
"HAHAHAHAHAHHA! AYO! TUNJUKKAN PADAKU! RASA PERCAYA DIRI YANG MEMUAKKAN MILIK KALIAN ITU!"
POV: Author
"Ckckck~ kau tidak pernah berubah ya? Nak Boni." Bibi Aster berdecak pelan dengan ekspresi sedih. Bibi Aster lalu mulai bersiul, mengumpulkan seluruh warga kota agar mengelilingi Boni, seolah mereka mengepungnya.
"Hah! Apa kau pikir hal ini cukup? Bibi?" Boni bertanya dengan nada yang meremehkan.
"Mana mungkin kami memulai tanpa persiapan nona, para warga tidak sebodoh yang kau kira." Bibi Aster mulai mengangkat tangannya, dan mengayunkannya seolah sedang memotong sesuatu.
"Mulai!"
DRRKKKKKKK!
Tanah mulai berguncang, sebuah dinding raksasa dengan bentuk melingkar tumbuh ke atas. Dengan tornado Boni sebagai porosnya, benteng tanah itu mengurung agar Boni tidak bisa keluar.
Gadis bermata ungu itu kebingung dengan apa yang akan dilakukan oleh para warga, dia sama sekali tidak punya petunjuk.
"Kau tidak akan tau ... karena ini adalah rencana dadakan yang dibuat oleh warga kota ini, demi melindungi secercah harapan kecil.
Yang kami sebut dengan nama ...
Ares." Bibi Aster bergumam pelan.
"BENTENG TELAH SIAP!" Seluruh warga yang berpartisipasi membuat benteng, meneriakkan kata yang sama.
"Lanjutkan bagian ke-dua! BESI DAN TUMBUHAN!" Bibi Aster berteriak lagi. Warga kota yang mempunya kemampuan menumbuhkan tumbuhan serta mengendalikan besi, bersama-sama menggabungkan kekuatannya.
DUAR DUAR DUAR!
Tumbuhan dengan batang kayu yang luar biasa besarnya mulai tumbuh di dalam benteng. Tumbuhan besar itu melilit Boni, seolah hendak memangsanya hidup-hidup.
KRK! WHUSS! WHUS WHUS!
Selanjutnya besi-besi yang terkubur di dalam tanah mulai keluar. Bangkai mobil, proyek bangunan, dan bermacam-macam benda lain yang terbuat dari besi, terbang keluar dari tanah.
Whusss!
Seluruh besi itu terbang ke atas benteng, membentuk sebuah penutup lingkaran yang sangat besar, hingga menutup benteng itu dengan sempurna.
"Heh ... kalau hanya begini ... bukankah kalian yang meremehkanku?" Boni berbicara dengan nada pelan.
"Safi ... terbangkan semua ini."
WHUSSS!!!
DUARRR! BRAKKKK! PRANGGG!
Benteng yang terbuang dari tanah, penutup langit yang terbuat dari besi, serta tapi pengikat dari batang pohon raksasa, semuanya hancur dilibas oleh kekuatan Boni. Semuanya terombang-ambing di udara layaknya debu, orang yang bisa terbang, sibuk melayang ke sana kemari, berusaha menyelamatkan orang sebanyak yang mereka bisa.
"HAHAHA APAKAH HANYA INI?! SUDAH KUDUGA! KALIAN BENAR-BENAR MEMBUAL SAJA! LEBIH BAIK KALIAN MATI SEKARANG!" Boni mengangkat tangan kirinya, udara kencang mulai terkumpul, serpihan besi, debu, batu-batu besar atau bahkan kerikil, bahkan listrik beberapa kali menyambar di udara yang Boni kumpulkan.
Para warga yang mulai panik, mereka saling berpelukan dan ada yang menutup mata.
"Sudah? Ares?"
"LUNCURKAN!"
WHUNG!
"Apa?" Boni terdiam sejenak, matanya menatap kantung hitam raksasa yang melayang ke arahnya. Tapi Boni langsung sadar, dia melemparkan udara yang dia kumpulkan ke arah kantung hitam itu.
"Hahaha~ kena jebakan!"
DUAR!
Kantung itu langsung terbuka.
Menampilkan ratusan granat yang dilempar ke arah Boni.
"Si ... al!" Boni mengumpat.
DUARR! DUAR DUAR DUAR!
Bagaikan ratusan bintang yang meledak di udara, para warga kini terdiam melihat pemandangan brutal di depannya.
"Belum selesai! Yang selanjutnya! Ken! Vani!" Ares datang bersama dengan Ken serta Vani yang membawa beberapa kaca serta alat lainnya.
Yang tak lain adalah pemancar cahaya dan energi listrik.
"Siap? Vani?" Ken bertanya dengan mata yang membengkak dan merah.
"Ya!"
NGINGGGG!
Vani menyalakan pemancar di tangannya, Ares serta Ken segera menghindar setelah menyusul puluhan kaca berkelok-kelok zig-zag. Pancaran itu terus memantul dan memantul, sangat cepat hingga akhirnya menuju langsung ke arah Boni.
"Ini adalah ... prinsip penguatan laser! Semakin banyak dipantulkan maka akan semakin kuat! Dengan meletakkan 89 kaca, berarti laser yang diarahkan ke Boni adalah 89 kali lipat kekuatannya!" Ares tersenyum menatap Boni yang kaget. Tapi Boni secara reflek langsung memasang posisi bertahan.
WHUSSS!!
TRANGGGG!!!
Sebuah peperangan sengit antara laser serta perisai angin milik Boni terus berlangsung beberapa menit.
Prak...
"Gawat! Kacanya tidak mampu bertahan!" Ken segera menyadari bahwa ada kaca yang retak dan akan segera pecah. Vani yang sudah diberi tanda oleh Ken, langsung menghentikan pacaran lasernya dan menatap Ares.
"Jangan menyerah dulu! RIOT! SAFA! RENCANA SELANJUTNYA!"
Apa kau pikir aku hanya bersembunyi saja? Boni? Heh! Kau yang terlalu meremehkanku!,-batin Ares.
Safa mengangguk lalu mulai bersiul, ribuan kelelawar mulai datang berbondong-bondong. Mereka memutari Boni dan bonekanya perlahan-lahan.
Salah satu kelelawar itu datang ke arah Riot, anak laki-laki berambut biru itu ternyata membawa penguat suara dan sebuah tali plastik. Dengan hati-hati, Riot mengikat pengeras suara itu di punggung kelelawar yang cukup besar tadi.
"Mohon bantuannya!" ucap Riot gugup. Kelelawar itu segera terbang walaupun sedikit kesulitan. Dia terbang ke tengah-tengag kerumunan kelelawar lainnya.
"BAIKLAH MULAI! SERANGAN GELOMBANG ULTRASONIK!" Safa berteriak keras.
NGIUNGGGGGG!!
Sebuah suara yang sangat menyakitkan mulai terdengar di telinga, bukan hanya ditelinga, suara ini bahkan rasanya membuat daging tercabik-cabik.
"AAAAAA!" Boni menutup telinganya sambil terus berteriak.
"SAFI! BUNUH SAFA!"
NGUNGGG!
Sebuah panah angin langsung menuju ke arah Safa. Ares dan yang lainnya tidak sempat bereaksi, mereka tetap berlari ... walaupun mereka tau bahwa tangan mereka tidak bisa menjangkau Safa.
Sial! Kenapa dia malah menyerang Safa?! Kukira dia akan mengusir kelelawarnya dulu!,-batin Ares.
Panah itu semakin dekat dengan Safa, waktu terasa melambat. Ares yang terus berlari, Ken dan Vani yang berteriak memperingatkan, dan Riot hendak berteleportasi.
WHUS!
"Terimakasih ... atas kebaikan kalian. Kini ... adalah waktuku untuk membalasnya."
WHUS!
JREB! CRASHHH!
Ares tertegun. Matanya menatap ke arah gadis kecil dengan dada yang berlubang. Vani terduduk lemas sambil menutup mulutnya dengan tangan kosong. Sedangkan Ken dan Riot masih terdiam, menatap tidak percaya.
Elly ... menahan panah angin untuk melindungi Safa.
"EELLYYY!" Vani berteriak histeris, melihat gadis yang hanya memiliki kaki kanan, dan kini dadanya malah berlubang. Dia tersenyum sambil menatap Safa.
"Harus ... menang ya? Janji?" Elly mengeluarkan jari kelingkingnya, meminta Safa berjanji padahal jarak mereka lumayan jauh.
Bruk.
Elly langsung terjatuh ke tanah. Seluruh suasana saat itu hening, Safa yang shock, kehilangan kendali atas kelelawar yang dia panggil sehingga semuanya pergi.
"Elly? ... Hei ... kau ... bercanda bukan?" Safa berjalan dengan lunglai ke arah Elly yang sudah tidak bernyawa. Dengan tangan yang bergetar dan ragu-ragu, dia mengangkat kepala Elly lalu menidurkannya di pahanya.
"ELLYY! BANGUNN!" Safa berteriak, membiarkan air matanya jatuh di atas wajah pucat yang tertidur di pahanya.
Karena kematian Elly, Safa jadi tidak sadar akan keberadaan di sekelilingnya. Boni menembakkan dua anak panah angin lagi ke arah Safa. Riot sudah hampir berteleportasi, tapi lagi-lagi ... dia keduluan oleh seseorang.
JREB!
JREB!
"Ene ... Eni?"
TBC.
Jangan lupa likenya ya guys! Ayo paksa aku up biar ga males update guys!ðŸ˜