Ares: Never Grow Up

Ares: Never Grow Up
Civilian dan Ken!



..."Kalau begitu, satu nasihat untuk anda. Jangan percaya pada yang saat ini anda lihat."...


POV: Ares


Aku langsung membalikkan badanku dan menatap anak berambut kepang itu. Tapi saat aku menoleh ke arahnya, yang tersisa hanyalah semak belukar rimbun di depanku. Toko, bahkan anak tadi ikut lenyap seperti memang tidak pernah ada.


Kok sepertinya ini jadi horor lagi ya?


Aku langsung terbang dan melesat pergi dari tempat ini. Tujuanku adalah kembali ke rumah sakit, ke tempat dimana Vani dan Riot berada. Karena Ken bilang dia ada kencan, jadi aku tidak ingin menganggunya.


***


POV: Ken


Aku berjalan dengan langkah yang penuh semangat, rasanya hatiku sangat berdebar sekarang, membayangkan akhirnya aku bisa bertemu dengan anak perempuan itu. Langkah kakiku terhenti saat menatap gedung tinggi di depanku, syukurlah karena tempat ini sepi, jadi tidak banyak orang yang berlalu lalang.


Cklek.


Aku melangkahkan kakiku masuk sambil membuka pintu kaca. Seorang anak perempuan langsung menyambutku di depan pintu.


"Maaf, ada keperluan apa?" tanyanya dengan ramah. Sepertinya dia adalah resepsionis di sini. Aku membenarkan kaos hijauku yang sedikit kebesaran dan menata rambutku.


"Bisakah aku bertemu dengan ... ekhem, Nona Civilian?" tanyaku sambil melihat ke arah lain, anak perempuan itu mengangguk lalu segera menekan sebuah tombol.


"Tunggu sebentar ya, silakan anda duduk dulu di sana," ucapnya sambil mengarahkanku ke deretan bangku yang kosong. Aku mengangguk pelan dan berjalan untuk duduk. Perempuan tadi terlihat sedang mengobrol di telepon, dan kembali fokus ke arah pintu.


Beberapa menit berlalu, tak lama kemudian, pintu lift terbuka, menampakkan sosok cantik dari balik papan kokoh. Dia adalah Civilian, sosok yang sedari tadi menarik perhatianku.


Rambut coklat sebahu yang rapi, mata coklat indah yang terlihat datar dan dingin. Serta ekspresinya yang selalu kaku, aku juga tidak paham kenapa aku begitu terpesona olehnya. Matanya langsung menatapku begitu keluar dari lift.


"Ada apa?" tanyanya dengan melangkahkan kaki ke arahku, aku segera berdiri dan memasang wajah datar, sebisa mungkin aku menjaga ekspresi cool milikku ini.


"Tidak apa-apa, aku hanya ingin memberikan ini padamu," ucapku sambil memberikan sebuket bunga untuknya.


Prak.


Mata kami berdua langsung menatap ke arah resepsionis yang tak sengaja menjatuhkan ponselnya saat menatap kami. Dia terlihat gelagapan dan berusaha untuk tidak bertatapan mata denganku.


"Untuk ... ku?" tanya Civilian dengan nada tidak percaya. Aku mengangguk dengan pelan, walaupun pada akhirnya sama saja poniku jatuh dan menutupi mataku.


Aku sangat malu untuk menatap matanya, sial.


Tep.


"Aku akan menerimanya, terimakasih. Kalau begitu, aku pergi dulu." Civilian langsung mengambil buket bunga dari tanganku dan berjalan cepat ke arah lift. Aku yang terlalu kaget, jadi tak sempat merespon perkataannya.


"Loh ... ini serius ... ditinggal begitu saja?" ucapku tak percaya.


***


POV: Riot


"Hoaaam..." Aku menguap sambil mengusap air mataku yang keluar. Rasanya aku bosan setengah mati ada di ruangan ini. Vani sudah tidur nyenyak, jadi aku tidak punya teman bicara.


Aku juga tidak punya ponsel, lalu aku harus ngapain?! Duduk berjam-jam sendirian di ranjang membuatku tergoda untuk tidur! Ares dan Ken juga tadi mau kemana sih? Mereka tidak kunjung kembali.


Awas saja, aku harap perjalanan mereka tidak lancar!


BRAK!


"ASTAGA!" Aku terlonjak kaget hingga jatuh dari ranjang, bahkan Vani juga sampai ikut terbangun. Mataku langsung menatap ke arah jendela.


...


"Kukira ini tidak ada kacanya, jadi aku terbang dengan cepat. Malah jendelanya kau tutup!" ucap Ares geram sambil berusaha membuka jendela. Aku berjalan sambil menekan perutku, rasanya sangat sakit karena aku berusaha menahan tawaku.


Cklek.


"Aduh ... akhirnya ... tadi kau kemana memangnya?" tanyaku sambil bernafas lega. Ares mengusap dahinya beberapa kali, dia terlihat meringis setiap kali dia mengusapnya sendiri.


"Ada deh, aku malas menjelaskannya," ucap Ares pasrah lalu segera berbaring di ranjang lainnya. Selang beberapa menit, sekarang Ken yang datang dengan ekspresi murung.


BRAK!


"ADUH! INI NGAPAIN ADA PINTU SI SINI?!" bentak Ken dengan kesal pada pintu di depannya. Aku dan Vani langsung melongo saat melihat Ken marah pada pintu. Sedangkan Ares terlihat biasa saja dan malah berlari menghampirinya.


"Ken ... dahiku sakit, sembuhin dong," ucap Ares dengan manja. Ken berdecak kesal tapi tetap menyembuhkan dahi Ares yang tadi benjol. Dengan langkah kesal, Ken segera duduk di ranjang yang tadi kutempati lalu menarik nafas panjang.


"Bagaimana? Gagal?" tanya Ares penasaran. Aku dan Vani hanya bisa jadi penonton di sini, karena kami sama sekali tak paham apapun.


"Aku tidak tau ini gagal atau tidak, tapi reaksinya tidak seperti yang kupikirkan, tapi juga tidak seburuk yang aku bayangkan," gumam Ken dengan nada kebingungan. Ares menutup matanya sambil mengangguk kepala. Dia lalu segera berjalan ke arah Ken dan menepuk pundaknya beberapa kali.


"Tidak ada yang sempurna di percobaan pertama, lain kali pasti lebih baik lagi," hibur Ares sambil beberapa kali menepuk pucuk kepala Ken dengan lembut. Ken terlihat menikmati pucuk kepalanya yang di tepuk oleh Ares.


"HEI! AKU JUGA MAU!"


"AKU MAU JUGA!"


Aku dan Vani berucap bersamaan. Ares langsung menatap kami dengan tatapan mata yang terkejut, sedangkan Ken hanya tertawa kecil saat mendengar kami.


"Iri ya?" ejek Ken sambil menjulurkan lidahnya, aku dan Vani jadi ikut kesal saat melihatnya.


"Sudah-sudah ... jika kalian mau juga, itu tidak masalah," ucap Ares berusaha menenangkan. Ares lalu berjalan ke arahku dan Vani dan mulai mengusap kepala kami.


Ahh, rasanya sangat enak. Mungkin ini perasaan anak 12 tahun? Entah kenapa, aku suka diperlakukan seperti ini. Sepertinya Vani juga menikmatinya.


"Sudah! Kalian harus keramas setelah ini, bau rambut kalian tidak enak," ucap Ares sambil mengelap tangannya.


JDER!


Aku, Vani, dan Ken langsung shock setelah mendengar perkataan Ares.


***


POV: Author


"Hahaha, dia memberimu bunga? Ciee~," goda Boni ke arah buket bunga di meja kerja Civilian. Anak perempuan itu hanya menghela nafasnya dengan pelan, lalu mengambil buket bunganya.


Brak.


Civilian langsung membuang buket bunga itu ke tong sampah di samping mejanya, mata coklat datarnya tidak pernah berubah.


"Ckckck, kau masih saja berhati dingin," ucap Boni sambil berdecak pelan. Civilian hanya melirik ke arah bosnya, lalu kembali duduk di kursi kerjanya. Matanya kembali fokus pada beberapa lembar kertas dan mulai menatanya.


..."Oiya, bukankah besok bos ada pertemuan dengan 'mereka'?"...


TBC.


Jangan lupa likenya ya guys!