Ares: Never Grow Up

Ares: Never Grow Up
Pelaksanaan Rencana!



POV: Ares


Sekarang kami sedang berkumpul di sebuah taman di bawah pohon besar. Tidak ada satupun yang membuka suara. Hingga perebutan ini dimulai.


"Ikan yang paling besar ini milikku!" Riot dengan cepat menyambar ikan panggang yang paling besar.


"Apa?! Tidak bisa!" Vani menarik paksa ikan di tangan Riot. Matanya menatap tajam ke arahnya.


"Tentu saja seorang perempuan yang harus mendapat-," ucapan Vani terpotong karena Ken tiba-tiba mengambil ikan di tangan Vani. Ken kemudian memberikan ikan itu padaku.


"Ares yang berhak mendapatkannya! Dia yang sudah menyediakan seluruh propertinya!" tegas Ken. Riot dan Vani langsung cemberut, tatapan mereka seolah tidak terima ikan itu diberikan padaku.


"Ey ey, kalau kalian mau ikannya ya sudah, kalian bisa mengambilnya kok?" ucapku sambil tersenyum. Tapi mereka menggelengkan kepala dan mengambil ikan lainnya. Akhirnya kami sarapan ikan bakar.


"Uh ... hiks ..."


"Hm?" Aku mendengar tangisan seseorang. Mataku melirik ke arah Riot yang sedang menangis dengan daging ikan di tepi mulutnya.


"A-APA?! KENAPA? KAU MAU IKAN? AKAN KUBERIKAN KOK? KENAPA KAU MENANGIS?!" tanyaku panik saat melihatnya menangis kesekian kalinya. Riot menggelengkan kepalanya, dia masih memakan ikan bakarnya sambil meneteskan air mata.


"Aku lupa ... kapan terakhir kali aku makan enak seperti ini ... biasanya aku harus berkeliling kota hanya untuk mencari roti yang belum berjamur," ucap Riot diselingi tangisan. Aku menelan ludahku dengan gugup, bingung apa yang harus kulakukan sekarang. Ken yang melihat reaksiku, segera menaruh ikan bakarnya lalu berjalan ke arah Riot.


Dia menarik kepala Riot dengan lembut untuk bersandar ke dadanya, sambil mengusap pucuk kepalanya pelan, tanpa berkata apa-apa.


"Jangan ... begini," gumam Riot pelan.


"Memangnya kenapa?" tanya Ken.


"Aku jadi seperti hewan peliharaan," ucap Riot terus terang.


"PFFT! HAHAHAHAHAHA!" Tanpa sengaja aku jadi tertawa lepas. Bahkan Vani juga tidak kuasa menahan tawa. Ken langsung terdiam setelah mendengar perkataan Riot.


"Hm," ucap Ken lalu mendorong Riot agar menjauh. Ken langsung kembali ke tempat duduknya dan melanjutkan makan ikan bakarnya.


"Ey jangan marah dong." Riot mendekat lalu duduk di samping Ken. Tapi Ken masih cuek, tidak menanggapi perkataan Riot.


"Menurutmu, apakah Ken benar-benar marah?" tanyaku berbisik pada Vani.


"Tentu tidak, Ken bukan orang yang ambil pusing tentang hal seperti ini," ucap Vani sambil menggelengkan kepalanya. Aku mengangguk paham.


Lalu, kenapa dia seperti ini pada Riot? Entahlah ... kadang aku tidak paham jalan pikiran Ken.


Sepertinya Ken bersikap seperti ini untuk membuka hati Riot?


"Baiklah! Karena sarapan sudah selesai, ayo kita bahas hal yang kita tunda!" ucapku serius. Ken dan Vani segera melihat ke arahku, begitu juga dengan Riot yang langsung menelan habis daging ikannya.


"Jadi ..." Aku terdiam beberapa saat.


"Katanya Vani punya rencana," ucapku sambil menunjuk Vani dengan wajah polos. Ken menepuk dahinya pelan, lalu langsung melihat ke arah Vani.


"Jadi, seperti apa rencanamu?" tanya Ken. Vani menarik nafasnya dalam. Lalu mulai menjelaskan.


***


POV: Author


Riot berdiri di tepat di depan lubang yang mengarah ke laboratorium milik Ron. Wajahnya terlihat gugup dengan keringat yang membasahi dagunya.


"WOYY RON! KELUAR KAU SIALAN!" teriak Riot menggema di lorong itu.


Tik.


Tidak ada balasan. Yang terdengar hanyalah suara tetesan air.


Tik.


Riot mengernyitkan keningnya, menatap dalam ke arah lubang di depannya. Tangan kanannya, menggenggam seutas tali kawat yang cukup panjang dengan granat yang mengitari kawat itu.


"Kalau kau tidak keluar, ucapkan selamat tinggal pada laboratoriummu!" Riot langsung melemparkan tapi kawat berserta semua granat yang menempel. Dia membuka salah satu penahan granatnya dan ikut melemparkannya masuk.


Riot segera menutup mata untuk menghindari ledakan dengan teleportasi.


DUAR!


Wilayah itu meledak, aspal-aspal terangkat hingga menjadi kepingan. Bahkan bangunan yang ada di atasnya ikut runtuh karena ledakan di bawah tanah. Riot berteleportasi cukup jauh, dia sekarang berdiri di atas sebuah papan iklan sambil membawa skateboard.


Mata biru lautnya terlihat berkilau dalam udara penuh asap itu. Sesuai dugaan Riot, para semut itu mulai merayap naik ke atas.


"GRAWL! HRAAH!"


"Satu ... dua ... mereka terus bermunculan hingga ratusan," ucap Riot. Dia segera melemparkan skateboardnya ke arah bawah dan mencoba menaikinya.


Klak!


Bunyi papan skateboard milik Riot bersentuhan dengan aspal. Riot berhenti sejenak, menunggu gerombolan itu memandang dirinya. Matanya menatap lurus tanpa keraguan, dia memikirkan perkataan dari Vani dan Ken.


"Mereka sudah tidak bisa diobati, karena mayat hidup sudah tidak punya nyawa," gumam Riot.


"GRAHH!"


Riot memacu skateboardnya, berlomba dengan gerombolan The Ants yang mengejarnya. Dia melewati jalan besar tanpa berkelok sedikitpun.


Cklek. DUAR!


Dari atas gedung, ada Ares yang memegang senapan dan menembaki beberapa kepala mereka, terutama yang berhasil sampai di dekat Riot.


"JANGAN BERHENTI RIOT! KAU AKAN SAMPAI SEBENTAR LAGI!" ucap Ares sambil lompat dari gedung ke gedung. Riot mengangguk paham, dia terus mendorong skateboardnya agar tidak tertangkap oleh mereka. Meskipun jantungnya sekarang berpacu dengan cepat, hingga nafasnya terasa sempit dan sesak. Tapi untuk kali ini, Riot ingin percaya pada teman barunya.


Dari ujung sebuah gang, terlihat cahaya berwarna hijau yang menguar. Pertanda ada Ken di sana. Riot menambah kecepatannya, tangan segera merogoh saku celananya untuk mengeluarkan sebuah kain.


Itu adalah kain tak kasat mata. Riot mulai menyelimuti dirinya dengan kain itu, tapi kakinya masih terus mendorong skateboard.


JDER! JDER!


Langit sudah penuh dengan awan hitam, mereka telah memasuki area untuk mengeksekusi rencananya. Ken dengan sigap keluar dari celah bangunan, dia berlari cepat menerjang ke arah gerombolan The Ants.


"Jangan ragu! Aku akan baik-baik saja!" ucap Ken saat melewati Riot. Ken menyerang gerombolan itu dengan ganas, berbekal pemukul besi di tangannya, dia menimpuk setiap kepala yang dia lihat tanpa ampun. Sementara dari atas gedung, Ares sudah menciptakan beberapa stungun dan sebuah alat aneh berbentuk kotak yang cukup besar.


Sedangkan Riot sekarang sudah ada di pinggir sebuah sungai besar, tempat mereka memancing tadi, matanya melirik ke arah Vani yang fokus pada kekuatannya.


DRASS!


Hujan turun dengan lebat, Riot segera berlari ke arah jembatan untuk menutup pembendungnya. Sambil menunggu bendungan penuh oleh hujan milik Vani, Riot kembali mendorong skateboardnya untuk membantu Ken.


"Ken!" Riot segera datang dan memukul salah satu kepala mereka dengan papan skateboard.


BUAK!


"Bunyinya nyaring sekali," ucap Ken sambil tersenyum miring. Nafasnya sudah tersengal-sengal, dadanya naik dan turun. Seluruh tubuhnya basah karena hujan dan darah.


"Masih perlu berapa menit?" tanya Ken tanpa menatap Riot.


"Mungkin masih 1 jam, jika hujannya lebih lebat lagi, mungkin sekitar 30 menit," jelas Riot. Ken mengangguk paham. Mereka maju secara serentak dan mulai berkelahi dengan The Ants.


Duang!


"... Aku lupa mereka punya kekuatan untuk menjadi kuat," ucap Ken saat melihat pemukul besinya malah penyok saat menahan tinjuan. Sedangkan Riot lebih fokus untuk menyerang lutut dan betis mereka.


"Tidak usah bertahan! Hancurkan saja kepalanya!"


DUAR! CRAT!


Ares tiba-tiba datang dan membawa shotgun, dia langsung mengarahkannya ke kepala gerombolan The Ants. Mata emasnya terlihat dingin dan mengerikan.


..."30 menit, tahan lagi 30 menit!" ...


TBC.


Jangan lupa likenya ya guys!