Ares: Never Grow Up

Ares: Never Grow Up
Trauma.



"Baiklah, aku tidur dulu. Kalau ada apa-apa segera beritahu aku ya?".


POV: Riot


Jadilah aku sendiri yang masih terjaga di sini. Yah, ini juga tidak buruk. Lagipula aku juga selalu mimpi buruk akhir-akhir ini. Dan aku juga merindukan kotaku, padahal baru sebentar aku pergi dari sana.


Tapi aku juga tidak punya pilihan lain kecuali ikut mereka, orangtuaku sudah menitipkanku pada anak-anak ini. Dan mereka juga memintaku untuk menjaganya. Aku percaya, pasti ada alasan dibaliknya.


Karena ayahku, adalah orang yang penuh pertimbangan, tidak mungkin dia memintaku melakukan sesuatu tanpa ada rahasia dibalik hal ini. Dan ibuku adalah orang yang punya firasat yang kuat, kecuali saat dia bertemu Ron.


Karena rasa putus asa mereka, akhirnya mereka hanya berpasrah diri saja dan merelakan semuanya pada Ron. Tapi kasian juga Ares, sedari tadi dia tidak tidur dan malah berjaga.


Kalau diingat-ingat, sebenarnya yang paling berusaha keras di sini adalah Ares. Persiapan, pelaksanaan, bahkan orang yang berperan sebagai tulang punggung tim ini adalah dia.


BRAK!


Aku tersentak saat mendengar suara benda yang jatuh. Mataku langsung menatap ke arah rak gelap di ujung ruangan. Jantungku tidak berhenti berdetak kencang, menyamakan ritme rasa takut yang bergejolak.


"Ri ... ot, kenapa ... kau meninggalkan kami?" Suara itu menjadi semakin jelas. Menjadi wujud orang yang paling aku takuti.


Dia adalah teman sekolahku, yang dulu kutinggal untuk lari. Dengan tubuh yang sudah tidak karuan, dia berjalan sambil menyeret kakinya, mendekat ke arahku.


"Hah ... hah ... hah." Aku mulai kesulitan bernafas, rasanya paru-paruku tersumbat. Bahkan aku tidak mampu untuk bergerak, padahal aku sangat ingin untuk pergi dari sini.


"Ri ... ot," panggilnya lagi dengan suara mengerikan itu. Aku mulai meneteskan air mata, nafasku jadi lebih tidak teratur lagi. Dalam beberapa sentimeter dia akan menyentuhku.


PLAK!


Aku merasakan pipiku perih dan panas. Saat aku menoleh ke ara siapa yang menamparku, dia adalah Vani. Karena memang Vani yang tidur di sampingku. Wajahnya menatapku dengan khawatir, bibir pucatnya itu terlihat bingung kenapa aku menangis.


Aku langsung menoleh ke arah rak hitam itu sekali lagi, tapi bayangan temanku sudah menghilang. Aku langsung menangis kencang dan memeluk Vani.


Greb!


"Hiks hiks! Vani ... dia tadi ada, dia marah padaku!" isak tangisku sambil memeluknya. Vani hanya diam, dia mengelus punggungku dengan lembut.


"Jangan terlalu erat ... punggungku masih sakit," ucapnya lemas. Aku langsung tersadar dan melepaskan pelukanku, bisa-bisanya aku malah memeluk lukanya?!


"Siapa yang datang?" tanya Vani dengan suara yang pelan. Mungkin agar tidak membangunkan Ares serta Ken yang tertidur pulas. Aku menarik nafas dalam-dalam lalu memantapkan hati.


Sebelum bercerita ke Vani, aku melirik ke rak buku tadi.


Dan jajan yang jatuh itu ada. Berarti yang tadi itu bukan halusinasiku.


Aku mulai menceritakan tentang trauma yang selama ini menghantuiku, daripada terpukul oleh kematian orangtuaku karena Ron. Aku lebih takut pada temanku yang meninggal tanpa tahu apapun.


"Ssssst, tenanglah. Kami ada di sini, mereka tidak akan bisa menyentuhmu," ucap Vani sambil menarik kepalaku untuk mendekat ke arah pundaknya. Dia mengusap kepalaku dengan sangat lembut dan pelan, seperti ibuku membelaiku dulu.


Aku mulai tenang, beberapa saat setelah Vani terus melakukan hal ini. Akhirnya aku segera menjauhkan diriku dari Vani, dan tersenyum padanya.


"Terimakasih, tidurlah lagi. Kau harus banyak istirahat, aku akan kembali berjaga," ucapku dengan nada yang sedikit takut. Vani menatapku dengan curiga, wajah pucatnya tetap tidak bisa menyembunyikan ekspresi khawatir itu.


"Apa kau yakin?" tanya Vani sambil memicingkan mata. Aku mengangguk dengan cepat sambil memberikan jempol kananku padanya.


"Segera bangunkan kami jika terjadi sesuatu lagi. Jangan takut, bahkan jika musuhmu bukan manusia lagi, kami akan tetap membantumu," jelas Vani lalu dia segera berbaring. Saat dia mulai menutup matanya, mataku hanya terpaku pada tubuh kecil rapuh miliknya. Begitu juga saat aku melihat Ken dan Ares, tubuh 12 tahun mereka terlihat kurus tapi terasa besar bagiku.


Entah apa yang mereka lalui semasa kecil, hingga tubuhnya kurus seperti ini. Aku menutup mataku pelan, lalu kembali fokus untuk berjaga.


"Kali ini, aku tidak akan hilang kendali," ucapku yakin. Aku mulai berjaga dan diam, tapi ternyata makhluk itu tidak kembali lagi. Hingga akhirnya pagi terbit, dan kini aku yang mengantuk sampai ingin mati rasanya.


***


POV: Ares


Aku mendengarnya.


Aku mendengar semuanya. Ternyata itu yang selama ini Riot sembunyikan? Karena sejak tadi aku juga tidak tidur.


Dan jujur ... aku juga melihat apa yang dilihat oleh Riot. Aku hendak segera membantunya, tapi Vani bertindak lebih cepat. Dan saat itu, hantu itu lenyap tiba-tiba, seperti tenggelam ke dalam tanah.


Tapi aku yakin itu bukan hantu. Hah, entahlah ... lebih baik aku masih harus berjaga-jaga lagi.


***


Pagi telah tiba, aku bangun dengan mata merah dan lelah, bagusnya ini tidak meninggalkan lingkaran hitam di bawah area mata. Karena jika sampai iya, maka akan sulit untuk menutupinya.


Cring.


Mataku langsung tertuju ke arah Ken yang sedang melakukan penyembuhan mandiri. Sepertinya dia menyembuhkan luka akibat jatuh dari gedung waktu itu. Dan pengobatannya dilakukan secara bertahap ternyata, mungkin ini agar Ken bisa berbagi sisa chastnya untuk mengobati orang lain.


"Oh, pagi Ares!" sapa Ken dengan senyum cerahnya. Syukurlah dia sudah sehat. Ken segera berdiri dan berlari ke arahku.


"Pagi juga," jawabku dengan nada yang lemas tanpa sengaja. Ken langsung mengernyitkan keningnya, dan menatapku bingung.


"Kenapa kau lemas lunglai tidak berguna begini?" tanya Ken dengan ekspresi menyelidik.


"Aku tidak bisa tidur dengan baik," ucapku sambil menggaruk leherku yang tidak gatal. Ken langsung menatapku dengan marah, dia menarik kerah bajuku dan membaringkanku di karpet.


"Tidurlah lagi, kita masih punya waktu sampai nanti siang," ucap Ken serius. Aku malah yang bingung sekarang, kata Riot perjalanannya masih lama, kalau kita tidak berangkat sejak pagi, maka akan semakin lama untuk sampai di kota selanjutnya.


"Kita harus segera berangkat bukan?" tanyaku bingung. Ken hanya tersenyum sambil menggelengkan kepalanya.


"Tidak, kita tidak perlu tergesa-gesa. Kita sudah bisa pakai mobil," ucap Ken sambil menunjukkan otot lengannya. Aku langsung sadar apa yang dia maksud, ternyata dia sudah sembuh total dan bisa menyetir.


"Baiklah! Aku tidur dulu ya!" ucapku antusias, aku langsung berbaring dan tidur. Bisa kudengar langkah kaki Ken yang menjauhi diriku.


"Permisi Van, aku akan mengobatimu dulu," ucap Ken pelan. Meskipun begitu aku tetap bisa mendengarnya. Rupanya Ken mengobati Vani diam-diam, walaupun luka dari infik tidak bisa sembuh, mungkin Ken hanya ingin Vani agar tidak kehilangan stamina terlalu banyak.


Ya sudahlah, aku harus tidur dulu.


TBC.


Jangan lupa likenya ya guys!