Ares: Never Grow Up

Ares: Never Grow Up
Apa itu tittle?



..."Ini karena perempuan itu."...


POV: Ares


Aku mengernyitkan keningku, bertanya-tanya siapakah perempuan yang dia maksud. Saat aku melirik ke arah Ken dan Riot, sepertinya mereka juga penasaran siapa perempuan yang Boni maksud.


"Perempuan siapa?" tanya Riot penasaran. Boni segera melirik ke arah Riot, lalu menghela nafasnya. Tatapan matanya terlihat lelah, tapi masih terpancar aura untuk belum menyerah.


"Namanya Safa, Safa Arno. Dia adalah satu-satunya anak yang mengancam kedamaian kota ini. Seperti yang kalian lihat ... dia bisa mengendalikan para binatang, dan memberi mereka perintah seperti apapun yang dia mau," jelas Boni sambil berbalik ke arah kami. Dia melangkahkan kakinya menuju ke arah kami, angin pagi mulai berhembus dan menyibak rambut hitam lurus berkucir dua miliknya.


"Meskipun dia tidak sekuat kami, tapi dia sangat sulit untuk dilacak. Sehingga kami tidak pernah tau bagaimana pergerakannya," jelas Boni lagi.


"Tunggu ... kau bilang 'kami'? Apa kalian berkelompok?" tanya Ken saat mendengar kata yang aneh dalam kalimat Boni. Perempuan bermata ungu itu menatap Ken, lalu menganggukkan kepalanya.


Ctik!


Dia menjentikkan jarinya, tak lama kemudian. Ada sekitar 2 anak perempuan dan satu anak laki-laki yang datang.


"Kami, adalah penerima 'tittle'. Sehingga kami punya kekuatan yang lebih besar dari orang lain," ucap Boni sambil menutup matanya. Aku dan Ken dibuat semakin bingung lagi, apa maksudnya 'tittle' ini?


"Tunggu, itu apa?" tanyaku menyela pembicaraan Boni. Perempuan itu segera menoleh ke arahku dan mulai menjelaskan.


"Hah? Kalian belum tau?" tanya Boni terkejut. Kami bertiga menggelengkan kepala. Informasi yang kami dapat memang sangat terbatas, kami juga hanya tau sebatas infik dan chast.


"Hmm ... bagaimana menjelaskannya ya ... mungkin-," ucap Boni terpotong karena ada anak perempuan yang menyela ucapannya.


"Yap! Biar aku saja yang bilang! Bos biar memperhatikan saja!" ucapnya dengan semangat. Dia punya rambut pendek sebahu berwarna coklat gelombang. Rambutnya sengaja dikucir kuda, matanya berwarna coklat terang seperti rambutnya. Dia memakai setelan jas hitam dengan celana, bukan rok.


"Namaku Thea. Aku adalah bodyguard Bos Boni! Nah aku akan menjelaskan pada kalian apa itu 'tittle'!" Thea berbicara dengan semangat. Dia mengangkat lengan jasnya, dan menunjukkan sesuatu di punggung tangannya.


"Kalian sudah tau kan ini namanya apa? Beserta hukumannya jika ini penuh?" tanya Thea sambil menunjukkan chastnya yang masih kosong. Seolah dia belum menggunakan kekuatannya hari ini. Aku, Ken dan Riot menganggukkan kepala.


Thea langsung menutup lengannya lagi serta membenarkan jasnya yang agak berantakan.


"Para penerima 'tittle' punya sebutan khusus. Dan sebutan ini membuat chast kami lebih sulit terisi. Jadi kita bisa menggunakan kekuatan dengan lebih leluasa dan lebih lama," jelas Thea singkat dan jelas.


"Sebagai contohnya, namaku Thea. Tittleku adalah 'Queen of the small world'. Pada awalnya, kemampuanku ini hanya mampu membuat benda menjadi kecil saja, dan jumlahnya sangat terbatas.


Tapi sejak aku mendapat tittle ini, aku jadi bisa semakin lama menggunakan kekuatanku. Dan skala kekuatan yang kukeluarkan bisa jadi semakin besar," ucap Thea dengan semangat. Boni menganggukkan kepalanya, kelihatannya tittle ini memang sangat berpengaruh.


Kalau begitu, apakah waktu itu Ron juga mendapat tittle?


"Bagaimana cara mendapatkan tittlenya?" tanyaku pada Thea. Perempuan itu melirikku dengan senyuman manisnya lalu menarik daguku untuk menghadap ke arahnya.


"Saat kau sudah sadar siapa dirimu yang sebenarnya," ucap Thea sambil meniupkan sebuah udara ke wajahku.


"Nanti kau akan tau jika memang sudah waktunya kau tau." Thea menjauhkan wajahnya dariku, dia segera berbalik dan kembali ke sisi Boni.


"Nah begitu. Kalau begitu kenapa kita tidak mulai dari saling mengenal saja? Kalian sudah tau namaku, tapi sepertinya aku tidak harus memberi tau apa tittleku," ucap Boni dengan senyum cerahnya.


"Namaku Civilian, aku adalah sekretaris Bos Boni," ucap seorang anak perempuan dengan kacamata dan rambut biru muda yang dikepang.


"Namaku Elvon, aku bekerja dibagian kepengurusan sistem tata kerja kota," ucap seorang anak laki-laki dengan kemeja biru yang kebesaran. Ada warna hitam di bawah matanya coklatnya, kelihatan sekali dia jarang beristirahat.


"Namaku Ken, aku tidak mau menyebutkan asalku," ucap Ken cuek dan dingin.


"Aku Riot, rekan Ares," ucap Riot sambil melirik ke arahku.


Aku sedikit tidak nyaman karena Riot sudah lebih dulu menyebutkan namaku. Padahal aku berniat untuk memakai nama palsu. Kartu identitas sudah tidak berguna di sini kan? Tapi Riot sudah terlanjur memanggilku dengan nama asli.


"Namaku Ares. Kupikir kalian tidak perlu tau darimana aku berasal," ucapku dengan senyum cerah. Mereka berempat terlihat mematung saat menatapku.


"Kau punya wajah yang imut, dan mata emasmu itu keren!" puji Thea saat sadar bahwa mataku berwarna emas. Aku hanya tersenyum kikuk sambil menggaruk leherku yang tidak gatal.


"Baiklah, Ares. Kalian boleh beristirahat di sini sebelum melanjutkan perjalanan, asal jangan sampai membuat keributan," ucap Boni sambil menghela nafas. Aku dan Ken menganggukkan kepala, setelah itu kami segera melirik ke arah Riot.


"Kami pergi dulu!" ucap Riot dengan gembira. Riot segera merangkulku dan Ken, setelah itu pandanganku mulai menjadi kabur.


Fuut!


Ternyata Riot sudah berteleportasi dan membawa kami turun dari gedung tinggi itu.


"Mereka menakutkan," ucap Riot langsung setelah sampai di bawah gedung.


"Aku setuju, kalau sesuai kata mereka. Berarti masing-masing dari mereka sudah sekuat Ron." Aku bergidik ngeri saat membayangkan ada 4 Ron di hadapanku. Satu saja sudah membuatku mati-matian bertarung, apalagi kalau 4. Butuh berapa nyawa agar aku bisa menang?


"Sudahlah, apa kalian akan ke rumah sakit?" tanya Ken dengan wajah yang masih muram. Sepertinya dia benar-benar tidak menyukai Boni.


"Tentu saja, ayo kita pergi sekarang?" tanyaku sambil menepuk pundak Ken. Setelah Ken mengangguk, kami segera berjalan dan pergi meninggalkan area gedung itu.


***


POV: Author


Sementara itu ... di tempat lainnya. Di dalam gua yang gelap, ada 7 kursi yang terisi dan ada 1 kursi kosong. Mereka dipenuhi oleh anak-anak yang memakai tudung berwarna merah.


"Kemana Cat?" tanya salah satu diantara mereka. Yang lainnya hanya menjawab sambil menggelengkan kepala.


"Sepertinya dia pergi untuk mengurus tempat yang dia kelola," ucap salah anak pada akhirnya.


"Bagaimana sekarang? Keberadaan kelompok kecil mereka semakin menunjukkan tanda-tanda yang mengancam," ucap seorang anak dengan lengan yang bertato. Meskipun wajah mereka tertutup tudung, tapi lengan dan tangan mereka terbuka bebas.


"Jangan khawatir. Bukankah mereka sedang ada di Kota Ansorteri?" ucap seorang anak dengan tudung yang sedikit berbeda.


Yaitu ada gambar mahkota di punggung tudung itu.


"Benar, memangnya kenapa di sana?" tanya anak lainnya.


..."Apa kalian lupa? 'Perempuan' itu akan membereskan mereka. Karena dia juga memihak kita bukan?"....


TBC.


Jangan lupa likenya ya guys!