Ares: Never Grow Up

Ares: Never Grow Up
Ini belum berakhir!



"... Ini ... belum berakhir!"


POV: Author


Seluruh perhatian kini berfokus pada Boni. Gadis kecil berambut hitam dan mata ungu itu segera berdiri. Dia menundukkan wajahnya, sambil menggumamkan kata-kata yang tidak bisa dimengerti.


"Ini ... tidak akan berakhir semudah ini. Aku ... akulah yang harusnya menang! Aku yang harusnya menang! Aku!" Boni mulai meracau tidak jelas, Ares serta Safa hanya diam dan melihat gadis itu berteriak sambil menarik-narik rambutnya sendiri.


Sring.


"Apa? Jangan bilang ..." Ares tercengang saat melihat cahaya ungu yang memancar terang dari tangan kanan Boni.


Ini ... adalah tanda-tanda infik! Ungu?! Infik kematian?!,-batin Ares.


DUAR! DUARR!


Langit mulai menjadi gelap, dunia seolah marah pada gadis kecil yang melewati batasan itu. Awan-awam hitam berkumpul, petir-petir bergemuruh. Sementara cahaya di tangan Boni semakin terang, Ares serta rekan-rekannya merasakan perasaan yang tidak enak.


WHUNGGG!


"A-apa itu?" Riot bertanya sambil menatap ke arah langit gelap dengan awan yang berputar-putar membentuk pusaran angin di atas sana.


Itu adalah sebuah boneka.


Boneka elang kecil yang turun pada Boni.


"Boneka elang? Memangnya ... ada apa dengan itu?" Ares bertanya-tanya dalam hati serta pikirannya.


Apakah karena kekuatan Boni sudah mencapai batas ... makanya dia hanya bisa memanggil boneka kecil? Tapi ... ini tidak masuk akal! Hanya boneka kecil ... tapi sampai membuat infik ungu?!,-batin Ares.


Bruk.


"Apa?" Ares menoleh ke samping kanannya.


Safa terduduk lemas dengan mata yang berkaca-kaca. Mata kuning Safa tidak lepas dari boneka elang putih imut yang kini terbang menuju ke arah Boni.


"Sa ... fa? Kenapa?" Aku berjongkok dan mencoba membantu Safa untuk berdiri.


"Hiks ... boneka itu ... kau masih menyimpannya? Boni?" Safa bertanya pada Boni dengan nada yang amat memilukan. Gadis dengan mata ungu itu tidak menjawab, dia hanya diam membisu, menatap boneka yang datang kepadanya.


"Apa yang kau inginkan?"


Suara boneka itu terdengar jelas di telinga semua orang. Boni menelan ludahnya gugup, dengan mata yang kosong, Boni kini menatap Safa.


"Hancurkan semuanya." Boni menjawab tanpa ragu.


"Baiklah, tuan."


WHUSSS!!!


Detik itu juga, boneka elang kecil itu bersinar terang. Cahaya yang dia keluarkan memanggil angin dari segala penjuru, berkumpul di boneka itu.


DRKKKK!


Tanah mulai bergoyang, bangunan mulai runtuh. Angin yang semakin lama makin kencang, awan hitam pekat yang seperti hendak menutupi seluruh bumi.


"Gawat! Bagaimana ini?!" Ken berteriak bingung. Ares langsung berbalik menatap Ken serta Riot.


"PERGI! KITA CARI TEMPAT YANG AMAN!" teriak Ares pada mereka. Ken yang mengerti segera menyeret Riot untuk pergi. Sedangkan Ares masih bertahan di sini, mencoba untuk menyeret agar Safa ikut lari.


"Ayo! Kita harus sembunyi!" Ares berbicara dengan nada yang sedikit keras.


Tak!


Ares terkejut karena Safa malah menepis tangan Ares.


"Tidak ... aku tidak bisa pergi. Aku ... harus menghentikannya di sini, saat ini." Ares terdiam mendengar penuturan Safa yang yakin dan tak gentar. Gadis berambut pirang itu mulai mengangkat tangannya, lalu mengarahkan telapak tangan ke pusaran angin di depan.


"Aku ... sudah menghemat chastku untuk saat ini."


Deg.


Safa ... menghemat chastnya?! Padahal dia mengontrol banyak binatang, tapi dia masih memiliki sisa?!,-batin Ares.


"Wahai penguasa tanah, penguasa keteguhan hati serta rendah diri. Penguasa daratan yang dipijak serta dijunjung tinggi. Aku, Safa Arno memanggilmu."


DRRKKKKKK!


Guncangan tanah ini semakin kuat, bukan hanya itu saja, banyak tanah-tanah yang mulai pecah dan terangkat. Ares menatap Safa dengan tatapan bingung, dia bertanya-tanya dalam hati, apa yang akan Safa lakukan.


"Kupersembahkan seluruh energiku untukmu. Wahai roh tanah! Wahai roh yang suci! Wahai roh yang luhur!


PENUHILAH PANGGILANKU!" Safa berteriak keras saat itu.


DUUAARRR!


"APA?!" Ares berteriak terkejut. Bagaikan inti bumi yang meledak, seluruh Kota Ansorteri kini tidak lagi menapak di tanah. Aspal yang mereka pijak sudah terpecah belah menjadi ratusan bagian.


Mereka melayang di udara bersamaan dengan batu serta debu yang berterbangan.


Ares yang berusaha bertahan, menatap ke arah Safa yang tidak gentar sama sekali. Dan saat itu ... Ares baru menyadarinya.


Bahwa ada makhluk aneh yang muncul di hadapan Safa.


Seluruh tubuh makhluk itu terbuat dari tanah dan lumpur, tidak memiliki wajah, tapi berwujud seperti manusia. Ukurannya kecil, mungkin hanya sekitar 1 meter saja.


"Aku sudah memenuhi panggilanmu, wahai manusia. Apa yang kau inginkan?" Makhluk itu bertanya dengan suara yang menggema.


"Wahai spirit tanah! Bantu aku ... mengubur boneka itu ke inti bumi!" Safa berteriak sambil menunjuk ke arah boneka elang yang menyebabkan semua malapetaka ini. Makhluk aneh yang disebut spirit itu menganggukkan kepala, dan dia mulai berbalik menatap boneka itu.


"Safi, jangan kalah. Kau harus menang, kalahkan makhluk buruk rupa itu." Boni memerintah boneka elang yang bernama Safi itu agar menyerang spirit tanah.


WHUSSS!!


"Baik."


DUARR DUAR DUARR!


Petir mulai menyambar, menghujani daratan yang kini sudah tidak berbentuk lagi. Safa berlindung di balik kekuatan spirit tanah yang menciptakan perisai untuknya. Sedangkan Ares langsung melompati bebatuan agar bisa sampai ke tempat berlindung yang aman.


"Ini ... pertarungan antar monster. Aku tidak tau kalau Safa bisa memanggil spirit tanah. Dan lagi ... AKU BARU TAU KALAU SPIRIT ITU NYATA! ARGHH!" Ares menggerutu kesal sampai akhirnya dia melihat Ken yang melambaikan tangan padanya. Dengan sigap Ares langsung melompat dan menuju ke arah Ken.


Ken dan Riot sedang bersembunyi di sebuah brangkas besi yang entah darimana mereka dapat, tapi berkat brangkas itu, mereka bisa aman dari guncangan tanah serta timpahan bangunan.


"Ares! Kau baik-baik saja?!" Riot bertanya dengan nada yang khawatir. Ares segera menganggukkan kepalanya lalu menghirup nafas panjang.


"Kita tidak bisa membantu apapun lagi, pertarungan mereka berdua tidak bisa diganggu." Ken berucap dengan ekspresi yang serius. Mereka bertiga kini melihat pertarungan antara Safa serta Boni.


DUARR!


WHUNGGN!


Spirit tanah itu itu mulai menggerakkan tanah, membuat sepasang tangan raksasa yang langsung menyerbu boneka elang mungil itu.


NGINGGGG!!!!


WHUSSSSSSS! DUARR!


Hembusan angin kuat langsung menghancurkan tangan raksasa dari tanah tadi, tidak hanya itu, sebuah tornado tiba-tiba meluncur dengan cepat, menyerbu ke arah Safa.


DARRR!


Ledakan keras terjadi, spirit tanah berhasil melindungi Safa dengan perisai, tepat waktu.


"Tunggu ... Safa ... sudah mencapai batasnya! Lihat chastnya! Sedikit lagi ... dia akan terkena infik!" Riot berteriak pada Ares serta Ken. Ares langsung melihat ke tangan kanan Safa, dan benar saja.


Tinggal sedikit.


Sangat sedikit.


Safa harus menghentikan pemanggilan spirit tanah sekarang juga.


"Sial! Tapi kalau Safa berhenti memanggil spirit tanah ... kita yang akan tamat!" Ken berdecak kesal sambil terus melihat pertarungan itu.


"Tunggu ... sejak kapan ... SEJAK KAPAN CIVILIAN ADA DI SANA?!" Ares menunjuk ke arah Civilian yang melayang sangat tinggi. Civilian menyiapkan busur dan panah raksasa yang terbuat dari pusaran angin.


Dan arah busur itu ... bukanlah boneka elang yang Boni kendalikan.


Tapi Boni itu sendiri sasarannya.


TBC.


Jangan lupa likenya ya guys!