
Yang kuatlah yang berkuasa.
"Hal itu ... kita putuskan setelah mendengar cerita Rafleo saja."
POV: Ares
Tak lama kemudian, Rafleo muncul bersama dengan Endo yang dia gendong di punggungnya. Mata merah Endo menatap kami satu persatu, lalu dia tersenyum ramah.
"Maaf sudah membuat kalian menunggu. Aku sudah tau kira-kira apa yang akan kalian tanyakan. Tentang siapa orang yang sedang berkuasa di kota ini bukan?" Endo menebak pertanyaan kami. Tapi kami hanya diam tidak menjawab. Setelah itu Rafleo membawa Endo untuk duduk, dan dia duduk di samping Endo.
"Um jadi ... sepertinya lebih baik aku menceritakan tentang sebelum orang yang berkuasa di sini hadir." Rafleo menatap kami dengan ragu. Tapi dia tetap melanjutkan ceritanya.
"Kota ini bernama Kota Tabu. Nama yang unik bukan? Sama seperti para penduduknya. Dulu sebelum diterpa oleh gas aneh itu, Kota Tabu tetaplah kota sampah yang hanya diisi oleh para kriminal saja.
Perbudakan, pelelangan ilegal, perdagangan manusia, pasar gelap, judi, obat-obatan terlarang. Ada begitu banyak hal yang dari awal memang kotor di kota ini. Tapi ... seandainya kalian tau, saat pertama dibentuk, kota ini bukanlah tempat yang sekotor ini.
Dulu kota ini adalah salah satu kota yang paling indah dan kota dengan penduduk paling ramah serta baik hati. Hal ini terjaga selama beberapa generasi dan saat semuanya sudah semakin baik, terjadi sebuah insiden yang meruntuhkan nama baik kota ini.
Yaitu munculnya sekelompok mafia yang mulai menginvasi tiap daerah di kota. Mereka adalah awal mula segala keburukan terjadi di kota ini. Dulu saat pertama kali muncul, mereka hanyalah kelompok kecil yang menghasut orang-orang untuk berbuat buruk, namun lama kelamaan, para penduduk yang terhasut semakin banyak dan membuat kota terpecah jadi dua pihak.
Tentu jika dibandingkan dengan mafia yang sudah akrab dengan yang namanya berkelahi, mereka akan jadi kuat karena sudah terbiasa, tapi bagaimana dengan penduduk yang hidup dengan tenang?
Mereka tidak akan bisa melawan kekejian para mafia itu. Satu persatu, dan sangat cepat, kelompok mafia itu mulai menjadi semakin luas dan akhirnya berhasil menginvasi seluruh kota. Puncak invasi ini adalah ketika ... pemimpin mafia itu menebas leher walikota yang asli. Dia mengambil alih tahta tertinggi di kota ini.
Dan sejak saat itu, aturan baru telah ada.
[Jadilah kuat jika kau tidak ingin diinjak, lakukanlah apapun untuk hidup, termasuk memakan bangkai sekalipun.]
Setelah itu kota ini berubah 180 derajat. Tindak kriminal mulai tersebar luas hingga ke pelosok kota, bahkan kepolisian dunia juga tidak sanggup untuk menangani kota ini. Akhirnya sebagai pencegahan serta keputusan final yang diambil, maka kota ini diisolasi dari dunia luar.
Itulah alasan ada dinding dan rongsokan tadi, dan juga alasan kisah tentang walikota yang terpotong lehernya tidak pernah sampai ke kalian. Saat ini, kota juga masih terbaik menjadi 2 kelompok.
Kelompok pertama adalah pengikut keturunan mafia itu dengan presentase pengikutnya adalah 98%, dan pengikut keturunan sang walikota adalah 2%. Ya ... aku tau jumlahnya memang kalah jauh.
Tapi harapan itu masih tetap ada, kami masih di sini, menunggu tiap kesempatan yang turun, dan menunggu setiap celah yang muncul untuk menerobos masuk.
Kini celah dan kesempatan itu muncul.
Dan itu adalah kalian."
Di akhir penjelasan Rafleo, dia menatap kami dengan tatapan yang dalam dan tidak bisa diartikan, seolah mereka menaruh harapan, tapi juga mereka ketakutan. Mata kuningnya itu membuatku merasakan perasaan yang familiar.
Tatapan mata orang yang sudah lelah berharap.
"Aku sudah sering merasakan gempa yang begitu hebat akhir-akhir ini. Bahkan kemarin aku melihat langit bagian Selatan bersinar sangat terang dan sepertinya angin berhembus kencang di sana. Kalian dari arah Selatan bukan?" Endo bertanya pada kami. Aku mengangguk kecil sambil mengingat-ingat kejadian di kota Ansorteri.
"Kalian meminta kami untuk membantu kalian?" Aku yang bertanya kali ini. Rafleo dan Endo saling memandang, lalu secara bersamaan menganggukkan kepala mereka.
"Ya, bantuan kalian akan jadi pertolongan yang sangat berharga," ucap Endo. Aku mengernyitkan keningku dan menatap Endo tajam.
Kasus kota ini berbeda dengan yang lainnya.
Tujuanku adalah menyelamatkan banyak nyawa, tapi jika aku harus melawan hampir seisi kota, bukankah artinya sama saja aku harus membunuh banyak nyawa?
Aku menggelengkan kepala lalu segera berdiri. "Maaf, tapi aku tidak bisa membantu kalian untuk mewujudkan tujuan kalian. Aku tidak mau melawan seisi kota, apalagi jika sampai harus mengambil nyawa mereka," ucapku sambil berdiri dan menatap Rafleo serius. Rafleo ikut berdiri, tatapan matanya kaget dan juga sedikit panik, tangannya terangkat ragu seolah ingin menyampaikan sesuatu.
"Kami sudah mempunyai rencana kami sendiri, tentu saja kami tidak berniat untuk membunuh semua orang yang tergabung di organisasi mafia itu!" Rafleo berbicara sambil sedikit meninggikan suara. Aku menatap dingin ke arahnya, seolah memandang rendah dirinya.
"Lalu?"
Rafleo menelan ludahnya pelan, dan mulai menjelaskan. "Kebanyakan orang yang tergabung di sana adalah orang yang dulunya terhasut karena rasa takut akan kekuatan yang besar. Karena itu, aku dan Endo sudah memikirkan dua pilihan rencana.
Yang pertama, kita langsung menunjukkan kekuatan kita dalam bentrokan, dan hal ini akan membuat anggota lainnya goyah. Tapi tentu saja hal ini mustahil dengan anggota kita yang sedikit.
Lalu pilihan ke dua ... adalah menjadi mata-mata. Menghancurkan mereka dari dalam, langsung ke pusatnya."
Rafleo berkata dengan serius, aku menatap matanya yang memiliki tekad kuat. Kemarahan dan bahkan kesedihan, rasa ingin balas dendam tergambar jelas di dalam sana.
"Mata-mata ya ... itu bukan ide yang buruk," ucap Ken yang ikut bergabung dalam percakapan. Riot dan Safa juga menganggukkan kepalanya, sedangkan Vani masih merenung sambil menatap lantai.
"Tapi ... siapa yang akan jadi mata-matanya?" tanya Vani sambil melirik ke arah Ken. Setelah itu kami semua terdiam, dan secara bersamaan menoleh ke arah Rafleo.
"Um ... bukankah kalian adalah pendatang baru di sini? Kalian yang paling cocok jadi mata-mata!" jelas Rafleo sambil tersenyum kaku. Aku menepuk dahiku cukup keras dan menghela nafas.
"Masalahnya, kami sudah terlanjur membuat masalah. Aku yakin mereka juga sudah mengenali wajah kami," ucapku dengan tatapan pasrah. Rafleo langsung shock dan hanya menatap kami dengan tatapan terkejut.
Kami semua terdiam lagi, tidak ada satupun yang berbicara karena semuanya bingung siapa yang harus jadi mata-mata.
"Um ... sebenernya ... aku punya rencana untuk ini ..."
TBC.
Jangan lupa likenya ya guys!