
POV: Ares
Samar-samar, kadang aku teringat saat aku masih berusia 5 tahun. Ingatan tentang kenangan yang tidak menyenangkan itu, datang tanpa diundang dan menyebabkan pikiranku kacau.
10 tahun ... 10 tahun lamanya, aku berusaha keluar dari rumah itu. Dan sekarang ... aku merasa seperti sampah karena bahagia di saat semua orang menderita.
"... res!"
"Ares!"
Deg deg.
Aku tersadar dari lamunanku, menatap Vani yang sedang melihatku dengan khawatir. Rambut merah palsunya terlihat acak-acakan, bahkan dia sangat berkeringat.
"Maaf ... kau tadi bilang apa?" tanyaku dengan nada canggung.
"Dasar ... aku kaget karena kau tiba-tiba seperti orang yang kerasukan. Aku tadi bertanya, setelah ini ... apa yang akan kita lakukan?" Vani bertanya sambil berusaha melepaskan lensa mata yang sedang dia gunakan. Aku masih diam, lalu menatap ke arah jendela yang menandakan sebentar lagi masuk malam hari.
"Kita tunggu Riot dan Elly terlebih dahulu," jawabku dengan nada yang datar. Tak lama kemudian, Elly datang dan masuk melalui pintu, sedangkan Riot datang dengan berteleportasi langsung ke dalam rumah.
"Apa aku terlambat?" tanya sambil melihat ke kiri dan kanan, aku dan Vani menggelengkan kepala, lalu segera memberi isyarat pada Riot untuk duduk.
"Ken sudah menghirup gas pelumpuhnya cukup banyak, mungkin kita punya waktu sekitar 5 hari," ucap Elly mengawali diskusi petang ini.
Mendengar perkataan Elly, aku menggelengkan kepala lalu berkata, "Tidak, tidak sampai 5 hari. Mungkin Ken akan sadar 4 setengah hari kemudian, kita anggap saja 4 hari untuk persiapan, dan setengah hari untuk pelaksanaan." Aku berdiri, lalu berjalan ke arah lemari kayu yang tinggi. Tanganku mulai membuka kunci lemari itu dan mengeluarkan sebuah karung besar.
"Apa itu?" tanya Riot.
"Granat," jawabku santai.
"APA?! UNTUK APA KAU MEMBUAT GRANAT SEBANYAK ITU?!" tanya Vani sambil memegang kepalanya panik. Aku tertawa kecil lalu memasukkan kembali granat itu ke dalam lemari.
"Karena kita akan butuh banyak granat nantinya, jadi aku harus melakukan persiapan dengan membuat granat sebanyak yang kubisa," ucapku sambil berjalan ke tengah-tengah Riot dan Elly.
"Lalu untuk tugas kalian selanjutnya ... Elly, cari Safa, dan pancing dia ke tempat ini, kita ajak dia bekerja sama dengan kita," ucapku yang dibalas anggukan oleh Elly. Tapi berbeda dengan Riot dan Vani, mereka mematung dengan mulut yang terbuka.
"A-apa?! Kau mau bekerja sama dengan perempuan gila itu?!" teriak Riot tidak terima.
"Dia tidak gila! Mungkin otaknya saja yang sedikit miring!" ucap Elly yang entah dia membela atau memaki Safa.
"Miring apa bedanya dengan gila?!" tanya Riot dengan agak keras.
"Beda! Miring itu sedikit gila! Tapi kalau gila itu tidak punya otak!" ucap Elly lagi yang masih bertengkar dengan Riot. Aku dan Vani hanya menatap mereka berdua dengan tatapan datar lalu dengan santai memisahkan mereka.
"Lalu untuk Riot, tugasmu adalah ... mencari tau kekuatan Thea. Dalam waktu 3 hari, kau harus memberi tau kami kemampuannya," ucapku sambil menatap Riot. Anak dengan mata biru langit itu berkedip beberapa kali, lalu dengan cepat dia melemparkan bantal ke arah wajahku yang entah dia dapat dari mana.
BUGH!
"3 HARI ITU TERLALU SEDIKIT! BAGAIMANA JIKA THEA TIDAK MENGGUNAKAN KEKUATANNYA SAMA SEKALI?!" tanya Riot sambil berteriak ke arahku, aku segera menyingkirkan bantal yang masih menempel di wajahku, lalu menatap Riot dengan kesal.
"Dia pasti akan menggunakannya. Karena ini sudah dekat dengan persiapan untuk hari pembantaian, jadi kau harus memastikan apa kekuatannya itu!" ucapku dengan sedikit sambil berusaha untuk melempar kembali bantal ini ke Riot.
WUSH!
Astaga, sabar Ares sabar ... tidak boleh terpancing oleh anak kecil ...
...
TAPI UMURKU SEKARANG JUGA 12 TAHUN!
Aku hendak berdiri dan menjitak kepala Riot, tapi Vani mencegahku dan menatapku dengan tajam. Tatapan matanya seolah berkata 'duduk dan lanjutkan apa yang kau mulai'.
"Oh dan untuk Vani, aku ingin kau bersosialisasi dengan beberapa anak yang ada di kota ini. Bawa anak yang ingin memberontak ke tempat aman, sedangkan sisanya biarkan saja ... dan juga ... lebih baik jika kita tau kelemahan Boni serta rekan-rekannya," ucapku kepada Vani yang mendengarkan dengan diam.
"Sudah selesai bukan? Kalau begitu, aku akan langsung pergi untuk mulai mencari Safa." Elly berdiri dan mengambil jaket orang dewasa yang berada di dalam lemari.
"Dua hari, dalam dua hari aku akan membawanya ke sini," ucap Elly dengan senyum percaya diri. Setelah itu, dia langsung pergi lewat jendela, terbang menembus dinginnya angin malam.
"Aku juga. Sepertinya malam hari adalah waktu yang pas bagiku ... dan Thea untuk beraksi. Sebisa mungkin, aku akan memberitau kalian dalam 3 hari ini, sampai jumpa." Riot juga langsung berdiri dan membawa satu hoodie orang dewasa yang berwarna abu-abu lalu berteleportasi entah ke mana.
Fuut.
Di ruangan ini, tinggal aku dan Vani. Entah perasaan canggung apa ini, tapi beberapa hari ini aku merasa bahwa Vani jadi lebih pendiam dari biasanya. Perubahan sikap Ken pasti membawa pengaruh besar untuk mentalnya saat ini.
"Vani, aku-," ucapanku terpotong saat melihat Vani yang sudah memakai wig lain yang berwarna pirang.
"Tunggu, kau mau kemana?" tanyaku bingung.
"Mencari informasi," jawabnya cuek dan lanjut memakai lensa mata berwarna hijau.
"Bukankah itu bisa dilakukan besok pagi?" tanyaku lagi.
"Kita tidak bisa membuang waktu, lebih banyak informasi yang di dapatkan akan lebih baik. Bukankah biasanya para pemberontak juga suka keluar saat malam hari?" ucap Vani sambil melihat-lihat ke dalam isi lemari. Aku sedikit sedih karena terlihat seperti berusaha menjauhiku, tapi memancing emosinya di sini akan memperburuk keadaan, jadi aku lebih memilih untuk diam dan mendengarkan.
Srak srak!
Vani masih melihat-lihat lemari berkali-kali, dia terlihat mencari sesuatu.
"Kau ... sedang apa?" tanyaku.
"Jaket! Atau apapun yang bisa menjadi penghangat! Jubah panjang lebih baik! Tapi kenapa tidak ada apapun lagi di dalam lemari ini?!" ucap Vani dengan nada kesal, dia bahkan melemparkan pakaian-pakaian lainnya keluar dari lemari.
Cring!
"Nih, jubah hitam," ucapku sambil menawarkan satu buah jubah hitam yang telah kubuat. Untungnya aku masih memiliki sisa chast yang kosong untuk membuat jubah ini, sepertinya aku mengambil keputusan yang benar dengan tidak menghabiskan seluruh chastku untuk membuat granat.
"Terima ... kasih ... aku pergi dulu, sampai jumpa," ucap Vani yang mengambil jubah di tanganku ragu-ragu. Setelah itu, dia keluar lewat pintu, berjalan seorang diri membelah jalanan malam yang sepi.
...
"VANII! INI BAJUNYA KENAPA BERANTAKAN SEMUAA?!!"
TBC.
Jangan lupa like dan komennya ya guys!