris teriakan Elvon, kami masih terus berjalan menjauh darinya.
"Jika kalian tidak mau teman kalian mati! Dengarkan aku dulu! Ini untuk menyelamatkan teman kalian!"
Deg!
Kami berempat sontak berhenti berjalan. Seluruh tatapan kami menatap pada Elvon, anak laki-laki dengan rambut berwarna navy itu. Dia terlihat tersenyum puas saat akhirnya kami menoleh ke arahnya.
"Apa kalian tidak tau, bahwa teman kalian akan terlibat peristiwa yang akan terjadi itu?" tanya Elvon dengan nada yang mempengaruhi, aku dan Riot hanya saling melirik lalu tertawa.
"Kami sudah tau, lalu? Apa urusannya dengan kami?" tanyaku sambil mengangkat kedua bahuku. Elvon tampak bingung dengan apa yang kukatakan.
"Apa? Bukankah dia teman kalian?" tanya Elvon sambil menatapku dan Vani bergantian. Aku tertawa kecil lalu menggelengkan kepala.
"Tidak lagi," ucapku dengan senyuman yang cerah.
"Jadi sia-sia saja jika kau memberitahukan itu pada kami," tambah Vani lalu berjalan pergi sekali lagi. Aku menatap Elvon yang raut wajahnya dipenuhi rasa bingung dan putus asa, tapi aku tetap memilih untuk tidak membantunya.
"Bagaimana rencananya?" tanya Riot saat kami sudah cukup jauh dari Elvon.
"Kita kembali ke kota, lalu pikirkan ini lagi. Jangan sampai dia tau rencana kita," ucapku yang dibalas anggukan oleh semua rekanku.
Tentu saja, mana mungkin kami membiarkan Ken mati. Tapi kami juga punya alasan untuk tidak memberitahu Elvon tentang apa yang sebenarnya terjadi.
Tidak ada yang tau apa yang rubah itu rencanakan.
***
POV: Ken
Aku duduk termenung sendirian di atas sebuah pohon. Rasanya sangat sepi ... padahal aku tidak pernah merasa sesepi ini saat bersama teman-temanku. Jika kalian bertanya dimana Civilian, dia sedang bekerja untuk festival yang akan dilaksanakan. Jadi aku hanya bisa duduk termenung sendirian di sini.
Aku bahkan tidak melihat Ares ataupun Vani sejak tadi pagi. Begitu juga dengan Riot dan wanita asing yang bersama Vani. Apakah mereka sudah pergi dari kota ini?
Itu bisa saja terjadi, karena aku yang lebih dulu mendorong mereka untuk menjauh. Apa sekarang aku menyesal ya? Aku tidak tau ... tapi hatiku rasanya sakit memikirkan fakta bahwa aku tidak akan melihat mereka lagi.
Saat aku sedang melamun, tiba-tiba mataku melihat seorang gadis kecil yang berjalan di trotoar. Dia ... gadis yang waktu itu kupukul.
Tapi kenapa dia sendirian? Dimana Vani? Jangan-jangan mereka sudah benar-benar pergi dari kota ini?
Karena aku sangat penasaran, akhirnya aku segera turun dari pohon lalu menghampiri anak yang namanya Elly itu.
"Hei!" panggilku dengan cukup keras. Gadis tadi menoleh ke arahku, raut wajahnya yang awalnya tersenyum, langsung berubah menjadi tatapan malas dan muak.
Sial ... sepertinya dia ingat siapa aku. Yah, tentu saja ingat ... siapa orang yang tidak ingat wajah orang yang memukulnya? Kecuali kalau dia hilang ingatan tiba-tiba.
"Apa?" tanyanya dengan nada yang dingin. Aku tersenyum kaku sambil berusaha untuk menghindari tatapan darinya, aku merasa bersalah karena sudah memukulnya cukup keras waktu itu.
Syukurlah kalau itu tidak meninggalkan bekas. Loh ... kenapa tidak ada bekasnya ya?
"Ada dimana ... Vani?" tanyaku dengan nada yang pelan. Gadis itu langsung menatapku nyalang, dia melihat tepat di mataku sambil mengernyitkan dahinya.
"Kau tanya dimana dia? Sudah pergi!" ucap Elly sambil mendorong bahuku. Dia langsung melangkahkan kakinya pergi dari hadapanku setelah mengatakan hal itu, tapi aku tidak boleh menyerah. Aku harus tau Vani pergi kemana!
"Pergi kemana?" tanyaku penuh harap. Tapi jangankan dijawab, dia menoleh ke arahku saja tidak. Gadis itu langsung terbang dan menjauh dariku.
"Haaah, susah kalau lawan bicaranya seperti burung," ucapku kesal sambil berjalan kembali ke arah pohon tadi. Tapi karena aku sudah malas memanjat pohon, akhirnya aku hanya duduk bersandar sambil melihat langit sore.
"Oh ... sekarang sudah sore ya?" gumamku sambil menatap gumpalan awan hitam di atas langit. Awan-awan itu mulai menutupi langit jingga ini dengan perlahan, sepertinya nanti malam akan turun hujan yang deras.
"Permisi."
Deg!
Aku terkejut bukan main saat ada suara perempuan dari samping kiriku. Sontak aku langsung melompat dan memeluk pohon tempatku bersandar tadi.
"Astaga ... siapa kau?!" tanyaku curiga pada gadis dengan rambut berwarna merah menyala serta mata hitam legam bagaikan malam. Dia mengerjapkan matanya beberapa kali sambil menunjuk dirinya.
"Aku?" tanyanya dengan nada polos.
"Siapa lagi?!" jawabku kesal. Tapi dia malah tertawa sambil menutup mulutnya, saat dia melihatku yang marah, barulah dia berhenti tertawa.
"Namaku Negan, maaf jika aku mengagetkanmu. Umm, bisakah aku bertanya beberapa hal?" tanya Negan sambil menyatukan kedua tangannya, memohon padaku. Aku segera turun dari pohon lalu membersihkan kaosku yang kotor.
"Tanya apa?" tanyaku datar.
"Apakah kau tau wilayah di sekitar sini? Aku mencari anak yang bernama Elly," tanyanya dengan nada kebingungan. Aku sedikit terkejut mendengar pertanyaannya, apakah Elly yang dia maksud itu Elly teman Vani?
"Elly yang ... bisa terbang?" tanyaku sambil mengingat-ingat bahwa anak tadi terbang untuk menjauh dariku.
Plok!
"Benar! Itu dia! Apakah kau tadi dia dimana?" tanya Negan sambil menepuk kedua tangannya satu kali. Tanpa sadar, sudut bibirku terangkat. Sikapnya yang lucu ini sedikit mengingatkanku tentang Vani.
Tidak ... bukan sedikit lagi, tapi cukup banyak.
"Iya, aku tau. Apa kau mau kuantar?" tawarku dengan nada yang sedikit lebih lembut. Gadis itu menganggukkan kepalanya dengan cepat, lalu tiba-tiba menyalami tanganku.
"A-ada apa ini?" tanyaku bingung.
"Kau benar-benar orang yang baik! Kau bahkan memberi tawaran padaku untuk diantar langsung!" ucapnya menggebu-gebu. Aku hanya tersenyum miring saat melihat responnya itu.
"Kau terlalu polos, bagaimana jika ada yang menculikmu?" tanyaku sambil mengusap ujung rambutnya tanpa sadar. Negan langsung terdiam, dan aku langsung menarik tanganku yang tanpa sadar mengusap kepalanya.
Dia benar-benar membuatku teringat tentang Vani.
"Maaf ... tanpa sadar aku-," ucapanku terpotong karena aku ragu untuk melanjutkannya.
"Tidak apa-apa! Ayo antar aku ke Elly!" ucapnya masih dengan semangat yang sama. Aku menghela nafas lega karena dia tidak memandangku sebagai anak yang aneh.
"Ayo."
TBC.
Jangan lupa likenya ya guys!