
POV: Ares
"He-hei! Kenapa kau menangis?! Apa kau terluka di suatu tempat?!" tanyaku panik saat melihat Riot yang mengusap matanya basah. Anak laki-laki di depanku ini segera menundukkan kepalanya, lalu sesekali terisak sambil terus mengusap wajahnya.
"Kau, kenapa-hiks kenapa begitu ceroboh-hiks, ak-aku tadi sudah panik. Kuki-ra kau akan jatuh," ucapnya dengan kata-kata yang sedikit tidak beraturan. Melihat Riot yang menangis di depanku, aku jadi memahami sesuatu.
Dia menangis karena berpikir aku berniat bunuh diri.
"Aku tidak akan melakukan hal bodoh itu, aku juga sayang nyawa." Aku berbicara dengan nada ketus, tapi sambil memeluk Riot dari depan. Anak itu masih menangis beberapa menit, hingga akhirnya Vani datang pada kami.
"ARES! ASTAGA! AKU MENCARIMU KEMANA-MANA! KAU TIBA-TIBA MENGHILANG DI UDARA!" Vani berjalan ke arah kami dengan hentakan kaki yang kesal. Tapi saat dia melihat mata Riot yang memerah, rasa kesal Vani jadi terlihat memudar.
"Oh? Jadi kau menghilang tadi karena Riot ya ... tapi kenapa dia menangis?" tanya Vani bingung lalu berjalan menghampiri Riot. Dia dengan lembut mengusap bagian bawah mata Riot, sambil menyeka air mata yang hendak turun sekali lagi.
"Dia terkena abu panas, karena itu matanya perih," ucapku tanpa menoleh ke arah mereka berdua. Vani mengangguk paham lalu menatap Riot dengan khawatir.
"Apa masih sakit?" tanya Vani.
"Su-sudah tidak, ini sudah membaik karena aku menangis sejak tadi," jawab Riot sambil tersenyum.
BAMM!
Aku dan Vani langsung tersentak kaget saat mendengar suara yang keras. Dan saat kamu menoleh ke asal suara itu, ternyata asalnya dari bagian tubuh boneka raksasa yang belum hangus terbakar.
Aku dan Vani masih menatap bongkahan kain dan kapas yang mengeluarkan asap putih itu, bau hangus mulai tercium dari hidung kami.
"Kau benar-benar berhasil," gumamku pada Vani. Dia lalu tersenyum sambil mengacungkan ibu jarinya.
"Tentu saja!" Vani berucap dengan nada yang penuh percaya diri.
"Apa? Ada apa? Kenapa aku tidak tau apapun? Aku ketinggalan apa?" Riot yang merasa ketinggalan berita, dia langsung menyerobot di tengah-tengah diriku serta Vani. Ekspresi wajahnya yang begitu penasaran terlihat imut.
"Oh? Ini tentang Vani yang mengembangkan kekuatannya. Kini dia bisa memanggil halilintar ataupun kabut, bukan hanya hujan saja!" jawabku pada Riot. Mata biru anak itu berbinar, dia seperti sangat kagum pada apa yang baru saja aku katakan.
"Benarkah?! Kau sangat keren! Jadi halilintar tadi itu kau yang memanggilnya?!" tanya Riot menggebu-gebu. Vani tersenyum simpul sambil menganggukkan kepalanya.
"Woah! Kalau begitu, bisakah kau turunkan salju?! Aku ingin sekali main salju!" tanya Riot dengan penuh semangat.
PLETAK!
"ADUH! KENAPA KAU MEMUKULKU?!" tanya Riot dengan nada marah padaku.
"Kita sedang bertempur bodoh! Kenapa kau malah memikirkan main salju?!" tanya geram sambil berusaha mencubit pinggang Riot. Tapi anak itu menghindari cubitanku dan malah bersembunyi di belakang Vani.
"Bwee!" Riot menjulurkan lidahnya, mengejek ke arahku. Aku jadi sangat kesal sekarang, saat aku hendak menangkapnya, suara derap kaki kuda memasuki pendengaranku.
Drap drap drap drap!
"Kaki kuda? Siapa?" tanyaku sambil menoleh ke arah belakang.
Deg.
Mataku melebar saat melihat orang yang menunggangi kuda itu. Seorang anak laki-laki yang membawa anak perempuan di depannya ... dan darah yang menetes di sepanjang kuda itu menghentakkan kaki.
"Ken ... Elly?!" Aku menutup mulutku saat melihat kondisi Elly yang sangat buruk. Raut wajah Ken terlihat pucat dan putus asa, dia menaiki kuda itu sambil memegang pundak Elly.
Sangat ... sedikit. Lalu apa? Baiklah, yang pertama perban. Lalu yang kedua ... gas asap?
Ah entahlah! Yang pertama adalah perban!
CRING!
Aku membuat satu buah perban yang cukup panjang, setelah Ken sampai di depan kami, Vani dengan sigap membantu Ken untuk menurunkan Elly.
"Taruh sini!" Riot sudah bersiap dengan membersihkan lantai yang berdebu, dia bahkan menyiapkan beberapa bantal darurat dari daun-daun serta baju sisa.
Vani menggotong Elly dengan cepat dan hati-hati, lalu membaringkannya di sana. Keadaan Elly sangat buruk, kaki kirinya hanya tersisa setengah paha bagian atas, dia berkeringat sangat banyak karena menahan rasa sakit.
"Aku akan mengatasi pendarahannya dulu." Aku berjongkok dan mulai menutup luka Elly.
Tidak bisa ... lukanya masih terus mengeluarkan darah. Ini harus dibakar untuk menutup lukanya. Kalau begitu ... aku harus membuat larutan saline dan besi panas.
CRING CRING!
Untuk apinya ... kurasa bekas boneka yang terbakar tadi masih ada!
"Ken, Riot. Bisa tolong ambilkan bagian boneka yang masih terbakar?" tanyaku sambil menatap mereka berdua. Riot dan Ken lalu mengangguk, mereka dengan cepat berlari ke arah sisa boneka, lalu dengan hati-hati membawanya ke sini.
Aku lalu menyobek baju bagian bawahku dan mulai membalutnya di tangan kananku. Aku mengambil satu besi panjang dan mulai menaruhnya di atas boneka yang terbakar.
"Vani, bisa tolong kau bantu membersihkan luka di kaki Elly? Kau bisa menggunakan larutan yang ada di dalam botol yang baru kubuat tadi," ucapku tanpa menoleh ke arah Vani. Untungnya Vani cepat mengerti dan mulai membersihkan luka Elly.
"Erghh!" Elly mengerang kesakitan setiap kali Vani menuangkan larutan itu.
"Ssstt ssstt tidak apa-apa, tahanlah sebentar lagi!" ucap Vani menenangkan Elly.
Riot dan Ken hanya berdiam dan menatap kami serius.
"Tunggu, Ken kenapa kau tidak menyembuhkan Elly?" tanya Riot yang baru ingat bahwa kekuatan Ken adalah menyembuhkan.
"Aku kehabisan chast ... kami bertemu dengan boneka yang cukup mengerikan tadi," jawab Ken sambil menyatukan kedua tangannya, lalu menunduk pasrah. Mendengar jawaban Ken, Riot tidak bertanya lagi dan memilih untuk diam.
"Nah! Kurasa ini sudah cukup panas!" ucapku sambil mengangkat besi itu hati-hati. Aku segera kembali pada Elly, dan mulai mendekatkan besi panas itu ke lukanya.
Nyes.
"AAAAAAAA!" Aku terkejut karena tiba-tiba Elly berteriak kencang.
"HEI! TOLONG PEGANGI ELLY AGAR DIA TIDAK BANYAK BERGERAK!" Aku ikut berteriak pada Ken dan Riot. Mereka berdua langsung berlari ke arah kami dan mulai memegangi Elly. Begitu juga dengan Vani yang terus membisikkan kalimat yang menenangkan, meski Elly tentu tidak menghiraukannya.
"Tahanlah sebentar lagi ... sedikit lagi saja!" ucapku sambil menahan besi itu di luka Elly. Selama beberapa menit, mulai tercium bau daging yang terpanggang, aku mulai menjauhkan besinya ketika lukanya sudah tidak mengeluarkan darah lagi.
"Selesai ..." Aku mengusap keringat di dahiku, lalu menghela nafas lega.
TBC.
Jangan lupa like dan komennya ya! Biar makin semangat nulisnya:3