Ares: Never Grow Up

Ares: Never Grow Up
Akhir



"Nah bagus! Kita siap!"


POV: Author


Hari yang gelap sudah tiba, sang mentari kini telah hilang ditelan oleh Bumi. Di dalam hutan yang begitu gelap ini, gemerlap cahaya yang disusun lurus seolah memberi petunjuk untuk bisa dilewati.


Para warga yang tiba-tiba disuruh datang kemari oleh Riot dan Ken merasa aneh, tapi mereka tidak menolak permintaan Riot karena Riot adalah salah satu orang yang berjuang bersama dengan mereka.


Saat sudah semakin dekat dengan lokasi pesta, seluruh warga dikejutkan dengan keindahan tempat yang didesain oleh Ares, Safa dan Vani kali ini.


"Woah ... ini ... sungguhan?" Bibi Aster melihat-lihat ke kiri dan kanan. Ada begitu banyak kunang-kuang di sini, mereka sangat banyak dan indah, bagaikan bintang yang ikut melayang bersama para warga.


Srrrekkk.


Ares turun dari atas pohon dengan berseluncur lalu berdiri di depan para warga.


"Terimakasih sudah datang di pesta sederhana yang kami siapkan kali ini! Eh, maksud saya- acara yang Safa siapkan kali ini! Kami hanya berperan sebagai orang yang membantu saja.


Karena hari ini adalah pesta, saya harap kalian semua bisa menikmati hari ini apapun yang terjadi. Dan ini juga sebagai bentuk perpisahan dari saya dan rekan saya, karena kami harus segera meninggalkan Kota Ansorteri.


Meskipun begitu, kini saya tidak akan merasa menyesal walaupun harus meninggalkan kalian secepat ini, karena saya tahu bahwa kalian itu kuat! Bersama-sama kalian tidak terkalahkan!


Bangunlah kembali kota ini seperti sedia kala! Tidak, lebih bagus daripada dulu! Saya sudah menyiapkan bahan cadangan yang saya titipkan pada Bibi Aster, dan tinggal kalian mengolahnya saja bagaimana.


Sekali lagi, saya dan rekan saya minta maaf atas kekurangan kami selama ini. Kami pamit undur diri." Ares menundukkan wajahnya, lalu segera berjalan pergi dari hadapan para warga.


"Tidak! Terimakasih karena kau sudah membantu kami merebut kembali Kota Ansorteri!"


"Terimakasih karena kau sudah mempertaruhkan nyawa bersama kami!"


"Kalian tidak akan pernah kami lupakan! Tidak akan pernah!"


"Dalam buku sejarah yang selanjutnya! Akan kupastikan nama kalian ada di sana!"


Ares tersenyum simpul mendengar sorak-sorak dari para warga. Saat Ares hendak pergi, matanya melihat Riot dan Ken yang menunggu di dalam kegelapan.


"Jika para warga di kotaku masih hidup, aku yakin mereka juga akan mengucapkan hal yang serupa." Riot berbicara sambil memeluk Ares di pundaknya. Ares membalas pelukan Riot dan kemudian mengusap punggungnya.


"Apa kita akan pergi hari ini?" tanya Ken tiba-tiba.


"Um yah, kita akan pergi sekarang." Vani tiba-tiba datang dan menyusup masuk ke dalam pembicaraan. Aku dan Ken saling bertatapan lalu mengangguk. Kami memutuskan untuk meninggalkan pesta yang ramai ini, dan mulai mengemasi barang-barang di rumah nanti.


"Tunggu! Ada satu hal lagi yang ingin kusampaikan pada kalian semua!"


Suara Safa yang lantang menarik perhatian semua orang di pesta ini. Aku menatap ke arah Safa, dan anak itu juga kini menatapku.


"Aku ... sudah memutuskan akan ikut bersama dengan mereka! Aku tau kalian mempercayakan padaku tentang segala hal di kota ini! Tapi, aku merasa bahwa aku tidak cocok sebagai pemimpin! Aku tidak cocok duduk di kursi dan dokumen di atas meja! Aku benar-benar minta maaf, tapi aku yakin bahwa aku ingin ikut Ares!" Semua orang yang ada di sana terdiam, lalu bergantian menatap Safa dan Ares.


***


POV: Ares


Pandangan mereka jelas awalnya kebingungan, tapi Bibi Aster segera mencairkan suasana dengan berhadapan langsung dengan Safa.


"Lakukanlah yang kau mau. Kami juga tidak bisa menahan burung dengan sayap yang sehat. Kota ini pasti menyakitkan bagimu bukan? Pergilah ke tempat kau akan terbang bebas.


Pergilah ke tempat dimana kau bisa berekspresi dengan leluasa. Tempat yang bisa membuatmu merasakan apa itu rumah. Tempat yang membuat bisa menghirup udara tanpa beban.


Kau cocok dengan mereka, Safa. Seorang pahlawan akan menemukan pahlawan lain untuk berjuang bersama, sebuah pedang yang tajam akan menemukan perisai yang kuat untuk melengkapinya.


Takdirmu lebih besar dari yang terlihat.


"Terimakasih, Bibi."


***


POV: Author


Safa dan Ares, beserta Ken, Vani, serta Riot. Meninggalkan lokasi pesta dan berjalan lurus menembus hutan. Ada sebuah penyesalan yang memang tidak mungkin untuk dibalaskan.


Dan ada sebuah harapan yang selamanya tidak bisa diungkapkan. Jalan takdir itu lebih sempit dari jalan setapak, dan lebih luas dari lautan di dunia. Tidak akan ada petunjuk arah di setiap langkahmu.


Tapi akan ada hati yang selalu membimbingmu. Hari-hari dimana manusia bisa mati kapan saja, hari-hari dimana kekuatan adalah segalanya.


Mentari yang masih diam dan bergerak di porosnya, serta Bumi yang mulai menyembuhkan diri dari lelahnya beban yang menginjaknya.


Sebuah lembaran baru kini dimulai, perjalanan yang harus ditempuh masih sangat jauh.


***


Sejak dulu maupun sekarang, aku tidak pernah menyesal tentang apa yang kulakukan. Aku hanya begitu bahagia saat mengetahui bahwa kini, aku tidak sendirian lagi.


_Ares.


***


Ini adalah rumah tanpa rumah bagiku, sebuah keluarga tanpa hubungan darah yang begitu menyenangkan. Keringat maupun nyawa, air mata dan canda tawa. Aku ingin merasakan hal ini lebih lama lagi!


_Riot Valvera.


***


Sejak dulu aku adalah orang yang tidak tegas, aku hanya berpura-pura kuat di depan temanku agar aku bisa dipercaya. Tapi kini ... aku ingin benar-benar menjadi orang yang tegas!


_Kenki Emora.


***


Berkat seseorang, kini aku tau bahwa menangis bukanlah selalu hal yang buruk, bersifat manja bukanlah selalu hal yang buruk. Jika dunia bisa menjadi normal lagi ... aku ingin jadi orang pertama yang menggenggam tanganmu saat itu!


_Stevani Regan.


***


Orang yang begitu penuh kasih sayang dan perhitungan. Orang yang mengandalkan logika dan perasaan. Apakah ada orang selain dia yang punya kemampuan ini? Entahlah, begitu aku melihatnya aku sudah tau.


Bahwa dia adalah sosok pemimpin yang ideal.


_Safa Arnold.


***


Perjuangan di hari yang penentuan. Detik-detik tetes keringat serta nyawa yang hampir saja melayang.


Virus yang bermutasi dan akan segera menguat.


S1-tamat.


Mulai besok S2-dimulai.